NovelToon NovelToon
Residu Kulit Kacang

Residu Kulit Kacang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."

Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.

Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

masuk sekolah

Tahun-tahun berlalu secepat kepakan sayap burung di sore hari. Nayla kini bukan lagi bayi yang hanya bisa meringkuk di pelukan; ia telah tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dengan mata yang selalu haus akan dunia. Hari pertamanya masuk ke sebuah taman kanak-kanak swasta yang cukup ternama di kota kami adalah tonggak sejarah baru. Bagiku, menyekolahkan Nayla di tempat terbaik adalah bentuk penebusan atas masa kecilku yang hanya diisi dengan bau bawang dan debu besi tua.

Namun, lingkungan baru ini membawa tantangan mental yang tak pernah kuprediksi. Di gerbang sekolah setiap pagi, aku bertemu dengan lingkaran ibu-ibu muda yang penampilannya selalu tampak sempurna. Mereka datang dengan mobil-mobil keluaran terbaru, menjinjing tas bermerk, dan membicarakan liburan ke luar negeri seolah itu hanya perjalanan ke pasar kaget.

Di tengah mereka, aku kembali merasa seperti "Maya yang kecil". Meskipun aku adalah seorang manajer di kantor dan pemilik rumah yang kucicil sendiri, perasaan "tidak cukup" itu kembali merayap. Aku merasa gaya berpakaianku terlalu sederhana, atau caraku berbicara tidak sehalus mereka. Trauma kemiskinan masa lalu membuatku sangat sensitif terhadap simbol-status. Setiap kali mereka memamerkan kemewahan, aku merasa seolah-olah mereka sedang meremehkan perjuanganku.

"Jeng Maya, liburan semester besok Nayla diajak ke mana? Anak-anak kami mau ke Singapura lho," tanya seorang ibu dengan senyum yang terasa seperti kompetisi.

Aku hanya tersenyum kaku. "Kami di rumah saja, Jeng. Mau fokus renovasi sedikit."

Di dalam hati, aku menghitung sisa saldo. Cicilan rumah kami baru saja masuk ke tahun-tahun terakhir yang krusial, dan aku tidak ingin mengacaukannya hanya demi sebuah pengakuan sosial yang semu. Namun, pertempuran batin itu melelahkan. Aku benci diriku yang masih merasa rendah diri di hadapan kekayaan orang lain, padahal aku tahu nilai perjuanganku jauh lebih mahal dari tas-tas mereka.

Suatu malam, saat aku sedang membantu Nayla mewarnai gambarnya di ruang tengah, pintu rumah kami diketuk. Ketukan itu tidak asing, namun ada nada keraguan di dalamnya. Saat kubuka, aku terpaku.

Bayu berdiri di sana. Kakakku yang dulu pergi demi harga diri istrinya, kini tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Bajunya kuyu, dan matanya menunjukkan kelelahan yang sangat dalam. Di belakangnya, Sari menunduk, menggendong anak mereka yang tampak lesu.

"May... boleh Abang masuk?" suaranya pecah.

Aku mempersilakan mereka duduk. Mas Aris keluar dari kamar dan segera menyalami Bayu dengan hangat, tanpa menunjukkan rasa menghakimi sedikit pun. Sari, yang dulu begitu angkuh dan sering menyindirku, kini hanya diam seribu bahasa. Dari cerita Bayu yang terbata-bata, aku tahu bahwa bisnis kecil yang ia bangun setelah pindah telah bangkrut. Mereka terlilit utang rentenir, dan rumah kontrakan mereka sudah habis masa sewanya.

"Kami nggak tahu harus ke mana lagi, May. Abang malu... malu sekali sama kamu," isak Bayu sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.

Melihat Bayu hancur seperti itu, ada dua perasaan yang berperang di dalam dadaku. Sisi "Maya yang terluka" ingin sekali berkata: "Dulu kamu meninggalkanku karena istrimu tidak suka kesuksesanku, sekarang kenapa kamu kembali saat aku sukses?" Aku teringat bagaimana Sari dulu menghasut Ibu dan membuat suasana rumah menjadi neraka.

Namun, sisi "Maya yang manusiawi" melihat seorang kakak yang dulu pernah mengupas bawang bersamaku hingga tangannya luka. Aku melihat keponakanku yang tidak berdosa. Aku menatap Mas Aris, dan suamiku hanya memberikan anggukan kecil sebuah isyarat bahwa ia akan mendukung apa pun keputusanku.

"Kamar lama Abang masih ada. Masih kosong," kataku pelan.

Sari seketika mengangkat wajahnya, air mata mengalir deras di pipinya. "Maafkan aku, May. Maafkan kesombonganku dulu. Aku salah... aku benar-benar salah."

Malam itu, mereka kembali ke rumah ini. Rumah yang dulu mereka tinggalkan karena "terlalu panas" oleh kesuksesanku, kini menjadi satu-satunya tempat yang memberikan mereka perlindungan.

Kehadiran mereka kembali tentu saja menambah beban finansial. Aku harus kembali mengatur uang belanja agar cukup untuk lebih banyak kepala. Tapi anehnya, kali ini aku tidak merasa seberat dulu. Mungkin karena aku sudah lebih kuat, atau mungkin karena aku sadar bahwa rumah ini memang dibangun untuk menjadi tempat berteduh keluarga, bukan hanya untuk egoku sendiri.

Namun, kehadiran mereka memicu kembali bisikan-bisikan dari paman-paman kami. Mereka mulai menyindir bahwa rumahku sekarang jadi "rumah penampungan".

"Lihat tuh si Maya, sudah punya suami manajer tapi masih saja mau direpotkan kakak yang gagal," bisik mereka di acara keluarga.

Aku tidak lagi meledak seperti dulu. Aku mendatangi mereka dan berkata dengan sangat tenang, "Paman, di rumah saya, kami tidak mengenal kata 'gagal'. Kami hanya mengenal kata 'berjuang bersama'. Jika Abang saya jatuh, saya yang akan menariknya bangun. Itulah gunanya punya rumah sendiri, bukan?"

Suatu sore, aku melihat Nayla membagikan mainannya kepada sepupunya (anak Bayu). Ia melakukannya dengan tulus, tanpa merasa keberatan. Aku memeluk Nayla dan berbisik, "Terima kasih ya, Sayang, sudah jadi anak baik."

Aku menyadari bahwa semua kompetisi di sekolah, semua tas bermerk ibu-ibu itu, tidak ada artinya dibandingkan pelajaran yang sedang Nayla dapatkan di rumah ini: tentang empati, tentang memaafkan, dan tentang arti keluarga yang sesungguhnya.

Cicilan rumah kami mungkin akan terasa sedikit lebih berat bulan ini karena biaya tambahan, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa rumah ini benar-benar "lunas" secara spiritual. Aku bukan lagi wanita yang menyimpan dendam. Aku adalah wanita yang memiliki kuasa untuk memberi maaf.

Malam itu, aku duduk di teras bersama Bayu. Kami hanya diam, menatap lampu-lampu jalan.

"Terima kasih, May. Kamu benar-benar penyelamat keluarga ini," ujar Bayu.

"Kita satu tim, Bang. Selamanya akan begitu," jawabku.

Aku adalah Maya. Wanita yang dulunya takut akan kekurangan, kini belajar bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah saat kita memiliki cukup banyak cinta untuk dibagikan kepada mereka yang pernah melukai kita. Rumah ini bukan lagi sekadar bangunan beton; ini adalah monumen dari sebuah pengampunan.

1
orang cobacoba
😭😭😭😭😭😭😭
orang cobacoba
akhirnyaa may😭😭😭
orang cobacoba
may.. pliss sekali aj lho ikutin egois sndiri kek... 😓 🫂
orang cobacoba
when cicilan lunas bisa foya foya untuk diri sndiri😀 tnpa trpikir beban lain bisa g si
orang cobacoba
maya in tipe gen sandwich bgt 🫂🫂 niat mncrii kedamaian jiwa dn ketentraman lainny mlh ada lagi hal yg hrus dikorbanin (tmbh beban😓)
orang cobacoba
🫂🫂 🫂
orang cobacoba
😓😞😞
orang cobacoba
keluarga ada karena liat uang😀
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..
orang cobacoba
Ceritaa nya mendalam banget... Kuharap bisa dijadikan film
Emily
beli rumah neneknya yg ada mengingatkan kenangan pahit masa kecil
Esti 523
ya alloh ceritanya super duper bagus bgt thor,tdk ada typonya reel bgt di kehidupan nyata
Sri Jumiati
maya wanita yg kuat
Esti 523
nyesek bgt dari bab kebab nya,bawangnya bertsburan
Ummu Shafira
/Cry//Cry//Cry/
Sri Jumiati
bagus may .enyahkan parasit
Ummu Shafira
recommended 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Ummu Shafira
kasihan Maya🥺🥺dan hal seperti ini mirisnya banyak terjadi didunia nyata🥺🥺
Sri Jumiati
wanita tangguh maya
Sri Jumiati
semangat thor .suka
Emily
kisah Maya merasa melihat diri sendiri ketika kita tidak punya apa apa kerabat memandang remeh diri kita beda saat kita punya finansial yg kuat kerabat merasa segan ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!