Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 3_Suami Miskin
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jika di kantor bisa membuat para manajer gemetar, namun di sini terlihat seperti senyum pria polos.
"Jangan khawatir, Arumi. Aku sudah biasa dihina. Yang penting bagiku adalah janjimu. Kau akan memberiku tempat berteduh, dan aku akan menjadi alasanmu untuk menolak Pak Broto." sahut Adrian.
Mereka sampai di depan sebuah rumah kecil yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.
Dari dalam, terdengar suara tawa keras dan aroma masakan yang enak, Adrian tahu itu pasti bukan untuk Arumi.
Saat mereka melangkah masuk, suara tawa itu berhenti seketika. Bu Ratna, Siska, dan Pak Broto yang masih ada di sana menatap ke arah pintu dengan mulut ternganga.
"Arumi! Dari mana saja kau jam segini baru pulang?!" teriak Bu Ratna.
Matanya kemudian beralih ke pria di samping Arumi, ia memindai Adrian dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Dan... siapa gembel yang kau bawa masuk ke rumahku ini?" tanya bu Ratna.
Siska menutup hidungnya dengan gaya berlebihan. "Duh, Kak Arumi! Kamu kalau mau bawa cowok ya yang bermodal sedikit kenapa? Ini bajunya bau matahari begini, wajahnya sih lumayan, tapi kalau makan saja susah buat apa?"
Pak Broto bangkit dari kursinya, perut buncitnya bergoyang.
Ia menatap Adrian dengan pandangan meremehkan. "Oho, jadi ini alasanmu menolakku, Arumi? Kau lebih memilih pemuda kurus yang sepertinya tidak punya uang untuk beli sabun ini daripada aku yang bisa membelikanmu emas lima puluh gram?"
Adrian hanya berdiri diam, ia mengamati ruangan itu matanya yang tajam mencatat setiap detail yaitu foto Siska yang besar di dinding, sementara tak ada satu pun foto Arumi.
Perlakuan mereka terhadap Arumi membuat darahnya mendidih, namun ia menahan diri, ia ingin melihat sejauh mana Arumi akan bertahan.
Arumi menarik napas panjang, ia menggenggam lengan baju Adrian seolah mencari kekuatan.
"Ibu, Pak Broto... perkenalkan, ini Ian. Dia calon suamiku. Kami akan segera menikah." ujar Arumi.
Keheningan sesaat menyusul pernyataan itu, sebelum akhirnya ledakan tawa dari Bu Ratna dan Siska memenuhi ruangan.
"Menikah katanya? Pakai apa? Daun?!" Bu Ratna mendekati Adrian, menatapnya dengan benci.
"Dengar ya anak Muda, kalau kau ingin menikahi anakku, kau harus bayar hutang kami lima puluh juta dan beri mahar seratus juta. Punya uang segitu?" ucap bu Ratna.
Adrian menatap Bu Ratna tepat di mata, untuk sesaat Bu Ratna merasa merinding.
Mata pria di depannya ini tidak tampak seperti mata orang miskin yang ketakutan tapi itu adalah mata seorang penguasa.
Namun, Adrian segera mengubah ekspresinya menjadi tampak lesu.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang, Bu," jawab Adrian dengan suara rendah.
"Tapi saya akan bekerja keras. Saya akan menjaga Arumi."
"Kerja apa? Jadi kuli bangunan? Atau tukang parkir?" ejek Siska.
"Kak Arumi, kamu benar-benar sudah gila. Kamu mau hidup di kolong jembatan?"
Arumi tidak mundur. "Kalau pun harus di kolong jembatan, aku lebih baik di sana bersama orang yang menghargaiku daripada di rumah ini tapi diperlakukan seperti budak!"
Plakk!
Satu tamparan mendarat di pipi Arumi, bu Ratna murka. Namun, sebelum Bu Ratna bisa mengayunkan tangan untuk kedua kalinya, pergelangan tangannya ditangkap oleh sebuah tangan yang kuat.
Adrian mencengkeram tangan Bu Ratna. Tidak keras, namun cukup untuk membuat wanita itu tidak bisa bergerak.
"Jangan pernah sentuh dia lagi," ucap Adrian. Suaranya dingin, seolah datang dari kutub utara.
Bu Ratna ketakutan melihat kilatan di mata Adrian. "Lepaskan! Kau berani melawan orang tua?!"
Adrian melepaskan tangan itu dengan kasar, ia merangkul bahu Arumi yang gemetar.
"Kami akan menikah besok di KUA secara sederhana. Setelah itu, saya akan tinggal di sini untuk sementara sampai saya dapat pekerjaan tetap, atau kami akan pindah. Arumi sudah dewasa, dia berhak menentukan hidupnya." ucap Adrian dengan serius.
Pak Broto yang merasa terhina langsung berteriak, "Heh! Hutang ibunya itu tanggung jawab Arumi juga! Kalau kalian menikah, kau harus bayar hutang itu, Ian! Kalau tidak, rumah ini akan ku-sita!"
Adrian menatap Pak Broto dengan senyum misterius. "Lima puluh juta? Itu angka yang kecil untuk sebuah harga diri. Beri saya waktu satu bulan. Saya akan melunasinya."
Siska tertawa sinis. "Satu bulan? Jangankan lima puluh juta, lima ratus ribu saja aku ragu kau punya!"
Malam itu berakhir dengan ketegangan luar biasa, Arumi membawa Adrian ke sebuah gudang kecil di belakang rumah yang biasanya digunakan untuk menyimpan alat cuci yang kini akan menjadi kamar sementara mereka jika mereka menikah.
Di dalam ruangan sempit dan pengap itu, Arumi menatap Adrian dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku Mas Ian karena aku kamu jadi dihina seperti tadi, masih mau melanjutkannya? Masih ada waktu untuk lari."
Adrian duduk di atas dipan kayu yang keras, ia melihat ke sekeliling, lalu menatap Arumi.
Di dunia nyata, ia bisa saja menelepon asistennya dan membeli seluruh kampung ini dalam lima menit, tapi ia memilih tetap di sini.
"Aku tidak akan lari, Arumi," jawab Adrian sungguh-sungguh.
"Besok kita akan menikah dan aku berjanji, suatu saat nanti, mereka semua yang merendahkanmu hari ini akan berlutut di kakimu." tutur Adrian.
Arumi hanya tersenyum sedih, menganggap itu hanyalah kata-kata penghiburan.
Ia tidak tahu bahwa pria yang ia temukan di trotoar itu adalah orang yang mampu mewujudkan kata-katanya menjadi kenyataan pahit bagi musuh-musuhnya.
Babak baru kehidupan sang CEO sebagai "suami miskin" baru saja dimulai.
Dan Adrian Arkadia, untuk pertama kalinya dalam hidup, merasa memiliki sebuah misi yang lebih penting daripada sekadar mencari keuntungan yaitu misi untuk membahagiakan seorang gadis bernama Arumi.
...****************...
Pagi itu, langit Jakarta tidak sebiru biasanya awan mendung menggantung rendah, seolah ikut merasakan keprihatinan atas pernikahan yang akan berlangsung.
Di sebuah Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan yang sederhana, Arumi berdiri dengan gugup.
Ia hanya mengenakan kebaya putih lama milik mendiang neneknya yang sudah ia permak sedemikian rupa agar pas di tubuhnya yang ramping.
Tidak ada riasan mahal, hanya polesan bedak tipis dan lipstik merah muda yang hampir habis, namun kesederhanaan itu justru memancarkan kecantikan yang murni, tipe kecantikan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Di sampingnya, Adrian berdiri dengan kemeja putih yang ia beli di pasar kaget tadi pagi seharga lima puluh ribu rupiah.
Kemeja itu sedikit kebesaran, namun postur tubuh Adrian yang tegap dan atletis membuatnya tetap terlihat seperti model yang sedang berpose untuk tema vintage.
Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang cerdas dan tatapan mata yang tajam.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA
KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡