"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Antara Bakti dan Hati
Malam itu, suasana di kediaman Kyai terasa lebih hening dari biasanya. Aroma kayu gaharu tercium kuat dari arah ruang kerja Abi. Zidan berdiri di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat, tangannya sedikit bergetar sebelum akhirnya mengetuk pelan.
"Masuk, Zidan."
Suara berat dan berwibawa itu terdengar dari dalam. Zidan melangkah masuk dengan kepala tertunduk, duduk bersimpuh di atas karpet hijau tepat di depan meja kerja sang Abi. Abi sedang menutup kitab Ihya Ulumuddin yang baru saja dibacanya, lalu melepas kacamata dan menatap putra sulungnya dengan lekat.
"Tadi Abi lewat jalan dermaga," buka Abi dengan nada datar namun penuh selidik. "Abi lihat kamu menuntun sepeda seorang gadis. Siapa dia?"
Zidan menarik napas dalam, berusaha mengatur detak jantungnya. "Nggih, Abi. Itu Bungah, putri bungsu Pak RT. Tadi dia mengantar pesanan kue untuk Umi, lalu Umi memerintah saya untuk mengantarnya pulang karena sepedanya sempat rusak."
Abi terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Pak RT yang anaknya ada di Saudi itu? Keluarga yang baik. Tapi Zidan, ingat usiamu. Kamu adalah seorang Gus yang akan memimpin ribuan santri. Berjalan berdua dengan gadis remaja di pinggir jalan... apa kata orang nanti?"
"Maafkan saya, Abi. Saya hanya menjalankan perintah Umi," jawab Zidan tetap dengan nada takzim.
Abi menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya melunak, namun tetap tegas. "Zidan, Abi tidak melarangmu bersosialisasi. Tapi Abi bertanya sekali lagi soal pembicaraan kita kemarin. Sepertinya, setelah bertemu gadis itu, wajahmu tidak semurung kemarin. Apa benar begitu?"
Zidan terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa berbohong di depan Abinya, namun ia juga belum yakin dengan perasaannya sendiri. "Zidan hanya merasa... ada sesuatu yang berbeda darinya, Abi. Dia begitu polos, seolah tidak punya beban dunia. Melihatnya seperti melihat cahaya kecil di tengah gelap."
Abi menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di bibirnya. "Zidan, dalam mencari pasangan, ilmu dan nasab itu penting. Tapi jika hatimu sudah menemukan 'kunci' untuk membukanya, Abi tidak akan menutup jalan itu. Hanya saja, ingat... dia masih sangat muda. Dia masih punya masa depan panjang, masih harus sekolah."
"Zidan mengerti, Abi."
"Selesaikan sekolahnya dulu, jaga jarakmu, jaga kehormatanmu dan kehormatannya. Jika memang dia 'mentari' yang kamu cari, tunjukkan dengan cara yang mulia, bukan dengan sekadar jalan berdua di pinggir pantai."
Zidan merasa dadanya sesak oleh rasa syukur. Nasehat Abi tidak terdengar seperti larangan, melainkan sebuah restu yang dibalut dengan kebijaksanaan.
"Terima kasih, Abi," ucap Zidan tulus.
Saat keluar dari ruang kerja, Zidan melihat Umi Aisyah sudah berdiri di balik tirai dapur dengan senyum penuh arti. Sepertinya, seluruh keluarga besar sudah menyadari bahwa "kutub utara" di hati Zidan mulai mengalami musim semi.
Zidan melangkah keluar dari ruang kerja Abi dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah beban berton-ton yang menghimpit pundaknya baru saja diangkat. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Umi Aisyah sedang berdiri di dekat meja makan, pura-pura merapikan taplak meja padahal jelas-jelas sedang menunggu hasil "sidang" putranya.
"Sudah bicara dengan Abi, Le?" tanya Umi lembut.
Zidan mengangguk. "Sampun, Umi. Abi... Abi menasihati agar Zidan menjaga jarak dan menghormati masa depannya."
Umi Aisyah tersenyum lebar, jemarinya mengelus lengan Zidan. "Abi itu sayang padamu. Beliau hanya tidak ingin kamu salah langkah. Bungah itu memang masih seperti burung kecil yang baru belajar terbang, jangan sampai kamu kurung terlalu cepat."
Malam itu, Zidan tidak bisa langsung tidur. Ia duduk di ambang jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah laut. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan terlihat seperti bintang yang jatuh ke air. Ia teringat ucapan Bungah tadi sore: "Emang boleh ya, Kak?"
Zidan mengambil sebuah buku catatan kecil. Di halaman pertamanya, ia menuliskan satu baris kalimat yang selama ini ia simpan:
"Mungkin kutub ini memang membutuhkan mentari, bukan untuk mencairkannya menjadi air yang hilang, tapi untuk menghangatkannya agar kehidupan bisa tumbuh di atasnya."
Tiba-tiba, suara dering pesan masuk dari ponselnya memecah kesunyian. Sebuah nomor asing mengirimkan pesan singkat.
Nomor Asing: "Kak Zidan! Ini Bungah. Aku pinjam HP Bunda cuma mau bilang, tadi kue yang tersisa aku makan sendiri karena enak banget! Hehe. Makasih ya sudah antar pulang. Sampai ketemu pas belajar kitab nanti!"
Zidan tertegun. Berani sekali gadis ini mengirim pesan padanya? Namun, alih-alih merasa terganggu, Zidan justru mendapati dirinya kembali tersenyum. Sifat Bungah yang tidak tahu aturan protokoler "Gus dan Santri" ini justru menjadi obat bagi kekakuan hidupnya.
Zidan mengetik balasan dengan sangat hati-hati, memastikan bahasanya tetap terjaga namun tidak dingin.
Zidan: "Nggih, sama-sama. Jangan tidur terlalu malam, anak sekolah harus bangun pagi. Besok lusa, datanglah ke pesantren setelah ashar. Saya akan siapkan kitab dasar untukmu."
Di seberang sana, di rumah kecil dekat dermaga, seorang gadis berteriak kegirangan sampai hampir menjatuhkan ponsel bundanya. Bungah tidak tahu bahwa pesan singkat itu adalah langkah pertama bagi Zidan untuk mulai membuka pintu gerbang di hatinya yang sudah lama terkunci rapat.
Zidan menutup ponselnya, menatap langit malam dengan keyakinan baru. Ia tahu perjalanannya dengan Bungah tidak akan mudah—jarak usia, status sosial, dan masa depan Bungah yang masih panjang adalah tantangan besar. Namun bagi Zidan, jika memang Bungah adalah mentarinya, maka ia bersedia menunggu fajar itu terbit dengan sempurna.