"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Bayang-Bayang Rena
Keheningan di dalam limusin setelah badai emosi itu terasa lebih menyesakkan daripada teriakan mana pun. Kenzo Matsuda menyandarkan punggungnya pada kursi kulit yang mahal, napasnya masih terasa berat, sementara aroma wiski dan sisa gairah yang menyimpang memenuhi kabin yang kedap suara. Di sampingnya, Hana Sato meringkuk—pakaiannya berantakan, wajahnya pucat, dan matanya menatap kosong ke arah jendela yang basah oleh sisa hujan Tokyo malam itu.
Kenzo tidak menoleh pada Hana. Ia justru menatap tangannya sendiri yang gemetar. Dalam kabut alkohol yang mulai menipis, ingatannya justru ditarik paksa kembali ke musim panas tahun 1989. Sebuah masa di mana ia belum menjadi penguasa industri, melainkan hanya seorang pewaris yang kesepian di koridor Akademi Akademi.
Kilas Balik: 1989
Laboratorium kimia di lantai tiga Akademi Akademi itu selalu memiliki aroma yang khas—campuran antara amonia yang menyengat, debu kapur, dan sisa-sisa larutan tembaga sulfat yang memberikan kesan steril sekaligus mengancam. Sinar matahari sore yang oranye kemerahan menembus jendela kaca besar, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah ruangan menjadi area terang dan bayangan yang pekat. Di sanalah Kenzo pertama kali melihatnya. Rena Sato berdiri di meja paling belakang, dikelilingi oleh tabung reaksi yang mengepulkan uap tipis.
Kenzo terpaku di ambang pintu, langkahnya tertahan oleh pemandangan yang terasa tidak nyata. Rena tidak mengenakan jas laboratorium dengan benar; kancing atas seragamnya terbuka, dan rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai, berkilau di bawah cahaya temaram. Di tangannya, ia memegang sebuah pipet dengan presisi seorang pembedah, meneteskan cairan bening ke dalam gelas ukur yang berisi cairan berwarna merah pekat—warna yang terlalu mirip dengan darah segar.
Suasana ruangan itu begitu hening, hanya ada suara detak jam dinding tua dan bunyi desis kecil dari pembakar bunsen yang menyala dengan api biru yang tenang. Kenzo bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara. Ada sesuatu yang menarik perhatian dari cara Rena fokus pada cairan di tangannya. Di laboratorium yang dingin itu, Kenzo merasakan momen perkenalan yang tak terduga dengan Rena.
Suasana ruangan itu begitu hening, hanya ada suara detak jam dinding tua dan bunyi desis kecil dari pembakar bunsen yang menyala dengan api biru yang tenang. Kenzo bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara. Ada sesuatu yang menarik perhatian dari cara Rena fokus pada cairan di tangannya. Di laboratorium yang dingin itu, Kenzo merasakan momen perkenalan yang tak terduga dengan Rena.
Kenzo muda adalah pria yang kaku dan selalu terikat pada aturan ayahnya. Hingga ia melihat Rena Sato di laboratorium kimia. Rena tidak sedang belajar; ia sedang menatap sebuah botol kecil berisi cairan bening dengan senyum yang paling mengerikan namun paling indah yang pernah dilihat Kenzo.
"Kau tahu, Matsuda-kun?" suara Rena saat itu lembut, seperti desiran angin di padang rumput. "Beberapa hal di dunia ini harus dihancurkan agar keindahan yang murni bisa lahir."
Kenzo terpaku. Ada sesuatu yang begitu menarik dan berbahaya pada diri Rena yang tidak bisa ia abaikan. Hubungan mereka dimulai sebagai aliansi gelap yang tidak terucapkan. Kenzo menggunakan sumber daya keluarganya untuk menutupi jejak-jejak Rena, dan sebagai imbalannya, Rena memberinya perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun, perhatian yang terasa seperti candu.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Rena suatu malam di atap sekolah, matanya yang tajam menembus kegelapan.
"Karena kau adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia yang palsu ini, Rena," jawab Kenzo muda. Ia mendekat, mencoba menyentuh rambut hitam Rena, namun gadis itu menghindar dengan gesit.
"Cinta itu eksklusif, Kenzo. Aku sudah memberikannya pada pria lain. Kau hanya... penonton yang berguna," ucap Rena tanpa belas kasihan, meninggalkan Kenzo dengan rasa sakit yang tak terlukiskan.
Kata-kata itu adalah luka pertama yang tidak pernah sembuh. Kenzo menyadari bahwa meskipun ia memberikan seluruh kekuasaannya, ia tetap tidak bisa memiliki hati Rena. Hubungan mereka adalah "hubungan terlarang"—bukan karena moralitas, tapi karena Kenzo rela menjadi kaki tangan seseorang yang berbahaya demi mendapatkan sisa-sisa kasih sayang yang tak pernah ada.
Kembali ke Masa Kini: 2026
Kenzo memejamkan mata, merasakan kepedihan yang sama merambat di dadanya. Ia menoleh ke arah Hana. Dalam kegelapan interior mobil, Hana benar-benar terlihat seperti Rena yang ia selamatkan tiga puluh tujuh tahun lalu.
"Kau menatapku seolah aku adalah hantu," suara Hana memecah kesunyian. Suaranya dingin, tanpa emosi, persis seperti cara Rena bicara saat ia menolak Kenzo dahulu.
Kenzo meraih dagu Hana, memaksanya menatap matanya. "Kau bukan hantu, Hana. Kau adalah penebusan. Selama puluhan tahun aku hidup dengan lubang di dadaku karena ibumu memilih pria lemah itu. Aku membangun kerajaan ini, Saikou—Matsuda Corp—hanya agar aku punya cukup kekuatan untuk memutar balik waktu."
"Kau tidak bisa memutar waktu, Kenzo," desis Hana. "Kau hanya pria tua yang kesepian yang sedang berhalusinasi."
Plak!
Kenzo tidak memukulnya keras, tapi cukup untuk membuat kepala Hana tertoleh. Kenzo segera menyesal, tapi obsesinya lebih kuat dari rasa bersalahnya. Ia menarik Hana ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah takut gadis itu akan menguap menjadi asap.
"Aku tidak akan membiarkanmu lari seperti dia," bisik Kenzo di telinga Hana. "Aku sudah menyiapkan tempat untukmu. Sebuah tempat di mana tidak ada Senpai, tidak ada sekolah, tidak ada siapa pun. Hanya ada kau dan aku."
Hana merasakan kedinginan yang luar biasa. "Miyu... anakmu... dia akan tahu ayahnya adalah seorang kriminal."
Kenzo tertawa, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Miyu adalah produk dari dunia yang kaku. Dia tidak akan mengerti bahwa cinta sejati menuntut pengorbanan moral. Dia akan menjadi pemimpin yang hebat, tapi dia tidak akan pernah memiliki apa yang aku miliki sekarang."
Kenzo menekan tombol pada panel kontrol di sampingnya. "Sopir, ubah rute. Jangan ke apartemennya. Bawa kami langsung ke sayap utara kediaman utama."
Hana tersentak. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku membawamu pulang, Hana. Ke tempat yang seharusnya menjadi milik ibumu sejak dulu," ucap Kenzo dengan tatapan mata yang kini sepenuhnya gelap oleh kegilaan. "Kau akan menjadi permaisuri di sangkar emasku. Dan jika dunia mencarimu, aku akan memberitahu mereka bahwa Hana Sato sudah tidak ada lagi."
Limusin itu berbelok tajam, meninggalkan lampu-lampu kota Tokyo yang gemerlap menuju perbukitan sunyi di mana Manor Matsuda berdiri dengan megah dan mengancam. Hana menatap ke luar jendela, melihat bayangannya sendiri yang menyatu dengan kegelapan malam, menyadari bahwa mulai malam ini, identitasnya telah mati, digantikan oleh bayang-bayang Rena yang bangkit kembali.
❤️❤️❤️
Kenzo menatap Hana yang memalingkan wajah darinya, namun pikirannya tidak berada di dalam limusin ini. Ia terjebak dalam labirin penyesalan yang ia bangun sendiri selama hampir empat dekade. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Rena Sato muncul seperti tato yang terukir di balik kelopak matanya—tajam, indah, dan menyakitkan. Selama puluhan tahun, Kenzo hidup sebagai seorang pria yang memiliki segalanya: kekuasaan yang tak terbatas, kekayaan yang melimpah, dan keluarga yang dianggap sempurna oleh publik. Namun, baginya, itu semua hanyalah panggung sandiwara yang hambar.
Ia teringat setiap malam yang ia habiskan di samping istrinya, Shizuka. Wanita itu elegan dan setia, namun di mata Kenzo, Shizuka hanyalah selembar kertas kosong yang membosankan. Saat ia menyentuh istrinya, tangannya merindukan tekstur kulit Rena yang dingin namun membakar. Saat ia menatap mata istrinya, ia hanya mencari kilatan kegilaan yang hanya dimiliki oleh seorang Sato. Kenzo merasa jijik pada dirinya sendiri, bukan karena ia tidak setia, melainkan karena ia menyadari bahwa seluruh hidupnya setelah tahun 1989 adalah sebuah pelarian yang gagal.
Aku membangun Matsuda Corp untuk menjadi benteng yang cukup kuat guna melindunginya, batin Kenzo dengan pahit. Tapi dia justru memilih pria yang tidak bisa memberikan apa-apa selain kehangatan yang fana.
Rasa haus itu kini telah berubah menjadi obsesi yang berkarat di jiwanya. Baginya, takdir telah berbuat curang, dan sekarang, ia memutuskan untuk merampas kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Melihat Hana adalah melihat kesempatan untuk memperbaiki sejarah. Ia tidak peduli jika ia harus menjadi iblis di mata putrinya, Miyu, atau di mata dunia. Jika janin di rahim Hana adalah reinkarnasi dari obsesinya, maka ia akan membesarkan anak itu dalam dunia yang ia kendalikan sepenuhnya. Kenzo merasa haus, bukan akan kasih sayang, melainkan akan kekuasaan untuk memiliki kembali "Rena" yang dulu lepas dari genggamannya. Di dalam limusin yang melaju, ia bersumpah dalam hati bahwa kali ini, tidak akan ada orang lain yang boleh menyentuh keindahannya.
❤️❤️❤️
Limusin hitam itu melaju membelah jalanan Tokyo yang basah, tampak seperti siluet predator yang meluncur di tengah hutan beton. Di luar sana, lampu-lampu neon Shinjuku dan papan reklame raksasa berkedip dalam warna-warni yang menyilaukan, namun bagi Hana, semua itu tampak buram, seolah-olah dunia di balik kaca jendela yang gelap telah menjadi dimensi yang tak lagi bisa ia jangkau. Ia menempelkan dahinya ke kaca yang dingin, melihat orang-orang yang berjalan di bawah payung, bebas melangkah ke mana pun mereka mau. Ironi itu terasa menyesakkan; ia berada di dalam kendaraan paling mewah di Jepang, namun ia merasa seperti narapidana yang sedang dibawa menuju tiang gantungan.
Setiap kali mobil berguncang pelan karena melewati genangan air, Hana bisa merasakan kehadiran Kenzo yang mendominasi ruang sempit itu. Bau kulit jok yang mahal bercampur dengan aroma wiski dari napas Kenzo menciptakan atmosfer yang klaustrofobik. Kota yang biasanya ia kenal sebagai tempat penuh harapan kini berubah menjadi labirin yang mengasingkannya. Perjalanan ini terasa begitu lama, seolah-olah setiap putaran roda membawa mereka menjauh dari peradaban menuju sebuah tempat terpencil di mana hukum tidak lagi berlaku. Saat gedung-gedung tinggi mulai digantikan oleh pepohonan rimbun yang gelap di lereng perbukitan menuju kediaman Matsuda, Hana menyadari bahwa ia baru saja melewati garis batas terakhir. Kebebasannya telah tertinggal jauh di belakang, tenggelam bersama lampu-lampu kota yang perlahan menghilang dari pandangan.
❤️❤️❤️
Limusin itu akhirnya berhenti di depan tangga marmer Sayap Utara Matsuda Manor. Kenzo turun terlebih dahulu, lalu dengan kekuatan yang tidak terbantahkan, ia menarik Hana keluar dari kabin mobil yang menyesakkan itu. Hana tersandung, kakinya yang lemas hampir tidak mampu menopang berat tubuhnya saat ia dipaksa menaiki anak tangga menuju pintu jati raksasa yang terbuka lebar seperti mulut predator.
Di dalam, aroma lilin aromatik dan keheningan yang dingin menyambut mereka. Kenzo membimbingnya menuju sebuah kamar di lantai atas—sebuah ruangan yang terlalu indah untuk disebut penjara, namun terlalu terisolasi untuk disebut rumah.
"Ini adalah tempatmu sekarang, Hana," bisik Kenzo seraya melepaskan cengkeramannya. Ia mundur ke ambang pintu, menatap Hana dengan binar mata yang mengerikan—sebuah tatapan yang tidak lagi melihat Hana sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah piala yang akhirnya berhasil ia rebut kembali dari tangan waktu.
Hana hanya bisa berdiri mematung di tengah karpet Persia yang tebal. Ia mendengar suara pintu yang ditutup, disusul oleh bunyi klik elektronik dari sistem penguncian otomatis yang menggema di seluruh ruangan. Ia berlari ke jendela, mencoba mencari celah, namun yang ia lihat hanyalah teralis besi artistik yang memisahkannya dari lampu-lampu kota Tokyo yang kini terasa sangat jauh di kaki bukit.
Hana merosot di balik pintu, memeluk lututnya dalam kegelapan. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya—sebuah firasat buruk yang mulai berdenyut di rahimnya, sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya, namun sudah cukup untuk membuatnya menggigil ketakutan. Di balik pintu itu, ia bisa mendengar langkah kaki Kenzo yang menjauh, meninggalkan Hana dalam sangkar emas yang sunyi.
Dunia Hana Sato yang lama telah mati malam ini. Dan di bawah atap Matsuda Manor yang megah, sebuah tragedi baru baru saja dimulai.
Bersambung...