PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️
Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.
Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.
Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.
Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.
Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?
Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?
Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?
Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!
Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Hukuman
Jihan tersentak. Ancaman terhadap Jinan dan dirinya sendiri, ditambah penghinaan yang tak terbayangkan itu, meruntuhkan sisa pertahanannya. Air matanya mengalir deras tanpa suara. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, kekuatan untuk melawan telah hilang sepenuhnya dari tubuhnya yang gemetar.
"Bagus. Kau mulai mengerti posisimu," ujar Rahez yang merasa telah menang. Ia merapikan pakaiannya yang sempat sedikit kusut karena ledakan amarah tadi.
Rahez kemudian berbalik, menatap Zaffer yang menyaksikan segalanya dengan wajah datar, sementara Adreena menyeringai puas di belakangnya.
“Zaffer!” seru Rahez.
“Ya, Tuan Rahez,” jawab Zaffer sembari maju selangkah dengan ekspresi yang tanpa emosi.
Rahez menunjuk ke arah Jihan yang kini terdiam dan patah hati. “Wanita ini harus diajari untuk patuh sebelum dia berdiri di samping William Marculles. Aku tidak mau dia mempermalukan kita. Beri dia hukuman. Jihan harus belajar tunduk. Dan ingat... jangan sentuh wajahnya.”
Zaffer menunduk dalam-dalam. “Baik, Tuan.”
Mendengar perintah itu, Jihan mengangkat kepalanya dengan ketakutan baru. Ia mencoba lari, namun cengkeraman Rahez pada lengannya masih terlalu kuat. “Tidak, Kak! Jangan lakukan ini! Aku bilang aku akan menikah! Dan aku akan tunduk!” teriak Jihan putus asa.
Rahez melepaskan Jihan dengan dorongan keras ke arah Zaffer. “Ini bukan permintaan, Jihan. Ini adalah hukuman atas pembangkanganmu sebelumnya agar kau tidak mengulanginya. Kerjakan, Zaffer.”
Rahez berbalik dan meninggalkan ruangan dengan ekspresi yang masih murka, Adreena dengan senyum dingin tersungging di wajahnya, melangkah pergi mengikuti Rahez, meninggalkan kamar yang kini dipenuhi keheningan mencekam.
Jihan terisak. Tubuhnya lemah dan pipinya memerah. Ini adalah pertama kalinya kakaknya melakukan kekerasan fisik padanya biasanya mereka hanya berdebat hebat.
Batin Jihan.
Kak Rahez… aku akan membalas semuanya. Aku tidak akan selamanya menjadi pionmu.
Zaffer menatapnya dingin. Ia menjentikkan jarinya, memanggil dua orang pengawal yang masuk membawa sebuah cambuk kulit kecil. Jihan menegang, jantungnya berdetak kencang hingga terasa menyakitkan.
“Tidak… jangan sentuh aku!” jerit Jihan. mencoba menghindar, namun para pengawal itu segera menahan tangannya dengan kasar.
Zaffer menghela napas panjang, lalu memberi isyarat. Suara desingan udara yang membelah keheningan diikuti rasa panas yang menyengat di bahu Jihan. Rasa perih luar biasa langsung membakar kulitnya.
“AAAHHH! HENTIKAN!!” Jeritan Jihan menggema memilukan di dalam kamar itu.
Pukulan demi pukulan menyusul. Tidak terlalu keras hingga melumpuhkan, tapi cukup untuk membuat kulit halusnya memerah dan perih luar biasa.
Zaffer melaksanakan perintah itu tanpa emosi sedikit pun, memberi tanda untuk melanjutkan hingga beberapa kali. Setelah beberapa saat kemudian.
Zaffer akhirnya mengangkat tangan.
“ Cukup. Tuan Rahez tidak menginginkan kematianmu, hanya ketaatanmu.”
Pengawal melepaskan Jihan yang kini terkulai lemas. Napasnya terengah, tubuhnya penuh memar dan garis merah yang menyakitkan. Air matanya bercampur dengan keringat di pipi.
“Panggil Dokter segera,” perintah Zaffer kepada pengawal yang berdiri di balik pintu yang rusak. "Beritahu dia, ini adalah insiden latihan pribadi Nona Jihan yang tidak sengaja menyebabkan memar. Jangan ada pertanyaan. Hanya pengobatan cepat dan diam-diam."
Zaffer kemudian menoleh ke arah Jihan yang masih terisak. “Ingatlah Nona, jika kau melawan lagi, hukumannya tidak akan seringan ini. Perlawanan Anda hanya akan memperburuk penderitaan Tuan Jinan."
Jihan hanya mampu menatapnya dengan mata penuh kebencian meski tubuhnya lunglai. Bibirnya bergetar, berbisik hampir tak terdengar, “Kak Rahez... aku sangat membencimu.”
Zaffer terdiam sejenak sebelum ia mundur dari ruangan.
Tak lama, Dokter Zena datang bersama perawat muda. Mereka tampak gugup saat mendekat dan berlutut di samping Jihan.
“Nona, izinkan aku melihat lukanya,” ujar Dokter Zena lembut.
Dengan tangan gemetar, Jihan menyingkap lengannya. Kulit halusnya kini memerah, lecet, dan mulai membiru di beberapa bagian.
Dokter menghela napas prihatin. “Ini akan terasa perih, Nona, tapi aku harus membersihkannya.”
Dokter Zena memberikan salep khusus dan pereda nyeri dengan tatapan penuh belas kasihan.
Namun, Zaffer yang masih memperhatikan dari sudut ruangan, "Pastikan tidak ada bekas yang terlihat, Dokter. Kami tidak ingin luka itu terlihat."
"Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan Zaffer. Tetapi penyembuhan butuh waktu. Nona Jihan harus istirahat total. Jika tidak, memar ini akan menjadi permanen," balas Dokter Zena dingin sebelum pergi.
Jihan kini sendirian. Di matanya, api perlawanan telah berubah menjadi es yang dingin dan mematikan.
Dia akan menikah. Dia akan menuruti Rahez. Tapi di hatinya, sebuah sumpah menyala. Rahez… suatu hari, aku yang akan menghakimimu.
—-
Pada malam harinya di kediaman Alvarezh.
Jihan berjalan pelan melewati koridor menuju ruang kerja Rahez. Pipinya masih terasa panas dan luka-luka di bahunya tersembunyi di balik kain pakaiannya. Ia mengetuk pintu kayu berat itu sekali.
"Masuk," suara Rahez terdengar dari dalam.
Jihan melangkah masuk. Rahez masih sibuk menandatangani dokumen tanpa menoleh sedikit pun. “Apa lagi yang kau mau malam-malam begini? Atau kau ingin menawar dirimu lagi agar terhindar dari pernikahan? Atau kau sudah memutuskan gaun mana yang akan kau kenakan?”
Jihan berhenti di jarak yang aman dari meja kakaknya. “Aku tidak datang untuk menawar. Aku datang untuk meminta satu hal saja. Permintaan terakhirku… sebelum pernikahan itu berlangsung.”
Rahez mengangkat wajahnya, menyipitkan mata penuh kecurigaan. “Permintaan terakhir? Kau terdengar seperti orang yang akan mati besok. Katakan, apa yang begitu penting? Jika itu berhubungan dengan kebebasan, jangan buang waktuku.”
“Aku ingin menghadiri kelulusan pendidikanku S-2 di universitas ,” ujar Jihan dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh keyakinan.
“Aku sudah berjuang bertahun-tahun, dan itu satu-satunya hal yang tersisa dari hidupku… Aku ingin menyelesaikannya dengan baik sebelum aku terikat.”
Bagi nya tempat itu bukan sekadar tempat belajar. Di sana tersimpan jejak-jejak tawanya bersama Jinan dan teman temanya saat mereka bersama dan momen ketika Zeiran menunggunya di depan gerbang dengan senyum yang selalu menghapus lelahnya.
Ia butuh satu kali lagi menghirup udara kebebasan di sana untuk terakhir kalinya.
Rahez mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. “Kelulusan? Kau sudah punya gelarmu. Kau pikir aku bodoh? Itu alasan yang sempurna untuk melarikan diri. Jangan pikir aku akan termakan akalmu.”
“Aku janji… aku tidak akan kabur. Aku akan kembali setelah acara itu selesai,” Jihan memohon dengan tulus.
Rahez berdiri dan berjalan memutari meja, berhenti tepat di hadapan Jihan dengan tatapan menusuk. “Kau janji tidak akan kabur? Karena jika kau mencoba bermain-main denganku… harganya lebih besar dari sekadar hidupmu. Ingat Jinan masih di rumah sakit. Jika kau kabur, aku akan memastikan Jinan tidak pernah terbangun dari komanya.”
Rahez merendahkan suaranya, memberikan peringatan akhir. “Ingat ini, semua aset Alvaren sudah menjadi milikku. Kau tidak punya dana, tidak punya dukungan, dan tidak punya tempat tujuan. Semua kerabat dekat sudah kusingkirkan. Tidak ada yang akan menolongmu.”
Batin Jihan. Mungkin kak Rahez tidak tahu, jika sebagian aset kak Alvaren berada ditangan kami. Sekarang aku mengerti , kenapa Kak Alvaren melakukan ini sebelumnya.
Jihan menahan air mata, ia mengangguk perlahan. “Aku mengerti. Aku tidak akan lari. Hanya ini permintaan kecilku.”
Rahez tersenyum licik. Kelulusan Jihan sebenarnya bisa menjadi publikasi yang bagus sebelum pernikahan besar Marculles. “Baiklah, aku mengizinkan. Aku akan mengirimkan lima kali lipat pengawal. Jika kau menghilang selama lima menit saja... Jinan akan langsung dicabut alat bantu hidupnya. Kau mengerti?”
“Aku mengerti.”
“Satu hal lagi,” tambah Rahez dengan nada tegas. “Orang-orang akan bertanya tentang Jinan. Kau akan tutup mulut. Katakan kondisinya stabil dan kau bahagia dengan pernikahan ini. Kau akan menjadi duta yang sempurna untuk Marculles dan Alvarezh.”
Jihan menganggukkan kepalanya, menelan rasa jijik demi keselamatan Jinan. “Baik. Aku akan tutup mulut dan aku akan kembali.”
“Sekarang, pergilah. Dan jangan ganggu aku lagi sampai kau menjadi istri Marculles,” Rahez melambai menghina.
Namun saat Jihan menyentuh gagang pintu, Rahez kembali berseru, “Ingat Jihan, hanya ada dua jalan untukmu. tunduk… atau hancur.”
Jihan menggenggam gagang pintu erat-erat, menahan amarah yang meledak di dadanya. Ia hanya melangkah pergi, kelulusan itu mungkin jadi satu-satunya kesempatan untuk merencanakan sesuatu.
Setelah Jihan Pergi
Rahez mendengus kasar. "Jihan... kau harus merasakan penderitaan karena kesombonganmu dulu."
Ia memejamkan mata, teringat bagaimana ayahnya dulu selalu memanjakan saudara saudaranya terutama Jihan dan Jinan. sementara dirinya dianggap sebagai anak haram yang tidak diperhatikan. Usia mereka beda tujuh tahun, namun perhatian ayahnya selalu tertuju pada wanita manja itu.
Kini, Rahez membuka matanya dengan kilat kemenangan. Tak satu pun saudaranya yang berada di posisi lebih tinggi darinya sekarang.
Dengan aliansi Marculles, ia akan menjadi tak terkalahkan dan membungkam semua orang yang pernah meremehkannya.
—-
Aula Aestrasia Global University
Aula utama Universitas Aestrasia, tempat upacara kelulusan. Ribuan kursi dipenuhi oleh wisudawan, keluarga, dan tamu penting. Suasana formal dan meriah, kontras dengan ketegangan yang dirasakan Jihan.
Bagi orang luar, Jihan tampak seperti mahasiswa lain, Namun dalam dadanya, jantung berdebar keras, otaknya terus berputar mencari cara untuk memanfaatkan kesempatan ini.
Ketika upacara dimulai, Jihan duduk dikursi tengah, matanya mencari-cari wajah yang sudah lama hilang dari pandangannya, Dan di barisan kursi samping, ia menemukan seseorang. Alkhan kini duduk dengan sorot dan gelisah.
“ Jihan?” ucap Alkhan dengan suara lembut yang sudah lama tidak ia dengar menyapa pelan.
Jihan menoleh cepat. Di kursi sebelahnya, dengan toga yang sama, duduk Alkhan mantan kekasihnya, sekaligus sepupu jauhnya dan anak kerabat ayahnya. Wajahnya masih sama, tampan, penuh kharisma, tapi kini ada guratan khawatir yang dalam.
Mata Jihan langsung berkaca-kaca. pura-pura memperhatikan brosur acara, sementara bibirnya bergerak cepat.
“Alkhan… akhirnya aku menemukanmu,” bisik Jihan, suaranya hampir gemetar.
Alkhan menunduk sedikit, mengerti situasi Jihan, seolah memperhatikan podium. “Jihann…ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu..tapi turut berduka cita untuk kematian kak alvaren, Bagaimana dengan jinan? dan aku mencarimu berhari hari setelah , Aku coba menghubungimu, ke rumahmu, tapi semuanya kosong, Kau menghilang begitu saja, Apa yang sebenarnya terjadi, Jihan?” ucap alkhan
Jihan menggigit bibir bawahnya. Air matanya hampir pecah, tapi ia paksa untuk tetap tenang. Ia pura pura memperhatikan brosur yang ditanagnya agar tidak teralu jelas bicara denga siapa.
“Aku… terlalu rumit untuk dijelaskan di sini, Yang jelas… aku berada dalam cengkeraman kak Rahez sekarang, Aku… frustasi.” dengan suara rendah, terputus-putus
Alkhan mengepalkan tangannya di atas meja, menutupinya dengan map kelulusan. “Rahez… aku sudah menduganya. Melihatmu begini… aku tidak akan diam. Katakan apa yang bisa kulakukan untukmu, Jihan.”
Jihan menoleh kanan-kiri, memastikan tidak ada penjaga Rahez yang terlalu dekat, Ia bersuara lirih sekali.
“Aku butuh ponsel, Di mansion kak Alvaren… ada ponselku, Bisakah kau meminta seseorang untuk membawakan ke sini.” Jihan dengan berbicara berbisik.
Alkhan menggeleng pelan dengan nada sedih. “Aku sudah ke sana. Rumah itu kosong, dikosongkan total. Aku khawatir barang-barangmu sudah tidak ada lagi. Tapi… aku bisa lebih cepat. Aku akan suruh seseorang membelikan ponsel baru dan kartu SIM-nya sekarang juga.”
Jihan menatapnya dengan mata penuh harapan. “benarkah… itu bisa, Dan satu lagi… aku butuh kontak Zeiran.”
Mata Alkhan berubah, Ada kilatan cemburu yang tak bisa ia sembunyikan. “Zeiran? Kenapa dia? Bukankah aku yang di sini bersamamu, yang kucari selama ini ?.” Alkhan berbisik, nada tajam.
Jihan menghela napas “Aku butuh kontak kalian berdua, Aku butuh kontakmu juga, Alkhan, Tapi Zeiran… dia terlibat dalam hal besar ini, dia bisa membantuku memberiku kabar penting.” suaranya pelan tapi penuh ketulusan.
Keheningan singkat, Alkhan menutup mata sejenak, lalu mengangguk dengan berat. “Baik, Aku akan memberimu keduanya.” Alkhan lirih
Jihan meraih tangannya sebentar di bawah meja, sekilas, lalu segera melepaskannya lagi. Jihan berbisik cepat “Jangan serahkan langsung. banyak mata yang mengawasiku. … berikan pada seorang wanita, biar dia menaruhnya di kamar mandi wanita, Aku akan mengambilnya di sana. ”
Alkhan menatap Jihan lama, lalu mengangguk pelan. “Akan kuatur secepatnya. Kau akan dapatkannya sebelum acara selesai.”
Air mata Jihan hampir jatuh, tapi ia menahan. “Terima kasih, Alkhan… kau tidak tahu seberapa besar ini berarti bagiku.” Jihan lirih
Alkhan menatap Jihan, matanya sendu, penuh rasa khawatir. “Aku tidak akan biarkan kau sendirian Jihan, Biar aku yang membantu apa pun itu.”
Dari jauh, salah satu penjaga Rahez menatap ke arah mereka dengan tatapan curiga. Namun, suara pembawa acara segera mengalihkan perhatian, memanggil nama mahasiswa untuk menerima ijazah. Jihan berdiri, mewakili kembarannya, Jinan, untuk menerima ijazah di atas panggung. Sorak-sorai pecah, namun di hati Jihan, hanya ada waspada.
Acara kelulusan hampir selesai, Aula masih ramai dengan mahasiswa dan keluarga yang berfoto Bersama,
Jihan berbisik pada salah satu pengawalnya. “Aku ingin ke kamar mandi sebentar.” Ucap Jihan
Pengawal hanya mengangguk singkat, mengizinkan, namun mengikuti dari jarak dekat, Begitu Jihan masuk ke dalam kamar mandi wanita yang cukup luas, pengawal menunggu di luar.
Kamar Mandi Wanita
Seorang wanita berpenampilan formal masuk. Ia masum ke bilik samping bilik Jihan dan menyelipkan sebuah kotak kecil berbungkus tisu ke celah bawah pintu. “Dari Tuan Alkhan. Gunakan hati-hati,” bisik wanita itu sebelum segera pergi.
Jihan buru-buru mengambilnya. Sebuah ponsel mungil yang sangat tipis. Air matanya jatuh ke punggung tangan. "Terima kasih..."
Tiba-tiba, seorang pengawal Rahez menerobos masuk ke area depan kamar mandi wanita tanpa malu.
Gadis-gadis lain langsung terkejut.
Mahasiswi terkejut “Hey! Ini kamar mandi wanita!”
Tapi pengawal itu hanya menunjukkan lencana kecil, suaranya dingin. “Urusan keamanan, Tetap di tempat.”