NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelengahan

Setibanya di depan pintu utama, aku menyaksikan pemandangan yang jarang terjadi. Seluruh penghuni mansion telah berkerumun, membentuk barisan yang sangat presisi di sepanjang aula. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit beradu dengan kilau lantai marmer yang dipoles sempurna, menciptakan pantulan cahaya yang menyilaukan mata. Hendrik berdiri tegak di barisan paling depan, posturnya kaku dan sempurna seolah waktu tidak bisa membengkokkan tulang punggungnya. Di sampingnya, Irina berdiri dengan keanggunan yang tak tertandingi, wajahnya tenang, namun binar di matanya mengkhianati debaran jantungnya yang penuh antisipasi.

Namun, yang membuat alisku sedikit mengernyit adalah sosok di samping mereka. Calona. Ibu yang biasanya lebih suka menjauhkan diri. Tidak biasanya Ibu mau repot-repot menyambut tamu secara langsung, pikirku dalam hati. Aku segera menyelipkan diri di antara barisan pelayan dan penjaga, mencoba menghilang dalam keramaian sambil terus mengamati situasi.

Pintu ganda yang masif itu akhirnya terbuka perlahan, mengeluarkan suara berat yang bergema. Jover melangkah masuk lebih dulu, auranya yang gelap dan kuat sejenak mendominasi ruangan. Ia berhenti tepat di ambang pintu, lalu melakukan sesuatu yang sangat jarang kulihat, ia menundukkan kepalanya dengan sikap formal yang sangat dalam.

“Tuan,” ucap Jover, suaranya lantang namun bergetar oleh rasa hormat yang tertahan. “Selamat datang kembali.”

Seketika, seluruh pelayan di aula memberikan hormat serempak, sebuah gerakan yang terlatih sempurna. Dan kemudian, dia masuk.

Roland Grozen.

Sosoknya masih sama seperti yang tersimpan dalam ingatanku, tinggi, berwibawa, dengan langkah kaki yang tenang dan tidak tergesa. Namun, ada satu perubahan fisik yang sangat mencolok. Rambutnya yang dahulu berbayang gelap kini telah memutih sepenuhnya menjadi warna perak murni, berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Itu adalah tanda yang jelas bagi siapa pun yang memahami sihir tinggi; tanda seseorang yang terlalu sering melampaui batas kekuatan manusianya demi mencapai tingkatan magis yang mustahil.

Seperti biasa, pikirku sambil terkekeh dalam hati. Kau tak pernah belajar untuk berhenti menyiksa dirimu sendiri, Roland.

Roland mengedarkan pandangan birunya yang tajam ke sekeliling aula, menyapu wajah-wajah familiar dengan ekspresi yang sulit dibaca. Namun, ketika matanya berhenti pada Irina, seluruh kekakuan di wajahnya mencair. Senyum lembut yang penuh dengan kerinduan muncul di bibirnya. Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan merengkuh Irina dalam pelukan hati-hati, seolah takut akan menghancurkan sesuatu yang rapuh.

“Akhirnya kau kembali,” bisik Irina pelan, suaranya sarat dengan kelegaan.

Roland membalas pelukan itu sejenak, lalu menurunkan pandangannya ke perut Irina yang membuncit. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia mengelus perut itu, seolah-olah sedang berkomunikasi dengan nyawa kecil yang ada di dalamnya.

“Aku sudah berjanji padamu,” katanya dengan nada suara yang dalam. “Aku tidak akan melewatkan momen ini. Karena itu aku memacu pelayaranku kembali lebih cepat dari seharusnya.”

Suasana hangat dan penuh keharuan seketika menyelimuti aula. Para pelayan mulai bernapas lega, dan Hendrik mengangguk puas. Bahkan Calona, meski wajahnya tetap kaku bak porselen, memilih untuk tetap bungkam dan tidak merusak suasana. Aku bersandar santai pada sebuah pilar, mengamati drama keluarga ini dengan setengah senyum. Semuanya berjalan terlalu sempurna, terlalu damai untuk ukuran rumah yang dihuni oleh para entitas luar biasa ini.

Dan di tengah kesempurnaan itu, aku terlambat menyadarinya.

Suara langkah kaki kecil yang sangat ringan terdengar di atas marmer. Aku menoleh cepat, dan jantungku seolah berhenti berdetak.

Cloudet.

Anak itu berjalan perlahan, matanya tertuju lurus ke depan dengan fokus yang aneh. Ia melewati kerumunan orang dewasa tanpa ragu, seolah-olah ada magnet kuat yang menariknya menuju titik tengah aula. Sebelum siapa pun termasuk aku sempat bereaksi, Cloudet sudah berdiri tepat di hadapan Roland.

Lalu, tanpa aba-aba, ia memeluk kaki pria itu erat-erat.

Aula seketika menjadi vakum. Hening yang tercipta begitu pekat hingga suara detak jam di kejauhan terdengar jelas. Tangannya yang mungil mencengkeram kain mantel Roland yang mahal, kepalanya menempel ringan pada lutut pria itu. Cloudet tampak begitu tenang, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sangat ia kenal, sesuatu yang terasa seperti "pulang".

“Halo,” ucap Cloudet dengan kepolosan yang mematikan.

Wajah Roland yang biasanya tak tergoyahkan kini membeku total. Tangannya yang hendak bergerak terhenti di udara. Pupil matanya membesar, sebuah reaksi emosional yang hampir mustahil keluar dari seorang Magus sehebat dia. Ia menatap Cloudet, meneliti mata kuning pucat itu dan helaian rambut hitam lembut yang memicu ingatan-ingatan dalam benaknya.

Udara di dalam aula mendadak berubah. Suhu turun beberapa derajat, dan api neraka di dalam dadaku mulai berdesir gelisah.

Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Roland akhirnya bergerak. Dengan gerakan yang sangat pelan dan khidmat, ia berlutut. Ia merendahkan dirinya hingga sejajar dengan tinggi Cloudet, menatap anak itu tepat di matanya. Keheningan itu berlangsung lama sekali, seolah waktu sengaja berhenti untuk memberikan ruang bagi mereka berdua. Tidak ada yang berani bernapas.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Roland.

Suaranya pecah, jauh lebih lembut dan manusiawi daripada nada bicaranya yang biasanya dingin dan kalkulatif.

Cloudet menatapnya balik dengan mata kuningnya yang besar. Ia berkedip perlahan, seolah sedang memproses pertanyaan itu. Meski ia memahami bahasa manusia, kata-kata masih menjadi hal yang sulit baginya untuk diucapkan. Bibirnya sedikit terbuka, namun kemudian menutup kembali. Ia tidak langsung menjawab, melainkan mendongak menatap Irina dengan pandangan yang begitu tulus, seakan bertanya tanpa suara: “Bolehkah aku berbicara dengannya? Apakah ini aman?”

Roland mengikuti arah pandangan itu. Ia menoleh ke arah Irina,

“Dia yang kau maksud dalam suratmu?” tanya Roland, suaranya sedikit serak.

Irina tersenyum, jenis senyuman yang penuh dengan keyakinan mutlak. “Ya,” jawabnya tenang. “Itu dia, Roland. Dia anak nya.”

Untuk sesaat, Roland tidak mengatakan apa pun. Ia kembali menatap Cloudet, lalu tiba-tiba terdengar suara kecil—sebuah tawa pelan, rendah, dan sangat kering. Roland menundukkan kepalanya sedikit, menutup matanya sejenak sambil mengusap wajahnya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Heh… Jadi begitu rupanya,” gumamnya.

Jover, yang sejak tadi berdiri kaku seperti patung, akhirnya tersadar dari keterpakuannya. Ia bergerak maju dengan cepat, auranya sedikit bergejolak karena rasa cemas.

“Maafkan kelalaian kami, Tuan,” katanya cepat sambil membungkuk dalam. “Aku akan segera membawa anak ini.”

Tangannya yang besar hampir meraih bahu kecil Cloudet untuk menariknya menjauh.

“Tidak perlu.”

Hanya dua kata, namun efeknya luar biasa. Suara Roland menghentikan Jover seketika, seolah ada dinding transparan yang muncul di antara mereka. Nada bicaranya tidak keras, juga tidak mengandung ancaman, namun memiliki otoritas alami yang mutlak. Roland berdiri kembali, menarik napas panjang. Ekspresinya kini berubah drastis, ia tampak jauh lebih cerah, matanya berkilat dengan kegembiraan yang aneh.

Ia menepuk kedua tangannya sekali, memecahkan sisa-sisa ketegangan di aula itu dengan cara yang sangat kasual.

“Aku sangat lapar,” katanya dengan nada ringan, seolah-olah momen mistis tadi tidak pernah terjadi. “Ayo, kita lanjutkan ini di meja makan.”

Seketika, atmosfer yang mencekam tadi pecah. Para pelayan saling melirik bingung namun segera bergerak cepat menjalankan tugas mereka. Roland berjalan lebih dulu, menggandeng tangan Irina dengan penuh perhatian menuju ruang makan utama.

Calona menyusul dengan langkah yang anggun namun kaku, matanya tetap terpaku pada Cloudet seolah-olah anak itu adalah anomali yang harus segera ia bedah. Hendrik mengikuti di belakang dengan ekspresi yang tak terbaca.

Aku masih berdiri terpaku di tempatku ketika Jover bergerak. Dengan satu tangan yang cekatan, ia mengangkat Cloudet dari lantai. Gerakannya begitu efisien, mengangkat tubuh kecil itu seolah ia hanya seberat bulu. Cloudet sempat tersentak kaget, kakinya menendang udara sebentar, namun ia segera tenang begitu mengenali aroma Jover.

Tanpa banyak bicara, Jover melangkah ke arahku dan menyerahkan Cloudet ke dalam dekapanku dengan gerakan yang agak kasar.

“Anak ini jauh lebih aktif dan sulit ditebak dari yang kuduga,” ucap Jover datar, namun aku bisa merasakan kejengkelan yang samar dalam suaranya. “Kau lalai mengawasinya, Calix.”

Aku menerima Cloudet dan refleks mendekapnya di dada. Tubuh kecil itu terasa hangat, dan aku bisa merasakan ekor hellhound-nya yang tersembunyi bergerak pelan di balik pakaiannya, sebuah tanda bahwa ia sedang merasa sangat antusias.

Aku terkekeh kecil, mencoba mencairkan kekakuanku sendiri.

“Ahahaha… iya, iya, aku tahu, Ayah. Dia memang punya caranya sendiri untuk menarik perhatian,” kataku sambil menggaruk leherku yang tidak gatal.

Jover hanya mendengus pelan sebagai jawaban, lalu berbalik dengan jubahnya yang berkibar, mengikuti rombongan lain menuju ruang makan.

Aku menurunkan pandanganku, menatap wajah Cloudet yang masih memerah karena antusiasme. Anak itu tidak lepas memandang ke arah pintu ruang makan tempat Roland menghilang. Matanya berbinar-binar dengan kilauan yang belum pernah kulihat sebelumnya, penuh rasa ingin tahu, rasa kagum, dan sebuah ikatan batin yang sangat dalam yang mungkin hanya mereka berdua yang pahami. Aku menghela napas panjang, merapatkan pelukanku pada Cloudet, dan mulai melangkah mengikuti mereka.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!