"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.
Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?
Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keajaiban di Tengah malam
Bab 18: Keajaiban di Tengah Malam
Malam itu begitu sunyi. Hanya suara jangkrik dan angin malam yang berhembus pelan di sela-sela rumah-rumah kecil di gang sempit itu. Lampu minyak yang redup menerangi ruangan seadanya, memberikan cahaya samar di wajah Rini yang tampak pucat dan penuh kecemasan.
Nayla masih terbaring lemah di atas kasur tipis mereka. Keringat dingin membasahi dahinya, tubuhnya menggigil, dan nafasnya semakin berat. Setiap helaan napas terasa seperti perjuangan, seperti ada sesuatu yang menghalangi udara masuk ke dalam paru-parunya.
Aditya duduk di sampingnya, menggenggam tangan kecil adiknya dengan erat. Matanya yang sembab menatap ibunya penuh kekhawatiran.
“Ibu… Nayla semakin parah,” suaranya bergetar.
Rini menelan ludah, berusaha menenangkan diri, tapi hatinya benar-benar hancur.
“Nayla, bertahan ya, Sayang… tolong bertahan…” bisik Rini sambil mengelus kepala putrinya.
Tiba-tiba, tubuh Nayla menegang, dan nafasnya berubah semakin sesak. Matanya melotot, seperti kesulitan mengambil udara. Dadanya naik turun dengan cepat, dan batuknya semakin parah.
“Ugh… Ughh… Ibu….” Nayla tersedak, lalu tiba-tiba…
Darah keluar dari mulutnya.
Mata Rini membelalak.
Aditya menjerit, “IBUUU!!”
Rini langsung panik, tangannya gemetar memegang tubuh kecil Nayla.
“Nayla! Jangan, Sayang! Bertahan! Tolong, Nak!!” Rini mengguncang tubuh kecil itu, tapi Nayla semakin lemas, bibirnya membiru.
“Ya Allah… tolong…” suara Rini pecah dalam tangis.
Tiba-tiba…
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras di pintu mengagetkan mereka.
“Rini! Rini!!” Suara seorang wanita terdengar di luar.
Rini buru-buru bangkit dan membuka pintu dengan tangan gemetar.
Di hadapannya berdiri seorang wanita berusia sekitar 50 tahun, mengenakan baju tidur dan wajah penuh kecemasan. Itu adalah Bu Lastri, majikannya di pasar.
Bu Lastri langsung melihat ke dalam rumah dan mendapati Nayla yang sekarat di atas kasur.
“Ya Tuhan! Rini, anakmu kenapa?!” Bu Lastri langsung masuk tanpa ragu.
Rini terisak. “Bu… saya nggak tahu harus gimana… saya sudah coba semuanya… dia semakin parah… saya takut dia…”
Rini tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Bu Lastri segera merogoh ponselnya dan menekan nomor darurat.
“Halo? Ambulans? Cepat ke alamat ini! Ada anak kecil dalam kondisi kritis! Cepat, kumohon!”
Rini hanya bisa terisak sambil memeluk tubuh Nayla yang semakin melemah. Aditya di sampingnya menangis tanpa suara, hanya menunduk dengan tangan mengepal.
Tak lama, suara sirine ambulans terdengar memecah kesunyian malam.
Pertolongan di Ujung Harapan
Beberapa petugas medis bergegas masuk dengan tandu. Mereka dengan cekatan memeriksa Nayla, memasangkan masker oksigen, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke atas tandu.
“Ibu, kami harus segera membawanya ke rumah sakit,” kata salah satu petugas.
Rini terdiam, pikirannya penuh kekhawatiran. “Tapi… saya tidak punya uang…”
Bu Lastri menepuk pundaknya. “Rini, jangan pikirkan uang sekarang. Aku yang akan menanggung semua biaya rumah sakit Nayla.”
Rini menatap Bu Lastri dengan mata membelalak.
“Tapi, Bu… itu terlalu banyak… saya…”
Bu Lastri tersenyum lembut. “Sudah, Rini. Kamu sudah cukup menderita. Aku tidak bisa membiarkan anakmu mati begitu saja.”
Rini tidak bisa menahan air matanya lagi. Dengan suara bergetar, dia hanya bisa berkata, “Terima kasih… terima kasih banyak, Bu…”
Malam itu, Nayla dilarikan ke rumah sakit. Sebuah keajaiban datang di tengah keputusasaan.
---
Catatan untuk Pembaca:
Rini bekerja di dua tempat untuk menghidupi anak-anaknya. Bu Lestari adalah majikannya di sebuah rumah makan, sedangkan Bu Lastri adalah majikannya di pasar tempat ia bekerja sebagai buruh angkut barang. Keduanya memiliki peran besar dalam kehidupan Rini, tetapi malam ini, Bu Lastri menjadi malaikat penolong di saat yang paling genting.