Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Mencair
Malam setelah insiden di galeri itu terasa seperti berada di ruang hampa. Rafa pulang larut, wajahnya pucat dan penuh beban.
Mereka tidak saling tegur. Amara sudah menidurkan Luna dengan cerita yang dipaksakan riang, lalu mengunci diri di kamar tidur.
Rafa, membaca situasi, langsung menuju kamar tamu tanpa bertanya. Keheningan di rumah itu begitu pekat, hingga bunyi tetesan keran di dapur yang bocor terdengar seperti detak jam kiamat.
Pagi hari, setelah mengantar Luna ke sekolah, Amara duduk di ruang makannya yang masih bersih dan berantakan oleh sarapan. Dia menatap sisa roti panggang di piring, pikirannya berputar-putar.
Psikolog. Kata itu menggantung. Itu bisa menjelaskan segalanya: sifat tertutup Rafa, ketakutannya terhadap konflik, kebiasaannya melarikan diri ke dalam kerja.
Bahkan sentuhan di galeri itu—seorang terapis bisa jadi memberikan sentuhan penenang yang profesional, bukan?
Tapi suara kecil di kepalanya berbisik: Tapi dia berbohong. Berulang kali. Dan wanita itu di Bandung?
Bel pintu berbunyi. Yuni membukakan pintu. Itu Rafa. Dia pulang lebih awal, masih mengenakan kemeja dari kemarin, terlihat seperti tidak tidur semalaman.
"Bisa kita bicara?" tanyanya dari ambang pintu, suaranya serak.
Amara mengangguk, tidak bersuara. Yuni dengan sigap menghilang ke dapur.
Mereka duduk berseberangan di sofa ruang keluarga. Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui jendela, menyoroti debu-debu yang berputar di udara—detail yang biasanya tak terlihat, sekarang terlihat jelas.
Rafa memulai. Dia tidak melihat mata Amara, tangannya meremas-remas lututnya.
"Aku mulai konseling sekitar 1,5 tahun yang lalu," mulainya, suaranya datar.
"Setelah… setelah kita bertengkar soal aku lupa hari ulang tahun mu. Aku tahu ada yang salah denganku. Aku merasa seperti mesin. Bangun, kerja, pulang, tidur."
"Aku tidak bisa… merasakan kebahagiaan. Aku hanya merasakan tekanan. Dan setiap kali kau mencoba mendekat, aku merasa itu adalah tuntutan lain yang harus kuhadapi."
Dia menghela napas panjang. "Dokter Dian Permatasari—adalah rekomendasi teman. Spesialis kecemasan dan burnout."
Pertemuan pertama kami di kliniknya daerah Kuningan. Lalu, karena jadwalnya padat dan aku sering dinas, kadang kita bertemu di luar.
Seperti di Bandung. Itu… memang salahku. Aku seharusnya jujur. Tapi aku malu. Bagaimana caranya aku, Rafa Aditya, yang seharusnya kuat, harus mengakui pada istriku bahwa aku hampir runtuh?"
Amara mendengarkan, hatinya bergejolak antara rasa iba dan kecurigaan.
"Kenapa di Bandung harus makan malam? Itu malam ulang tahun pernikahan kita, Rafa."
Rafa menutup matanya, seperti kesakitan. "Itu adalah sesi darurat. Hari itu, di meeting, aku hampir mengalami panic attack. Aku meneleponnya. Dia kebetulan sedang di Bandung untuk konferensi."
"Dia menemuiku, membawaku makan, mencoba menenangkanku. Itu murni profesional. Bon itu… dia yang bayar, aku yang ganti tunai. Itu etika, katanya, agar tidak ada jejak transaksi terapi di kartu kredit."
"Dan kemarin? Kenapa harus di galeri? Dan kau bilang meeting luar kota?"
"Karena aku tidak ingin kau tahu aku masih melanjutkan terapi! Aku pikir aku sudah lebih baik. Tapi minggu ini, setelah kau mulai bicara soal pekerjaan dan… kita menjauh, serangan kecemasan itu kembali. Aku janji sesi dengan Dian."
"Tapi kliniknya penuh, dia menyarankan bertemu di galeri karena dia sedang riset untuk paper tentang art therapy. Aku… aku mengambil kesempatan itu. Aku bilang meeting luar kota karena itu lebih mudah daripada mengakui bahwa aku masih rapuh."
Air mata akhirnya mengalir di pipi Rafa. Air mata yang tampak sangat nyata, berasal dari kelelahan yang dalam dan rasa malu yang melilit.
"Aku mencoba, Mara. Aku mencoba untuk menjadi suami dan ayah yang baik. Tapi aku seperti terjebak dalam sebuah peran yang terlalu besar untukku. Dan aku takut kalau kau tahu kelemahanku, kau akan benar-benar pergi."
Amara merasa dadanya sesak. Narasinya masuk akal. Sangat masuk akal. Dan melihat Rafa yang hancur seperti ini—pria yang selalu tampak terkendali—adalah sesuatu yang asing dan menyayat hati.
"Kenapa tidak pernah kau ceritakan stresmu padaku?" tanya Amara, suaranya pelan.
"Kita adalah suami istri."
"Karena dari awal hubungan kita, aku adalah yang 'kuat'. Aku yang menyelesaikan masalah. Aku yang memberikan jaminan. Bagaimana bisa aku tiba-tiba berubah menjadi beban?" Rafa menggeleng.
"Dan… kau punya duniamu sendiri yang mulai kau bangun lagi. Aku tidak ingin menjadi penghalang. Aku ingin kau bahagia, meski… meski caranya menjauh dariku."
Ada kebenaran yang pahit dalam kata-katanya. Amara melihat sekeliling rumah mewah ini—sebuah simbol kesuksesan Rafa yang justru menjadi penjara baginya. Tekanan untuk mempertahankan semua ini, untuk menjadi sempurna.
"Jadi, tidak ada apa-apa dengan… Dian?" tanya Amara, mencoba yang terakhir.
Rafa melihatnya langsung, matanya merah.
"Tidak. Demi Luna, tidak. Dia hanya terapisku. Dan dia sudah membantu aku melihat banyak hal… termasuk betapa egois dan tertutupnya aku selama ini. Betapa aku mengabaikanmu."
Diam yang panjang menyelimuti mereka. Hanya suara jam dinding yang berdetak.
"Aku tidak tahu apa yang harus dipercaya, Rafa," akhirnya Amara berbicara, suaranya lelah.
"Kebohonganmu melukai. Lebih dari apapun."
"Aku tahu. Dan aku akan berusaha untuk tidak berbohong lagi. Aku akan transparan. Jadwal terapiku, perasaanku… jika kau mau mendengarkan."
"Dan jika aku tidak mau? Jika lukanya terlalu dalam?"
Rafa menunduk, bahunya turun.
"Itu… hakmu. Aku akan menghormatinya. Tapi tolong, beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah. Untuk kita."
Amara tidak menjawab. Dia berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, dunia berjalan seperti biasa. Tapi di dalam rumah ini, fondasi yang selama ini dianggap kokoh ternyata retak dan rapuh.
"Aku butuh waktu," ucapnya, masih membelakangi Rafa.
"Dan aku akan melanjutkan proyek-proyekku. Itu non-negotiable."
"Baik," jawab Rafa, suaranya penuh penyerahan.
"Aku dukung. Sepenuhnya."
Beberapa hari kemudian, dengan hati yang masih terbebani, Amara memaksakan diri untuk fokus pada hal yang memberinya kendali: pekerjaan.
Hari ini adalah janji survei lokasi ke klinik dr. Oka, suami Ibu Dewi.
Dia mengenakan outfit yang praktis namun profesional: jumpsuit one-piece dari katun twill berwarna krem, sepatu flat kulit, dan sebuah tas selempang yang bisa menampung measuring tape, notebook, dan kamera.
Dia memarkir mobilnya di depan sebuah bangunan tua dua lantai di kawasan Sudirman yang memang sudah terlihat kusam.
Ibu Dewi sudah menunggu dengan semangat.
"Ini dia, Bu Amara! Siap-siap lihat 'kanvas' yang suram ini," candanya, mencairkan ketegangan Amara.
Begitu masuk, Amara langsung masuk ke mode profesional. Mata desainernya menyala. Ruang tunggu itu sempit, dengan pencahayaan neon yang keras, dinding warna krem pudar, kursi kayu tua yang tidak nyaman, dan poster anatomi gigi yang sudah usang di dinding. Bau disinfektan menyengat.
"Ini tantangannya," gumam Amara sambil mengeluarkan kamera. Dia mulai memotret setiap sudut, mengukur dimensi ruangan, mencatat kondisi listrik dan pencahayaan yang ada. Dia memperhatikan bagaimana pasien—kebanyakan remaja dan anak-anak—duduk dengan cemas, menunduk ke ponsel mereka.
"Akses cahaya alami terbatas," dia berbicara pada Ibu Dewi yang mengikuti di belakangnya.
"Tapi kita bisa manfaatkan ini dengan menciptakan cahaya buatan yang hangat dan tidak langsung. Fokus kita: mengurangi kecemasan. Warna-warna lembut, bentuk melengkung, material yang terasa 'hangat' saat disentuh seperti kayu dan kain tekstur."
Dia membuka sketchbooknya, menunjukkan sketsa konsep awal yang sudah diperbaharui setelah inspirasi dari galeri.
"Saya usulkan area bermain kecil di sudut sini, dengan permainan yang melibatkan tangan, untuk mengalihkan rasa takut. Dan di dinding ini, instalasi seni interaktif sederhana—mungkin pinboard magnetik dengan bentuk-bentuk abstrak yang bisa disusun ulang oleh pasien saat menunggu."
Ibu Dewi mengangguk-angguk antusias.
"Wah, saya bisa bayangkan! Jadi bukan sekadar ganti cat dan kursi baru, ya?"
"Bukan. Ini tentang menciptakan pengalaman. Klinik gigi bukan tempat hukuman, tapi tempat perawatan diri."
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan Amara menyadari bahwa itu juga untuk dirinya sendiri. Bukan tempat hukuman.
Dr. Oka, seorang pria paruh baya yang ramah, keluar dari ruang praktiknya. Setelah diperkenalkan, dia melihat sketsa Amara.
"Ide yang segar," komentarnya. "Saya hanya khawatir soal kebersihan. Harus mudah dibersihkan."
"Tentu, Dokter. Semua material akan dipilih yang anti-bakteri dan mudah dirawat. Karpet akan kita ganti dengan vinyl sheet yang motifnya seperti kayu, lebih hangat secara visual tapi sangat praktis."
Dr. Oka tersenyum, setuju. "Saya serahkan pada Ibu Dewi dan Ibu Amara. Saya lihat Ibu punya visi."
Pujian dari klien pria, seorang profesional, membuat dada Amara membusung. Ini berbeda dengan validasi dari Rafa. Ini murni tentang kompetensi.
Selama dua jam berikutnya, Amara tenggelam dalam detail teknis. Dia lupa sejenak tentang Rafa, tentang Dani, tentang kebohongan. Di sini, dia yang memegang kendali. Dia yang memiliki jawaban. Dia yang bisa mengubah sebuah ruang suram menjadi tempat yang menyembuhkan—setidaknya secara psikologis.
Saat survei berakhir dan mereka berpamitan, Ibu Dewi memegang tangannya. "Terima kasih, Bu Amara. Saya tidak hanya dapat desainer, tapi juga dapat teman. Semoga proyek ini membawa berkah untuk Anda juga."
Kalimat itu menyentuh Amara. Membawa berkah. Apakah proyek ini akan membawa berkah untuk rumah tangganya yang porak-poranda? Dia tidak tahu.
Dalam perjalanan pulang, hujan mulai rintik-rintik. Amara memandangi jalanan yang basah. Pikirannya beralih kembali pada Rafa dan penjelasannya. Itu masuk akal. Tapi bisakah dia mempercayainya?
Dia teringat instalasi es yang mencair di galeri. Rumah yang perlahan mencair. Apakah mereka sedang mencair? Atau justru melelehkan lapisan-lapisan palsu untuk menemukan fondasi yang sebenarnya?
Sampai di rumah, dia menemukan sebuah amplop cokelat di atas meja kerjanya. Alamat klinik Dian tertulis di sudutnya, dengan tulisan tangan Rafa.
"Jadwal dan kontak resminya. Aku sudah izinkan dia untuk berbicara denganmu jika kau mau verifikasi. Aku tidak ingin ada keraguan lagi."
Amara memegang amplop itu. Sebuah langkah transparansi. Sebuah upaya.
Dia meletakkannya, belum siap membukanya. Tapi dia tidak membuangnya.
Malam itu, saat Rafa pulang, mereka makan malam bertiga dengan Luna. Percakapan ringan, tentang hari mereka. Tidak ada kata-kata besar.
Tapi ada usaha. Saat Rafa mengambil piring kotor ke dapur, tangannya tanpa sengaja menyentuh bahu Amara. Dia tidak segera menariknya. Amara juga tidak menjauh.
Itu hanya sebuah sentuhan singkat. Tapi dalam keheningan yang tidak lagi bermusuhan itu, sentuhan itu terasa seperti fondasi baru yang pertama, ditanam di atas puing-puing kebohongan lama. Masih rapuh.
Masih bisa runtuh. Tapi setidaknya, ada sesuatu yang mulai dibangun.
Dan Amara, dengan hati yang masih penuh pertanyaan, memutuskan untuk mencoba—hanya mencoba—untuk mempercayai proses itu.
Bukan karena dia yakin pada Rafa, tapi karena dia mulai yakin pada nalurinya sendiri yang berkata: pertarungan ini belum berakhir. Dan dia ingin melihat bagaimana ceritanya nanti, dengan matanya sendiri, dengan kekuatannya sendiri.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.