Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Broto
Bimo tidak pernah sampai ke lereng Gunung Lawu. Langkahnya terhenti di batas kecamatan. Ketakutan akan penolakan lebih besar daripada keinginannya untuk sembuh. Dalam pikirannya yang kalut, ia merasa tidak pantas menginjakkan kaki di tempat suci mana pun. Ia memilih untuk menenggelamkan diri dalam kotoran, mencari makan di tempat sampah,memulung sampah.
Awalnya, Bimo mencoba menjadi kuli panggul di pasar kecamatan. Ia berharap kekuatan fisiknya yang dulu sering ia pamerkan di sasana kebugaran Jakarta masih tersisa. Namun, ia salah besar. Tubuhnya yang telah digerogoti oleh infeksi gaib dan kekurangan nutrisi itu kini ringkih seperti kayu yang dimakan rayap. Baru mengangkat satu karung beras, lututnya langsung bergetar hebat. Keringat dingin bercampur cairan amis merembes dari balik kaosnya.
"Woi! Kalau nggak kuat jangan sok jago!" bentak seorang pedagang sayur. "Sudah baunya bikin mual, kerjanya lelet lagi! Pergi kamu!"
Tanpa upah, tanpa tenaga, Bimo akhirnya menyerah pada keadaan. Ia tidak punya pilihan lain untuk mengisi perutnya yang melilit selain menjadi pemulung. Dengan sebuah pengait besi berkarat dan karung kumal, Bimo mulai menyusuri bak-bak sampah di sudut pasar, mencari botol plastik atau kardus bekas yang bisa ditukar dengan kepingan receh.
Pertemuan di Balik Gundukan Sampah
Sore itu, hujan turun rintik-rintik, membuat bau sampah di pinggiran pasar semakin menusuk. Bimo sedang mengais tumpukan limbah sayuran saat ia melihat seorang pria tua dengan rambut putih yang acak-adakan sedang duduk tenang di atas gerobaknya. Pria itu tampak berbeda dari pemulung lainnya; tatapan matanya tajam, seolah bisa menembus tulang.
"Percuma kamu cari di situ, Nak. Sudah habis dipatuk ayam," suara pria tua itu berat dan tenang.
Bimo menoleh, wajahnya pucat. "Saya cuma butuh buat beli nasi bungkus, Pak."
Pria tua itu turun dari gerobaknya, mendekati Bimo. Keanehan terjadi. Jika orang lain biasanya langsung menutup hidung atau meludah saat berada di dekat Bimo, pria ini justru menghirup udara dalam-dalam, lalu menyipitkan matanya.
"Baumu bukan bau keringat, juga bukan bau sampah," ucap pria tua itu datar. "Ini bau tanah kuburan yang dipaksa pindah ke raga orang hidup."
Bimo terperanjat. Jantungnya berdegup kencang. "Bapak tahu?"
"Namaku Broto. Dulu, orang-orang memanggilku 'Ki Broto'. Tapi itu dulu, sebelum kesombongan menghancurkan segalanya," pria itu tersenyum pahit. "Ayo ikut aku ke bedeng. Di sini tidak aman untuk bicara, dan perutmu sepertinya sudah mau meledak karena lapar."
Bedeng Pak Broto: Tempat Berteduh Dua Jiwa yang Hancur
Pak Broto membawa Bimo ke sebuah bedeng liar di bawah kolong jembatan permanen, tak jauh dari aliran sungai yang kotor. Bedeng itu terbuat dari papan triplek dan spanduk bekas kampanye, namun di dalamnya terasa sangat rapi. Ada sebuah ambal tua dan kompor minyak kecil.
Pak Broto menyodorkan sebungkus nasi sisa yang masih layak makan dan segelas teh tawar hangat. Bimo makan dengan sangat lahap, hampir tersedak. Setelah rasa lapar itu sedikit mereda, Pak Broto menyalakan rokok lintingannya.
"Ceritakan padaku, Nak. Siapa perempuan yang sudah kamu buat menangis darah?" tanya Pak Broto tanpa basa-basi.
Bimo terdiam lama, menatap uap tehnya yang mengepul. Di bawah temaram lampu minyak, ia mulai menumpahkan segalanya. Ia tentang Ratih, tentang uang pengobatan ibu Ratih yang ia curi untuk berfoya-foya di Jakarta, tentang pengkhianatan cintanya, dan bagaimana ia kini dibuang oleh keluarganya sendiri.
"Aku memang bajingan, Pak Broto. Aku pantas dapat ini," isak Bimo.
Kisah Sang Mantan Dukun
Pak Broto mengembuskan asap rokoknya ke langit-langit bedeng. "Kamu beruntung masih diberi waktu untuk menyesal, Bimo. Aku? Aku terlambat."
Pak Broto mulai bercerita. Dahulu, ia adalah dukun santet yang ditakuti di daerah Jawa Timur. Ia merasa sakti, merasa bisa mengatur nyawa orang dengan boneka jerami dan paku. Sampai suatu hari, ia bertarung ilmu dengan seorang musuh bebuyutan. Karena keangkuhannya, ia lalai. Santet yang ia kirim dibalikkan oleh lawannya.
"Dalam satu malam, aku kehilangan semuanya, Bimo," suara Pak Broto bergetar. "Anakku yang masih kecil dan istriku meninggal secara mengenaskan. Tubuh mereka melepuh seperti disiram air keras. Aku selamat, tapi hatiku mati. Sejak itu aku bersumpah meninggalkan ilmu hitam dan pergi sejauh mungkin, menjadi pemulung untuk mencuci sisa-sisa dosaku di sampah dunia."
Bimo mendengarkan dengan seksama. Ia merasa menemukan cermin pada diri Pak Broto.
"Aku melihat sesuatu yang aneh di tubuhmu," lanjut Pak Broto, matanya menatap tajam ke arah perut Bimo. "Ilmu yang ada padamu sangat cerdik. Dia tidak menyerang fisikmu secara total, tapi dia menyerang kewarasanmu melalui hawa nafsu. Selama hatimu tenang dan penuh sesal seperti sekarang, dia akan diam. Tapi begitu nafsumu bangun... dia akan merobekmu dari dalam."
Bimo mengangguk lemah. "Benar, Pak. Tiap kali saya kepikiran perempuan atau merasa hebat, rasa sakit itu datang."
"Itu karena santet ini diciptakan sebagai cermin," jelas Pak Broto. "Dia ingin kamu tahu bahwa setiap kali kamu kembali ke sifat lamamu yang bejat, neraka itu akan nyata di tubuhmu."
Persahabatan di Tengah Kehinaan
Malam itu, Bimo tidur di bedeng Pak Broto. Meskipun alasnya hanya kardus, ia merasa jauh lebih tenang daripada di hotel melati mana pun di Jakarta. Pak Broto memberikan Bimo sebuah kain sarung yang sudah robek-robek tapi bersih.
"Tinggallah di sini bersamaku sementara waktu. Kita cari botol plastik bersama besok pagi. Setidaknya kamu tidak sendirian," ucap Pak Broto.
Bagi Bimo, Pak Broto adalah penyelamat yang dikirim Tuhan atau mungkin dikirim nasib untuk menunjukkan bahwa ada akhir yang lebih buruk jika ia tidak benar-benar bertaubat. Pak Broto mulai mengajari Bimo cara memulung yang efektif, dan yang lebih penting, ia mengajari Bimo cara menenangkan pikiran agar ulat-ulat itu tetap tertidur.
Selama beberapa hari, Bimo menjalani hidup sebagai pemulung. Ia yang dulu selalu wangi parfum mahal, kini terbiasa dengan bau sampah yang menyengat. Ia yang dulu makan di restoran mewah, kini bersyukur bisa berbagi sepotong tahu goreng dengan Pak Broto. Ada semacam kedamaian aneh yang ia temukan dalam kehinaan ini.
Namun, kedamaian itu hanyalah ketenangan sebelum badai.
Mata yang Mengintai dari Jembatan
Ratih berdiri di atas jembatan permanen, menatap ke bawah, ke arah bedeng triplek tempat Bimo berada. Ia sudah mengawasi Bimo sejak pria itu pertama kali menginjakkan kaki di pasar kecamatan. Ia melihat Bimo bertemu dengan Pak Broto. Ia melihat Bimo mulai terbiasa dengan hidup barunya sebagai pemulung.
Ratih menggertakkan giginya. Ia tidak suka melihat Bimo mendapatkan "kawan". Ia ingin Bimo menderita dalam kesendirian total.
"Siapa tua bangkai itu?" desis Ratih. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi gaib dari tubuh Pak Broto, meskipun energi itu sudah sangat redup. "Dia mencoba menenangkan Bimo? Dia mencoba menidurkan ulat-ulatku?"
Ratih tidak akan membiarkan Bimo merasa aman, meski di kolong jembatan sekalipun. Ia tahu, ulat sengkolo butuh pemicu nafsu untuk bangun. Dan ia sudah menyiapkan rencana untuk membangkitkan kembali sisi gelap Bimo.
Ratih mengambil sebuah sisir kecil yang pernah dipakai Bimo di rumah mereka dulu. Ia melilitkan sehelai rambut wanita penghibur yang ia ambil dari lokalisasi terdekat. Ia membisikkan mantra yang diajarkan Mbah Suro, mantra yang akan memicu imajinasi kotor di otak korbannya.
"Malam ini, Bimo... kamu tidak akan tidur dengan tenang," Ratih tersenyum sinis. "Mari kita lihat, apakah teman barumu itu sanggup menahan ledakan ulat yang merayap menuju otakmu."
Ratih melemparkan sisir itu ke arah tumpukan sampah di dekat pintu bedeng Pak Broto. Ia ingin aroma nafsu liar merasuki mimpi-mimpi Bimo malam itu, memaksa ulat sengkolo bangun dan menghancurkan kedamaian semu yang sedang dibangun oleh kedua mantan pendosa tersebut.
Di dalam bedeng, Bimo yang sedang tertidur lelap mendadak gelisah. Keringat mulai membasahi dahinya. Di dalam alam bawah sadarnya, bayangan Diana dan wanita-wanita malam lainnya mulai muncul, menari-nari memanggil nafsunya yang selama ini ia tekan. Ulat-ulat di bawah kulitnya mulai bergetar, merasakan denyut jantung inangnya yang mulai berdegup kencang karena imajinasi yang dipaksakan dari luar.
Pak Broto, yang sedang wirid di pojok bedeng, mendadak menghentikan tasbihnya. Ia mencium sesuatu yang tidak beres di udara. Bau harum bunga melati yang sangat busuk mulai menyeruak masuk ke dalam bedeng mereka.
"Serangan baru..." bisik Pak Broto sambil menatap Bimo yang mulai merintih kesakitan dalam tidurnya.