NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kini seorang berdiri di lobi kantor Aircraft perusahaan dalam bidang pembuatan mesin pesawat yang kini dipimpin oleh Algio. Lobi itu didominasi warna gelap, marmer mengkilap, dan aroma samar kekuasaan yang membuat Afnan merasa gemetar, nyalinya cukup menciut sebab ini adalah wawancara pertamanya.

"Calm down Afnan, jika Algio berani memberi pertanyaan susah, cukup tendang kepalanya agar otak pria itu kembali normal." Afnan menarik nafas panjang, berusaha menahan rasa gugup.

Dengan langkah pelan, Afnan masuk ke dalam dan tiba-tiba langsung di sambut oleh satu resepsionis, wanita cantik berpakaian formal, "Dengan Nona Afnan?" Tanyanya.

Diam, Afnan memegangi dadanya yang terasa semakin berdegup sebab dikagetkan oleh sang resepsionis yang sudah nangkring di depan pintu lobi utama.

"Ya, dengan saya?" Seru Afnan tersenyum profesional, berbeda dengan isi hatinya yang tengah uring-uringan, sebab dadanya masih saja berdisko kaget.

"Mari saya antar menuju ruangan Mr Algio." Sang resepsionis berkata ramah, mengarahkan jalan.

Mendengar itu Afnan menggeleng, "Tidak perlu nona, saya sudah mengetahui jalan menuju ruangan Mr Algio, anda bisa kembali bekerja." Tolaknya lembut.

"Tap-"

"Saya pergi dulu, semoga hari anda menyenangkan." Tanpa menunggu jawaban apapun, Afnan langsung ngacir begitu saja, menuju deretan lift yang kini terlihat sesak sebab para pegawai memang sudah selesai rehat.

Di sebelah kanan sendiri dapat Afnan lihat terdapat lift yang kosong, ia langsung bergegas, namun sejenak netra itu dapat melihat papan besar yang di bold besar, 'lift ekslusif' sadar bahwa lift itu hanya milik Algio seorang.

"Ah masa bodoh, Algio juga tidak akan mempermasalahkan aku menggunakan liftnya." Seru Afnan santai, lantas wanita itu langsung masuk kedalam lift, memencet angka 56.

Dan wanita itu benar-benar tidak menyadari, bahwa Algio, pria itu sekarang tengah berdiri kaku saat melihat liftnya digunakan oleh orang lain, ia baru saja makan siang dengan investor, ingin kembali ke ruangannya, namun malah mendapati liftnya digunakan oleh orang lain.

"Siapa yang dengan lancang menggunakan liftku, Wiliam?" Algio berkata dengan datar, tanganya ia tekuk diantara dada, menunggu dengan gigi bergelematuk.

Sedangkan Afnan, setelah tiba di ruangan Algio ia masuk dengan mengetuk pintu, tak ada jawaban sama sekali, membuatnya membuka pintu itu perlahan dan netranya menelisik dalam, kosong tak ada satupun penghuni.

"Tunggu, tunggu? Di mana Algio? Apa pria itu pergi? Atau melarikan diri?" Afnan mendengus sebal, ia langsung duduk di atas sofa dengan kaki terangkat. Sebal bukan main.

Masalahnya Afnan sudah berlari-lari menuju perusahaan sebab Algio berkata setelah makan siang ia harus datang tepat waktu untuk wawancara, bahkan ia lupa untuk membelikan cheesecake untuk pria itu, namun sekarang lihat? Siapa yang terlambat?

Benar-benar pria menyebalkan!

Tak lama dari Afnan uring-uringan, pintu di buka menampilkan tubuh tegap Algio bersama Wiliam, asisten pribadinya, pria itu langsung berjalan ke arah Afnan dengan tatapan datar.

"Bagus, baru pertama kali wawancara kau sudah lancang menggunakan liftku, apa itu menyenangkan Nona Afnan?" Algio melirik sang wanita yang kini tengah duduk santai sembari mengangkat kaki kirinya.

"Memangnya tidak boleh?" Afnan menjawab santai, memberikan senyuman yang begitu manis hingga deretan gigi rapinya terlihat.

Mendengar pertanyaan itu, membuat Wiliam maju, pria itu meringis sebab bagaimana bisa Afnan begitu lancang? Ia saja yang sudah bekerja sama lima tahun tidak berani menggunakan lift itu selain bersama Algio.

"Nona, lift itu khusus untuk president," Wiliam menjawab pelan, "Dan seharusnya anda tidak menggunakan itu, apalagi membuat Tuan Algio harus menunggu."

Mengerucutkan bibirnya maju lima centimeter, Afnan menarik tubuh Algio duduk di sampingnya, ia membenarkan duduk, lebih terlihat feminim, "Gio, aku tau kau tidak akan mempermasalahkan sikap kurang ajarku."

"Tap-"

"Algio please, aku terburu-buru juga karena ucapanmu, kau berkata jika aku harus tiba setelah jam makan siang selesai, berhubung lift umum ramai, aku jadi menggunakan lift milikmu." Afnan menundukkan kepala.

Tertawa pelan, Algio lantas mengelus lembut surai hitam Afnan, menyentil dahi wanita itu pelan dan berakhir mendapatkan pelototan, "Baiklah, aku akan memaafkanmu."

"Wiliam, buat Afnan secara bebas menggunakan lift eksekutif, lalu edarkan agar tidak terjadi kesalahpahaman." Algio menatap Wiliam yang nampak terkejut sebab mendapat intruksi secara tiba-tiba.

Oh God, seberapa istimewanya wanita itu sampai diberi hak khusus untuk menggunakan lift untuk president, netra Wiliam membulat, memberikan tatapan curiga.

Jika itu pegawai lain, pasti sudah dipecat secara tidak terhormat.

"Baik Tuan, akan saya edarkan."

"Kau tidak marah." Afnan mendongok, menatap Algio dalam, bibirnya sudah tertarik membentuk senyuman manis.

Kepala Algio menggeleng, "Aku tidak bisa marah padamu," Ia berkata pelan, "Jika aku marah, nanti kau juga akan berakhir merajuk padaku, seperti sebelum-sebelumnya."

Ekspresi wajah Afnan langsung berubah, wanita itu mundur, tak ingin disentuh Algio, "Jadi, kau tetap ingin memarahiku di dalam hatimu?"

"Bukan seperti itu, aku tidak berani marah padamu." Bujuk Algio mendekat, ingin menyentuh jemari Afnan, sayang sekali wanita itu cepat tanggap, menghindar.

Helaan nafas Algio layangkan, "Jangan marah, kau terlihat lebih cantik, dan aku tidak bisa memastikan untuk menggigit pipimu." Beonya lembut.

"Janji kau tidak akan memarahiku lagi?" Afnan mengacungkan jari kelingking kanannya, tatapan itu masih saja tajam, seperti orang merajuk pada umumnya.

Algio tertawa pelan, "Sejak kapan aku marah padamu? Bahkan aku memberimu hak khusus untuk menggunakan liftku, Afnan." Walaupun begitu, ia tetap menarik jemari kelingkingnya, hingga terpaut pada jemari Afnan.

"Jadi jangan marah lagi, okay?"

Mengangguk pelan, Afnan kembali mendekat pada Algio, ia menyenderkan kepalanya tepat didada lebar sang pria, "Jangan memberi pertanyaan yang sulit padaku."

"Benarkah? Mengapa begitu?"

"Aku takut tidak bisa menjawab."

"Jika tidak bisa, maka kau tidak perlu bekerja di sini, Afnan," Algio mengelus lembut wajah Afnan, "Aku tidak ingin membuat karyawanku cemburu padamu."

Di belakang, Wiliam menahan mual, tak ingin membuat karyawan lain cemburu katanya? Hayy! Lalu lift yang awalnya hanya khusus untuk CEO kini Afnan juga boleh menggunakannya, itu saja sudah percikan cemburu dari berbagai karyawan Algio.

"Kau tega padaku?" Afnan mendongok, semakin menenggelamkan wajahnya di dada Algio, menikmati aroma maskulin pria itu.

"Tentu saja aku tidak tega, tapi bagaimana jika karyawan lain cemburu terhadap soal wawancaramu yang lebih mudah dari pada mereka?"

"Aku tidak peduli, jika aku memberi pertanyaan sulit, aku akan mendiamkanmu selama satu bulan!" Afnan mendengus, wanita itu nyatanya begitu manja pada Algio.

Wiliam,  berkali-kali ia menghela nafas dan berusaha menahan emosi sebab melihat keromantisan dua manusia di depannya. Ngomong-ngomong sejak kapan pria dan wanita berteman namun melakukan adegan romantis sampai seperti ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!