"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rahasia tersembunyi
Otakku rasanya mau pecah serasa ada yang salah.
Tidak masuk akal wanita sepolos dan selembut dia memesan kamar di hotel kayak gini.
Orang-orang di Shinjuku sudah tahu betul bahwa tempat ini adalah Love Hotel, tempat yang hanya didatangi pasangan untuk mencari kesenangan sesaat.
Rasa bingungku jadi makin gak karuan. Kecurigaan merayap di dadaku. Wanita ini bukan dia. Miyuki yang berdiri di depanku tadi terasa seperti bayangan palsu.
"Aku harus mengikuti wanita itu," ucapku tegas sambil melepas paksa fokusku dari layar komputer.
"Hei... Kau gila ya! Kalau ketahuan, kau bisa dipecat malam ini juga!" Mona mencoba menarik lengan seragamku, wajahnya pucat karena panik.
"Mana mungkin aku tinggal diam, Mona," jawabku sambil menunjukkan gelang pita jingga di pergelangan tanganku.
Kilatan warnanya tampak tajam di bawah lampu lobi.
"Aku harus memastikan apakah dia benar-benar tahu tentang pita ini, atau dia hanya sedang mempermainkan mimpiku."
Mona menarik napas panjang, lalu melepaskan cengkeramannya.
"Ya sudah, terserah kamu. Tapi kalau manager datang, aku tidak ikut campur!"
Aku tidak peduli lagi. Aku melangkah cepat menuju lift, jantungku berdentum keras seirama dengan angka lantai yang bergerak naik. Lantai tujuh. Kamar 704.
Sesampainya di depan pintu kayu itu, aku menarik napas dalam-dalam. Aku mengetuk pintu dengan ritme yang terjaga, berusaha menyembunyikan getaran di tanganku.
Saat pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Miyuki yang tampak terkejut, aku langsung beraksi.
"Maaf mengganggu, Nona. Ada laporan kebocoran wastafel di jalur kamar ini. Saya harus memeriksanya sebentar,"
ucapku dengan suara datar, mencoba bersikap seolah-olah ini adalah prosedur hotel biasa.
Belum sempat dia menjawab, aku sudah melangkah masuk. Begitu kakiku menginjak karpet kamar, aku berbalik dan mengunci pintu dengan bunyi klik yang tajam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Miyuki, suaranya bergetar penuh kekhawatiran.
Ia mundur beberapa langkah, menatapku dengan tatapan waspada.
Aku tidak membuang waktu. Aku melangkah mendekat, memojokkannya dengan aura yang gelap.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau datang ke sini?"
"Hah? Aku... aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" jawabnya, punggungnya kini menempel pada dinding.
Keheningan malam di kamar itu mendadak terasa mencekam. Karena rasa frustrasi yang memuncak, aku sedikit mendorongnya ke arah tempat tidur hingga ia terduduk di sana.
Bukan karena ingin menyakitinya, tapi karena aku ingin ia menatapku. Aku ingin ia melihat kebenaran.
"Kau tahu pita ini?"
Aku menyodorkan tangan kananku tepat di depan matanya, memperlihatkan gelang jingga itu di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
"Kenapa kau memakai pita yang sama? Apa yang kau incar dari mimpiku?"
Miyuki menatap pita itu, lalu menatap mataku. Untuk sesaat, aku melihat kilatan ketakutan yang murni di matanya, namun ada sesuatu yang lain di sana. Sebuah rahasia yang terkunci rapat.
Miyuki menatap pita jingga di pergelangan tanganku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia terdiam cukup lama. Napasnya terdengar berat dan tidak teratur.
Kamar 704 yang tadinya terasa dingin, kini seolah dipenuhi oleh tekanan emosi yang menyesakkan.
"Aku... aku tidak punya pilihan," isaknya pelan.
Suaranya pecah, tidak lagi terdengar seperti suara wanita tenang yang menyapa di resepsionis tadi.
Aku sedikit melonggarkan posisiku, namun mataku tetap tajam mengawasinya.
"Apa maksudmu tidak punya pilihan? Siapa yang menyuruhmu memakai pita itu dan datang ke hotel ini?"
Miyuki menunduk, membiarkan rambut hitamnya menutupi wajahnya yang mulai basah oleh air mata.
"Pita itu... aku tidak membelinya. Seseorang memberikannya padaku dan menyuruhku untuk mencarimu. Dia bilang, jika aku memakai pita ini dan menemuimu di hotel ini, aku akan selamat."
"Selamat dari apa?!" desakku, selangkah lebih dekat.
Miyuki mengangkat wajahnya, menatapku dengan tatapan yang sangat menyedihkan.
"Dari mereka yang ingin melenyapkan 'wanita asli' di mimpimu itu, Alexian."
Jantungku seperti dihantam Batu besar. Bagaimana mungkin wanita ini bisa tahu namaku? Padahal aku belum sempat menyebutkannya di dalam kamar ini. Dan apa maksudnya dengan melenyapkan wanita yang asli?
"Aku bukan wanita yang kau cari," lanjutnya dengan suara bergetar.
"Namaku memang Miyuki, tapi aku hanyalah seorang wanita biasa yang sedang melarikan diri. Pria yang memberiku pita ini... dia bilang kau adalah satu-satunya orang yang bisa menghubungkan dunia ini dengan dunia di mana wanita itu terperangkap. Aku hanya dijadikan umpan agar kau... agar kau 'terbangun'."
Seketika logikaku di uji lagi seperti saat pertama kali menemukan pita ini, membuatku berpikir apakah Ini nyata atau hanya ilusi pikiranku saja.
Tiba-tiba, gagang pintu kamar 704 berputar dengan kasar dari luar. Seseorang mencoba masuk.
Duk! Duk! Duk!
"Miyuki! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!"
Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu, diikuti oleh gedoran yang semakin keras.
Miyuki langsung bangkit dari tempat tidur dengan wajah pucat pasi.
Ia mencengkeram lengan seragamku dengan sangat erat.
"Tolong aku, Alexian! kalau mereka nangkep aku. Kau gak akan bisa ketemu wanita di mimpimu lagi. Selamanya!"
Aku menatap pintu, lalu kembali menatap Miyuki yang ketakutan. Kecurigaanku tadi berganti menjadi rasa tanggung jawab yang mendesak.
Aku tidak tahu siapa "mereka", tapi aku tahu satu hal: mimpi ini sudah bukan lagi sekadar bunga tidur. Ini adalah kenyataan yang berbahaya.
Gedoran di pintu semakin brutal, seolah kayu jati itu akan hancur dalam sekali hantam lagi. Miyuki gemetar hebat, ia bersembunyi di belakang punggungku sambil mencengkeram erat kemeja seragamku.
"Alexian, jangan buka... kumohon," bisiknya dengan suara yang hampir habis karena tangis.
Aku menelan ludah. Amarah dan rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutku. Aku melepaskan tangan Miyuki dengan lembut, lalu berjalan menuju pintu.
Tanganku meraih gagang pintu yang dingin, jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging.
Ceklek.
Aku membuka kunci dan menarik pintu itu sedikit. Di depanku berdiri seorang pria jangkung dengan jaket kulit hitam dan topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Matanya tajam, memancarkan aura dingin yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Minggir, Nak. Urusanku bukan denganmu," ucap pria itu dengan suara berat yang mengancam.
Ia mencoba mendorong pintu, tapi aku menahan pintu itu dengan tumpuan tubuhku sekuat tenaga.
"Dia tamu di hotel tempatku bekerja. Anda tidak bisa masuk tanpa izin," jawabku, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil meskipun kakiku mulai lemas.
Tiba-tiba Pria itu mendorong keras pintu yang berusaha Aku tahan, yang justru membuatku terlempar.
Pria itu tertawa menyeringai sinis. Matanya melirik ke arah pergelangan tanganku ke arah pita jingga yang melingkar di sana.
Seketika, ekspresinya berubah dari kesal menjadi terkejut, lalu berubah lagi menjadi tatapan penuh kebencian.
"Jadi... kaulah 'Jembatan' itu?" tanya pria itu dengan nada meremehkan.
"Pita kusam itu seharusnya sudah musnah bersama wanita di mimpimu, Bodoh. Kenapa kau masih menyimpannya?"
Mendengar kata-katanya, darahku mendidih. Dia tahu tentang pita itu. Dia tahu tentang mimpiku. Ini bukan sekadar kebetulan.
"Siapa kalian? Dan apa yang kalian lakukan pada wanita di mimpiku?!" teriakku, tidak lagi peduli pada aturan hotel.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru merogoh sesuatu dari balik jaketnya. Miyuki berteriak dari belakangku,
"Alexian, awas!"
Tanpa pikir panjang, aku mendorong pria itu sekuat tenaga hingga ia terhuyung ke belakang. Aku segera menutup pintu dan menguncinya kembali, namun aku tahu itu tidak akan bertahan lama.
"Miyuki, lewat sini!" aku menarik tangan Miyuki menuju jendela kamar yang menghadap ke tangga besi darurat.
"Jika mereka tahu, tentang pita ini, berarti tempat ini sudah tidak aman bagiku maupun bagimu."
Kami merangkak keluar jendela tepat saat pintu kamar 704 mulai hancur ditendang dari luar. Di bawah guyuran hujan Shinjuku yang tiba-tiba turun, Kami lari sambil aku menggenggam pergelangan tangan Miyuki, mimpi ini bukan cuma cinta-cintaan, tapi soal nyawa yang terancam.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.