NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Sumpah Bunker

Debu semen yang pekat menyumbat jalan napas Li Wei saat ia merangkak masuk melewati celah pintu baja yang bengkok. Di belakangnya, dentuman material beton yang runtuh menutup total lubang masuk Bunker X-19, mengunci mereka dalam kegelapan yang pengap. Hanya pendar biru dari bilah Bailong-Jian miliknya yang memberikan sedikit pencahayaan, memantul pada partikel debu yang menari di udara yang berbau ozon tajam. Li Wei merasakan perih yang menghujam di kaki kanannya; tulang keringnya retak saat menahan beban runtuhan menara sinyal tadi.

"Kau masih hidup?" suara Chen Xi terdengar serak di kegelapan sebelah kiri.

Li Wei mencoba mengatur napasnya yang berat. "Jika kau bisa bicara, artinya kau juga belum mati."

"Bahu kiriku lepas," geram Chen Xi. Ia terdengar berusaha bangkit, namun suara gesekan kain dan rintihan tertahan menunjukkan betapa parahnya benturan yang ia terima saat jatuh dari puncak menara. "Tahan pedangmu lebih tinggi. Aku tidak bisa melihat apa pun dalam kegelapan ini."

Li Wei mengangkat pedangnya, menerangi wajah Chen Xi yang pucat dan penuh noda jelaga. Wanita itu memegang bahu kirinya dengan ekspresi menahan sakit yang luar biasa. Di sudut ruangan yang sempit itu, Li Wei melihat sosok lain yang tergeletak di balik meja konsol yang hancur.

"Han!" Li Wei mengabaikan rasa sakit di kakinya dan menyeret tubuhnya mendekat.

Sersan Han terengah-engah, wajahnya bersimbah darah namun matanya masih terbuka sedikit. "Komandan... Anda datang... Sektor 7... apakah sudah selesai?"

"Jangan tidur, Han! Itu perintah!" bentak Li Wei sambil menekan luka di perut Han dengan telapak tangannya yang gemetar. "Kau tidak boleh mati di sini, di lubang tikus ini."

Chen Xi mendekat dengan langkah tertatih, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk yang kini tertutup ribuan ton beton. "Sektor 7 sudah musnah, Han. Dan jika kita tidak segera bergerak, kita akan menyusulnya. Li Wei, periksa terminal cadangan di sana. Aku butuh akses ke sistem ventilasi sebelum kita kehabisan oksigen."

"Bantu dia dulu, Chen Xi," Li Wei menunjuk Han dengan dagunya.

"Aku bukan petugas medis, aku seorang strategis," balas Chen Xi dingin, namun ia tetap berjongkok di samping Han. Ia meraba tengkuk Han, lalu tertegun. Pendar merah dari chip saraf di sana kini berdenyut lebih cepat, hampir seperti detak jantung yang panik. "Li Wei... chip ini. Ini bukan sensor standar militer."

Li Wei menoleh dari terminal. "Apa maksudmu?"

"Ini adalah unit transmisi data dua arah. Seseorang tidak hanya memantau Han; mereka sedang memasukkan kode enkripsi langsung ke sistem sarafnya. Jika denyut ini mencapai frekuensi kritis, otaknya akan hangus," Chen Xi menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan. "Negaramu sedang mengubah sahabatmu menjadi pemancar berjalan."

"Siapa? Zhao Kun?" tanya Li Wei, suaranya kini seberat batu.

"Mungkin lebih tinggi dari itu. Dengarkan!" Chen Xi mendadak membeku.

Dari balik reruntuhan pintu utama, terdengar suara gesekan logam yang tajam. Bukan suara reruntuhan yang bergeser karena gravitasi, melainkan suara bor hidrolik frekuensi tinggi yang sedang menguliti lapisan beton.

"Tim Pembersih," bisik Li Wei. Tangannya secara naluriah menarik Bailong-Jian hingga pendar birunya menyambar dinding. "Mereka datang untuk menyelamatkan kita?"

Chen Xi tertawa getir, sebuah suara yang terdengar menyakitkan di ruang sesempit itu. "Menyelamatkan? Li Wei, mereka membawa bor termal tipe-X. Itu digunakan untuk melenyapkan bukti, bukan untuk evakuasi medis. Jika mereka masuk, hal pertama yang mereka lakukan adalah menembak kepala kita dan mengambil chip saraf Han."

"Aku adalah perwira tinggi Kekaisaran. Mereka tidak akan berani," ucap Li Wei, meski hatinya mulai meragu saat teringat dokumen 'Ekstraksi Paksa' yang ia lihat sebelumnya.

"Kau adalah saksi yang gagal mati di menara sinyal, Li Wei. Di mata mereka, kau adalah 'aset kedaluwarsa'," Chen Xi bangkit berdiri, menahan bahunya yang mati rasa. "Pilih sekarang. Mati sebagai martir yang patuh, atau hidup sebagai hantu yang membalas dendam?"

Li Wei menatap Han yang mulai kejang kecil, lalu menatap zirah putihnya sendiri yang kini penuh noda. "Berapa banyak waktu yang kita punya?"

"Tiga menit sebelum mereka menembus lapisan terakhir beton," Chen Xi menunjuk ke arah pipa pembuangan di sudut ruangan. "Saluran itu menuju ke gorong-gorong limbah kimia. Baunya akan membuatmu berharap kau mati tertimbun beton, tapi itu satu-satunya jalan yang tidak terpantau radar orbital."

Li Wei berdiri dengan susah payah, tulang kakinya yang retak memprotes dengan rasa sakit yang membakar. Ia memapah Han, menyampirkan lengan besar sahabatnya itu ke bahunya. "Kenapa kau membantuku, Chen Xi? Kita adalah musuh."

"Karena musuh dari musuhku adalah alat yang berguna," jawab Chen Xi pragmatis sambil mulai meretas panel pintu ventilasi. "Dan karena aku ingin melihat wajah Zhao Kun saat dia menyadari bahwa 'pedang kesayangannya' telah berbalik arah."

Suara bor di luar berhenti, digantikan oleh ledakan kecil yang meruntuhkan sisa-sisa pintu. Cahaya lampu sorot dari luar mulai menerobos masuk melalui celah-celah kecil, menyapu debu yang beterbangan.

"Mereka masuk!" seru Li Wei.

"Lewat sini! Cepat!" Chen Xi berhasil membuka jeruji besi saluran limbah.

Li Wei mendorong Han masuk lebih dulu ke dalam lubang gelap itu, lalu ia berbalik sejenak. Di kejauhan lorong bunker, ia melihat lima bayangan dengan zirah hitam legam dan helm tanpa visor—Unit Pembersih Elit. Mereka tidak membawa tandu medis, melainkan senapan pulsa dengan peredam panas.

"Perwira Li Wei, serahkan subjek Han dan letakkan senjata Anda," suara dingin dari pengeras suara helm salah satu prajurit bergema. "Ini adalah perintah dari Komando Pusat."

Li Wei menatap mereka, lalu menatap Bailong-Jian di tangannya. "Komando Pusat sudah mati bagiku sejak mereka membiarkan Sektor 7 terbakar."

Ia menghantamkan pedangnya ke pipa uap di samping pintu, memicu ledakan tekanan tinggi yang menyemburkan uap panas ke arah pasukan pembersih. Di tengah kabut putih yang menyilaukan, Li Wei melompat masuk ke dalam saluran limbah, mengikuti Chen Xi dan Han menuju kegelapan yang lebih dalam.

Li Wei merasakan sensasi jatuh yang pendek sebelum punggungnya menghantam dinding pipa logam yang licin. Bau amonia yang busuk segera menyerang indra penciumannya, menggantikan aroma debu semen yang kering. Di sampingnya, Han mengerang pelan, tubuhnya merosot ke dalam pelukan Li Wei. Cahaya lampu sorot dari Unit Pembersih di atas sana kini hanya tampak sebagai garis-garis putih tipis yang menembus jeruji besi saluran, menciptakan pola geometris yang menyeramkan di atas genangan air limbah yang hitam.

"Tahan napasmu, Li Wei," bisik Chen Xi. Ia berada beberapa meter di depan, jemarinya meraba dinding pipa mencari panel kontrol manual. "Sensor di zirahnya akan melacak sisa panas kita jika kita tetap diam di sini."

"Han tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, Chen Xi! Parunya dipenuhi debu," balas Li Wei dengan nada rendah yang mendesak.

Tepat saat itu, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu bunker yang tadi mereka tinggalkan. Unit Pembersih tidak lagi menggunakan bor; mereka menggunakan peledak termal untuk meratakan sisa hambatan.

"Mereka tidak akan berhenti sampai menemukan chip saraf itu," Chen Xi akhirnya menemukan sebuah tuas berkarat dan menariknya sekuat tenaga. Suara derit logam yang memekakkan telinga bergema, diikuti oleh semburan uap dingin yang menutupi jejak panas mereka. "Bergerak! Sekarang!"

Li Wei menyeret Han melewati uap tersebut. Setiap langkah terasa seperti pisau yang mengiris tulang kakinya yang retak. Di tengah kegelapan yang nyaris total, ia hanya bisa mengandalkan pendar biru redup dari pedangnya yang kini ia gunakan sebagai tongkat penyangga.

Mereka sampai di sebuah persimpangan pipa yang lebih luas, tempat di mana aliran limbah bertemu. Di sana, sebuah terminal darurat tua masih berkedip dengan cahaya amber yang sekarat. Chen Xi segera menghampirinya, jemarinya bergerak cepat melampaui rasa sakit di bahunya.

"Apa yang kau lakukan? Kita harus terus lari!" seru Li Wei.

"Aku sedang menghapus jejak digital kita dari log bunker. Jika aku tidak melakukannya, Zhao Kun akan tahu koordinat tepat kita dalam hitungan menit," Chen Xi berhenti sejenak, matanya melebar menatap layar. "Tunggu... ini tidak mungkin."

"Apa?"

"Li Wei, lihat ini," Chen Xi menunjuk sebuah pola gelombang statis yang muncul di sudut layar. Sebuah simbol mekanik kecil—kepala harimau—berkedip-kedip di antara barisan kode. "Ini sinyal SOS terenkripsi. Protokolnya milik Naga Laut, tapi dikirimkan melalui jalur frekuensi darurat Kekaisaran."

Li Wei mendekat, napasnya memburu. "Xiao Hu?"

"Siapa Xiao Hu?" tanya Chen Xi tanpa mengalihkan pandangan.

"Dia mekanik muda di unitku... atau setidaknya itu yang kupikirkan. Dia selalu bilang kakaknya adalah seorang sersan," Li Wei menatap Han yang kini mulai tenang meski napasnya masih dangkal. "Han selalu mengirimkan gajinya ke sebuah bengkel di pinggiran Megacity."

"Sinyal ini berasal dari zona industri sektor B. Itu sangat jauh dari sini," Chen Xi mematikan terminal dengan satu pukulan keras. "Jika mekanikmu itu benar-benar mengirimkan ini, artinya dia tahu sesuatu tentang apa yang sedang terjadi pada Han. Sesuatu yang membuat faksi Naga Laut dan Kekaisaran ingin melenyapkan kalian semua."

Li Wei terdiam, menatap tangannya yang kotor oleh jelaga dan darah. Martabat yang selama ini ia jaga sebagai perwira klan Li terasa seperti beban kosong. Di hadapannya kini bukan lagi sekadar pelarian, melainkan sebuah konspirasi yang melampaui batas negara.

"Bantu aku mengangkat Han," ucap Li Wei, suaranya kini terdengar berbeda—lebih tajam, lebih dingin. "Kita ikuti jalur limbah ini sampai ke sektor B."

"Kau sadar apa artinya ini, Li Wei? Jika kau melangkah keluar dari sistem ini, kau tidak akan pernah bisa kembali," Chen Xi menatapnya dengan pandangan menguji.

Li Wei mengambil lambang unit Sektor 7 yang menggantung di bahu zirahnya, lalu merobeknya hingga jatuh ke dalam aliran limbah hitam. "Aku sudah mati di bunker itu, Chen Xi. Yang tersisa sekarang hanyalah hantu yang ingin tahu kenapa dunianya dihancurkan."

Chen Xi tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang hampir terlihat seperti rasa hormat. "Bagus. Selamat datang di dunia para hantu, Li Wei."

Mereka berdua memapah Han, melangkah perlahan menjauh dari cahaya bunker menuju labirin pipa yang akan membawa mereka ke jantung kegelapan industri. Di belakang mereka, suara langkah sepatu bot berat Unit Pembersih mulai terdengar menuruni lorong, namun Li Wei tidak lagi menoleh. Sumpahnya di bunker telah selesai; bukan sumpah untuk negara, melainkan sumpah untuk bertahan hidup dan menemukan kebenaran di balik salinan yang salah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!