Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Bolong Sholat Pertama Kali
#
Hari Rabu siang. Zidan lagi nemani Pak Rahmat meeting sama klien besar di restoran hotel bintang lima. Meetingnya dari jam sebelas siang. Obrolan panjang soal pembelian lahan buat proyek apartemen.
Jam dua belas lewat sepuluh menit, adzan Dzuhur berkumandang dari masjid hotel. Kedengaran samar samar masuk ke ruang meeting.
Zidan yang biasanya langsung pamit buat sholat, kali ini cuma ngelirik jam sebentar terus lanjut dengerin klien ngomong.
Di dalam hatinya ada bisikan kecil. "Nanti aja. Meetingnya lagi penting. Nanti dijamak sama Ashar."
Pak Rahmat yang duduk di sampingnya nggak bilang apa apa. Dia juga nggak sholat. Emang dari dulu dia suka bolong sholat kalau lagi sibuk.
Meeting berlanjut sampai jam tiga sore. Zidan keluar dari ruangan sambil pegang tas kerjanya. Dia liat jam. Jam setengah empat.
"Wah udah ashar. Dzuhurnya keburu. Ya udah lah. Nanti di rumah dijamak."
Dia pulang jam lima sore. Sampe rumah jam setengah enam. Naura lagi masak di dapur. Faris lagi main mobil mobilan di ruang tamu.
"Mas udah pulang? Alhamdulillah. Langsung mandi ya. Bentar lagi Maghrib."
Zidan langsung ke kamar. Ganti baju. Keluar lagi pake baju rumah. Duduk di sofa sambil main handphone.
Naura keluar dari dapur sambil lap tangan pake serbet. Dia duduk di samping suaminya.
"Mas, Mas udah sholat Dzuhur sama Ashar?"
Zidan masih fokus ke handphone. "Belum. Nanti aja."
"Lho Mas, sekarang udah mau Maghrib. Kapan mau sholat Dzuhur Asharnya?"
"Nanti dijamak. Bisa kok jamak taqdim atau jamak takhir."
Naura bingung. "Jamak? Memangnya Mas lagi musafir?"
"Nggak. Tapi boleh kok jamak kalau lagi ada udzur."
"Udzur apa Mas? Mas kan nggak sakit. Nggak musafir juga."
Zidan mulai kesel. Dia taruh handphonenya terus noleh ke Naura dengan wajah agak marah. "Naura, aku lagi capek. Jangan banyak tanya. Aku tau kok aturannya."
"Tapi Mas..."
"Udah! Nanti aku sholat! Nggak usah diingetin terus!"
Naura langsung diem. Hatinya sakit. Ini pertama kalinya Zidan bilang kayak gitu. Dulu Zidan selalu rajin sholat. Nggak pernah bolong. Bahkan waktu kerja tiga tempat dulu, dia tetep sempetin sholat lima waktu.
Sekarang kenapa?
Kenapa dia bolong Dzuhur?
Kenapa dia marah waktu diingetin?
Adzan Maghrib berkumandang. Zidan langsung berdiri. "Ayo sholat Maghrib."
"Mas mau sholat Maghrib dulu? Dzuhur Asharnya gimana?"
"Nanti habis Maghrib."
Mereka sholat Maghrib berjamaah. Setelah sholat, Zidan langsung duduk baca handphone lagi. Nggak sholat Dzuhur Ashar.
"Mas, Dzuhur Asharnya?"
"Iya iya. Bentar."
Setengah jam berlalu. Zidan masih main handphone.
Naura coba ingetin lagi. "Mas..."
"Naura! Please! Jangan ganggu! Aku lagi ada kerjaan!"
Naura langsung balik ke dapur sambil nahan nangis. Dia ambil wudhu sendiri terus sholat sunnawiyah sambil doa panjang.
"Ya Allah, suamiku mulai bolong sholat. Aku takut ya Allah. Ini tanda tanda yang nggak baik. Tolong ingetin dia ya Allah. Tolong kembalikan dia ke jalan yang benar. Aamiin."
Jam delapan malam. Waktu makan malam. Zidan makan dengan lahap. Naura makan sambil sesekali ngeliatin suaminya.
"Mas, habis makan sholat Dzuhur Asharnya ya. Jangan lupa."
"Iya iya."
Tapi habis makan, Zidan langsung tidur. Katanya capek.
Naura nggak bisa tidur. Dia duduk di ruang tamu sambil gendong Faris yang udah tidur. Matanya ngeliatin pintu kamar yang tertutup.
"Suamiku... dia nggak sholat Dzuhur Ashar hari ini. Pertama kalinya sejak kita nikah. Pertama kalinya dia bolong sholat."
Air matanya jatuh.
"Ya Allah, ini yang aku takutin. Perubahan ini. Dia mulai malas ibadah. Mulai bolong sholat. Apa yang harus aku lakukan ya Allah?"
Besoknya pagi, waktu Zidan mau berangkat kerja, Naura coba ngingetin lagi.
"Mas, tadi malam Mas nggak sholat Dzuhur Ashar. Sekarang Mas udah sholat Subuh. Berarti ada dua sholat yang keburu. Gimana Mas?"
Zidan lagi pake sepatu di pintu. Dia noleh sebentar. "Udah lewat waktunya. Ya udah lah. Aku istighfar aja. Lain kali nggak akan bolong lagi."
"Tapi Mas, kenapa kemarin Mas nggak sholat? Kan masih ada waktu sampai Maghrib."
"Aku capek Naura. Aku lupa. Manusia kan bisa lupa."
"Tapi Mas, sholat itu kewajiban. Nggak boleh dilupakan."
Zidan berdiri. Mukanya mulai kesal lagi. "Naura, aku tau! Aku nggak bodoh! Aku tau sholat itu wajib! Tapi kemarin aku lupa! Apa salahnya? Apa dosa besar banget sampai kamu harus ngomel ngomel dari tadi malam?"
"Aku nggak ngomel Mas. Aku cuma..."
"Cuma apa? Cuma ngingetin? Kamu pikir aku nggak tau diri apa? Kamu pikir aku kafir apa sampai harus diingetin terus terusan?"
Naura mundur sedikit. Matanya berkaca kaca. "Mas... aku cuma takut Mas mulai malas ibadah. Aku cuma takut Mas berubah."
"Aku nggak berubah! Cuma bolong satu sholat doang kok heboh banget! Kamu sendiri nggak pernah bolong? Waktu kamu dulu haid kan nggak sholat seminggu lebih!"
"Mas... itu kan beda. Itu udzur syar'i. Aku haid. Sedangkan Mas kemarin nggak ada udzur. Mas cuma... cuma lupa."
"Ya udah! Aku lupa! Aku minta maaf sama Allah! Selesai! Nggak usah diungkit ungkit terus!"
Zidan langsung keluar rumah terus naik motor. Nggak pamit. Nggak salam. Langsung ngebut pergi.
Naura berdiri di pintu sambil nangis. Faris di dalam rumah ikut nangis karena denger Ayahnya teriak teriak.
"Ya Allah... ini makin parah. Dia nggak cuma bolong sholat. Tapi dia marah waktu diingetin. Dia nggak ngerasa bersalah. Malah nyalahin aku."
Dia masuk rumah terus gendong Faris sambil nangis bareng.
"Maafin Ibu ya Nak. Ibu nggak bisa jaga Ayah kamu. Ayah kamu mulai berubah. Mulai jauh dari Allah. Dan Ibu nggak tau harus gimana."
Siang itu, jam dua belas lewat, adzan Dzuhur berkumandang lagi. Zidan lagi nyetir Pak Rahmat ke kantor setelah makan siang di restoran.
Dia denger adzan dari masjid di pinggir jalan. Hatinya bergetar sebentar.
"Sholat. Aku harus sholat."
Tapi dia lanjut nyetir. Nggak berhenti.
"Nanti aja. Nanti di kantor. Masih ada waktu sampai Ashar."
Sampe di kantor, Pak Rahmat langsung masuk ruangannya. Zidan parkir mobil di basement. Dia duduk di mobil sambil liat jam.
Jam setengah satu.
Masih ada waktu buat sholat Dzuhur.
Tapi dia males. Capek. Pengen istirahat sebentar.
"Nanti aja dijamak sama Ashar. Nggak apa apa."
Dia tiduran di kursi mobil sambil tutup mata.
Bangun bangun udah jam tiga lewat. Waktu Dzuhur udah habis.
"Sial. Keburu lagi."
Tapi dia nggak terlalu ngerasa bersalah. Cuma sedikit kesal sama diri sendiri. Nggak kayak dulu yang langsung nangis kalau bolong sholat.
Sore pulang jam lima. Sampe rumah jam setengah enam. Naura udah nungguin di depan pintu.
"Mas, Mas udah sholat Dzuhur?"
Zidan langsung masuk tanpa jawab.
Naura ikutin ke kamar. "Mas, aku tanya. Mas udah sholat Dzuhur?"
"Belum."
"Kenapa Mas? Sekarang udah Ashar. Dzuhurnya gimana?"
"Keburu. Ya udah."
"Ya udah? Gitu aja Mas? Nggak ada rasa bersalah?"
Zidan buka baju kerjanya terus lempar ke kasur. Noleh ke Naura dengan mata tajam. "Naura, dengerin. Aku capek. Aku kerja seharian. Aku keliling sana sini. Aku nggak sempet sholat. Emang kenapa? Dosa besar apa?"
"Mas... bolong sholat itu dosa besar. Bahkan ada yang bilang keluar dari Islam kalau tinggalin sholat."
"Aku nggak tinggalin! Aku cuma bolong! Dua hari doang! Besok aku sholat lagi!"
"Tapi Mas..."
"UDAH NAURA! JANGAN CEREWET! AKU NGGAK MAU DENGERIN KHOTBAH KAMU! CAPEK AKU!"
Naura langsung diem. Tubuhnya gemetar. Ini pertama kalinya Zidan teriak seteriak itu ke dia.
Faris yang lagi main di ruang tamu langsung nangis keras ketakutan.
Zidan langsung sadar. Dia ngeliat istrinya yang gemetar. Dengerin anaknya yang nangis.
"Naura... maafin aku. Aku... aku kelepasan."
Tapi Naura nggak jawab. Dia langsung keluar dari kamar terus angkat Faris yang nangis. Gendong sambil goyang goyang.
"Ssshh Faris, nggak apa apa sayang. Ayah cuma capek. Nggak apa apa."
Dia duduk di sofa sambil nangis pelan. Faris di pelukannya juga masih nangis.
Zidan keluar dari kamar. Berdiri di ambang pintu sambil ngeliat istrinya nangis.
Hatinya sakit. Dia tau dia salah. Dia tau dia nggak seharusnya teriak kayak tadi.
Tapi egonya nggak bisa ngalah.
Dia balik ke kamar lagi. Tiduran sambil merem.
Di kepalanya terngiang suara Naura. "Bolong sholat itu dosa besar."
"Iya. Aku tau. Tapi cuma dua hari doang. Besok aku sholat lagi. Nggak akan bolong lagi."
Tapi jaminan itu cuma di mulut.
Karena besoknya, dia bolong lagi.
Dan lusa.
Dan lusa lagi.
Sampai akhirnya bolong sholat jadi kebiasaan.
Jadi hal yang biasa.
Jadi hal yang nggak bikin dia merasa bersalah lagi.
Dan itu awal dari kejatuhan.
Kejatuhan spiritual yang akan membawa dia ke jurang yang dalam.
Jurang yang akan menghancurkan segalanya.
Keluarganya.
Imannya.
Hidupnya.
Semua.
Dan semua itu dimulai dari satu sholat Dzuhur yang bolong.
Dari satu moment dimana dia bilang, "Nanti aja."
Dan nanti itu nggak pernah datang.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja