Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Keluarga
Tiga hari berlalu sejak malam itu. Tiga hari aku tidak keluar dari kamar. Pelayan membawakan makanan tapi aku hampir tidak menyentuhnya. Damian datang setiap malam, tidur di sofa, tapi aku pura-pura tidur setiap kali dia masuk.
Aku tidak bisa menatapnya.
Karena setiap kali aku menatapnya, yang aku lihat adalah gunting itu. Darah itu. Jari-jari yang berserakan. Dan tanganku yang membersihkan semuanya.
Sekarang pagi lagi. Cahaya matahari masuk tapi terasa dingin. Semuanya terasa dingin. Seperti musim dingin yang tidak akan pernah berakhir.
Aku duduk di jendela. Menatap keluar. Taman yang indah. Burung-burung berkicau. Pohon-pohon yang hijau. Tapi semua keindahan itu terasa palsu. Seperti lukisan yang menutupi dinding berdarah. Pintu terbuka. Aku tidak menoleh. Pasti pelayan lagi.
"Nyonya," suara pelayan tua yang kemarin memperingatkanku supaya tidak pingsan. "Ada tamu untuk Tuan Damian. Saudara Tuan. Nyonya diminta turun untuk sarapan bersama."
Saudara?
Aku berbalik. "Saudara?"
"Ya, Nyonya. Tuan Lorenzo. Saudara tiri Tuan Damian."
Saudara tiri. Aku tidak tahu Damian punya saudara. Dia tidak pernah cerita apapun tentang keluarganya. Kecuali yang mati dua puluh tahun lalu.
"Aku tidak mau turun," kataku pelan.
Pelayan itu menatapku dengan tatapan simpati. "Tuan Damian bilang kalau Nyonya tidak turun, dia akan naik dan membawa Nyonya turun sendiri."
Tentu saja. Aku tidak punya pilihan. Seperti biasa.nAku berdiri dengan berat. Tubuh terasa kaku. Seperti robot yang bergerak karena terpaksa.
Pelayan itu membantu merapikan rambutku yang berantakan. Menyemprotkan sedikit parfum. Tapi tidak bisa menyembunyikan kantung mata hitam atau wajah pucat pucatku.
***
Ruang makan sudah penuh ketika aku tiba. Damian duduk di ujung meja seperti biasa. Mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung. Terlihat santai tapi matanya waspada.
Dan di seberangnya duduk pria lain.
Tinggi. Tubuh atletis. Rambut cokelat terang yang kontras dengan rambut hitam Damian. Wajah tampan dengan senyum menawan. Mata biru terang yang langsung menatapku ketika aku masuk.
Sangat berbeda dengan Damian yang gelap dan menakutkan. Pria ini terlihat seperti pangeran dari dongeng. Tapi aku sudah belajar. Penampilan bisa sangat menipu.
"Ah, akhirnya," kata pria itu sambil berdiri. Senyum lebar. "Kau pasti Alexa. Ipar baruku yang cantik."
Dia berjalan mendekat. Mengulurkan tangan. Aku melirik Damian. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. Lalu mengangguk kecil.
Aku mengulurkan tangan. Pria itu menciumnya dengan lembut. Bibirnya hangat di kulit tanganku.
"Lorenzo Vincenzo," kenalnya sambil masih memegang tanganku. "Saudara tiri Damian. Sangat senang akhirnya bertemu denganmu."
"Se-senang bertemu denganmu juga," jawabku kaku.
Lorenzo melepaskan tanganku. Tapi matanya masih menatapku. Terlalu lama. Terlalu intens.
"Duduklah, Alexa," kata Damian. Suaranya datar tapi ada nada yang membuatku merinding.
Aku duduk di samping Damian. Lorenzo kembali ke kursinya di seberang.
Pelayan mulai menyajikan sarapan. Telur. Roti panggang. Buah-buahan. Jus jeruk. Semuanya sempurna. Tapi aku tidak bisa makan. Perut terasa seperti diikat.
"Jadi," kata Lorenzo sambil memotong telurnya, "bagaimana kehidupan pernikahan kalian? Memuaskan, kuharap?"
Ada sesuatu dalam nada suaranya. Sesuatu yang menggoda?
"Sangat memuaskan," jawab Damian. Tangannya bergerak ke pahaku di bawah meja. Menggenggamnya. Kuat. "Istriku sangat patuh."
Aku merasakan pipiku memanas. Bukan karena malu. Karena marah. Tapi aku tidak bisa protes.
"Patuh," ulang Lorenzo sambil tersenyum. "Menarik. Aku tidak pernah menyangka kau akan menikahi seseorang yang patuh, Damian. Kupikir kau lebih suka yang... menantang."
"Alexa menantang dengan caranya sendiri," kata Damian. Jari-jarinya menggores pahaku pelan. Membuat aku tersentak kecil.
Lorenzo menatapku. Matanya berkilat. "Aku yakin begitu."
Lalu dia berpaling ke Damian. "Aku dengar ada serangan kemarin. Dari Dimitrov."
"Sudah ditangani," jawab Damian singkat.
"Kudengar, delapan orang mati. Apa kau yang membunuh mereka semua?"
"Hanya lima, yang lain Marco dan anak buahnya."
Lorenzo bersiul pelan. "Mengesankan. Seperti biasa. Tidak ada yang mengalahkan Damian Vincenzo dalam hal pembunuhan."
Dia bilang itu sambil tersenyum. Seperti sedang memuji kemampuan memasak. Bukan kemampuan membunuh. Mereka berdua gila, saudara yang sama-sama gila.
"Dan bagaimana dengan pengkhianat?" tanya Lorenzo. "Kudengar ada tiga orang."
"Sudah dieksekusi," jawab Damian sambil menyesap kopi. "Di depan semua staff. Supaya yang lain tahu konsekuensinya."
"Brutal. Tapi efektif." Lorenzo menatapku lagi. "Apa pendapatmu, Alexa? Tentang metode kakak iparmu?"
Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia setuju," kata Damian sebelum aku sempat menjawab. "Dia mengerti ini dunia yang keras. Dan hanya yang keras yang bisa bertahan."
"Benarkah?" Lorenzo memiringkan kepalanya. Menatapku dengan tatapan yang simpati? "Atau dia hanya takut mengungkapkan pendapatnya yang sebenarnya?"
Damian meletakkan cangkir kopinya dengan keras. Bunyi keram memecah keheningan.
"Hati-hati dengan kata-katamu, Lorenzo," katanya pelan. Tapi ada ancaman di sana. Jelas sekali.
Lorenzo mengangkat kedua tangannya. "Santai, kakak. Aku hanya bertanya. Tidak ada maksud buruk."
Tapi senyumnya bilang sebaliknya.
Sarapan berlanjut dengan tegang. Mereka bicara tentang bisnis. Tentang rival. Tentang uang. Tentang kekuasaan. Dan sesekali Lorenzo melirikku. Setiap kali matanya bertemu mataku, dia tersenyum. Senyum yang membuat perutku tidak nyaman.
***
Setelah sarapan, Damian harus pergi untuk rapat penting. Dia menciumku sekilas di puncak kepala sebelum pergi.
"Jangan tinggalkan mansion," bisiknya di telingaku. "Dan jangan percaya apapun yang Lorenzo katakan."
Lalu dia pergi. Meninggalkan aku sendirian dengan Lorenzo. Aku hendak kembali ke kamar. Tapi suara Lorenzo menghentikanku.
"Alexa, tunggu."
Aku berbalik. Dia berdiri di ujung koridor. Tangan di saku celana. Terlihat santai tapi matanya serius.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," katanya.
"Aku harus ke kamar."
"Ini penting." Dia melangkah mendekat. "Tentang Damian. Tentang keselamatanmu."
Jantungku berdegup kencang. "Apa maksudmu?"
Lorenzo melirik sekeliling. Memastikan tidak ada pengawal yang mendengar.
"Ayo bicara di taman," ajaknya. "Lebih privat."
Aku ragu. Damian bilang jangan percaya apapun yang Lorenzo katakan. Tapi bagaimana kalau ini kesempatanku? Kesempatan untuk mendapat bantuan?
Aku mengikutinya ke taman belakang. Kami berjalan sampai ke sudut yang jauh. Dekat dengan pagar. Dekat dengan tempat yang kemarin kupikir bisa jadi jalan keluar.
Lorenzo berhenti. Berbalik menatapku.
"Aku tahu apa yang Damian lakukan padamu," katanya pelan. "Aku tahu dia menculikmu. Memaksamu menikah. Menyiksamu."
Aku terdiam. Jantung berdetak makin kencang.
"Bagaimana kau..."
"Aku saudara tirinya. Aku tahu bagaimana dia bekerja. Bagaimana dia berpikir." Lorenzo melangkah lebih dekat. "Dan aku tahu dia tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Lalu kenapa kau ceritakan ini? Apa yang bisa kau lakukan?"
"Aku bisa membantumu kabur."
Kata-kata itu menggantung di udara. Seperti tali yang dilemparkan ke orang yang tenggelam.
"Kabur?" bisikku. "Bagaimana? Dia menjaga aku setiap saat. Mansion ini penuh pengawal. Aku tidak bisa."
"Aku punya koneksi," potong Lorenzo. "Orang-orang yang tidak loyal pada Damian. Orang-orang yang ingin melihatnya jatuh." Dia meraih tanganku. Menggenggamnya. "Aku bisa mengeluarkanmu dari sini. Malam ini. Aku sudah siapkan semuanya."
Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku. Hangat. Lembut. Sangat berbeda dengan genggaman Damian yang selalu dingin dan kuat.
"Kenapa?" tanyaku. "Kenapa kau mau membantu aku? Dia saudaramu."
Lorenzo tersenyum pahit. "Saudara tiri. Dari ayah yang berbeda. Dan Damian tidak pernah menganggapku sebagai saudara. Dia selalu melihatku sebagai ancaman. Sebagai kompetitor."
Dia melepaskan satu tangannya. Menyentuh pipiku dengan lembut.
"Dan sejujurnya," bisiknya, "aku tidak tahan melihat wanita secantik dirimu diperlakukan seperti properti. Kau berhak lebih dari ini. Kau berhak bebas."
Kata-kata itu terdengar tulus. Matanya terlihat jujur. Tapi ada sesuatu yang menggangguku. Sesuatu yang terasa salah.
"A-aku tidak tahu."
"Pikirkan, Alexa," desak Lorenzo. Tangannya masih di pipiku. "Ini mungkin satu-satunya kesempatanmu. Kalau kau tetap di sini, Damian akan menghancurkanmu. Perlahan. Sampai tidak ada yang tersisa dari dirimu. Kau akan jadi boneka tanpa jiwa. Apa kau mau itu?"
Tidak. Aku tidak mau. Tentu saja aku tidak mau.
Tapi...
"Ibu dan adikku," bisikku. "Damian bilang kalau aku kabur, dia akan..."
"Aku akan melindungi mereka," janji Lorenzo. "Aku punya orang-orang yang akan menjaga mereka. Damian tidak akan bisa menyentuh mereka."
Ini terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan.;Dan di hidupku sekarang, hal yang terlalu bagus biasanya adalah jebakan.
"Aku butuh waktu untuk berpikir."
"Tidak ada waktu," potong Lorenzo. "Damian hanya pergi beberapa jam. Kalau kau mau kabur, harus malam ini. Aku akan tunggu di gerbang belakang pukul dua pagi. Kalau kau tidak datang..."
Dia tidak melanjutkan. Tapi maksudnya jelas. Ini satu-satunya kesempatan.
"Lorenzo."
Suara itu datang dari belakang kami. Suara yang membuat darahku membeku.
Damian.
Kami berdua berbalik. Damian berdiri di sana. Tidak tahu sejak kapan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
"Kakak," kata Lorenzo sambil tersenyum. Tapi aku bisa lihat ketegangan di rahangnya. "Kupikir kau sedang ada rapat."
"Rapat dibatalkan," jawab Damian sambil berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Terukur. Seperti predator yang mengepung mangsanya. "Untung saja rapatnya dibatalkan. Jadi aku bisa pulang lebih cepat, dan menemukan adikku yang tersayang sedang memegang istriku."
Lorenzo tidak melepaskan tanganku. Malah menggenggamnya lebih erat.
"Kami hanya bicara, Damian."
"Bicara?" Damian berhenti tepat di depan kami. Matanya menatap tangan Lorenzo yang memegang tanganku. "Bicara sambil memegang tangannya? Sambil menyentuh wajahnya?"
"Aku hanya..."
PLAK!
Damian menampar Lorenzo. Keras. Sampai kepala Lorenzo terhentak ke samping.
Aku tersentak. Mundur beberapa langkah. Lorenzo memegang pipinya. Darah keluar dari sudut bibirnya. Tapi dia tersenyum. Senyum yang aneh.
"Masih sekeras dulu, Kak," katanya sambil meludah darah. "Tidak pernah berubah."
"Lepaskan tangannya," perintah Damian. Suaranya dingin seperti es.
"Atau apa?" tantang Lorenzo. "Kau akan bunuh aku? Saudara kandungmu sendiri?"
"Saudara tiri," koreksi Damian. "Dan ya. Aku akan membunuh kau. Tanpa ada rasa ragu."
Mereka saling menatap. Tegang. Seperti dua serigala yang siap bertarung. Akhirnya Lorenzo melepaskan tanganku. Mundur selangkah.
"Santai," katanya sambil mengangkat kedua tangan. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin mengenal ipar baruku."
"Kau sudah mengenalnya," kata Damian. "Sekarang kau bisa pergi."
"Tapi aku baru datang."
"PERGI!" teriak Damian.
Lorenzo menatapku sekilas. Ada pesan di matanya. Pesan yang bilang dia akan menunggu. Malam ini. Di gerbang belakang.
Lalu dia berbalik dan pergi. Meninggalkan aku sendirian dengan Damian yang sedang marah. Dan Damian yang marah adalah hal paling menakutkan di dunia. Dia menatapku. Matanya gelap. Sangat gelap.
"Apa yang dia katakan padamu?"
"T-tidak ada, dia tidak bilang apa-apa."
"JANGAN BOHONG!" teriaknya. Suaranya menggelegar.
Aku mundur. Membentur pagar di belakang. Tidak ada jalan keluar. Damian mendekat. Menjebakku di antara tubuhnya dan pagar.
"Apa yang dia katakan," ulangnya. Setiap kata keluar dengan jelas, seperti tengah mengancam.
"Di-dia bilang, dia bisa membantuku untuk kabur," jawabku dengan suara gemetar. Tidak ada gunanya bohong. Damian pasti sudah dengar semuanya.
Damian tertawa. Tawa yang dingin, dan menakutkan.
"Tentu saja dia bilang begitu," katanya. "Karena Lorenzo selalu ingin apa yang aku punya. Sejak kecil, dia ingin berada di posisiku, uangku, bahkan dia ingin kekuasaanku."
Tangannya menyentuh leherku. Melingkarinya. Tidak mencekik. Tapi cukup untuk membuat aku merasa terancam.
"Dan sekarang," bisiknya, "dia menginginkanmu."
"Aku tidak mau dengannya."
"Aku tahu," potong Damian. "Tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin merebutmu dariku. Karena itu akan menyakitiku. Dan tidak ada yang lebih dia inginkan selain melihatku menderita."
Tangannya bergerak ke pipiku. Mengusapnya dengan lembut. Kontras mengerikan dengan amarah di matanya.
"Saudaraku sendiri menginginkanmu," bisiknya. Suaranya berubah. Ada sesuatu di sana. Sesuatu seperti kebanggaan? "Menarik, bukan? Bahkan orang yang membenciku pun mengakui kau berharga."
Dia menciumku. Kasar. Posesif. Bibirnya menekan bibirku sampai sakit. Ketika dia melepaskan bibirku, napasnya memburu.
"Kau milikku," bisiknya. "Tidak peduli siapa yang mencoba merebutmu. Lorenzo. Dimitrov. Atau siapa pun, kau hanya milikku dan hanya akan menjadi milikku."
Lalu dia menarik sesuatu dari sakunya. Cerutu. Dan korek api.
"Damian, apa yang kau..."
Tapi dia sudah berbalik. Berjalan ke arah di mana Lorenzo pergi. Dan aku tahu. Aku tahu apa yang akan dia lakukan.
"JANGAN!" aku berteriak. Berlari mengikutinya.
Tapi sudah terlambat. Di halaman depan, Lorenzo baru saja hendak naik ke mobilnya. Damian meraih lengannya. Menariknya kembali.
"Kau pikir kau bisa menyentuh istriku dan pergi begitu saja?" tanya Damian sambil menyalakan cerutunya.
"Damian, kumohon!" Lorenzo mencoba melepaskan diri. Tapi Damian terlalu kuat.
Damian menghisap cerutu itu sampai ujungnya membara merah. Panas.!Lalu dia menekannya ke punggung tangan Lorenzo. Lorenzo berteriak. Suara yang mengerikan. Bau daging terbakar menguar di udara.
Damian menahan cerutu itu di sana. Lima detik. Sepuluh detik. Sampai kulit Lorenzo benar-benar hangus, melepuh, dan berdarah.
Baru dia melepaskannya. Lorenzo jatuh ke tanah. Memegang tangannya yang terluka. Merintih kesakitan.
"Itu peringatan," kata Damian sambil membuang cerutu itu. "Kalau kau sentuh dia lagi, yang akan kubakar bukan tanganmu. Tapi wajahmu."
Dia berbalik. Melihatku berdiri di sana dengan wajah pucat. Lalu dia tersenyum. Senyum yang membuat darahku membeku.
"Ayo masuk, sayang," katanya sambil mengulurkan tangan. "Hari masih panjang. Dan aku punya banyak hal yang ingin kuajarkan padamu."
Aku menatap tangannya. Tangan yang baru saja membakar saudaranya sendiri. Tangan yang akan melakukan hal lebih buruk kalau aku menolak.
Aku mengambilnya karena aku tidak punya pilihan. Dan aku menyadari Lorenzo salah. Ini bukan kesempatanku. Ini jebakan. Jebakan yang Damian sudah siapkan dari awal.
Dia tahu Lorenzo akan mencoba merayu aku. Dan dia membiarkannya. Supaya dia punya alasan untuk menyiksa Lorenzo. Supaya dia bisa menunjukkan padaku apa yang terjadi pada siapa pun yang mencoba membantuku.
Tidak ada yang bisa dipercaya. Tidak ada yang bisa membantu. Hanya ada aku dan Damian, sampai maut memisahkan kami. Atau sampai aku benar-benar kehilangan akal sehatku.
Dan ketika kami masuk kembali ke mansion, satu pertanyaan terus menggema di pikiranku: apakah Lorenzo benar-benar ingin membantu, atau dia hanya ingin merebut kekuasaan Damian dengan menggunakan aku sebagai alat?
Dan yang lebih menakutkan, apakah masih ada orang lain di luar sana, yang mencoba menggunakan aku untuk menghancurkan Damian?
Atau, semua orang di sekitarku hanya bidak dalam sebuah permainan, yang jauh lebih besar, dan lebih mematikan dari yang bisa kubayangkan?