NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: DISERANG PEMBUNUH BAYARAN

#

Bayu nggak bisa tidur. Matanya tetap terbuka meski tubuhnya lelah luar biasa. Otaknya terus memutar bayangan siluet tadi. Seseorang mengikutinya. Seseorang mengawasinya.

Api di tungku kecil udah mati. Cuma abu tersisa. Dingin merayap lagi. Gelandangan lain tidur pulas, dengkuran mereka bercampur suara angin malam.

Bayu duduk bersandar di tiang beton jembatan. Tangannya meraba-raba kardus di sampingnya. Mencari sesuatu yang bisa jadi senjata. Apapun.

Jari-jarinya menyentuh sesuatu keras. Dingin. Logam.

Paku besar berkarat. Mungkin bekas material konstruksi yang jatuh. Panjangnya sekitar sepuluh sentimeter. Ujungnya runcing meski udah tumpul.

Bayu menggenggamnya erat. Ini bukan pistol. Bukan pisau. Tapi lebih baik daripada tangan kosong.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Jalanan di atas jembatan sepi total. Nggak ada mobil lewat. Cuma suara angin dan gemerisik sampah yang tertiup.

Lalu... Bayu merasakan sesuatu.

Seperti ada yang salah.

Udara berubah. Lebih berat. Lebih... berbahaya.

**[DETEKSI BAHAYA]**

**[MUSUH TERDETEKSI: 2 ORANG]**

**[JARAK: 20 METER]**

**[NIAT: MEMBUNUH]**

Jantung Bayu langsung berdegup keras. Napasnya tertahan.

Dia melirik ke kegelapan. Matanya menyesuaikan cahaya redup.

Dua bayangan. Bergerak pelan. Dari dua arah berbeda. Seperti predator yang mengepung mangsa.

Mereka nggak berjalan seperti orang biasa. Gerakan mereka terlatih. Hening. Seperti hantu.

Pembunuh.

Bayu berdiri pelan. Nggak bikin suara. Genggamannya di paku makin kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Gelandangan lain masih tidur. Nggak sadar ada bahaya.

Bayu mundur pelan. Menjauh dari api yang mati. Masuk ke kegelapan lebih dalam di bawah jembatan.

Dua bayangan itu makin dekat. Salah satunya mengeluarkan sesuatu dari balik jaket. Berkilat tipis di bawah cahaya lampu jalan yang redup.

Pisau.

Yang satunya lagi... parang pendek.

Bayu menelan ludah. Keringat dingin mengalir di pelipis meski udara dingin.

Mereka datang buat bunuh gue.

Valerie. Pasti Valerie.

Dia nggak cukup puas cuma ngusir. Dia mau Kenzo mati beneran.

Bayu bersembunyi di balik tiang beton besar. Napasnya pelan. Terkontrol. Jantungnya berdegup keras tapi otaknya mulai jernih.

Ini bukan pertama kalinya dia ngadepin situasi hidup mati.

Tubuhnya mungkin lemah. Tapi jiwanya... jiwa petarung jalanan yang udah puluhan kali bertarung di arena kematian.

Bayangan pertama lewat di depan tiang. Pelan. Waspada. Matanya memindai.

Bayu nahan napas. Menunggu.

Tunggu... tunggu...

Pas bayangan itu berbalik...

Bayu loncat keluar. Paku berkarat di tangannya meluncur cepat.

SYUT!

Paku menancap di leher bayangan itu. Tepat di arteri.

"GGHKKK!"

Suara tercekik keluar. Darah menyembur. Panas. Basah.

Bayu tarik pakunya keluar. Tusuk lagi. Kali ini di dada. Dalam. Berulang kali.

Tusuk. Tusuk. Tusuk.

Darah muncrat ke wajahnya. Ke bajunya. Tapi dia nggak berhenti.

Bayangan itu jatuh. Tubuhnya kejang. Lalu diam.

Mati.

Tapi nggak ada waktu lega.

"DI SANA!"

Suara laki-laki keras dari belakang.

Bayu berbalik cepat. Bayangan kedua udah maju. Parang pendek di tangannya meluncur ke arah Bayu.

Bayu menghindar. Tapi terlambat.

Parang itu nggores lengan kirinya. Dalam.

"ARGH!"

Rasa sakit meledak. Darah keluar deras.

Bayu tersandung. Jatuh ke belakang. Punggungnya membentur kardus dan kaleng bekas.

Pembunuh itu maju lagi. Parang terangkat tinggi. Mau diayunkan ke kepala Bayu.

Bayu guling cepat. Parang menghantam tanah beton. Percikan api kecil muncul.

Bayu bangkit setengah berdiri. Tangannya meraba-raba. Mencari apapun.

Jari-jarinya menyentuh potongan besi berkarat. Bekas pipa air. Panjang sekitar tiga puluh sentimeter.

Dia angkat cepat. Ayunkan ke lutut pembunuh itu.

KRAK!

Tulang patah. Terdengar jelas.

"AAAHHH!"

Pembunuh itu jatuh berlutut. Wajahnya meringis kesakitan.

Bayu nggak kasih waktu. Dia pukul kepala pembunuh itu dengan pipa besi. Keras. Berulang kali.

BRAK! BRAK! BRAK!

Darah mengalir dari kepala pembunuh itu. Matanya mulai berputar.

Tapi dia masih bergerak. Tangannya mencoba meraih parang yang jatuh.

Bayu injak tangannya. Keras. Tulang jari retak.

"AAARGH!"

"Siapa yang nyuruh lu?!" teriak Bayu. Suaranya serak. Penuh amarah.

Pembunuh itu meludah darah. "Pergi... lu... ke neraka..."

Bayu mengangkat pipa besi lagi. "SIAPA?!"

"Nyonya... Valerie..."

Nama itu keluar terbata. Lemah.

Bayu membeku sebentar.

Valerie.

Dia beneran nyuruh orang buat bunuh gue.

Keluarga sendiri.

Kemarahan meledak di dadanya. Seperti api yang tiba-tiba menyala besar.

Bayu ayunkan pipa besi itu terakhir kali. Sekuat tenaga.

BRAK!

Tengkorak pembunuh itu pecah.

Tubuhnya ambruk. Nggak bergerak lagi.

Mati.

Bayu berdiri di sana. Napasnya ngos-ngosan. Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena adrenalin yang masih memompa keras.

Dia menatap dua mayat di depannya. Darah menggenang di tanah beton. Bau anyir memenuhi udara.

Gelandangan lain mulai bangun. Kaget. Teriak-teriak.

"Pembunuhan! Ada pembunuhan!"

"Polisi! Panggil polisi!"

Bayu nggak peduli. Dia berjalan goyah menjauh dari kerumunan yang mulai panik. Lengannya masih berdarah. Bajunya basah oleh darah orang lain.

Dia berjalan keluar dari bawah jembatan. Masuk ke jalanan sepi. Langkahnya terseret. Kepalanya pusing.

Kehilangan darah terlalu banyak.

Dia bersandar di dinding gang sempit. Napasnya pendek-pendek.

"Valerie... lu... lu nyuruh orang bunuh gue..."

Suaranya gemetar. Bukan karena sedih. Tapi karena marah yang menggebu.

"Gue nggak akan mati... gue nggak akan biarkan lu menang..."

Lalu... suara itu muncul.

**[PEMBUNUHAN PERTAMA TERCATAT]**

**[TARGET: 2 PEMBUNUH BAYARAN]**

**[METODE: BRUTAL. EFISIEN.]**

**[HADIAH DITERIMA]**

**[KEMAMPUAN BARU: PEMBUNUHAN SENYAP TINGKAT 1]**

**[POIN: +500]**

**[TOTAL POIN: 600]**

Bayu menatap kosong ke depan. Darah masih menetes dari lengannya.

Pembunuhan pertama.

Dia udah resmi jadi pembunuh.

Tapi entah kenapa... dia nggak merasa bersalah.

Mereka datang buat bunuh gue. Gue cuma... balikin aja.

Dia tertawa pelan. Tawa yang serak. Seperti orang gila.

"Valerie... lo pikir gue bakal mati gampang?"

Dia berdiri goyah. Berjalan lagi. Entah ke mana.

"Gue akan balik. Dan gue akan bunuh lo dengan tangan gue sendiri."

Malam itu, Bayu berjalan sendirian di jalanan gelap.

Tubuhnya penuh luka. Tangannya penuh darah.

Tapi matanya... menyala.

Menyala dengan dendam yang nggak akan pernah padam.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!