NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. "Nanti juga cinta sendiri"

...SELAMAT MEMBACA!...

Malam semakin larut, bulan tidak terlihat karena ditutup kepulan awan di langit sana. Ayah, Bunda Dara serta Tino sudah pulang. Papa dan Mama Dino pun berpamitan pulang. Kini, hanya ada Dara dan Dino yang berada di bawah atap rumah sederhana itu.

Kesunyian menyelimuti keluarga kecil tersebut. Dara duduk di kasurnya dengan gelisah, memainkan jemari lentik dan mengigit bibir bawahnya. Dia begitu memikirkan kejadian kotak di depan pintu tadi. Sungguh, hal tersebut membuat hati Dara menjadi tidak tenang. Pikiran-pikiran aneh mulai melintas di benaknya.

Dino pergi meninggalkan istrinya agar sendiri di kamar. Lelaki itu berdiri di dapur sambil menghubungi seseorang. Dino tahu, ini pasti berhubungan dengan musuhnya dan Dino tidak mau menyeret sang istri ke dalam masalah yang ada. "Dar, rumah gue abis dapet teror," katanya.

Darwin yang menjabat sebagai wakil ketua Ultimate Phoenix, selalu tahu tentang masalah seorang Dino. Lelaki di seberang sana, segera bangkit dari tidurnya dan melangkah mendekati jendela kamar. "Perlu gue ke rumah lo sekarang?" tawar Darwin.

Bahkan Dino tidak perlu memerintah lelaki itu terlebih dahulu. "Iya. Ajak anggota inti lainnya!" jawab Dino, kemudian menutup telponnya.

Masalah teror seperti ini, sering sekali dialami anggota Ultimate Phoenix. Namun, kali ini terasa berbeda karena mereka yang mengirim, siapapun itu telah menyeret istri ketua Ultimate Phoenix ke dalamnya. Kekhawatiran Dino menjadi meningkat, padahal sebelumnya tidak pernah setakut ini.

Dino menghembuskan napas panjang. Lalu, dia mengisi gelas kosong dengan air dari sebuah dispenser. Cairan dingin untuk menyegarkan pikirannya.

Dino melangkah kembali ke kamar, tetapi langkahnya terhenti karena Dara masih tidak bergerak sedari tadi. Raut wajah gadis itu terlihat sangat kusut seperti pakaian lusuh, tatapannya pun kosong. Dino menjadi semakin takut. Lalu, lelaki itu masuk dan berjalan perlahan mendekati istrinya. "Ra," panggil Dino. Namun, Dara hanya diam.

Lelaki tersebut mengusap kasar wajahnya, kemudian duduk di samping gadis yang hampa itu. "Ra," panggil Dino, sambil menepuk pelan pundak Dara.

Tidak Dino sangka, Dara tersentak kaget. Dara langsung menatap Dino, matanya kosong. "Kenapa?" tanya Dara.

"Lo yang kenapa. Gak usah dipikirin, biar gue selesain ini!" ujar Dino. Dia menggenggam tangan Dara dengan erat, sehingga menghangatkan perasaan resah gadis itu. "Jangan takut!"

Suara Dino begitu lembut hingga Dara menjadi berdebar. Tidak ada gunanya takut, Dino pun sudah mengatakan akan menyelesaikan masalah ini. Dara mengangguk pelan. "Iya, No," ucap Dara.

"Temen-temen gue mau ke sini."

Dara mengangkat kedua alisnya. "Sekarang?" Memang tidak wajar baginya jika bertamu di pukul 10 malam. Namun, Dino menganggukkan kepala. "Mau dibuatin minum? Atau apa?" tawar Dara.

Dino menggelengkan kepala. "Lo di kamar aja! Istirahat!"

Keduanya mulai merasakan kehangatan. Seiring berjalannya waktu dan berkat kesabaran Dino, perasaan Dara mulai berubah untuk suaminya itu. Mungkin, ada cinta di hati Dara yang tubuh, tetapi masih sedikit.

Dunia itu adil, bila kamu mencintai, maka kelak kamu akan dicintai. Meskipun yang memberikan cintanya untukmu bukan orang impianmu.

Senyum tipis terukir di wajah Dara, matanya yang sendu dan pikirannya mulai membuatnya ingat akan kejadian di masa lalu. "Aku jadi ingat sama Kak Agun," katanya.

"Kenapa? Ada hubungannya sama masalah ini?" tanya Dino.

Dara menggeleng. "Kak Agun dihajar sama orang yang nggak aku kenal, sampai sekarat."

"Waktu dirawat di rumah sakit, Kak Agun nggak bisa selamat karena kehilangan banyak darah." Dia menunduk, menatap tangannya yang masih digenggam sang suami. "Ada orang yang datang nolongin Kak Agun waktu Kak Agun diserang."

"Terus, pelakunya dapet hukuman?" tanya Dino.

Dara mengangguk. "Mereka dari anggota geng yang dikenal brandal di kota."

"Harusnya, sih, tiga bulan lalu udah lepas tahanan," jelas Dara.

"Dari geng apa kalau boleh tahu?" tanya Dino, sebab dia ingat pernah ramai masalah kekerasan dan ceritanya mirip seperti yang Dara katakan.

"Nggak tahu, lupa. Aku kacau banget waktu itu, No," ungkap Dara. Benar sekali, Dara memerlukan waktu setengah tahun untuk memulihkan kondisi jiwanya. "Sampai-sampai mau dibawa ke rumah sakit jiwa sama Bunda."

Dino merasakan kesedihan di raut wajah gadis itu. Tangannya bergerak mengelus surai rambut Dara dengan lembut. "Mulai sekarang, gue akan jagain lo. Bahkan, gue rela nyawa gue buat lo."

Malam yang dingin, harum aroma bunga lavender dari lilin menyeruak di kamar Dara hingga membuatnya menjadi lebih tenang. Gadis itu melenggang ke kasur setelah menyalakan aroma terapi. Ruangan gelap itu menenangkan Dara. Dia naik ke kasur dan mencoba memejamkan mata. Namun, bayangan buruk selalu datang ketika ia menutup mata.

Sulit tidur, Dara memutuskan untuk membaca komik milik Dino yang tergeletak di atas nakas. Dia kembali menyalakan lampu kamar.

Di ruang tengah sana, Darwin, Derwan, Angga, dan Hamid datang sebagai tamu di kediaman Dino. Mereka terlibat dalam pembicaraan malam yang serius. Wajah Dino pun seperti biasanya ketika di depan para anggota UP, datar dengan tatapan tajam.

"Anggota inti lainnya gak gue ajak, soalnya besok mereka sekolah," ujar Darwin.

Dino menganggukkan kepala. "Mau minum sesuatu?" tawar Dino.

"Gak usah. Kita langsung ke pembahasan, aja," sahut Derwan.

"Iya, udah malem soalnya," sambung Hamid. Lelaki itu melepaskan peci yang sejak tadi ia kenakan, kemudian menatap sang ketua dengan serius. "Jadi, ceritanya gimana?"

Dino menggerakkan tangannya, menyatukan dua telapak tersebut, kemudian menyorot lelaki di depannya itu dengan tajam. "Ada kotak isinya tikus mati yang kayaknya dibunuh, darahnya masih banyak, tepat di depan pintu. Kebetulan, istri gue yang bukain pintu."

"Tadi, gue lagi kumpul sama keluarga gue. Ada suara ketukan pintu, gue kira tamu."

"Dara sampai ketakutan dan nangis kejer," jelas Dino.

Empat lelaki itu mengangguk paham. Lalu, mereka saling menatap. "Menurut lo, pelakunya siapa?" ujar Angga.

"Gue gak mau nuduh. Tapi, kita lagi ada masalah sama Wind Blaze," jawab Dino.

"Sama. Gue juga mikir gitu," celetuk Darwin.

"Gue mau kalian selidiki ini!" Dino menghela napas berat, memijat pelipisnya pelan. "Gue gak mau Dara terlibat," lanjutnya.

Darwin, Derwan, Hamid, dan Angga saling menatap secara bergantian. Lalu, mereka mengangguk bersamaan menyanggupi perintah dari sang ketua Ultimate Phoenix.

Setelah rapat singkat yang penting itu selesai. Dino kembali ke kamarnya karena para temannya pun sudah pamit pulang. Lelaki tersebut mematung di ambang pintu ketika melihat Dara masih membuka mata di sana. "Ra, kenapa belum tidur?" ujar Dino, sambil menutup pintu dan berjalan mendekat.

Dara hanya menoleh sejenak, kemudian kembali menatap ke arah bukunya. "Nggak bisa tidur," jawabnya.

Dino naik ke kasur, merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Aroma harum menusuk hidungnya, membuat pikirannya melayang entah ke mana. "Tumben pakai ginian," celetuk Dino.

"Buat nenangin." Dara menutup buku komik itu, kemudian meletakkannya ke atas nakas. Gadis itu menarik selimut sambil membenarkan posisi tidurnya.

Dara menatap langit-langit kamar, sama seperti yang Dino lakukan saat ini. Lelaki itu melirik sekilas ke arah Dara, wajahnya tidak tenang. "Kenapa, Ra?" tanya Dino.

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis itu. Dia hanya diam, berkedip-kedip. "Aku mau dipeluk, boleh?" kata Dara.

Dino bergeming, membeku dengan menatap tajam istrinya. "Sini!" balas Dino.

Gadis itu seperti kesenangan. Dia segera menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, kemudian kehangatan dirasakan Dara.

Dino sesekali mengelus surai halus istrinya.

..."Benar, kan? Nanti juga cinta sendiri."...

...-Dino Pamungkas...

...🐰🤟...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!