NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18:Kesucian di Bawah Azan Isya dan Luka Lama yang Menganga

Tepat di saat gairah mereka mencapai puncaknya, suara yang sangat mereka kenal berkumandang dari masjid desa.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Azan Isya mulai menggema, menembus dinding-dinding kamar mereka. Gus Azkar tersentak, sisa kesadarannya sebagai seorang guru agama kembali muncul. Ia segera menyelesaikan penyatuan mereka dengan penuh kasih sayang, memberikan kecupan terakhir yang sangat lama di kening Rina sebagai tanda terima kasih.

Gus Azkar bangkit perlahan, lalu ia tertegun melihat noda merah yang menghiasi seprai putih di bawah tubuh Rina. Darah suci itu menjadi saksi bahwa Rina telah menyerahkan kehormatannya hanya untuknya.

"Mas... sakit," cicit Rina pelan. Wajahnya pucat, air mata sedikit menetes karena rasa perih yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya. Saat mencoba bergeser, kakinya terasa lemas dan gemetar hebat. Ia benar-benar tidak bisa berjalan.

Gus Azkar segera meraih sarungnya dan memakainya dengan cepat. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat lembut. "Maafkan Mas ya, Sayang. Mas mungkin tadi terlalu terbawa suasana."

Tanpa banyak bicara, Gus Azkar mengangkat tubuh Rina yang lunglai ke dalam dekapannya. Rina menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, merasa sangat malu sekaligus terlindungi. Gus Azkar menggendongnya menuju kamar mandi untuk melakukan mandi wajib bersama sebelum melaksanakan salat Isya.

"Tahan sebentar ya, Mas bantu mandinya. Setelah ini kita salat Isya berjamaah, lalu Mas obati sakitnya," bisik Gus Azkar menenangkan.

Malam itu, di bawah guyuran air yang menyucikan, Rina merasa hidupnya benar-benar telah berubah. Rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan rasa bahagia karena memiliki suami sehebat Gus Azkar. Meskipun ia masih merasa malu karena "permainan" mereka tadi, Rina tahu bahwa ia telah menemukan pelabuhan terakhirnya.

Selesai mandi dan berganti pakaian bersih, Gus Azkar kembali menggendong Rina menuju sajadah. Mereka melaksanakan salat Isya dengan khusyuk, meskipun Rina terpaksa salat sambil duduk karena rasa perih yang belum hilang.

Gus Azkar yang baru saja selesai melipat sajadah, awalnya hendak mendekati Rina dengan senyum menggoda. Hasratnya memang belum sepenuhnya padam, dan ia ingin kembali bermanja dengan istrinya. Namun, atmosfer di kamar itu mendadak berubah drastis, menjadi dingin dan mencekam.

Rina membeku saat tangan Gus Azkar menyentuh bahunya. Secara tiba-tiba, memori kelam dari masa SMP-nya berputar seperti film rusak di kepalanya. Kalimat-kalimat tajam dari mantan kekasihnya dulu kembali terngiang, menghujam jantungnya tanpa ampun.

"Kamu itu jelek, Rin! Laki-laki yang mau sama kamu itu cuma karena bentuk tubuh kamu yang menggoda. Sama halnya dengan aku... aku cuma mau itu darimu!"

Kalimat itu seolah bergema nyata di telinganya sekarang. Rina merasa kotor. Ia merasa apakah Gus Azkar pun sama? Apakah Gus Azkar menikahinya hanya karena melihat bentuk tubuhnya saat cadarnya terbuka di pesantren kemarin?

"CUKUPPP!" teriak Rina histeris.

Suara itu tertahan di dalam kamar yang kedap, namun bagi Gus Azkar, teriakan itu terdengar seperti ledakan yang menyayat hati. Rina langsung meringkuk, memeluk lututnya erat-erat di atas kasur. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal diiringi tangisan yang pecah seketika.

Gus Azkar tersentak mundur. Ia tertegun melihat perubahan drastis istrinya. Hasrat yang tadi menggebu di dadanya seketika padam, berganti dengan rasa khawatir yang teramat sangat. Ia sadar, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa sakit fisik yang sedang dirasakan Rina.

"Rina... Sayang, ada apa? Ini Mas, Rina. Mas di sini," bisik Gus Azkar dengan suara paling lembut yang ia miliki. Ia berlutut di samping tempat tidur, tidak berani menyentuh Rina karena takut istrinya akan semakin histeris.

"Pergi... Jangan lihat aku! Kalian semua sama!" isak Rina di sela tangisnya. "Kalian cuma mau tubuhku... Aku jelek... Aku nggak punya apa-apa..."

Mendengar itu, hati Gus Azkar serasa diiris sembilu. Ia mulai paham bahwa luka masa lalu Rina belum sepenuhnya sembuh. Trauma itu muncul justru di saat mereka baru saja melewati momen paling intim.

Gus Azkar perlahan meraih tangan Rina yang gemetar, meskipun Rina sempat menolak. Ia menggenggam jemari itu dengan sangat erat namun penuh kelembutan.

"Lihat mata Mas, Rina. Lihat aku," pinta Gus Azkar dengan nada tegas namun tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!