NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Istri Pengganti

Mengejar Cinta Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Romansa / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"

Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.

Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Perpisahan Sementara dan Dilema Sang Macan

Pagi itu, suasana di kediaman Adiguna masih diwarnai dengan sisa-sisa energi "Macan Galak" milik Devan. Devan sedang berada di halaman belakang, mengenakan kaos singlet hitam yang memamerkan otot lengannya, sambil sibuk memindahkan pot-pot bunga besar seolah-olah itu hanya seberat kapas.

Namun, keceriaan itu terhenti ketika mobil sedan hitam milik Rian masuk ke halaman dengan tergesa-gesa. Rian turun dari mobil dengan wajah yang sangat serius, membawa map merah yang melambangkan status "Darurat Utama".

"Pak Devan, maaf saya mengganggu waktu istirahat Anda," ujar Rian sambil mengatur napasnya.

Devan meletakkan pot bunga kamboja yang sedang ia angkat. "Ada apa, Rian? Wajahmu seperti baru saja melihat bursa saham tutup selamanya."

"Kabar buruk dari kantor cabang Singapura, Pak. Manajer operasional di sana baru saja ditangkap otoritas setempat karena dugaan penggelapan dana proyek pembangunan resort kita. Jika Anda tidak segera ke sana untuk melakukan audit langsung dan memberikan jaminan kepada otoritas Singapura, izin operasional Adiguna Group di sana akan dibekukan besok sore."

Devan terdiam. Rahangnya mengeras. Singapura adalah jantung investasi internasionalnya. Jika cabang itu goyah, dampaknya akan merambat ke seluruh grup.

"Kapan penerbangan tercepat?" tanya Devan tegas.

"Dua jam lagi, Pak. Saya sudah menyiapkan jet pribadi dan tim hukum di bandara."

Shena, yang mendengar percakapan itu dari teras, mendekat dengan wajah cemas. Ini adalah pertama kalinya sejak mereka bersatu kembali, Devan harus pergi jauh.

Devan menatap Shena dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat melankolis. Efek jamu "Macan Galak" yang tadi membuatnya berapi-api, kini berganti menjadi rasa berat hati yang luar biasa.

"Shena... sepertinya aku harus pergi," ucap Devan sambil mendekat dan menggenggam tangan istrinya. "Hanya seminggu. Aku janji, hanya tujuh hari."

Shena mencoba tersenyum meskipun hatinya terasa kosong. "Tidak apa-apa, Mas.

Pekerjaan itu penting. Aku akan baik-baik saja di sini bersama Ibu dan Bi Inah."

"Satu minggu tanpa melihatmu? Tanpa sarapan buatanmu? Tanpa..." Devan melirik Rian yang berdiri di belakangnya. "...tanpa melanjutkan proyek kita?"

Rian segera membuang muka, pura-pura sangat tertarik meneliti semut yang lewat di tembok.

"Mas, fokuslah pada kantormu. Aku tidak akan lari ke mana-mana," hibur Shena sambil merapikan kaos Devan yang sedikit kotor karena tanah.

Meski harus pergi, Devan tidak pergi begitu saja. Sebelum masuk ke mobil, ia memberikan instruksi kepada Rian yang lebih mirip instruksi untuk menjaga seorang presiden.

"Rian, pastikan tim keamanan di sini ditambah dua kali lipat. Pesankan katering dari restoran bintang lima untuk Shena setiap hari agar dia tidak perlu masak. Dan pastikan tidak ada tamu laki-laki yang masuk ke rumah ini, termasuk tukang paket!"

"Mas, jangan berlebihan!" potong Shena malu.

"Ini bukan berlebihan, Sayang. Ini manajemen risiko," sahut Devan. Ia kemudian menarik Shena ke pelukannya, memeluknya dengan sangat erat seolah-olah seminggu itu terasa seperti sepuluh tahun.

Ia membisikkan sesuatu di telinga Shena, "Jamu dari Ibu masih ada di botol. Jangan dibuang. Aku akan membutuhkannya saat pulang nanti untuk 'mengejar ketertinggalan' kita selama seminggu."

Shena tertawa kecil sambil mencubit lengan Devan. "Sudah, cepat pergi! Rian sudah keringat dingin menunggumu."

Begitu mobil Devan menghilang dari gerbang, rumah mewah itu mendadak terasa begitu luas dan sepi. Shena kembali ke kamar mereka, melihat sisa-sisa kesibukan Devan pagi tadi. Ada dasi yang tergeletak di tempat tidur dan aroma parfum maskulin Devan yang masih tertinggal di bantal.

Baru satu jam ditinggal, Shena sudah merasa rindu. Ia tersenyum melihat laci meja riasnya yang kini penuh dengan kotak tes kehamilan pemberian Devan.

"Cepat pulang ya, Mas Macan," bisik Shena pelan.

Sementara itu, di dalam mobil menuju bandara, Devan terus menatap ponselnya, melihat foto Shena yang ia jadikan wallpaper. Rian yang duduk di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat bosnya yang biasanya berdarah dingin itu kini tampak seperti remaja yang sedang galau karena cinta monyet.

"Pak, fokus. Kita akan menghadapi otoritas Singapura," tegur Rian pelan.

"Aku fokus, Rian," jawab Devan tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. "Aku sedang fokus menghitung berapa detik lagi sampai aku bisa pulang dan mencium istriku."

...****************...

1
Kostum Unik
🤭🤭🤭...
Kostum Unik
🤣🤣🤣
MayAyunda
keren 👍👍
😍
Marine
semangat author! ceritanya bagus
Veline: makasih 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!