NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Malaikat Pencabut Nyawa

Gedung Pencakar Langit "Westin Tower". Lantai 40. Jarak ke Menara Orion: 1.800 Meter. Pukul 22:00.

Hujan badai mengguyur Kota Langit Biru. Kilat menyambar, membelah langit malam yang hitam pekat. Suara guntur menjadi penyamaran alami yang sempurna untuk apa yang akan terjadi.

Di sebuah ruangan kantor yang gelap di lantai 40 yang sedang direnovasi, Jay Ares berbaring telungkup di lantai beton yang dingin.

Di hadapannya, berdiri senapan CheyTac M200 Intervention dengan laras panjang yang mengarah ke jendela yang sudah dilubangi sedikit. Ini adalah senapan anti-materiel jarak jauh terbaik di dunia, mampu mengenai target seukuran piring makan dari jarak 2 kilometer.

"Angin 12 knot dari Barat. Kelembapan 85%. Efek Coriolis dikompensasi," gumam Jay pelan, membaca data dari komputer balistik kecil di sampingnya.

Di telinganya, earpiece terpasang.

"Leon, status target," perintah Jay.

Di seberang sana, Leon yang berada di posisi pengintai (spotter) di gedung berbeda menjawab.

"Tim Demolisi Vostok sudah memasang C4 di pilar utama lobi Menara Orion. Detonator dipegang oleh Komandan Lapangan, Kolonel Sergei. Dia berdiri di samping mobil Ivan Dragos."

Jay menggeser pandangannya melalui lensa teleskop termal canggih.

Dunia terlihat dalam spektrum biru dan merah. Di kejauhan sana, di lobi Menara Orion yang megah, ia melihat titik-titik panas berbentuk manusia.

Ada satu sosok yang bersinar merah terang. Kolonel Sergei. Dia memegang sebuah perangkat kotak di tangannya. Detonator jarak jauh.

Dan di sampingnya, berdiri sosok lain yang merokok santai. Ivan Dragos.

"Mereka menunggu batas waktu habis," bisik Jay. "Mereka ingin meledakkan warisan Kakek Edward tepat di depan kamera TV."

Penthouse Akbar Ares.

Mia duduk di sofa ruang tamu, lututnya gemetar. Ia memegang buku, tapi matanya tidak membaca satu kata pun. Pikirannya terus berputar pada dokumen "Hades" dan racun saraf itu.

Akbar duduk di seberang ruangan, di depan stasiun kerjanya yang penuh layar monitor. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan tinggi.

"Kau pendiam malam ini, Mia," komentar Akbar tanpa menoleh.

Mia tersentak. "A-aku cuma lelah."

Akbar berputar di kursinya. Wajahnya serius.

"Aku sedang memutus akses kamera CCTV di sekitar Menara Orion. Pasukan Vostok buta dalam 30 detik. Ini akan memberi Jay celah untuk menembak."

Mia menelan ludah. "Menembak? Jadi Jay... akan membunuh orang?"

Akbar menatap Mia tajam. Ada kilatan dingin di matanya yang membuat darah Mia membeku.

"Dalam perang, Mia... membunuh musuh bukanlah pembunuhan. Itu adalah sanitasi," jawab Akbar dingin. "Jika Jay tidak menarik pelatuknya, gedung warisan keluargamu akan jadi debu. Pilih mana? Gedung itu selamat, atau hati nuranimu bersih?"

Mia terdiam. Logikanya membenarkan ucapan Akbar, tapi hatinya menjerit ketakutan. Pria di hadapannya ini bicara soal nyawa manusia seperti bicara soal membuang sampah.

"Lakukan saja," bisik Mia, memalingkan wajah. "Selamatkan gedung itu."

Akbar tersenyum tipis senyum yang tidak mencapai matanya.

"Permintaan diterima."

Akbar menekan tombol Enter.

Lobi Menara Orion.

Lampu-lampu sorot militer yang menerangi area itu tiba-tiba mati serentak.

"Apa yang terjadi?!" teriak Ivan Dragos dalam bahasa Rusia. "Nyalakan cadangan!"

"Sistem diretas, Tuan! Seseorang mengunci akses listrik!" lapor teknisi panik.

Suasana menjadi remang-remang, hanya diterangi lampu kendaraan militer.

Kolonel Sergei mengangkat detonator di tangannya. "Persetan dengan lampu! Aku ledakkan sekarang!"

Sergei membuka tutup pengaman tombol merah. Jempolnya bergerak turun.

Di jarak 1,8 kilometer, Jay menahan napasnya. Jantungnya berdetak lambat. Antara detak jantung itulah dia menarik pelatuk.

DOOOOM!

Suara tembakan CheyTac memecah udara, namun teredam oleh suara guntur yang menyambar tepat pada detik yang sama.

Peluru kaliber .408 melesat menembus hujan, membelah angin, melintasi jarak hampir dua kilometer dalam waktu kurang dari tiga detik.

CRAAAASH!

Di lobi Menara Orion, tangan Kolonel Sergei tangan yang memegang detonator tiba-tiba meledak menjadi kabut merah.

Perangkat detonator itu hancur berkeping-keping, terlempar jauh dari jangkauan.

"AARGHHH!" Sergei menjerit, jatuh berlutut memegangi pergelangan tangannya yang buntung.

Ivan Dragos terbelalak. Ia tidak mendengar suara tembakan. Ia hanya melihat tangan bawahannya hancur.

"SNIPER!" teriak Ivan. "Berlindung! Cari perlindungan!"

Kepanikan melanda. Pasukan Red Wolves berlarian mencari tempat sembunyi di balik pilar beton dan mobil lapis baja. Mereka menembak membabi buta ke arah kegelapan, tidak tahu dari mana serangan itu berasal.

Posisi Jay.

Jay tidak berhenti. Ia menarik tuas kokang (bolt action), membuang selongsong panas, dan memasukkan peluru baru.

"Target utama: Generator Listrik Mobile," gumam Jay.

Generator besar di atas truk militer yang menyuplai daya untuk sistem komunikasi musuh menjadi sasaran berikutnya.

DOOOOM!

Satu tembakan lagi.

Peluru menembus tangki bahan bakar generator. Percikan api tercipta.

BOOOOM!

Generator itu meledak dalam bola api raksasa, menerangi malam dengan warna oranye terang. Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang melempar tentara Vostok di dekatnya.

Komunikasi musuh putus total.

"Kerja bagus, Komandan," suara Leon terdengar di telinga. "Pasukan mereka kacau balau. Mereka tidak bisa meledakkan gedung tanpa detonator utama."

Jay segera membereskan senapannya. Ia tidak boleh tinggal di sana lebih dari dua tembakan. Algoritma triangulasi suara musuh akan menemukan posisinya dalam dua menit.

"Kita bergerak," kata Jay. "Misi selesai."

Jay meninggalkan satu hal di lantai tempat ia menembak. Sebuah kartu remi: As Sekop (Ace of Spades). Kartu kematian.

Lobi Menara Orion (Pasca Serangan).

Ivan Dragos keluar dari balik perlindungan setelah memastikan tidak ada tembakan susulan. Wajahnya merah padam karena marah.

Sergei sedang dirawat oleh medis lapangan, mengerang kesakitan.

Ivan berjalan ke tempat detonator yang hancur. Ia memungut serpihan peluru yang tertancap di aspal.

Peluru besar. Kuningan padat. Didesain untuk akurasi ekstrem jarak jauh.

"CheyTac..." desis Ivan. "Hanya segelintir orang di dunia ini yang bisa melakukan tembakan presisi di tengah badai seperti ini."

Seorang prajurit berlari mendekat. "Tuan! Kami menemukan posisi penembak! Di Menara Westin!"

"Kirim helikopter! Buru dia!"

"Sudah, Tuan. Tapi... tempat itu kosong. Dia sudah hilang."

Ivan meremas serpihan peluru itu hingga telapak tangannya berdarah. Ia melihat ke arah Menara Orion yang masih berdiri tegak.

Jay Ares tidak hanya menyelamatkan gedung itu. Dia baru saja menampar wajah Ivan Dragos di depan seluruh pasukannya.

Ivan mengambil radio taktis.

"Victor," panggil Ivan dengan suara rendah yang menakutkan. "Lupakan permainan politik. Lupakan sandera."

"Apa rencanamu, Ivan?" tanya Victor Han di seberang sana.

"Aktifkan Unit Titan. Aku akan meratakan seluruh distrik persembunyiannya. Jika aku tidak bisa membunuhnya dengan presisi... aku akan membunuhnya dengan kehancuran."

Bengkel Tua "Rusty Gears".

Jay kembali dengan napas teratur. Angeline sudah menunggu di pintu, wajahnya cemas luar biasa.

"Gedungnya?" tanya Angeline.

Jay membuka jaketnya yang basah. Ia menyalakan TV portabel kecil yang masih menangkap sinyal sisa.

Di layar, reporter Vostok melaporkan "kegagalan teknis" dalam operasi pengamanan Menara Orion. Gedung itu masih berdiri megah, meski gelap gulita.

Angeline menutup wajahnya, menangis lega. "Kau menyelamatkannya... Warisan Kakek selamat."

Jay memeluk istrinya erat. "Selama aku memegang senapan, tidak ada milikmu yang akan diambil orang lain, Angel."

Namun, di balik pelukan itu, mata Jay menatap tajam ke dinding kosong.

Ia tahu ini belum berakhir.

Tembakan tadi adalah deklarasi perang terbuka. Besok, Vostok tidak akan mengirim manusia lagi. Mereka akan mengirim mesin.

1
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
Mamat Stone
🔥☯️🔥
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
😈💥
Mamat Stone
/Cleaver/💥
Mamat Stone
👊💥
Hendra Saja
s makin menarik Thor 🔥🔥🔥🔥🔥🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!