Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Kecil yang Ingin Memikul
Aku duduk di atas tanah, memeluk Pipit erat-erat. Pipit aku selipkan di sela pagar bambu agar dia bisa melihat jalan setapak yang dilalui Ibu dan Ayah. Aku belum bisa menghitung angka dengan benar, tapi aku tahu satu hal, jika Ibu pulang dengan tas yang ringan, berarti kami hanya akan makan sederhana saja.
Aku melihat tanganku sendiri. Kecil, mungil, dan masih lembut. Aku benci melihat tangan itu.
"Kenapa tanganku tidak sebesar tangan Ayah, Pipit?" tanyaku pada boneka merahku. "Kalau tanganku besar, aku bisa bawa parang. Aku bisa bawa pikulan yang berat itu supaya Ayah tidak perlu meringis setiap bangun tidur."
Mimpiku bukan tentang sekolah atau baju baru. Di kepalaku yang baru berusia empat tahun ini, mimpiku adalah melihat Ibu tidak perlu lagi menggendong tas berat di punggungnya yang semakin bungkuk. Aku ingin membawa pulang banyak uang, lalu memberikannya pada Ibu agar dia bisa tidur lebih lama di pagi hari.
Aku berdiri, mencoba mengangkat sepotong kayu sisa di pojok halaman. Kayu itu hanya sebesar lenganku, tapi rasanya sangat berat. Aku mencoba menaruhnya di pundak, meniru gerakan Ayah tadi subuh.
"Aduh!" Kayu itu jatuh menimpa kakiku. Sakit sekali, tapi aku tidak berani menangis kencang. Ibu bilang, anak kuat tidak boleh cengeng.
Aku kembali duduk di balik pagar bambu, tempat rahasiaku. Di sini, aku sering berandai-andai. Aku mengubur keinginan untuk memiliki mainan baru seperti anak-anak yang lewat di depan rumah. Aku mengubur keinginanku untuk minta dibelikan jajanan pasar. Semua keinginan itu aku simpan rapat-rapat, aku sembunyikan dari Ibu agar dia tidak merasa sedih karena tidak bisa membelikannya.
"Pipit, nanti kalau aku sudah lima tahun, aku pasti sudah kuat, kan?" bisikku penuh harap.
Batas antara aku yang masih kecil dan aku yang harus dewasa sangatlah tipis. Di satu sisi, aku ingin merengek minta dipangku, tapi di sisi lain, aku merasa bersalah jika harus menambah beban mereka. Jadi, aku hanya bisa menunggu di balik pagar ini, menjaga rumah dengan dua boneka kusamku, sambil terus memikirkan cara bagaimana tangan kecil ini bisa menghasilkan uang untuk membeli nasi.
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menciptakan bayangan panjang dari pagar bambu yang membelah tanah. Aku masih di sana, setia menanti kepulangan mereka. Perasaan linu di kakiku akibat tertimpa kayu tadi perlahan menghilang, berganti dengan rasa lapar yang mulai melilit. Namun, setiap kali perutku berbunyi, aku segera memeluk Pipit lebih kencang, seolah-olah dekapan itu bisa membungkam keinginan untuk makan. Aku tidak boleh mengeluh, rasa lapar ini tidak ada apa-apanya dibandingkan peluh yang membasahi baju Ayah di ladang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari kejauhan. Itu mereka. Aku segera berdiri, merapikan Pipit lalu memasang senyum terbaikku, senyum yang selalu kusiapkan untuk menyambut lelah mereka agar sedikit terobati. Ibu berjalan dengan napas yang memburu, punggungnya sedikit membungkuk membawa tas yang tampak masih berisi. Hatiku mencelos, namun aku segera berlari kecil menyongsong mereka.
"Ibu! Ayah!" teriakku girang, menyembunyikan segala kegelisahan yang tadi kupikirkan.
Ayah mengusap kepalaku dengan tangannya yang kasar dan penuh kapalan. Tangan itu terasa seperti pelindung yang kokoh, meski aku tahu di balik kekuatan itu ada rasa sakit yang dipendamnya. Saat Ibu menurunkan tasnya, aku melihat secuil bungkusan daun pisang di dalamnya. Bukan uang banyak, bukan pula tas yang ringan, tapi Ibu tersenyum sambil berkata, "Tadi ada sisa sedikit, ini untuk kamu."
Malam itu, saat aku berbaring di antara mereka di atas tikar pandan yang tipis, aku menatap langit-langit rumah yang bolong. Aku menyadari satu hal, tanganku mungkin masih kecil hari ini, dan kayu yang kucoba angkat tadi memang masih terlalu berat. Namun, cinta yang memenuhi dadaku jauh lebih besar dari rasa takutku akan kemiskinan. Aku memejamkan mata, berjanji pada kesunyian malam bahwa besok, saat matahari terbit, aku akan bangun dengan semangat yang sama. Aku akan terus tumbuh, bukan hanya fisiknya, tapi juga ketangguhan hatiku. Tangan kecil ini mungkin belum bisa memikul parang, tapi dia sudah bisa mendekap doa-doa paling tulus untuk keberlangsungan hidup kami.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰