NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Selimut

Cahaya pucat mentari pagi merayap masuk melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, membelah keheningan kamar utama yang luas dengan garis-garis emas. Raisa mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak matanya direkatkan oleh lem. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, dunianya masih berupa kabut buram yang berputar lambat dalam gradasi warna abu-abu.

Sensasi dingin yang basah di dahinya perlahan menariknya kembali ke realitas. Ia merasakan seseorang sedang mengangkat handuk kecil dari keningnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Raisa memiringkan kepala sedikit ke samping. Di sana, di bawah temaram lampu nakas yang belum dimatikan, sosok Arash duduk di tepi ranjang. Kemeja putih pria itu sudah sangat berantakan, kancing teratasnya terbuka, lengan bajunya digulung hingga siku, dan wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang luar biasa yang belum pernah diperlihatkan pada siapa pun.

Raisa mematung, menahan napasnya. Ia melihat Arash memeras handuk kecil ke dalam baskom porselen berisi air hangat di atas nakas. Gerakan tangan pria itu sangat hati-hati, seolah takut bunyi kecipak air akan mengusik tidur Raisa. Arash kemudian melipat handuk itu dengan presisi yang ganjil, lalu dengan gerakan yang sangat lembut—hampir seperti belaian yang tak berani ia akui—ia meletakkannya kembali ke dahi Raisa. Jemari Arash sempat terhenti sejenak di pelipis Raisa, ibu jarinya mengusap kulit wanita itu dengan sentuhan yang begitu protektif, seolah sedang menjaganya dari mimpi buruk.

"Arash ..." bisik Raisa, suaranya hampir tidak terdengar, hanya berupa embusan napas parau yang pecah.

Tangan Arash tersentak seolah baru saja tersengat listrik. Ia segera menarik tangannya kembali, wajahnya yang tadi tampak lunak dan penuh perhatian dalam sekejap berubah menjadi kaku, kembali pada topeng es yang biasa ia kenakan di ruang rapat kantor. Ia berdehem kaku, memperbaiki posisi duduknya hingga menciptakan jarak di atas ranjang yang mereka bagi.

"Kau sudah bangun?" suaranya kembali dingin dan datar, meski ada getaran kecil yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. "Jangan geer. Aku hanya tidak ingin kau mati di atas kasurku dan meninggalkan tumpukan pekerjaan yang belum selesai. Bau obatmu sudah merusak aroma kamarku yang tenang."

Raisa mencoba untuk duduk, namun rasa pusing langsung menghantam kepalanya bagaikan godam. "Kenapa ... aku ada di sisi tempat tidurmu? Aku ingat semalam ...."

"Kau pingsan seperti drama ratu di depan pintu semalam," potong Arash cepat, sebuah alasan yang sengaja dibuat untuk menutupi rasa paniknya sendiri. "Aku tidak punya energi untuk membopongmu ke sisi lain apartemen, jadi aku letakkan saja kau di sini agar lebih mudah diawasi. Merepotkan sekali."

Arash berdiri, melangkah menuju meja kecil di sudut ruangan di mana sebuah mangkuk porselen putih diletakkan di atas pemanas elektrik kecil. Ia membawanya mendekat. Bau uap hangat dari mangkuk itu masuk ke indra penciuman Raisa—bau jahe yang sangat kuat dicampur aroma kaldu yang agak janggal.

"Makan," perintah Arash singkat sembari duduk kembali di tepi ranjang, memberikan sedikit guncangan pada kasur empuk itu.

Raisa menatap isi mangkuk itu. Bubur putih dengan potongan jahe yang ukurannya tidak beraturan—ada yang sangat besar dan ada yang hancur—tampak sedikit pucat dan sangat eksperimental. "Kau ... kau yang membuatnya?"

"Siapa lagi? Kau pikir koki hotel mau datang ke apartemen ini jam tiga pagi hanya untuk membuatkanmu bubur hambar?" Arash mendengus, kembali menyendokkan bubur itu, meniupnya sebentar dengan ekspresi wajah yang tampak sangat terganggu, seolah ia sedang melakukan tugas paling memalukan dalam hidupnya. "Buka mulutmu. Aku tidak punya waktu untuk menerima penolakan darimu."

Raisa ragu, namun tatapan tajam Arash tidak memberinya pilihan. Begitu sendok itu masuk ke mulutnya, Raisa sempat tertegun. Rasanya benar-benar aneh. Terlalu banyak jahe hingga terasa pedas di lidah, kurang garam, dan teksturnya sedikit terlalu cair seperti sup. Namun, ada rasa hangat yang menjalar dari tenggorokan hingga ke dadanya—rasa hangat yang bukan berasal dari suhu bubur itu sendiri, melainkan dari fakta bahwa Arash, sang CEO bertangan besi, rela menyentuh dapur demi dirinya.

"Bagaimana?" tanya Arash, matanya menatap intens, menunggu reaksi meski ia berusaha terlihat tidak peduli.

"Rasanya ... unik," jawab Raisa pelan, mencoba menyembunyikan senyum tipisnya yang lemah. "Sangat banyak jahe, tapi ... ini membuat tenggorokanku nyaman."

"Tentu saja. Jahe bagus untuk menurunkan demammu yang gila itu," Arash kembali menyendokkan bubur dengan gerakan yang lebih cepat, seolah ingin segera menyelesaikan sesi intim yang membuatnya merasa 'telanjang' secara emosional ini. "Jangan banyak protes. Orang sakit tidak punya hak suara soal rasa."

Mereka menghabiskan beberapa menit dalam keheningan yang canggung namun tidak lagi menusuk. Raisa memperhatikan bagaimana Arash, pria yang biasanya memegang pulpen seharga ribuan dolar untuk menandatangani pemecatan karyawan, kini dengan telaten memegang sendok porselen untuk menyuapinya. Mata Arash yang biasanya penuh kilat amarah, kini tampak merah dan kuyu karena kurang tidur. Arash benar-benar terjaga sepanjang malam di sampingnya, di ranjang yang sama.

"Kenapa kau melakukan ini semua, Arash?" tanya Raisa tiba-tiba saat mangkuk itu sudah hampir kosong.

Gerakan tangan Arash terhenti di udara. "Melakukan apa?"

"Merawatku. Menyuapiku. Mengganti kompresku setiap jam. Kau bisa saja memanggil perawat profesional untuk datang ke sini. Kenapa kau sendiri yang harus repot?"

Arash terdiam cukup lama, matanya menatap dasar mangkuk. Ia mengambil kapsul obat dari nakas dan segelas air putih, memberikannya kepada Raisa dengan sedikit sentakan seolah ingin memutus arus emosi yang mulai mengalir deras. "Minum obatnya. Berhenti bertanya yang tidak-tidak. Otakmu pasti masih mendidih karena demam. Aku melakukannya karena aku tidak ingin Kakek datang dan menemukanku sedang menelantarkan aset berharganya. Itu saja."

Raisa menerima obat itu, namun jemarinya sengaja menyentuh tangan Arash saat mengambil gelas. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sengatan kecil yang membuat Arash menarik napas pendek.

"Kau takut ya?" Raisa berbisik, matanya yang sayu menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arash.

"Takut apa?" Arash berdiri, mencoba mengembalikan otoritasnya yang mulai runtuh.

"Takut kehilanganku. Takut jika terjadi sesuatu padaku, tidak ada lagi orang yang bisa kau ganggu di kantor. Atau ... kau takut mengakui bahwa kau mulai terbiasa dengan kehadiranku di sini?"

Arash tertawa sinis, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak liar memukul dadanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Raisa, meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Raisa hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

"Jangan terlalu percaya diri, Raisa," desis Arash dengan suara bariton yang dalam dan mengancam. "Kau hanyalah bagian dari kontrak yang sangat mahal. Aku merawatmu karena aku tidak ingin investasiku rusak sebelum waktunya. Jika kau mati, siapa yang akan melunasi utang ayahmu? Aku hanya sedang menjaga hak milikku."

Raisa tidak berkedip. Ia bisa melihat guratan kecemasan yang masih membekas di sudut mata Arash meski pria itu berkata kasar. Raisa meminum obatnya dalam diam, lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas bantal empuk yang masih membawa aroma parfum Arash.

"Terima kasih, Arash. Apa pun alasanmu, aku merasa jauh lebih baik dan aman bersamamu," bisik Raisa sebelum rasa kantuk akibat pengaruh obat mulai menariknya kembali ke alam bawah sadar.

Arash tetap berdiri di sana, menatap Raisa yang kembali terlelap. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, ia benci betapa mudahnya wanita ini meruntuhkan kendali dirinya hanya dengan satu tatapan sayu. Ia baru saja akan meninggalkan kamar untuk membersihkan diri saat matanya menangkap sesuatu di atas nakas sebelah Raisa.

Ponsel Arash bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang menyala terang di keremangan kamar. Arash melirik sekilas, dan seketika itu juga rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menegang hebat.

Pesan itu bukan dari Vino. Itu adalah sebuah pesan tanpa nama, hanya sebuah nomor yang tidak dikenal, berisi sebuah kalimat singkat yang membuat darah Arash berdesir dingin:

"Aku tahu dia sakit, Arash. Dan aku tahu dia ada di ranjangmu sekarang. Nikmati waktu terakhirmu bersamanya sebelum kontrak itu meledak di wajahmu pagi ini."

Arash merampas ponsel itu, matanya berkilat penuh amarah dan kewaspadaan yang mematikan. Ia melirik ke arah jendela yang masih tertutup gorden, menyadari bahwa meski di dalam kamar ini suasananya menghangat, di luar sana ada mata-mata yang sedang mengintai mereka. Siapa pun yang mengirim pesan itu, mereka baru saja membangunkan monster di dalam diri Arash.

Ia menoleh kembali ke arah Raisa yang sedang tidur damai, tidak menyadari bahwa di tangan Arash, keselamatan mereka kini bergantung pada satu keputusan yang harus ia ambil sebelum matahari benar-benar naik.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!