NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Tiga detik lagi, dan seluruh kota akan melihat ibuku hancur dalam resolusi tinggi.” Suara Arka Sagara berbisik di tengah kegelapan ruang operator teknis yang sempit.

Nafasnya pendek namun teratur. Cahaya biru dari layar laptop mini memantul di bola matanya yang jernih.

Di bawah sana, tepat di lantai satu ballroom, melodi waltz masih mengalun indah dan menipu. Arka tidak melihat ke bawah. Jari-jarinya bergerak seperti penari di atas papan ketik yang berpendar.

“Jangan sekarang, Firewall Aditama. Kau terlalu lambat untukku.”

Kabel data berwarna oranye menjulur dari panel pusat ke perangkatnya. Arka sedang meretas gerbang video utama tepat saat sistem otomatis mulai mengunggah file skandal tersebut. Di monitor utama operator, sebuah klip hitam putih berjudul Mawar Jakarta mulai memuat. Itu adalah rekaman kamar hotel enam tahun lalu.

“Ibu tidak akan menangis malam ini,” gumam Arka.

Ia melakukan teknik overlay data secara paksa. Tangannya menarik folder lain yang ia beri nama Sampah Clarissa. File itu berukuran besar. Arka menekan tombol Enter dengan jempol kecilnya. Garis pemuatan data berwarna hijau melesat, menimpa transmisi asli yang dikirim oleh Clarissa Aditama.

Di lantai dansa, Alisha merasa dunianya sedang berputar ke arah yang salah. Seluruh sendinya terasa kaku. Matanya terpaku pada layar raksasa yang mulai berkedip-kedip di belakang panggung. Ia tahu apa yang akan muncul di sana. Bayangan malam di Jakarta itu sudah menghantui mimpinya selama ribuan malam.

“Damian, hentikan ini,” bisik Alisha dengan suara yang nyaris hilang.

Damian Sagara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju dan menarik Alisha ke belakang punggungnya yang tegap. Damian berdiri seperti tameng baja yang menantang ribuan pasang mata. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

“Siapa pun yang berani mengambil foto, aku akan menghancurkan hidup kalian besok pagi!” teriak Damian ke arah kerumunan wartawan.

Layar itu akhirnya menyala sempurna. Suara statis terdengar keras melalui sistem audio mewah ballroom. Clarissa Aditama berdiri di pinggir panggung dengan senyum kemenangan yang sangat lebar. Ia sudah bersiap untuk melihat Alisha jatuh ke titik terendah dalam hidupnya.

Namun, rekaman yang muncul bukanlah gambar kamar hotel.

Layar raksasa itu menampilkan sebuah ruangan laboratorium yang steril dan dingin. Tanggal di pojok rekaman menunjukkan waktu tiga bulan yang lalu. Terlihat Clarissa Aditama sedang duduk di depan seorang pria berpakaian asisten laboratorium.

“Aku ingin hasil tes DNA Arka Sagara diubah menjadi negatif,” ujar suara Clarissa yang menggema jernih di seluruh ballroom.

Tamu undangan yang tadinya bersiap untuk skandal seks, kini terdiam dalam keterkejutan yang berbeda. Clarissa di dalam video itu mengeluarkan seikat uang tunai dan meletakkannya di atas meja laboratorium.

“Pastikan Damian percaya bahwa anak itu bukan darah dagingnya,” lanjut Clarissa di video tersebut.

Alisha menarik nafas panjang. Ia menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Rasa malu yang tadi mencekiknya mendadak berubah menjadi kebingungan yang luar biasa. Damian tetap berdiri tegak, namun matanya yang tajam langsung melirik ke arah balkon lantai dua.

“Skakmat, Tante,” bisik Arka di ruang operator.

Ia melihat melalui monitor pemantau bagaimana wajah Clarissa berubah menjadi pucat pasi. Arka tidak berhenti di sana. Ia menggerakkan kursornya untuk membuka file kedua. Video di layar utama ballroom berganti lagi secara otomatis.

Kali ini terlihat Clarissa sedang berbicara dengan seorang peretas di sebuah kafe gelap.

“Siapkan video hotel enam tahun lalu. Aku ingin semua orang menganggap Damian adalah seorang pemerkosa,” suara Clarissa kembali memenuhi ruangan.

Ballroom Grand Sagara meledak dalam kekacauan seketika. Tuan Aditama, ayah Clarissa, berdiri dari kursi kehormatannya dengan wajah merah padam karena amarah. Ia menghantam meja hingga gelas sampanyenya terguling dan pecah.

“Clarissa! Apa yang kau lakukan!” teriak Tuan Aditama hingga suaranya serak.

Clarissa hanya bisa mematung. Gelas di tangannya jatuh ke lantai marmer. Ia menatap layar itu dengan mata yang membelalak tidak percaya.

“Itu palsu! Itu video editan!” teriak Clarissa histeris.

Damian menatap ke atas, ke arah balkon lantai dua yang gelap. Di sana, sebuah bayangan kecil memberikan isyarat jempol yang sangat samar. Damian menarik napas lega. Putranya baru saja menyelamatkan nama baik keluarga Sagara dengan cara yang paling brutal.

“Kalian harus keluar dari sini sekarang, Nyonya.”

Seorang pelayan pria tiba-tiba muncul di samping Alisha. Wajahnya tertutup masker hitam standar staf hotel. Alisha masih linglung karena perubahan situasi yang begitu cepat.

“Siapa kau?” tanya Alisha curiga.

“Instruksi dari Tuan Muda Arka. Ikuti saya melalui koridor servis.”

Pelayan menarik lengan Alisha dengan cukup kuat namun sopan. Damian masih sibuk menghadapi kerumunan wartawan yang kini menyerbu Clarissa dan Tuan Aditama.

Alisha melihat celah di antara kerumunan dan memutuskan untuk mengikuti pelayan tersebut.

Mereka berlari melalui pintu samping yang tersembunyi di balik tirai beludru besar. Suara keributan di ballroom perlahan mulai menjauh.

Mereka memasuki sebuah koridor sepi yang hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna redup.

“Mana Arka?” tanya Alisha saat pelayan itu berhenti di depan sebuah lift barang.

Pelayan itu tidak menjawab. Ia justru merogoh saku jas pelayannya dan mengeluarkan sebuah tablet ramping. Ia menyerahkan perangkat itu kepada Alisha.

“Ada bagian yang tidak sempat diunggah oleh Tuan Muda ke layar utama,” ujar pelayan dengan suara yang berat.

“Maksudmu apa?”

“Lihatlah video ini. Ini adalah kebenaran yang Damian sembunyikan bahkan dari anaknya sendiri.”

Alisha menerima tablet itu dengan tangan gemetar. Layar menyala secara otomatis. Video yang muncul adalah rekaman asli malam di hotel Jakarta enam tahun lalu. Sudut pandangnya berbeda dengan yang dimiliki Clarissa. Ini adalah rekaman dari kamera CCTV lorong hotel yang menghadap langsung ke arah pintu kamar nomor 404.

Video itu memperlihatkan Alisha muda yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama Damian. Namun, tiga menit setelah pintu tertutup, seorang wanita tua dengan langkah anggun muncul di lorong tersebut.

Alisha menahan nafas. Wanita itu mengenakan kebaya sutra mahal dan konde yang sangat rapi. Itu adalah Nyonya Raina Sagara.

Raina tidak masuk ke dalam kamar. Ia hanya berdiri di depan pintu selama beberapa menit. Ia terlihat memberikan isyarat kepada dua orang pria berbadan besar yang berjaga di sudut lorong.

“Pastikan tidak ada yang bisa keluar dari kamar itu sampai pagi,” suara Raina terdengar melalui rekaman audio yang sangat bersih.

“Tapi Nyonya, Tuan Damian sedang di dalam bersama gadis itu,” sahut salah satu penjaga.

“Itulah tujuannya. Biarkan mereka terikat dalam dosa yang tidak bisa mereka hapus. Aku butuh jaminan agar gadis itu tidak bisa menolak perintahku di masa depan.”

Alisha merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia melihat Raina Sagara tersenyum tipis ke arah pintu kamar sebelum akhirnya berjalan pergi dengan tenang. Video itu berlanjut memperlihatkan Raina sedang menelepon seseorang di ujung koridor.

“Siapkan wartawan untuk besok pagi di lobi. Aku ingin skandal ini menjadi tiket peluangku.”

Tablet itu mendadak mati. Alisha menatap layar hitam tersebut dengan pandangan kosong. Selama enam tahun ia membenci Damian, dan menganggap kesalahan satu malam. Ternyata, Damian hanyalah bidak lain yang digunakan oleh ibunya sendiri untuk menghancurkan hidup Alisha.

“Nyonya?” panggil pelayan itu.

Alisha mendongak. Matanya merah karena kemarahan yang kini sudah melampaui batas kewarasan.

Alisha tidak berkata apa-apa lagi. Ia mengembalikan tablet itu kepada si pelayan dan berjalan menuju tangga darurat. Gaun sutra hitamnya berdesir di atas lantai beton koridor yang dingin. Ia tidak lagi peduli pada pesta, tidak peduli pada Damian, dan tidak peduli pada Clarissa.

Di ruang operator, Arka menghela nafas panjang. Ia menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam ransel kecil. Ia tahu ibunya sudah melihat video di koridor tadi. Arka sendiri yang mengirim pelayan itu untuk menemui Alisha.

“Permainan ini belum selesai, Ayah,” gumam Arka sambil menatap layar monitor yang kini menampilkan wajah Damian yang sedang kebingungan mencari Alisha.

Arka berdiri dan berjalan keluar dari ruang operator. Ia tahu malam ini akan menjadi malam terakhir mereka tinggal di bawah atap Sagara. Namun sebelum itu, ia harus memastikan ibunya mendapatkan keadilan yang selama ini dicuri oleh neneknya sendiri.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!