Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Venya duduk gelisah di ruang tamu. Sejak pulang dari kantor, wanita itu terus memikirkan ucapan-ucapan para karyawan yang tidak menyukainya. Kalimat mereka yang terang-terangan mendoakan Zidan untuk berselingkuh darinya.
Venya semakin khawatir tatkala ada salah ucapan mereka yang membuatnya takut.
Selingkuh itu penyakit, sekali pria berselingkuh, maka akan kembali berselingkuh.
Kalimat itu membuat Venya tidak tenang. Bagaimana kalau itu benar? Apalagi mengingat dirinya yang tak lagi sempurna, membuat Venya semakin resah.
Di tengah-tengah kegelisahannya, orang yang sejak tadi Venya tunggu akhirnya datang juga. Zidan, pria itu baru saja pulang dari kantor. Wajah lelahnya tercetak jelas, setelah seharian ini banyak sekali hal tak terduga yang menguras tenaganya.
"Mas, tunggu!"
Venya menghentikan langkah Zidan yang berjalan begitu saja melewatinya.
Zidan berbalik, ia menatap Venya dengan tatapan datarnya. Sebenarnya, Zidan sengaja pura-pura tidak melihat Venya, untuk saat ini ia sangat malas meladeni ocehan wanita itu. Masalahnya di kantor sudah cukup menguras emosinya, Zidan tidak ingin membahas apa pun lagi di rumah.
"Kenapa?" Tanya Zidan saat Venya tak kunjung mengangkat suaranya.
"Bisakah Kamu tidak memecat ku, Mas?" Tanya Venya. Tatapannya memelas, memandang Zidan penuh permohonan, berharap pria itu memberinya satu kesempatan. "Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, Mas!"
Zidan menghembuskan napasnya kasar. Ia sudah menduga Venya akan kembali membujuknya. Namun, apa pun yang dilakukan Venya tidak akan membuat keputusan Zidan berubah.
"Itu sudah keputusan yang terbaik, aku tidak bisa mengubahnya."
Zidan berbalik, pria itu ingin kembali melanjutkan langkahnya. Tubuhnya benar-benar lelah, ingin segera beristirahat. Namun lagi-lagi Venya menghentikan keinginannya itu, membuat Zidan semakin kesal.
"Kenapa, Mas?"
Pertanyaan Venya itu berhasil memantik kembali amarah Zidan. Pria itu kembali menghentikan langkahnya. Zidan menatap Venya dengan tajam, berharap ucapannya kali ini akan membuat Venya mengerti.
"Kenapa Kamu bilang? Kamu korupsi, Venya. Kamu mencuri uang perusahaan, kenapa Kamu tidak mengerti juga?"
Zidan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa ucapannya sudah sangat jelas, tapi Venya seperti menganggap perbuatannya itu biasa saja, bukan masalah yang harus dibesar-besarkan. Padahal, apa yang dilakukannya itu sudah merugikan perusahaan.
"Ya terus kenapa? Aku kan sudah janji tidak akan mengulanginya lagi, Mas. Lagian, aku hanya mengambil uang perusahaan, apa bedanya dengan Kamu yang merampas perusahaan Azel? Jika aku maling, berarti Kamu rampoknya, Mas."
"VENYA, KAMU---"
"Kamu berani berteriak sama aku, Mas?" Venya menatap Zidan penuh kecewa. Pria itu berani meninggikan suara padanya.
"Maaf, Mas tidak bermaksud---"
"Kamu jangan lupa, Mas. Kamu juga merebut perusahaan Azel. Jadi, Kamu jangan merasa paling berkuasa atas perusahaan itu," ucap Venya. Wanita itu benar-benar kecewa pada Zidan.
"Kalau aku mau, aku bisa saja mengatakan pada semua orang, jika sebenarnya, Kamu tidak berhak sedikitpun atas perusahaan itu. Jangan lupa Mas, aku tahu semua yang Kamu lakukan pada Om Shawn," tambahnya.
Venya menyeringai saat melihat perubahan raut wajah Zidan.
"Kamu mengancam ku?" Tanya Zidan sambil memicingkan matanya.
Zidan tidak menyangka Venya berani mengancamnya. Walaupun Pria itu sedikit khawatir, tapi Zidan tidak ingin menunjukkannya di depan Venya. Ia tidak ingin wanita itu mengendalikannya.
"Aku tidak mengancammu, Mas. Aku hanya berjaga-jaga. Kamu tahu kan, aku yang paling banyak berkorban di sini. Aku hanya ingin secuil keadilan, apa aku salah?"
Venya bukan wanita yang pasrah apalagi penurut. Ia akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Apalagi, ia sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkan Zidan. Venya tidak akan membiarkan siapapun merusak semua yang sudah susah payah dia dapatkan.
"Lalu, apa mau mu?"
Zidan tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakan, untuk saat ini ia akan menuruti keinginan Venya.
"Pertama, aku mau Kamu menandatangani surat perceraian mu dengan Azel. Dan kedua, biarkan aku tetap bekerja di perusahaan. Katakan pada semua orang, apa yang terjadi hanyalah kesalah pahaman."
"Baiklah," ucap Zidan pasrah.
Setelah berpikir cukup lama, Zidan akhirnya memilih untuk mengiyakan permintaan Venya. Pria itu pun dengan terpaksa menandatangani surat perceraiannya dengan Azelva.
Maafkan aku, Azel. Gumamnya dalam hati. Zidan menahan air matanya karena setelah ini hubungannya dengan Azelva benar-benar berakhir.
Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa melakukan ini. Ini adalah satu-satunya cara supaya aku tidak kehilanganmu. Kamu harus berada dalam kendali ku, batin Venya.
...----------------...
Prang
Prang
Brakkk
"KURANG AJAR! KURANG AJAR KAMU KELLANO!"
Regita berteriak histeris, wanita itu memecahkan semua barang-barang yang ada di kamarnya. Talak yang Kellano layangkan padanya membuat Regita nyaris kehilangan kewarasannya.
"Stop, Regita! Tenang, kendalikan diri Kamu!"
Ayah Regita sangat khawatir melihat keadaan putrinya. Tingkah Regita yang sudah seperti orang gila, membuat Ayah Regita dilanda rasa takut. Dia takut mental putrinya akan kembali terganggu seperti dulu saat mengetahui Kellano memiliki hubungan dengan wanita lain.
"Bagaimana caranya aku bisa tenang, Yah? Wanita itu kembali lagi. Dia merebut Kellano dariku. Dan sekarang, Kellano menceraikan aku. Ini semua gara-gara wanita kampung itu, Yah."
Regita meraung, tangisnya semakin menjadi saat mengingat kembali ucapan Kellano yang melayangkan talak tiga padanya.
"Gak ada lagi kesempatan ku untuk mendapatkan Kellano, Yah. Aku harus apa? Aku tidak bisa hidup tanpa Kellano," racau Regita.
Membayangkan hidup tanpa Kellano membuat dadanya sangat sesak. Obsesinya pada Kellano sudah mengalahkan akal sehatnya.
"Kamu jangan seperti ini, Nak. Kamu tenang saja, selama Ayah masih ada, Ayah akan membantumu mendapatkan Kellano lagi," bujuk Ayah Regita.
Regita tidak menggubris ucapan ayahnya, wanita itu justru semakin terisak, Regita sadar tidak ada lagi harapan untuknya kembali pada Kellano.
Walaupun talak tiga bukanlah masalah besar untuk Regita. Regita hanya perlu menikah dengan pria lain sebelum kembali lagi pada Kellano. Dan mudah saja untuknya, dengan kecantikan yang Regita miliki, ia bisa mendapatkan pria manapun yang mau menjadi suami sementara nya.
Namun, mendapatkan Kellano kembali adalah bagian tersulitnya. Tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, apalagi saat ini ada Azelva di samping pria itu.
"Arlend, hanya Arlend yang bisa membuat Kellano kembali padaku. Tapi, bagaimana caranya?" Gumam Regita.
Wanita itu mencoba memikirkan cara untuk merebut Arlend dari tangan Kellano.
"Ayah tahu," ucap Ayah Regita. Pria paruh baya itu menyeringai, ia yakin kali ini rencananya akan berhasil. "Kita gunakan video penggerebekan waktu itu. Ayah yakin, Kellano bukan hanya akan menyerahkan Arlend, tapi dia juga akan menikahi Kamu kembali."
To be continued