Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tumbal
Udara sore Jakarta terasa lengket, bercampur dengan asap knalpot yang mengepung area parkir sebuah kedai kopi kecil di pinggiran Jakarta Selatan. Tempat ini jauh dari jangkauan radar sosialita SCBD, tempat yang aman bagi Alana untuk bertemu Burhan. Di meja kayu yang permukaannya sedikit berminyak, Alana meletakkan sebuah benda kecil berkilau: kunci perak yang ia curi dari ruang kerja ayahnya.
Burhan, pengacara paruh baya dengan kemeja lusuh yang lengan bajunya digulung asal-asalan, menatap kunci itu seolah melihat granat aktif. Ia lalu menggeser pandangannya ke layar ponsel Alana yang menampilkan foto dokumen keuangan.
"Kamu main api, Alana," suara Burhan rendah, serak oleh tembakau. "Bukti renovasi apartemen ini bagus. Ini menunjukkan adanya aliran dana perusahaan untuk kepentingan pribadi—kepentingan gundik ayahmu. Tapi kunci ini? Ini pencurian."
"Itu kunci laci ayahku. Laci yang tidak pernah boleh disentuh siapa pun," Alana berbisik, tangannya gemetar di bawah meja. "Aku tidak sengaja membawanya karena panik saat Siska masuk. Tapi Pak Burhan, kalau kunci ini ada di kantor, artinya brankas atau laci yang dibukanya ada di rumah. Ayah selalu memisahkan kunci dan gemboknya demi keamanan."
Burhan menyesap kopi hitamnya. Matanya yang tajam menelisik wajah Alana yang pucat. "Kamu sadar apa yang kamu pertaruhkan? Kalau Hendra tahu kamu yang mengambilnya, dia bisa mempolisikanmu. Tidak peduli kamu darah dagingnya atau bukan. Orang seperti Hendra Wardhana mencintai asetnya lebih dari anaknya."
Alana menelan ludah. Rasa pait espresso yang ia pesan tak sebanding dengan kepahitan realita yang baru saja diucapkan pengacaranya. "Aku harus mengembalikannya?"
"Jangan," potong Burhan cepat. "Kalau kamu kembalikan sekarang, kamu tertangkap basah. Simpan. Atau lebih baik, gunakan malam ini juga, lalu buang. Cari tahu apa yang dijaga seketat itu. Setelah itu, musnahkan jejakmu."
Burhan mencondongkan tubuh ke depan. "Ingat, Alana. Kita butuh bukti yang tidak terbantahkan. Bukan sekadar bukti selingkuh, tapi bukti bahwa dia berniat menghancurkan masa depanmu secara finansial. Hanya itu yang bisa kita pakai untuk menggugat perwalian atau aset ibumu."
Perjalanan pulang ke penthouse terasa seperti menuju ke tiang gantungan. Taksi online yang ditumpangi Alana merayap pelan di tengah kemacetan Sudirman. Lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala, menciptakan ilusi keindahan di atas kekejaman kota. Di saku blazernya, kunci perak itu terasa berat dan dingin, menekan paha Alana setiap kali mobil mengerem.
Saat lift pribadi berdenting di lantai penthouse, atmosfer mencekam langsung menyergap. Tidak ada alunan musik klasik yang biasa diputar otomatis. Hanya kesunyian tegang.
Alana melangkah masuk. Di ruang tengah, Hendra sedang berdiri berkacak pinggang, wajahnya merah padam. Jas kerjanya sudah dilempar ke sofa, dasinya longgar. Di sofa yang sama, Siska duduk dengan kaki disilangkan, memegang gelas wine, terlihat tenang namun matanya berkilat waspada.
"Pulang juga kamu," suara Hendra menggelegar. Tidak ada sapaan, hanya tuduhan.
"Ada apa, Yah?" Alana berusaha menahan getar dalam suaranya. Ia mencengkeram tas tangannya erat-erat.
"Kunci cadangan laci pribadiku hilang dari meja kantor. Kunci yang kutaruh di bawah tumpukan berkas," Hendra berjalan mendekat, aroma alkohol dan amarah menguar darinya. "Rini bilang hanya kamu yang masuk ke ruangan saya hari ini selain petugas kebersihan."
Jantung Alana serasa berhenti berdetak. Ia melirik Siska. Wanita itu menatapnya dengan senyum tipis, senyum yang sama saat ia memergoki Alana di kantor tadi siang.
"Aku... aku hanya masuk untuk menaruh berkas, Yah. Seperti yang Rini minta," Alana berbohong. Ia memusatkan pandangan pada kancing kemeja ayahnya, tidak berani menatap mata.
"Rini," dengus Hendra kasar. Ia berbalik, mondar-mandir di atas karpet Persia tebal. "Sekretaris bodoh itu pasti teledor. Atau mungkin dia bersekongkol dengan orang lain untuk menjual data perusahaan."
Siska meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang disengaja. "Mas," suaranya lembut, dibuat-buat menenangkan namun berbisa. "Jangan marah-marah dulu. Mungkin jatuh terselip. Atau... yah, Rini memang kelihatannya sedang butuh uang belakangan ini. Ingat tidak waktu dia minta kasbon minggu lalu?"
Alana terbelalak. Siska sedang mengarahkan telunjuk eksekusi. Rini memang pernah bercerita pada Alana bahwa ibunya sakit keras, tapi menuduhnya mencuri adalah fitnah keji.
"Kau benar," gumam Hendra. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. Tanpa ragu, ia menekan panggilan cepat.
"Yah, jangan," sela Alana, panik. "Mungkin kuncinya cuma terselip. Jangan tuduh Mbak Rini dulu."
"Diam kamu!" bentak Hendra. "Kamu tidak tahu bagaimana dunia bisnis bekerja. Sekali lengah, kita habis."
Sambungan telepon tersambung. Suara Hendra berubah dingin dan otoriter. "Halo, HRD? Surat peringatan? Tidak perlu. Proses pemecatan Rini besok pagi. Alasannya? Kelalaian berat dan indikasi pencurian aset perusahaan. Jangan beri pesangon. Blacklist dia dari referensi kerja di mana pun."
Alana mematung. Rasa mual menjalar dari perut hingga ke tenggorokan. Ia baru saja menghancurkan hidup Rini—satu-satunya orang yang membantunya di kantor—hanya karena ia ceroboh membawa kunci itu. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik.
Siska menatap Alana. Tatapan itu bukan lagi tatapan sahabat. Itu adalah tatapan pemangsa yang baru saja melihat mangsanya terluka. Siska tahu Alana yang mengambilnya. Siska tahu, dan dia memilih untuk mengorbankan Rini sebagai peringatan: *'Lihat apa yang bisa kulakukan.'*
"Sudah malam, Alana," kata Siska tiba-tiba, suaranya kembali manis. "Muka kamu pucat. Masuk kamar gih. Biar Mas Hendra aku yang urus. Dia butuh pijatan biar rileks."
Siska bangkit, berjalan mendekati Hendra, dan meletakkan tangan di bahu pria itu. Hendra tidak menepis, malah menyandarkan kepalanya sedikit. Pemandangan itu—intimasi domestik di depan matanya sendiri—membuat Alana ingin muntah.
Alana berlari ke kamarnya, membanting pintu, dan menguncinya. Ia merosot di balik pintu, napasnya memburu. Air mata mengalir, bukan karena sedih, tapi karena marah dan benci. Benci pada ayahnya, benci pada Siska, dan benci pada kelemahannya sendiri.
Ia mengeluarkan kunci perak itu dari saku. Benda kecil ini telah menelan korban. Rini kehilangan pekerjaan. Alana tidak boleh membiarkan pengorbanan itu sia-sia. Ia harus tahu apa yang dijaga kunci ini.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika rumah besar itu akhirnya sunyi. Tidak ada lagi suara televisi atau percakapan dari ruang tengah. Alana keluar kamar tanpa alas kaki, langkahnya mengendap-endap di atas lantai marmer yang dingin.
Ia menuju ruang kerja pribadi Hendra di sayap timur penthouse. Ruangan ini selalu terkunci, tapi Alana tahu ayahnya sering lupa mengunci pintu jika sedang mabuk atau lelah. Dan malam ini, keberuntungan berpihak padanya. Gagang pintu berputar.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus jendela kaca raksasa. Aroma cerutu dan parfum maskulin mendominasi udara. Alana menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkannya ke credenza kayu jati tua di sudut ruangan. Itu satu-satunya perabot yang memiliki lubang kunci cocok dengan kunci perak di tangannya.
Tangannya gemetar hebat saat memasukkan anak kunci. *Klik.*
Suara mekanisme kunci yang terbuka terdengar bagaikan ledakan pistol di keheningan malam. Alana menahan napas, menunggu. Tidak ada suara langkah kaki. Aman.
Ia menarik laci itu perlahan. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau perhiasan. Hanya ada satu map kulit berwarna hitam dan sebuah buku catatan kecil.
Alana membuka map itu. Dokumen asuransi jiwa. Nilai pertanggunggunan: 50 Miliar Rupiah. Mata Alana menyusuri baris demi baris hingga sampai pada kolom 'Penerima Manfaat'.
Nama ibunya, *Sarah Wardhana*, telah dicoret dengan tinta merah. Di sampingnya, terdapat lampiran formulir perubahan data yang baru disahkan dua bulan lalu. Nama baru yang tertera di sana membuat darah Alana membeku.
*Penerima Manfaat Utama (100%): Siska Damayanti.*
Bukan Alana. Bukan yayasan amal. Siska.
Alana menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan. Ayahnya tidak hanya berselingkuh. Ayahnya sedang mempersiapkan masa depan baru di mana Alana tidak ada di dalamnya. Uang pendidikan yang hilang, tabungan ibu yang dicairkan, dan sekarang asuransi jiwa. Hendra secara sistematis sedang memindahkan kekayaan keluarga ke tangan wanita simpanannya.
Alana meraih buku catatan kecil di bawah map. Ia membukanya acak. Itu bukan buku harian, melainkan buku besar manual—catatan transaksi 'bawah meja' yang tidak masuk dalam pembukuan resmi perusahaan. Suap pejabat, *kickback* proyek, dan aliran dana ke rekening-rekening tak bernama.
Ini dia. Ini senjata nuklirnya.
Alana dengan cepat memotret halaman polis asuransi dan beberapa halaman buku besar tersebut. Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia harus mengambil beberapa kali foto agar fokusnya jelas.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar utama di ujung lorong terbuka. Langkah kaki berat terdengar mendekat. Hendra bangun.
Jantung Alana berpacu gila-gilaan. Ia meletakkan kembali map dan buku itu, mendorong laci hingga tertutup, dan memutar kunci. *Klik.* Cepat, ia memasukkan kunci ke saku piyama.
Tidak ada waktu untuk keluar dari ruang kerja tanpa terlihat. Alana mematikan senter ponsel dan bersembunyi di balik tirai tebal jendela, tepat saat pintu ruang kerja didorong terbuka.
Lampu ruangan dinyalakan. Hendra masuk, mengenakan *bathrobe*. Ia berjalan lurus ke arah credenza. Alana menahan napas, memejamkan mata, berdoa pada Tuhan yang selama ini rasanya telah meninggalkannya.
Hendra tidak membuka laci. Ia hanya mengambil kotak cerutu di atas meja, lalu mematikan lampu dan keluar lagi.
Alana merosot ke lantai, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia selamat malam ini. Tapi saat melihat kembali foto dokumen asuransi di ponselnya, ia sadar perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Alana bukan lagi seorang putri yang sedang merajuk pada ayahnya. Dia adalah korban yang sedang berjuang untuk tidak dimusnahkan.
Di balik tirai yang gelap, Alana menghapus air matanya yang terakhir. Tidak ada lagi tangisan untuk besok. Mulai sekarang, setiap air mata akan diganti dengan perhitungan.