NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEBELAS: PERAMPASAN

Suasana di depan panti asuhan yang biasanya tenang dan damai, kini berubah menjadi medan pertempuran ego yang sangat timpang. Wajah Bi Jena yang biasanya memancarkan kelembutan dan ketenangan seorang ibu asuh, kini tampak mengeras seperti batu karang. Matanya yang sayu namun tajam menatap langsung ke arah Giselle Valentinus, mencoba mencari celah di balik wajah cantik yang tampak sangat tidak waras itu. Sebagai wanita yang telah menghabiskan puluhan tahun melindungi anak-anak yang terbuang, insting protektif Bi Jena berteriak keras. Ia melihat Seraphina—gadis yang ia besarkan dengan kasih sayang—berdiri di sana dengan wajah sembab, tubuh gemetar, dan dibungkus oleh gaun yang terasa sangat asing di tempat kumuh ini.

"Mengadopsi? Maafkan kelancangan saya, Nyonya Valentinus, tapi saya rasa Anda sedang mengalami kesalahpahaman yang sangat besar," Bi Jena membuka suara. Suaranya dingin dan sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang ia tahan di dalam dadanya. Ia menarik bahu Seraphina, membawa gadis itu lebih dekat ke sisinya, seolah ingin menciptakan perisai manusia antara Seraphina dan keluarga predator di hadapannya. "Seraphina adalah anak asuh saya. Dia memiliki kehidupan di sini, dan dia bukan barang yang bisa Anda adopsi begitu saja hanya karena Anda menginginkannya dalam satu malam."

Giselle tidak tampak tersinggung. Sebaliknya, ia justru tertawa kecil. Suara tawanya yang centil dan nyaring terdengar sangat absurd, membelah kesunyian malam di lingkungan panti asuhan yang miskin. Ia menatap Bi Jena dengan pandangan meremehkan, seolah Bi Jena baru saja menceritakan sebuah lelucon konyol yang tidak lucu sama sekali.

"Salah paham? Oh, tidak, Nona Bi Jena yang terhormat! Saya tidak pernah salah paham jika menyangkut hal-hal yang saya inginkan!" Giselle menyahut dengan nada yang sangat ringan, seolah-olah sedang membicarakan belanja tas di butik. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Bi Jena dengan intensitas mata birunya yang mengerikan. "Saya menginginkan Seraphina. Begitu saya melihatnya, hati saya langsung jatuh cinta. Dia adalah perwujudan dari bayi kelinci yang paling imut dan gemas yang pernah saya temui! Saya sudah memutuskan bahwa dia akan menjadi putri saya, dan keputusan saya adalah hukum"

"Tapi, Nyonya, ada aturan hukum yang berlaku! Anda tidak bisa hanya datang dan mengambil seseorang!" suara Bi Jena meninggi, mencoba mempertahankan kewarasannya di depan wanita yang jelas-jelas tidak mengenal batasan moral.

"Tentu saja saya bisa!" Giselle memotong dengan nada mutlak, sebuah nada yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah memiliki dunia di bawah kaki mereka sejak lahir. "Saya adalah Giselle Maximus Valentinus. Istri dari pria yang mengontrol ekonomi kota ini. Apa pun yang saya inginkan, akan jatuh ke tangan saya. Dan saat ini, saya menginginkan Nana. Detik ini juga."

Bi Jena mengalihkan pandangannya kepada Orion yang berdiri tegak di belakang ibunya. Pria itu diam seribu bahasa, namun kehadirannya terasa seperti gunung berapi yang siap meledak. Aura intimidasi yang sangat kuat memancar dari tubuh tegapnya. Orion tidak menatap Bi Jena; matanya yang hitam legam hanya terkunci pada Seraphina, memberikan tatapan yang jelas-jelas mengandung ancaman predator. Bi Jena tahu betul siapa keluarga Valentinus. Mereka bukan sekadar orang kaya; mereka adalah penguasa bayangan. Satu telepon dari mereka bisa membuat panti asuhannya rata dengan tanah dalam waktu satu jam.

"Nyonya, adopsi itu ada prosedurnya. Ada persyaratan administrasi, ada tinjauan sosial, ada..."

Giselle tertawa lagi, kali ini suaranya lebih nyaring dan terdengar sedikit histeris. Ia merogoh tas Hermes miliknya yang seharga rumah mewah dan mengeluarkan sebuah ponsel yang bertahtakan berlian. Jemarinya yang lentik bergerak cepat di atas layar.

"Jay! Cepat urus semua persyaratan sampah itu sekarang juga!" teriak Giselle ke ponselnya tanpa menjauhkan alat itu dari telinganya. "Telepon tim pengacara keluarga! Siapkan dokumen adopsi paling lengkap malam ini! Mama tidak mau menunggu sampai besok pagi! Mama ingin Nana langsung ikut pulang ke mansion sekarang! Mengerti?!"

Jay, yang berdiri dengan sikap sempurna di samping mobil, hanya membungkuk tipis. "Segera dilaksanakan, Nyonya Giselle."

Bi Jena terkesiap, napasnya terasa sesak. Ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kegilaan yang didukung oleh kekuasaan tak terbatas. Giselle Valentinus tidak peduli pada perasaan Seraphina, tidak peduli pada prosedur hukum, dan tidak peduli pada etika. Baginya, dunia adalah taman bermain di mana ia bisa memetik bunga mana pun yang ia sukai.

Di tengah tarik-ulur ego orang-orang dewasa ini, Seraphina hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ia merasa sangat malu, risih, sekaligus ketakutan. Ia bisa merasakan tatapan Bi Jena yang penuh kekhawatiran, namun ia juga bisa merasakan "panas" yang memancar dari arah Orion. Di dalam pikirannya, Seraphina sedang bertarung dengan badai. Panti asuhan adalah rumahnya, tempat yang aman namun penuh kekurangan. Sedangkan mansion Valentinus... itu adalah sangkar emas yang penuh dengan duri.

"Nak Seraphina, lihat saya," Bi Jena berkata dengan suara yang melunak, penuh dengan keprihatinan yang mendalam. Ia memegang kedua bahu Seraphina, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Katakan pada saya dengan jujur. Apakah kamu benar-benar ingin ikut dengan wanita ini? Jangan takut, Nak. Jika kamu bilang tidak, saya akan berjuang sampai titik darah terakhir untuk menjagamu di sini."

Seraphina mengangkat kepalanya perlahan. Ia melihat wajah Bi Jena yang lelah, wajah yang selama ini memberinya makan dan tempat berteduh. Lalu ia melirik ke arah Giselle yang sedang tersenyum riang sambil memamerkan koleksi berlian di tangannya, dan akhirnya matanya bertemu dengan mata Orion.

Di sana, di dalam mata hitam Orion, Seraphina melihat sebuah janji kegelapan. Meskipun pria itu tampak tenang, Seraphina tahu bahwa milik pria itu—yang tadi menghancurkan kesuciannya—masih menuntut lebih. Trauma dari sentuhan kasar Orion masih terasa nyata di kulitnya. Rasa perih yang menusuk di antara kedua kakinya seolah menjadi alarm yang terus berbunyi. Seraphina menyadari satu hal yang pahit: jika ia menolak ikut Giselle, ia mungkin akan aman dari "adopsi", tapi ia tidak akan pernah aman dari Orion. Pria itu akan kembali menculiknya, mencabulinya, dan mungkin melakukan hal yang lebih buruk tanpa ada siapa pun yang bisa menghalanginya.

Jika ia mengikuti Giselle, setidaknya ada sosok "ibu" yang tampaknya sangat posesif dan protektif terhadapnya. Itu adalah satu-satunya pelindung yang bisa ia gunakan untuk menghindar dari serangan langsung Orion.

Giselle kembali memeluk Seraphina, kali ini dengan kekuatan yang seolah ingin merasuki jiwa gadis itu. "Ayo, Sayangku! Ikutlah dengan Mama! Kita akan bersenang-senang seperti di negeri dongeng! Kita akan makan es krim paling enak di dunia sampai kita gendut! Kita akan menonton drama Korea favoritmu setiap malam di bioskop pribadi kita! Mama janji, Mama akan membuatmu menjadi gadis paling bahagia di bumi ini!"

Orion melangkah maju satu langkah. Ia berdiri tepat di samping ibunya, menciptakan dinding daging dan otoritas yang sangat mengintimidasi. Ia tidak mengucapkan satu kata pun, namun tekanan udara di sekitar mereka seolah menurun drastis. Itu adalah pesan tanpa suara: Ikutlah dengan ibuku, atau aku yang akan menyeretmu kembali dengan caraku sendiri.

Seraphina menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ia melihat garis-garis kelelahan di wajah Bi Jena dan menyadari bahwa melawan keluarga Valentinus hanya akan membawa bencana bagi panti asuhan dan anak-anak lainnya. Ia tidak ingin menjadi penyebab panti asuhan ini dihancurkan.

"Aku... aku... ikut," bisik Seraphina. Suaranya sangat lemah, nyaris tertutup oleh suara desiran angin malam.

Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar di tengah keheningan. Wajah Bi Jena seketika berubah pucat pasi, matanya membelalak penuh kesedihan dan rasa tidak percaya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika Seraphina sendiri yang mengatakannya. Di sisi lain, Giselle bersorak riang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah natal terbesar. Ia melompat-lompat kecil sambil memeluk Seraphina lebih erat lagi.

"YEEEEY! Anak Mama setuju! Mama sangat, sangat senang! Ayo, Sayang! Kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya!" teriak Giselle dengan penuh semangat, menarik Seraphina kembali ke arah mobil mewah yang sudah menunggu.

Orion hanya memberikan anggukan tipis yang sangat dingin ke arah Bi Jena. Sebuah seringai puas yang nyaris tak terlihat terukir di sudut bibirnya. Ia tahu bahwa ia telah memenangkan permainan ini. Sang kelinci telah masuk ke dalam sangkar dengan sukarela, dan ibunya—wanita paling tidak waras yang ia kenal—telah menjadi sipir penjara yang paling efektif tanpa disadarinya.

"Kami akan mengurus semua dokumen dan kompensasi untuk panti asuhan ini, nyonya Jena," kata Orion. Suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki bobot yang mematikan. "Anda tidak perlu merasa khawatir lagi tentang masa depan Seraphina. Dia berada di tangan yang... tepat."

Kata 'khawatir' dan 'tepat' diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas sebagai ancaman. Bi Jena hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu panti asuhan yang tua itu. Ia menatap nanar saat pintu mobil Mercedes-Benz itu tertutup rapat, menyembunyikan Seraphina dari pandangannya. Mobil itu mulai melaju pergi, membawa Seraphina menjauh dari satu-satunya kehidupan sederhana yang ia pahami, menuju sebuah dunia yang berlumuran emas namun berbau darah.

Bi Jena tahu, malam itu ia baru saja kehilangan salah satu bidadari kecilnya ke dalam mulut keluarga serigala. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya di balik daster tuanya, berdoa dengan penuh keputusasaan agar Seraphina tidak dihancurkan hingga berkeping-keping di mansion megah yang tampak seperti istana namun berfungsi sebagai neraka itu.

Di dalam mobil yang melaju cepat, Giselle tidak berhenti berceloteh. Ia sudah mulai memesan berbagai macam barang melalui ponselnya—gaun tidur sutra, set kamar tidur baru, hingga koleksi boneka terbatas. Seraphina hanya bisa menyandarkan kepalanya yang lelah di bahu Giselle, memejamkan matanya dengan rapat. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang sangat indah. Ia telah memasuki dunia baru yang mewah, namun di setiap sudutnya, ia tahu ada bahaya yang sedang mengintainya, menanti saat yang tepat untuk menerkamnya kembali.

Duduk di kursi depan, Orion melirik melalui spion tengah. Matanya yang tajam mengunci sosok Seraphina yang tampak pasrah. Narasi internalnya mendidih penuh gairah gelap. "Selamat datang di rumah, kelinciku. Kau pikir adopsi ini adalah kebebasanmu? Tidak. Ini hanyalah cara agar aku bisa memilikimu setiap saat, tepat di bawah hidung ibuku sendiri. Dan aku akan memastikan setiap malammu di sana menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa kau lupakan."

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!