NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Suara Langkah

Udara di ruang penyimpanan linen bekas itu terasa berat, berbau apek campuran antara disinfektan kedaluwarsa dan jamur yang tumbuh subur di dinding lembap. Elara Senja duduk memeluk lutut di sudut ruangan, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dinginnya pendingin ruangan sentral RSU Cakra Buana yang tak pernah mati, melainkan karena sisa adrenalin yang kini perlahan berubah menjadi duka mendalam.

Bayangan tubuh Pak Darto yang terkulai lemas di lantai beton Basement Level 3 masih menari-nari di pelupuk matanya, sebuah rekaman mimpi buruk yang menolak untuk berhenti diputar.

Elara menatap kedua tangannya yang kotor oleh debu dan noda darah kering, darah yang bukan miliknya, melainkan darah pria tua yang telah menganggapnya seperti cucu sendiri.

Di luar pintu kayu yang rapuh itu, lorong-lorong rumah sakit tua ini seolah berubah menjadi labirin kematian yang siap menelannya bulat-bulat jika ia membuat satu kesalahan kecil saja. Ia tahu ia tidak bisa berlama-lama meratapi nasib di sini, karena Dr. Arisandi pasti sudah mengerahkan seluruh tim keamanannya untuk menyisir setiap inci bangunan peninggalan kolonial ini.

"Kau harus kuat, Elara. Pak Darto tidak berkorban agar kau menyerah di sini," bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.

Suara derap langkah sepatu bot berat terdengar dari kejauhan, menggema di lorong yang sunyi dan memantul di dinding-dinding yang catnya mulai mengelupas. Elara menahan napas, menekan punggungnya semakin rapat ke dinding dingin di belakangnya, berharap kegelapan akan menyembunyikannya dari para pemburu yang tak kenal ampun itu.

Cahaya senter menyapu celah di bawah pintu, bergerak liar seperti mata predator yang mencari mangsa, sebelum akhirnya menjauh seiring dengan suara langkah yang kian samar.

Elara bangkit perlahan, kakinya terasa kaku dan nyeri, namun tekad di matanya kini menyala lebih terang daripada sebelumnya. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kunci kuno berbahan kuningan yang sempat diselipkan Pak Darto ke tangannya sebelum napas terakhirnya berembus. Kunci itu terasa berat dan dingin, memiliki ukiran kepala singa yang sudah aus di bagian pegangannya, sebuah simbol yang sering ia lihat di bagian arsitektur tertua gedung ini.

"Akses tangga darurat sektor timur... hanya itu jalan satu-satunya," gumam Elara mengingat denah kasar yang pernah ditunjukkan Pak Darto padanya seminggu lalu.

Ia membuka pintu ruang penyimpanan dengan sangat hati-hati, memastikan engselnya yang berkarat tidak mengeluarkan decit yang bisa mengundang bahaya. Lorong di hadapannya terlihat remang-remang, hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip sekarat di ujung sana, menciptakan bayangan panjang yang seolah hidup dan menggeliat. RSU Cakra Buana di malam hari bukanlah tempat bagi mereka yang lemah jantung; bangunan ini memiliki napasnya sendiri, sebuah residu emosi dari ribuan pasien yang pernah meregang nyawa di sini.

Elara melangkah keluar, sepatunya yang bersol karet meredam suara langkahnya di lantai ubin yang retak-retak. Ia bergerak menyusuri dinding, matanya waspada mengawasi setiap persimpangan lorong dan kamera pengawas yang mungkin masih aktif. Arsitektur rumah sakit ini memang membingungkan, perpaduan kacau antara struktur asli zaman Belanda yang kokoh dengan renovasi modern yang terkesan asal-asalan, menciptakan banyak sudut mati yang bisa dimanfaatkan untuk bersembunyi.

Saat ia melewati sebuah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman dalam, Elara bisa melihat hujan deras mulai mengguyur Kota Arcapura. Kilat menyambar di kejauhan, menerangi siluet pegunungan karst yang mengelilingi kota seperti benteng alam yang tak tertembus. Hujan itu seolah mencuci dosa-dosa kota ini, namun tidak ada air yang cukup banyak untuk membersihkan kebusukan yang tersembunyi di balik dinding-dinding putih RSU Cakra Buana.

Tiba-tiba, suara statis dari radio komunikasi terdengar, diikuti oleh suara bariton yang sangat ia kenali. Itu suara Dr. Arisandi, terdengar tenang namun penuh ancaman, seolah ia sedang mendiktekan resep obat dan bukan perintah eksekusi.

"Blokir semua akses ke lantai dasar. Gadis itu tidak boleh keluar dari gedung ini hidup-hidup. Pastikan kalian menemukannya sebelum matahari terbit, atau kalian yang akan menggantikan posisinya di meja bedah," suara Arisandi terdengar jelas dari walkie-talkie yang tergantung di pinggang seorang penjaga yang berdiri membelakanginya di tikungan depan.

Elara membeku, jantungnya berpacu seirama dengan guntur yang menggelegar di luar sana. Penjaga itu, seorang pria bertubuh kekar dengan seragam keamanan swasta, tampak sedang menyalakan rokok dengan santai, tidak menyadari kehadiran Elara yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Asap rokok mengepul, bercampur dengan bau hujan dan beton basah, menciptakan aroma maskulin yang mencekik.

Elara tahu ia tidak bisa melewati penjaga itu tanpa konfrontasi, dan fisik bukanlah keunggulannya saat ini. Ia memutar otak, matanya liar mencari alternatif lain, hingga pandangannya jatuh pada sebuah pintu besi kecil di sebelah kirinya yang bertuliskan 'Ruang Panel Listrik - Bahaya Tegangan Tinggi'. Ide gila melintas di kepalanya, sebuah pertaruhan yang mungkin akan membunuhnya, tapi setidaknya ia akan mati sambil melawan.

Dengan gerakan secepat kilat, Elara menyelinap masuk ke ruang panel listrik itu dan menutup pintunya tanpa suara. Di dalam, dengungan transformator tua terdengar seperti sarang lebah raksasa yang marah. Ia mencari panel sekring utama untuk sektor lorong ini, jari-jarinya yang gemetar menelusuri label-label yang sudah memudar termakan usia.

"Ini dia... Koridor B-3," bisiknya saat menemukan tuas yang dicarinya.

Tanpa ragu, Elara menarik tuas itu ke bawah. Seketika, kegelapan total menyelimuti lorong di luar sana, diikuti oleh teriakan kaget si penjaga yang kehilangan orientasi visualnya. Elara tidak membuang waktu; ia menendang pintu hingga terbuka dan berlari sekuat tenaga melewati penjaga yang kini sibuk meraba-raba dinding dan mengumpat kasar dalam kegelapan.

"Hei! Siapa di sana?! Berhenti!" teriak penjaga itu, namun suaranya tertelan oleh kegelapan dan gema langkah kaki Elara yang menjauh.

Elara terus berlari, paru-parunya terasa terbakar saat ia memaksakan tubuhnya menaiki tangga darurat menuju lantai yang lebih tinggi, namun ia segera menyadari kesalahannya. Di bordes tangga lantai 1, ia melihat cahaya senter yang jauh lebih banyak berkerumun; mereka sudah mengepung pintu keluar utama. Jalan ke atas sudah tertutup rapat, dan satu-satunya jalan yang tersisa adalah kembali ke bawah, lebih dalam lagi, menuju tempat yang paling dihindari oleh siapa pun di rumah sakit ini.

Basement Level 4. Kamar Jenazah Lama.

Elara berbalik arah, menuruni anak tangga dengan kecepatan yang membahayakan, nyaris tergelincir beberapa kali karena licinnya lantai yang lembap. Ia tidak peduli lagi pada rasa takut akan hantu atau cerita mistis yang sering diceritakan Pak Darto; baginya sekarang, manusia hidup jauh lebih menakutkan daripada arwah penasaran mana pun. Setidaknya, hantu tidak membawa senjata api dan tidak memiliki agenda politik yang korup.

Sesampainya di pintu besi berat yang memisahkan Level 3 dan Level 4, Elara berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang memburu. Pintu itu terkunci dengan rantai besi besar, namun gemboknya terlihat berbeda—itu gembok kuno yang sepertinya cocok dengan kunci pemberian Pak Darto. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci berkepala singa itu ke lubang gembok.

*Klik.*

Bunyi itu terdengar sangat nyaring di telinga Elara, seperti tembakan pistol di tengah keheningan malam. Gembok itu terbuka. Elara segera menarik rantai besi itu hingga jatuh berdentang ke lantai, lalu mendorong pintu besi yang berat itu dengan sekuat tenaga. Engsel pintu menjerit, suara gesekan logam yang memekakkan telinga, seolah memprotes karena dibangunkan dari tidur panjangnya selama puluhan tahun.

Begitu pintu terbuka, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergap tubuh Elara, seolah ia baru saja membuka pintu lemari es raksasa. Bau di balik pintu itu berbeda; bukan bau obat-obatan atau jamur, melainkan bau tanah basah dan bunga melati yang layu, aroma kematian yang telah mengendap dan menjadi bagian dari struktur bangunan itu sendiri.

Elara melangkah masuk, dan pintu besi di belakangnya perlahan menutup sendiri, didorong oleh mekanisme pegas yang entah bagaimana masih berfungsi atau mungkin oleh tangan tak kasat mata yang ingin mengurungnya di sana. Kegelapan di Level 4 terasa lebih pekat, lebih hidup. Cahaya dari layar ponselnya hanya mampu menembus beberapa meter ke depan, sisanya ditelan oleh kabut tipis yang merayap di lantai.

Di sinilah legenda itu bermula. Di sinilah Pak Darto menghabiskan sebagian besar hidupnya menjaga sesuatu yang tidak seharusnya ada di rumah sakit modern. Elara berjalan perlahan, setiap langkahnya terasa berat seolah ada beban tak terlihat yang menindih bahunya. Ia melewati deretan brankar tua yang berkarat, beberapa di antaranya masih tertutup kain putih yang sudah menguning dan berdebu.

"Pak Darto... jika Bapak ada di sini, tolong beri saya petunjuk," bisik Elara, suaranya bergetar menahan tangis.

Seolah menjawab doanya, sebuah suara berdesir terdengar dari ujung lorong, seperti suara kain yang diseret di lantai. Elara mengarahkan ponselnya ke arah suara itu, namun tidak ada apa-apa di sana selain kegelapan yang seolah menatapnya balik. Namun, saat ia hendak berbalik, ia melihat sesuatu yang berkilau di lantai, tepat di depan sebuah pintu kayu besar yang berukir rumit.

Elara mendekat dan memungut benda itu. Itu adalah sebuah liontin perak, liontin yang sama persis dengan yang dipakai oleh istrinya Dr. Arisandi dalam foto keluarga yang pernah ia lihat di majalah sosialita. Kenapa benda ini bisa ada di tempat terkutuk seperti ini? Pertanyaan itu berputar di kepalanya, membuka sebuah kemungkinan mengerikan tentang apa yang sebenarnya terjadi di RSU Cakra Buana.

Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun drastis. Napas Elara kini terlihat mengepul di udara. Lampu senter di ponselnya berkedip-kedip liar sebelum akhirnya mati total, meninggalkan Elara dalam kegelapan yang absolut. Namun, anehnya, ia tidak merasa sendirian. Di kegelapan itu, ia bisa merasakan kehadiran entitas lain, sesuatu yang tua dan marah, namun kemarahan itu tidak ditujukan padanya.

"Mereka... datang..." sebuah bisikan halus menyapu telinga kanannya, suara yang terdengar seperti angin namun memiliki artikulasi manusia.

Elara tidak berteriak. Rasa takutnya telah melampaui batas histeria dan berubah menjadi ketenangan yang ganjil. Ia menyadari bahwa di Level 4 ini, hukum fisika dan logika tidak lagi berlaku mutlak. Di sini, ia bukan lagi sekadar buronan; ia adalah tamu di rumah mereka yang tak terlihat.

Suara pintu besi di kejauhan terdengar didobrak paksa. Cahaya senter taktis yang menyilaukan mulai menembus kegelapan dari arah tangga. Pasukan Arisandi telah menemukannya. Elara mundur perlahan, punggungnya menabrak pintu kayu berukir di belakangnya. Pintu itu tidak terkunci.

Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Elara memutar gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan itu, menutupnya tepat saat sorot lampu senter para pengejarnya menyapu tempat ia berdiri tadi. Di dalam ruangan itu, di bawah cahaya bulan yang menembus ventilasi tinggi, Elara melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir hebat. Itu bukan kamar jenazah biasa. Itu adalah sebuah altar, dan di atasnya tergeletak sebuah buku catatan tua bersampul kulit yang tampak familier—buku harian kepala rumah sakit pertama yang hilang puluhan tahun lalu.

Elara sadar, ia tidak terjebak. Ia baru saja diarahkan ke jantung misteri yang selama ini disembunyikan oleh Kota Arcapura.

1
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!