NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Om Duda Dingin

Terpikat Pesona Om Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kimmy Yummy

"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"

Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.

Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20

Ke esokan harinya, pagi terasa jauh lebih cerah bagi Keyla. Jantung gadis itu mendadak berdegub dengan kencang saat ia mendengar suara deru mesin mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan pagar. Ia tau, pria yang ia rindukan telah kembali dengan restu yang lebih kokoh.

Arlan melangkah masuk ke ruang tamu dengan setelan abu-abu gelap yang sempurna. Wajahnya tampak lebih segar, meski ada sedikit guratan lelah di matanya. Saat ia melihat Keyla, sudut bibirnya sedikit terangkat, menciptakan lengkungan tipis yang hanya bisa dibaca oleh gadis itu.

"Tuan Arlan," sapa Pak Baskoro, berdiri dari kursinya. "Silakan duduk."

"Terima kasih, Pak Baskoro," jawab Arlan tenang.

Keyla berdiri di dekat tangga, memperhatikan kedua pria itu bersalaman. Ia merasa seperti baru saja memenangkan lotre nasional. Ayahnya telah mengetahui kebenaran, dan Arlan tidak lagi menjadi buronan emosional di rumah ini.

"Saya ingin minta maaf secara langsung atas kejadian kemarin," ucap Baskoro sambil mempersilakan Arlan duduk di sofa utama. "Keyla sudah menunjukkan buktinya. Saya merasa malu karena sempat meragukan integritas Anda hanya karena hasutan mantan istri Anda."

Arlan mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak. Dalam posisi Anda sebagai ayah, perlindungan terhadap anak adalah yang utama. Saya tidak menyimpan dendam."

"Bagus," Baskoro tersenyum lega. "Karena integritas Anda sudah terbukti, saya tidak akan membatasi kalian lagi. Namun, ingat syarat saya tempo hari. Kuliah Keyla tetap prioritas."

"Saya pegang janji saya," sahut Arlan.

Keyla tidak tahan lagi. Ia berlari menghampiri dan duduk di samping Arlan, hampir saja memeluk lengan pria itu jika tidak ingat ada Papanya di sana. "Om, kok hebat banget sih bisa dapet restu Papa lagi?"

Arlan melirik Keyla, lalu matanya menyipit sedikit—tatapan menyelidik yang biasa ia gunakan dalam negosiasi alot. "Bukan aku yang hebat, tapi kamu. Dari mana kamu bisa mendapatkan rekaman CCTV itu, Keyla?"

Pertanyaan itu membuat Keyla tersedak ludahnya sendiri. "Eh... itu... aku dibantu temen kampus, Om. Biasalah, solidaritas sesama mahasiswa."

"Teman yang mana? IT? Atau... mentor itu?" tanya Arlan dengan wajah curiga.

Keyla tertawa canggung, ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Pokoknya ada deh! Yang penting kan buktinya asli dan Tante Siska kalah telak. Om harusnya seneng dong!"

Arlan diam sejenak, menatap Keyla dengan intensitas yang membuat gadis itu ingin menghilang ke balik sofa. Arlan tau ada yang tidak beres. Keyla tidak pernah sesingkat itu dalam bercerita, kecuali jika dia sedang menyembunyikan sesuatu.

Setelah Baskoro berangkat ke kantor, Arlan menarik Keyla ke halaman depan.

"Katakan yang sebenarnya, Keyla. Siapa yang membantumu?" tuntut Arlan.

"Ih, Om kok malah jadi interogasi aku sih? Harusnya kita ngerayain kemenangan ini!" Keyla mencoba merapikan kerah kemeja Arlan, berusaha bersikap manis.

"Keyla. Jangan main-main," Arlan menggenggam pergelangan tangan Keyla dengan lembut namun tegas. "Siapa?"

"Vino," jawab Keyla singkat. "Dia punya koneksi ke anak BEM. Cuma dia yang bisa dapetin rekaman itu cepet-cepet."

Rahang Arlan mengeras. Ia melepaskan tangan Keyla dan berbalik, menatap taman dengan tatapan kosong. "Dan apa yang dia minta sebagai imbalan?"

Keyla menggigit bibir bawahnya. Ia tau jika ia berbohong sekarang, masalahnya akan lebih besar nanti. "Dia... dia cuma minta aku nemenin ke acara gathering fakultas Sabtu malam besok. Sebagai... teman, Om! Cuma teman!"

"Teman?" Arlan berbalik kembali, matanya berkilat marah. "Kamu pikir aku bodoh? Tidak ada pria yang mau bersusah payah membobol sistem CCTV kampus hanya untuk teman. Dia sedang membelimu, Keyla. Dan kamu membiarkannya."

"Aku nggak punya pilihan, Om! Kalau aku nggak dapet bukti itu, Papa nggak bakal biarin Om masuk ke rumah ini lagi! Aku ngelakuin ini buat kita!" teriak Keyla.

"Bukan seperti ini caranya!" balas Arlan dengan nada yang lebih tinggi. "Aku bisa menyewa detektif swasta atau pengacara terbaik untuk membersihkan namaku, dan kamu tidak perlu menjual waktumu pada pria seperti dia."

"Om selalu mikir semuanya bisa selesai pake uang! Tapi waktu itu Om lagi jauh, Om nyuruh aku jangan ganggu, Om mau narik diri! Aku panik, Om!"

Arlan terdiam. Kata-kata Keyla menusuknya tepat di ulu hati. Ia sadar, keputusannya untuk menjauh kemarin justru memberikan celah bagi Vino untuk masuk. Rasa bersalah dan cemburu bercampur menjadi satu, seolah menciptakan badai di dalam dadanya.

"Batalkan," perintah Arlan dingin.

"Nggak bisa, Om. Aku udah janji. Dan aku mau buktiin ke Kak Vino kalau aku tetep bakal milih Om meskipun dia udah bantu aku."

"Keyla, jangan keras kepala."

"Om yang jangan posesif berlebihan! Aku cuma pergi ke pesta kampus, bukan mau nikah sama dia!" Keyla menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arlan yang berdiri mematung di teras.

Begitu Keyla pergi dari hadapannya, Arlan merogoh ponselnya dan menelepon asisten pribadinya.

"Cari tau detail acara gathering Fakultas Ekonomi Sabtu malam besok. Lokasi, jam, dan daftar tamu," perintah Arlan.

"Baik, Pak. Apakah Anda akan hadir?"

Arlan diam tidak menjawab. Ia hanya mematung menatap pintu rumah Keyla yang tertutup rapat.

"Aku tidak akan membiarkan anak kecil itu bermain api sendirian. Jika dia ingin pesta, maka aku akan memberinya pesta yang tidak akan pernah dia lupakan."

1
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up yg banyak
Reni Anjarwani
lanjut thor koyol bgt arlan
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Kimmy Yummy: siap Kak
total 1 replies
Putri Lauren
aku suka banget ceritanya, lanjut thor
Kimmy Yummy: Makasih, udah mampir Kak
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Kimmy Yummy: Oke, siap Kak
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut thorr
Kimmy Yummy: siap Kak
total 1 replies
Fitra Sari
lanjuttt
Kimmy Yummy: Makasih udah mampir Kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!