Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Puncak Asura - Satu Tahun Kemudian.
Bagi seorang manusia biasa, satu tahun adalah waktu yang panjang, penuh dengan pergantian musim dari semi ke dingin. Namun bagi para kultivator, satu tahun hanyalah satu tarikan napas dalam meditasi panjang.
Puncak Asura telah berubah drastis.
Gunung yang dulunya gersang dan penuh racun itu kini menjadi tanah suci bagi para praktisi Jalan Iblis. Pohon Dunia Bawah telah tumbuh menjulang hingga menembus awan, dahan-dahannya yang hitam legam menaungi seluruh kompleks istana sekte yang kini telah selesai dibangun dengan megah.
Di bawah naungan pohon itu, ribuan murid berbaju hitam berlatih dengan diam. Tidak ada suara teriakan atau obrolan. Hanya ada suara desingan senjata dan aura pembunuh yang pekat.
Disiplin besi. Itulah yang ditanamkan oleh Wakil Patriark Su Ling.
Di teras tertinggi Istana Asura, empat sosok berdiri memandang ke arah batang utama Pohon Dunia Bawah.
Di sana, tertanam sebuah Kepompong Kayu Hitam raksasa yang berdenyut pelan seperti jantung.
"Sudah setahun penuh," gumam Ye Qing. Dia kini terlihat lebih dewasa. Rambutnya diikat tinggi, dan aura pedangnya begitu terkendali hingga dia terlihat seperti manusia biasa tanda pencapaian tinggi dalam Dao Pedang.
"Apakah Patriark akan bangun hari ini?" tanya Feng Jiu, yang kini mengenakan jubah bulu api putih.
Su Ling tidak menjawab. Dia berdiri paling depan, tangannya menyentuh kulit kasar kepompong itu. Wajah cantiknya terlihat sedikit lelah, namun matanya (Ungu & Hitam) memancarkan keyakinan mutlak.
"Dia akan bangun," bisik Su Ling. "Jantungnya... memanggilku."
Tiba-tiba, angin di puncak gunung berhenti berhembus.
Burung-burung gagak roh yang bersarang di dahan pohon terdiam. Awan di langit berhenti bergerak.
DUM.
Satu detak jantung yang berat terdengar dari dalam kepompong. Suaranya bergema bukan di telinga, tapi langsung di dalam jiwa setiap makhluk hidup di radius seratus li.
DUM. DUM.
Retakan halus muncul di permukaan kepompong hitam itu. Cahaya ungu gelap merembes keluar dari celah-celahnya.
"Mundur!" perintah Su Ling.
Keempatnya melompat mundur sepuluh tombak.
KRAAAAAAAAK!
Kepompong itu meledak.
Bukan ledakan api, melainkan ledakan Tekanan Spiritual murni.
Pilar cahaya ungu melesat ke langit, menembus atmosfer, membubarkan awan sejauh mata memandang. Langit siang seketika menjadi gelap, digantikan oleh fenomena Matahari Hitam yang menggantung di atas Puncak Asura.
Dari dalam pilar cahaya itu, sesosok tubuh melayang turun perlahan.
Dia tidak mengenakan baju. Tubuhnya sempurna, seolah dipahat dari giok putih paling murni. Tidak ada lagi bekas luka bakar atau daging hancur. Otot-ototnya ramping namun mengandung kekuatan ledakan yang bisa menghancurkan gunung.
Rambut hitamnya yang panjang terurai hingga ke betis, menari-nari ditiup angin Qi. Di dadanya, Jantung Iblis telah menyatu sempurna dengan dagingnya, membentuk tato alami berbentuk Bunga Teratai Hitam di dada kirinya.
Shen Yu membuka matanya.
Mata kiri: Hitam Kelam (Ketiadaan). Mata kanan: Merah Darah (Asura).
Dia menarik napas pertamanya dalam satu tahun.
Huuu...
Saat dia menarik napas, Qi Langit dan Bumi di sekitar pegunungan tersedot masuk ke dalam hidungnya, menciptakan badai angin.
Saat dia menghembuskan napas, tekanan Ranah Transformasi Dewa menyapu ke bawah.
Shen Yu. Ranah: Transformasi Dewa Awal (Initial Soul Transformation). Fisik: Tubuh Dewa Iblis Nirwana (Nirvana Devil God Body).
Shen Yu mendarat di lantai batu. Kakinya yang telanjang tidak menyentuh debu, melayang satu inci di atas permukaan.
Dia mengangkat tangannya, mengepalkan tinju. Dia merasakan kekuatan yang meluap-luap.
"Aku hidup," suaranya tenang, namun mengandung resonansi magnetis yang membuat siapa pun yang mendengarnya ingin berlutut.
"Selamat datang kembali, Patriark!"
Suara gemuruh terdengar serentak.
Su Ling, Ye Qing, Feng Jiu, Cang Wu, dan ribuan murid di bawah sana berlutut satu kaki.
Shen Yu menatap mereka. Wajah dinginnya perlahan mencair. Dia berjalan mendekati Su Ling.
Su Ling mendongak, matanya berkaca-kaca. Dia ingin mempertahankan wibawa sebagai Wakil Patriark, tapi melihat kekasihnya kembali utuh meruntuhkan pertahanannya.
"Shen Yu..."
Shen Yu mengulurkan tangan, membantu Su Ling berdiri. Lalu, di depan ribuan muridnya, dia memeluk gadis itu erat.
"Kau menjaga sekte dengan baik, Su Ling," bisik Shen Yu lembut. "Terima kasih."
Su Ling membenamkan wajahnya di dada bidang Shen Yu, mendengarkan detak jantungnya yang kuat. "Kau membuatku menunggu lama, Bodoh."
Shen Yu melepaskan pelukan itu, lalu menoleh pada Ye Qing dan yang lain.
"Bangunlah."
"Ye Qing, pedangmu semakin tajam. Kau sudah menyentuh ambang batas Transformasi Dewa?"
Ye Qing nyengir, bangkit berdiri. "Hampir, Bos. Tapi melihatmu sekarang... rasanya jarak kita malah makin jauh."
"Feng Jiu, apimu sudah murni. Cang Wu... tubuhmu semakin keras."
Shen Yu berjalan menuju Tahta Hitam yang terletak di bawah pohon. Dia mengibaskan tangannya, dan jubah hitam baru (Manifestasi Qi) menutupi tubuhnya.
Dia duduk di tahta itu. Auranya berubah dari hangat menjadi Raja yang mendominasi.
"Lapor situasi," perintah Shen Yu.
Ye Qing maju.
"Satu tahun ini, Wilayah Selatan tenang... terlalu tenang. Setelah Pertempuran Puncak Asura, Aliansi Sepuluh Sekte bubar. Klan Su menarik diri dari dunia luar, menutup gerbang mereka rapat-rapat."
"Sekte Asura kini diakui sebagai penguasa tak resmi (Uncrowned King) Wilayah Selatan. Banyak sekte kecil yang datang membawa upeti."
"Namun..." Ye Qing ragu sejenak.
"Katakan."
"Ada rumor bahwa Utusan dari Benua Tengah telah turun. Mereka menyelidiki kematian Su Lie dan anomali Petir Hukuman yang kau panggil. Mereka menyebutmu sebagai 'Sosok' yang melanggar hukum alam."
Shen Yu tersenyum tipis. Senyum yang membuat suhu udara turun.
"sosok?"
"Bagus. Biarkan mereka datang. Pedangku baru saja ditempa ulang, butuh darah baru untuk mengujinya."
Tiba-tiba, Shen Yu merasakan sesuatu.
Jantung Iblis di dadanya berdenyut aneh. Bukan karena musuh, tapi karena resonansi dengan sesuatu yang jauh.
Shen Yu mendongak menatap langit, meskipun sekarang siang hari, dia bisa merasakan keberadaan Bulan.
Ada panggilan dari arah Barat Laut. Sebuah panggilan kuno yang sedih dan dingin.
"Su Ling," panggil Shen Yu.
"Ya?"
"Matamu... apakah sering sakit akhir-akhir ini?"
Su Ling terkejut Shen Yu menyadarinya. Dia mengangguk pelan. "Setiap bulan purnama, mataku terasa seperti terbakar. Kekuatan realitas ini... memakan jiwaku perlahan."
Shen Yu turun dari tahta. Dia memegang dagu Su Ling, menatap mata indahnya yang terkutuk itu.
"Aku berjanji akan menyembuhkanmu."
"Panggilan itu... ada hubungannya dengan asal usul matamu."
Shen Yu berbalik menghadap murid-muridnya.
"Sekte Asura akan tetap dalam mode tertutup. Ye Qing, kau pegang kendali sementara."
"Aku dan Su Ling akan pergi sebentar."
"Ke mana, Bos?" tanya Ye Qing.
Shen Yu menunjuk ke arah Barat Laut, ke wilayah yang tidak ada di peta biasa.
"Ke Reruntuhan Bulan Kuno (Ancient Moon Ruins)."
10 bab sehari kek pelit bener