Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan pertama yang berkesan
Mentari pagi bersinar terang, namun suasana di sekitar sekolah El Barack terasa tegang bagi mereka yang tahu apa yang sedang dipertaruhkan. Di sudut parkiran, di bawah bayang-bayang pohon beringin yang rimbun, seorang pria berdiri tak bergeming.
Penampilannya jauh dari kesan CEO Ardiwinata Group yang biasanya memakai setelan jas custom-made seharga ratusan juta. Hari ini, Cakra mengenakan kaos putih polos, jaket bomber hitam, topi, dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Di tangannya, ia mencengkeram sebuah tote bag berisi camilan impor dan mainan edisi terbatas yang ia riset semalaman sebagai kesukaan anak seusia El.
Dari balik kacamatanya, mata Cakra memanas saat melihat mobil Hana berhenti. Ia melihat putranya turun dengan wajah ceria, diikuti oleh Mbak Pur yang sibuk merapikan tas punggung mungil itu.
"Mbak Pur, saya titip El ya. Kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi nomerku atau nomernya Mas Tama!" suara Hana terdengar tegas namun ada nada kecemasan yang terselip di sana.
"Siap Non, Non Hana tenang saja," jawab Mbak Pur sigap.
Cakra memperhatikan dengan dada sesak saat El mencium punggung tangan Hana secara takzim, lalu memeluk dan mencium kedua pipi ibunya. Itu adalah pemandangan yang seharusnya ia rasakan setiap pagi sebagai seorang ayah.
Hana sempat turun dari mobil, matanya menyisir area depan sekolah. Ia mengangguk kecil saat melihat dua pria berbadan tegap dengan pakaian preman, orang-orang suruhan Tama yang berjaga di titik strategis. Merasa situasi terkendali, Hana akhirnya masuk kembali ke mobil dan perlahan meninggalkan area sekolah.
Setelah mobil Hana hilang dari pandangan, Cakra keluar dari balik pohon beringin. Ia menatap aspal tempat Hana berdiri tadi dengan tatapan kosong yang pedih.
"Andaikan peristiwa menjijikkan itu tidak terjadi... andaikan aku memberikan kesempatan padamu untuk bicara, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, Hana," gumam Cakra dengan suara parau. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Aku ingin keluarga kita kembali utuh. Aku ingin El tahu siapa ayahnya yang sebenarnya."
Jam istirahat berbunyi. Suasana sekolah mendadak riuh dengan suara tawa anak-anak. Di saat teman-temannya berlarian menuju lapangan bola, El Barack justru menarik tangan Axel menuju area kantin belakang yang biasanya sepi karena letaknya yang tersembunyi.
"Axel, kamu yakin Ayahku sudah di sana?" bisik El, matanya melirik ke arah gerbang samping tempat personel keamanan Tama berjaga.
"Paman Cakra bilang dia sudah menunggu di dekat gudang olahraga, dekat kantin belakang. Ayo cepat!" balas Axel tak kalah pelan.
Mereka berjalan mengendap-endap di balik deretan loker. Jantung El berdegup kencang, antara rasa takut melanggar janji pada Bundanya dan rasa rindu yang membuncah pada sosok pria yang selama ini hanya ia lihat di layar komputer warnet kak Ros semasa tinggal di desa Bangorejo.
Begitu sampai di sudut kantin yang rimbun, mereka melihat seorang pria berpakaian hitam sedang berdiri membelakangi mereka. Pria itu menoleh perlahan saat mendengar langkah kaki kecil mendekat.
Cakra melepas kacamatanya. Matanya berkaca-kaca saat menatap sosok mungil di depannya yang memiliki garis wajah yang sangat mirip dengannya.
"El..." suara Cakra bergetar.
El mematung. Ia menatap pria di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Paman... eh, Om... apakah benar Om adalah Ayahku?"
Cakra langsung berlutut di depan El agar tinggi mereka sejajar. Ia mengabaikan noda debu pada celananya. "Ya, El. Aku ayahmu. Maafkan Ayah karena baru menemui mu sekarang. Ayah sangat merindukanmu, Nak."
El tidak bisa menahan diri lagi. Meskipun ia dididik untuk waspada, insting alaminya sebagai seorang anak mengenali kehangatan yang terpancar dari mata Cakra. El melangkah maju dan memeluk leher Cakra dengan erat, membuat pria tangguh itu terisak pelan sambil mendekap putranya untuk pertama kali.
"Kenapa Ayah tidak pernah datang?" bisik El di pundak Cakra.
Cakra mengelus rambut El dengan lembut. "Ada banyak hal yang belum bisa Ayah jelaskan, El. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Ayah tidak pernah bermaksud meninggalkanmu. Ini, Ayah bawakan makanan kesukaanmu."
Cakra membuka tote bag-nya, namun matanya tetap waspada menatap ke arah koridor. Ia tahu waktu mereka sangat terbatas sebelum orang-orang Tama menyadari hilangnya El dari pengawasan.
"El, kita harus merahasiakan pertemuan ini dari Bunda dan Om Tama untuk sementara, ya? Ayah tidak ingin mereka marah padamu," ucap Cakra dengan nada manipulatif namun lembut.
El mengangguk pelan, meski hatinya terasa berat karena harus berbohong pada Bundanya. "Iya, Yah. Tapi Ayah janji akan bertemu aku lagi, kan?"
" tentu saja Nak, Ayah janji akan selalu menemui mu!" balas Cakra sambil memeluk kembali putranya.
Pertemuan singkat namun penuh emosi itu berlanjut di sudut kantin yang sepi. Cakra merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil elegan. Di dalamnya, terdapat sebuah jam tangan pintar (smartwatch) berwarna hitam metalik yang terlihat sangat canggih.
"El, pakai ini," bisik Cakra sambil memasangkan jam tersebut ke pergelangan tangan kecil putranya. "Ini bukan jam tangan biasa. Hanya Ayah yang punya akses untuk menghubunginya, dan sinyalnya tidak akan terlacak oleh siapa pun. Jika El rindu Ayah, El cukup menekan tombol di samping ini."
El menyentuh layar jam itu dengan takjub. "Wah, keren sekali, Yah! Tapi... kenapa kita harus sembunyi-sembunyi? Kenapa Ayah tidak jemput El saja di depan gerbang seperti Om Tama?"
Pertanyaan polos itu menghujam jantung Cakra. Ia terdiam sejenak, menelan kepahitan dari masa lalu yang ia ciptakan sendiri.
"Ada kesalahpahaman besar antara Ayah dan Bunda, Nak. Untuk saat ini, Bunda belum siap melihat kita bersama. Ayah tidak mau Bunda sedih, jadi kita harus menjaga rahasia ini demi kebahagiaan Bunda juga, ya?" Cakra mengelus kepala El dengan lembut. "Bisa El janji pada Ayah untuk menyimpan ini baik-baik?"
El mengangguk mantap, sorot matanya menunjukkan kedewasaan yang melampaui usianya. "El janji, Yah. El akan sembunyikan di bawah bantal atau di dalam tas sekolah. El juga rindu Ayah, sangat rindu."
Cakra memeluk El sekali lagi, menghirup aroma rambut putranya yang menenangkan, sebelum akhirnya ia harus menghilang di balik tembok sekolah sebelum jam istirahat usai.
Tak lama setelah Cakra pergi, Mbak Pur yang merasa kehilangan jejak El mulai berkeliling koridor dengan wajah cemas. Langkah kakinya membawa wanita paruh baya itu ke area kantin belakang. Di sana, ia melihat El sedang duduk santai di bangku semen bersama Axel, dengan beberapa bungkus camilan impor yang tampak asing di mata Mbak Pur.
Di saat yang bersamaan, salah satu anak buah Tama yang berpakaian preman tampak melintas di area tersebut, matanya menyisir tajam setiap sudut gudang olahraga. Namun, ia hanya melihat dua bocah laki-laki yang sedang asyik mengunyah biskuit cokelat. Tidak ada tanda-tanda pria dewasa atau pergerakan mencurigakan.
"El! Aduh, Gusti... Mbak cariin kemana-mana," seru Mbak Pur sambil mengatur napasnya. "Kok tumben istirahat di sini?" tanya Mbak Pur mencoba membujuk agar El kembali ke area depan.
El menoleh dengan tenang, senyumnya tampak begitu polos seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku sedang mencari suasana baru saja Mbak Pur, di sini tempatnya sangat nyaman, betul tidak Xel?"
Axel langsung menyahut sambil menepuk dadanya, berlagak seperti pria dewasa yang sedang menjaga adiknya. "Betul sekali El! Mbak Pur tidak usah khawatir, ada aku yang jagain El!"
Mbak Pur tertawa geli melihat tingkah lucu Axel. "Halah, kamu ini Xel, masih kecil sudah mau jadi pengawal. Ya sudah, ayo habiskan makanannya, sebentar lagi masuk kelas."
Menjelang jam pulang sekolah, suasana di depan gerbang mulai padat. Sebuah mobil SUV Toyota hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Tama turun dari mobil dengan sikap siaga yang tak pernah luntur. Ia berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada, memperhatikan satu per satu siswa yang keluar.
Begitu pintu gerbang dibuka, El muncul bersama Mbak Pur. El tampak ceria, melambaikan tangan pada Axel sebelum berlari kecil menuju Tama.
"Om Tama!" seru El riang.
Tama berjongkok sedikit, memastikan kondisi fisik El dari ujung kepala sampai kaki. "Semua aman, El? Tidak ada orang asing yang menyapamu hari ini?"
El menggeleng cepat, tangan kirinya yang mengenakan jam tangan pintar dari Cakra sengaja ia tutup dengan lengan seragam panjangnya. "Aman, Om! Tadi aku cuma main sama Axel di kantin."
Tama menghela napas lega. Ia melirik ke arah anak buahnya yang memberikan kode jempol, sebagai tanda bahwa situasi sepanjang hari tetap terkendali. Tama kemudian membukakan pintu mobil untuk El dan Mbak Pur.
"Ayo kita pulang. sambil menunggu Bunda Hana pulang dari kantor," ucap Tama lembut sambil mengacak rambut El.
Di dalam mobil, El duduk terdiam sambil menatap ke luar jendela. Tangannya meraba jam tangan di balik lengannya. Dalam hatinya, El merasa senang karena akhirnya memiliki rahasia manis bersama Ayahnya, namun ada sedikit rasa sesak karena ia mulai belajar berbohong kepada orang-orang yang mencintainya.
Bersambung...