NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 19: WAJAH DI BALIK TOPENG

Lampu senter itu menyilaukan, memotong kegelapan jalan sepi di belakang rumah sakit. Tiga sosok semuanya bertopeng ski hitam, tapi yang paling depan adalah wanita, suaranya jelas dan dingin. AngelOfMercy. Dia yang selama ini berada di dalam rumah sakit, mengawasi, mengatur jadwal, dan sekarang… menghadang.

“Keluarlah. Satu per satu,” perintah wanita itu, pistol kecil di tangannya stabil, diarahkan ke sopir ambulans yang adalah polisi.

dr. Arman membuka pintu perlahan, tangan diangkat. “Kami keluar. Jangan sakiti siapa pun.”

Rafa, Aisha, dan Laras saling pandang. Di dalam ambulans yang gelap, anak-anak mereka ketakutan. Arka menggigil, Nadia menangis pelan, Arkana terbangun dan rewel.

“Anak-anak tetap di dalam,” kata wanita itu. “Kalian tiga orang dewasa keluar.”

Mereka patuh. Rafa keluar pertama, diikuti Aisha, lalu Laras. Udara malam dingin menusuk. Di kejauhan, sirene polisi semakin dekat tapi masih beberapa blok lagi.

“Kami tidak membawa senjata,” kata Rafa, suara tegang tapi berusaha tenang. “Apa yang kalian inginkan?”

“Keadilan,” jawab wanita itu. “Seperti yang selalu kami perjuangkan.”

“Dengan menyandera keluarga? Dengan mengancam bayi?”

“Dengan membuat dunia melihat bahwa sistem ini busuk.” Dia melangkah mendekat, senter menyinari wajah mereka satu per satu. “Kalian adalah simbol dari kebusukan itu. Keluarga dengan donor langsung, mendapat perhatian media, uang mengalir untuk yayasan… sementara anak-anak lain mati dalam sepi.”

Aisha menarik napas. “Kami tidak menciptakan sistem itu. Kami hanya mencoba bertahan di dalamnya.”

“Dan dengan bertahan, kalian memperkuat sistem itu.” Wanita itu mengangkat suntikan di tangan kirinya. “Potassium chloride. Dosis kecil untuk bayi, fatal. Atau… kalian bisa memilih.”

“Memilih apa?” tanya Laras, suara bergetar.

“Salah satu dari anak-anak kalian. Yang lain boleh hidup.”

Pilihan yang kejam. Tak masuk akal. Seperti permainan sadis.

Rafa menggeleng. “Kami tidak akan memilih.”

“Maka saya yang akan memilih.” Wanita itu menoleh ke ambulans. “Bayi itu. Arkana. Dia yang paling tidak menderita. Dia yang paling tidak mengerti. Mungkin lebih baik dia tidak tumbuh di dunia yang tidak adil ini.”

“TIDAK!” teriak Laras, maju, tapi dua sosok lain menghalangi.

Di kejauhan, sirene sangat dekat sekarang. Lampu biru-merah berkedip di ujung jalan.

“Waktumu habis,” kata wanita itu. Tapi suaranya aneh seperti ada keraguan. Dia melihat ke arah sirene, lalu kembali menatap mereka. Dan untuk sesaat, senter menyinari matanya melalui celah topeng. Mata yang familiar.

Aisha membeku. “Kamu… aku mengenal matamu.”

Wanita itu diam.

“Kamu pernah merawat Arka. Waktu dia pertama kali dirawat di rumah sakit. Kamu yang selalu datang tengah malam untuk cek tanda vital. Kamu yang… yang selalu tersenyum padanya.”

Topeng itu tidak bergerak. Tapi bahu wanita itu naik turun, napasnya berat.

“Nama kamu… Suster Maya, ya? Yang selalu bilang pada Arka, ‘Kamu kuat, nak’.”

Laras menatap, lalu ingat. “Ya… Suster Maya. Dia yang selalu bawa stiker untuk Arka.”

Wanita itu melepas topengnya perlahan.

Wajahnya masih muda, pertengahan 20-an, tapi matanya tua dan lelah. Maya. Perawat yang selama ini mereka kenal ramah, perhatian, yang sering membawakan Arka buku gambar selama dirawat.

“Kenapa, Maya?” desis Aisha, air mata mengalir. “Kamu yang selalu baik pada kami.”

Maya menatap suntikan di tangannya, lalu melihat ke ambulans di mana Arka mungkin mendengar suara mereka. “Karena… adik saya meninggal. Gagal ginjal. Umur 6 tahun. Dan tidak ada donor.”

“Kapan?” tanya dr. Arman yang mengenali Maya sebagai perawat teladan.

“Tiga tahun lalu. Saat saya sedang merawat Arka yang pertama kali masuk.” Suaranya pecah. “Setiap kali saya lihat Arka, saya lihat adik saya. Setiap kali Arka tersenyum, saya ingat adik saya yang tidak pernah bisa tersenyum lagi karena sakitnya.”

“Tapi kamu merawat Arka dengan baik,” kata Rafa.

“Karena awalnya saya pikir… mungkin dengan menyelamatkan dia, saya menebus kesalahan karena tidak bisa menyelamatkan adik saya. Tapi semakin lama, semakin saya benci. Kenapa dia bisa sembuh? Kenapa adik saya tidak?”

Logika yang bengkok oleh kesedihan. Dia mencintai dan membenci Arka sekaligus.

“Lalu kamu bergabung dengan Pembalas?” tanya Aisha.

“Mereka menemui saya. Bilang saya bisa jadi ‘malaikat dalam’ AngelOfMercy. Mereka janji akan reformasi sistem jika kami berhasil bikin kasus kalian jadi perhatian nasional.”

“Dengan cara membunuh bayi?” teriak Laras.

“Itu… rencana terakhir. Saya tidak pernah setuju. Tapi mereka bilang hanya ancaman. Untuk membuat kalian panik, lalu media akan meliput, lalu tekanan publik akan memaksa perubahan.”

“Kamu ditipu, Maya,” kata dr. Arman. “Mereka menggunakan sakitmu.”

Maya menatap suntikan lagi. Sirene sekarang sangat dekat mobil polisi berhenti beberapa meter saja, lampu menyilaukan.

“Turunkan senjatanya, Maya!” teriak seorang polisi melalui pengeras suara.

Dua sosok lain yang bersama Maya melihat situasi, lalu lari menghilang di gang gelap. Tapi Maya tidak bergerak. Dia menatap Aisha.

“Arka… dia baik pada saya. Dia selalu bilang terima kasih. Bahkan ketika sakit, dia tersenyum.”

“Dia sayang kamu, Maya,” bisik Aisha. “Jangan sakiti dia. Atau adiknya.”

Maya melepaskan pistol jatuh ke aspal dengan bunyi keras. Tapi suntikan masih di tangannya. “Saya tidak bisa kembali. Saya sudah melakukan terlalu banyak meretas jadwal, mematikan CCTV, memberi informasi pada mereka…”

“Kamu bisa membantu kami menghentikan mereka,” desak Rafa. “Kamu tahu siapa mereka. SystemBreaker? SilentWatcher? Pembalas01?”

Maya mengangguk pelan. “Saya tahu. Tapi…”

Dia melihat ke arah polisi yang mendekat dengan senjata terhunus. Lalu ke ambulans. Dan tiba-tiba, dia berbalik, berlari bukan ke arah polisi, tapi ke arah ambulans.

“JANGAN!” teriak Laras.

Tapi Maya tidak masuk ke ambulans. Dia berhenti di samping jendela belakang, mengetuk kaca. Arka yang ketakutan melihatnya melalui kaca.

Dari dalam ambulans, Arka membuka kaca sedikit. “Suster Maya?”

Maya tersenyum senyum sedih yang sama seperti dulu saat merawatnya. “Maaf, Arka. Untuk semuanya.”

Lalu dia meletakkan suntikan itu di tanah, di bawah jendela, dan mundur dengan tangan terangkat.

Polisi langsung menahannya, memborgol. Suntikan diamankan.

---

Kekacauan mereda.

Maya dibawa ke mobil polisi. dr. Arman memeriksa anak-anak semua baik-baik saja, hanya ketakutan. Ambulans dengan ban pecah diganti dengan kendaraan polisi.

Tapi sebelum Maya masuk ke mobil, dia menoleh pada Aisha. “Pembalas01… dia bukan orang tua yang kehilangan anak. Dia peneliti transplantasi yang dipecat karena melanggar etik. Namanya Dr. Farid. Dan dia punya akses ke data pasien di banyak rumah sakit.”

Informasi berharga. Dr. Farid. Mantan peneliti. Motif: dendam profesional.

Polisi segera menyelidiki. Dan dalam sejam, mereka menemukan bahwa Dr. Farid memang dipecat dua tahun lalu karena melakukan eksperimen tidak etis pada pasien transplantasi dia mencoba "memodifikasi" data donor agar pasien tertentu mendapat prioritas, dengan imbalan uang.

“Dia membenci sistem karena sistem mengusirnya,” kata penyidik. “Dan dia membenci kasus kalian karena… kalian berhasil tanpa ‘kecurangan’ menurut versinya.”

---

Mereka akhirnya dibawa ke tempat aman bukan rumah ibadah, tapi sebuah safe house milik polisi.

Kecil, sederhana, tapi aman. Setelah 24 jam dalam ketegangan, mereka akhirnya bisa bernapas sedikit.

Arka tidak bicara sepanjang perjalanan. Sesampainya di safe house, dia bertanya: “Suster Maya orang jahat?”

“Dia orang sedih yang tersesat,” jawab Aisha, memeluknya.

“Arka sedih juga untuk dia.”

Lagi-lagi, empati Arka melampaui segala kebencian.

Laras menimang Arkana yang akhirnya tertidur. “Berakhir sudah?”

“Mungkin,” kata Rafa. “Tapi kita harus pastikan.”

Polisi menangkap Dr. Farid di apartemennya tengah malam. Dia tidak melawan. Di komputernya, semua bukti: rencana serangan, komunikasi dengan tim, bahkan draf manifesto yang akan dirilis setelah “aksi”.

“Dia ingin jadi pahlawan dalam narasinya sendiri,” kata penyidik. “Menyelamatkan anak-anak lain dengan ‘mengorbankan’ satu bayi yang dia anggap sebagai korban yang diperlukan.”

Logika monster.

---

Tiga hari kemudian, semua anggota tim Pembalas sudah ditangkap. SystemBreaker adalah Andika, mahasiswa drop out yang adiknya meninggal. SilentWatcher adalah mantan satpam rumah sakit yang dipecat karena mencuri dia menyediakan akses fisik dan informasi keamanan. Dan Pembalas01 adalah Dr. Farid.

Rantai itu terputus.

---

Mereka kembali ke rumah Rafa setelah seminggu di safe house.

Rumah itu masih dengan sistem keamanan ketat, tapi sekarang terasa lebih… tenang. Ancaman telah berlalu.

Tapi luka tidak serta merta sembuh. Arka masih terbangun malam hari. Nadia masih takut pada orang asing. Arkana rewel jika ditinggal sendirian.

Dan Aisha, Rafa, Laras mereka tiga orang dewasa yang telah melalui perang bersama kini duduk di ruang keluarga larut malam, setelah anak-anak tertidur.

“Kita tidak bisa terus hidup dalam ketakutan,” kata Laras. “Tapi juga tidak bisa melupakan.”

“Kita perlu penutup,” usul Aisha. “Bukan melupakan, tapi… memberi makna pada semua yang terjadi.”

“Yayasan,” kata Rafa. “Kita akan fokus pada yayasan. Bantu anak-anak lain. Dan… mungkin kita perlu bercerita. Jujur. Tentang semua yang terjadi bukan sebagai korban, tapi sebagai orang yang berusaha bertahan.”

Mereka setuju. Mereka akan menulis buku. Tentang perjalanan mereka. Tentang kesalahan masa lalu, transplantasi, ancaman, dan akhirnya… pengampunan.

---

Beberapa minggu kemudian, mereka mengunjungi Maya di penjara. Dia akan diadili, tapi dengan kerja sama memberikan informasi, hukumannya mungkin lebih ringan.

Maya menangis saat melihat mereka. “Maaf. Saya tidak pantas diampuni.”

“Tapi kami memaafkan,” kata Aisha. “Karena kami paham sakitmu.”

Arka memberikan gambar untuk Maya gambar Suster Maya dengan sayap malaikat. “Kamu tetap malaikat buat Arka. Cuma lagi tersesat.”

Maya menangis tersedu-sedu. Pengampunan dari anak yang hampir menjadi korbannya.

---

Bulan-bulan berlalu.

Yayasan Arkana Harapan berkembang. Mereka tidak hanya membantu anak-anak transplantasi, tapi juga mendukung konseling untuk keluarga yang kehilangan mencegah kepahitan berubah menjadi kebencian.

Dan keluarga mereka… mereka menemukan ritme baru. Aisha tetap tinggal di rumah, menjadi direktur yayasan. Laras mengurus rumah dan anak-anak dengan bahagia. Rafa bekerja, tapi selalu pulang tepat waktu.

Mereka bukan keluarga konvensional. Tapi mereka keluarga.

Suatu sore, Arka yang sedang mengerjakan PR tiba-tiba berkata: “Ayah, Bunda, Ibu Laras… Arka mau minta sesuatu.”

“Apa, sayang?” tanya Rafa.

“Arka mau panggil Ibu Laras ‘Mama’. Bunda tetap ‘Bunda’. Tapi Arka mau punya dua mama. Boleh?”

Laras terkejut, lalu menangis bahagia. “Boleh. Tentu saja boleh.”

Aisha tersenyum, tidak cemburu. Cinta tidak terbagi cinta berlipat.

---

Mungkin perjalanan mereka belum benar-benar berakhir.

Dunia masih penuh dengan orang yang sakit hati, sistem yang tidak adil, dan dendam yang bisa tumbuh di mana saja.

Tapi sekarang, mereka punya senjata yang lebih kuat dari ketakutan: mereka punya satu sama lain. Dan mereka punya cerita untuk dibagikan cerita tentang bagaimana cinta, pengampunan, dan ketahanan bisa menang, bahkan di tengah kegelapan terbesar.

Malam itu, saat mereka semua tidur, Aisha berdiri di balkon, melihat bintang. Delapan tahun lalu, dia sendirian, hamil, takut. Sekarang, dia dikelilingi keluarga tidak sempurna, tapi miliknya.

Dia berbisik pada angin malam: “Kita selamat. Dan kita akan baik-baik saja.”

---

(Di suatu tempat, seorang pria paruh baya membaca berita tentang keluarga ini di koran. Dia tersenyum tipis, lalu melipat koran itu. Di mejanya, ada foto Aisha muda. Dan di notebook-nya, tulisan: "Proyek berikutnya: Yayasan Arkana Harapan. Tunggu saja.")

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!