NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: tamat
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Sumpah Bunker

Debu semen yang pekat menyumbat jalan napas Li Wei saat ia merangkak melewati celah pintu baja yang bengkok. Di belakangnya, dentuman beton yang runtuh menutup total lubang masuk Bunker X-19, mengunci mereka dalam kegelapan pengap. Hanya pendar biru redup dari bilah Bailong-Jian miliknya yang memberikan sedikit pencahayaan, memantul pada partikel debu yang menari di udara yang berbau ozon tajam. Li Wei merasakan perih yang menghujam di kaki kanannya; tulang keringnya retak saat menahan beban runtuhan menara tadi, memicu peringatan merah di antarmuka sarafnya yang mulai tidak stabil.

"Kau masih hidup?" suara Chen Xi terdengar serak di kegelapan sebelah kiri, diselingi bunyi batuk kering yang menyakitkan.

Li Wei mencoba mengatur napasnya yang berat, merasakan paru-parunya seperti disayat serpihan kaca. "Jika kau masih bisa bicara, artinya kau belum cukup beruntung untuk mati."

"Bahu kiriku lepas," geram Chen Xi. Suara gesekan kain dan rintihan tertahan menunjukkan betapa parahnya benturan yang ia terima. "Tahan pedangmu lebih tinggi. Pendar NS-mu meredup, aku tidak bisa melihat apa pun dalam lubang kubur ini."

Li Wei mengangkat pedangnya, menerangi wajah Chen Xi yang pucat dan penuh noda jelaga. Wanita Naga Laut itu memegang bahu kirinya dengan ekspresi menahan sakit yang luar biasa—sebuah kontras dari sikap tenangnya saat di medan perang. Di sudut ruangan yang sempit itu, Li Wei melihat sosok lain yang tergeletak di balik meja konsol yang hancur.

"Han!" Li Wei mengabaikan rasa sakit di kakinya dan menyeret tubuhnya mendekat.

Sersan Han terengah-engah, wajahnya bersimbah darah namun matanya masih terbuka sedikit, menatap nanar ke langit-langit bunker yang retak. "Komandan... Anda datang... Sektor 7... apakah sudah... berhasil diamankan?"

"Jangan tidur, Han! Itu perintah!" bentak Li Wei sambil menekan luka di perut Han dengan telapak tangannya yang gemetar. Darah yang hangat merembes di sela jemarinya, bau karatnya bercampur dengan aroma amonia yang mulai naik dari saluran pembuangan. "Kau tidak boleh mati di lubang tikus ini setelah bertahan dari hujan peluru tadi."

Chen Xi mendekat dengan langkah tertatih, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk yang kini tertutup ribuan ton beton. "Sektor 7 sudah musnah, Han. Dan jika kita tidak segera bergerak, kita akan menyusul menjadi puing. Li Wei, periksa terminal cadangan di sana. Aku butuh akses ke sistem ventilasi sebelum kita mati konyol karena kehabisan oksigen."

"Bantu dia dulu, Chen Xi," Li Wei menunjuk Han dengan dagunya, matanya memancarkan intimidasi meski ia sendiri di ambang batas kesadaran.

"Aku bukan petugas medis, aku seorang strategis. Logika pertahanan tidak mengenal belas kasihan," balas Chen Xi dingin, namun ia tetap berjongkok di samping Han. Ia meraba tengkuk Han, lalu mendadak tertegun. Pendar merah dari chip saraf di sana kini berdenyut lebih cepat, hampir seperti detak jantung yang panik. "Li Wei... lihat chip ini. Ini bukan sensor standar militer Kekaisaran."

Li Wei menoleh dari terminal yang berkedip malfungsi. "Apa maksudmu?"

"Ini adalah unit transmisi data dua arah. Seseorang tidak hanya memantau Han; mereka sedang memasukkan kode enkripsi langsung ke sistem sarafnya. Jika denyut ini mencapai frekuensi kritis, otaknya akan hangus," Chen Xi menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah campuran antara kasihan dan peringatan. "Negaramu sedang mengubah sahabatmu menjadi pemancar berjalan, Li Wei. Dia bukan lagi manusia bagi mereka, dia hanyalah black box yang sedang dijemput."

"Siapa? Zhao Kun?" tanya Li Wei, suaranya kini seberat batu, hatinya mulai retak lebih dalam daripada tulang kakinya.

"Mungkin lebih tinggi dari itu. Dengarkan!" Chen Xi mendadak membeku.

Dari balik reruntuhan pintu utama, terdengar suara gesekan logam yang tajam. Bukan suara reruntuhan yang bergeser karena gravitasi, melainkan suara bor hidrolik frekuensi tinggi yang sedang menguliti lapisan beton dengan presisi militer.

"Tim Pembersih," bisik Li Wei. Tangannya secara naluriah menarik Bailong-Jian hingga pendar birunya menyambar dinding. "Mereka datang untuk mengevakuasi kita?"

Chen Xi tertawa getir, sebuah suara yang terdengar menyakitkan di ruang sesempit itu. "Menyelamatkan? Li Wei, mereka membawa bor termal tipe-X. Itu digunakan untuk melenyapkan bukti di zona sterilisasi, bukan untuk evakuasi medis. Jika mereka masuk, hal pertama yang mereka lakukan adalah menembak kepala kita dan mengambil chip saraf Han secara paksa."

"Aku adalah perwira tinggi Kekaisaran. Mereka tidak akan berani melakukan eksekusi tanpa pengadilan," ucap Li Wei, meski martabatnya mulai goyah saat teringat protokol 'Ekstraksi Paksa' yang pernah ia baca secara sekilas di dokumen rahasia Zhao Kun.

"Kau adalah saksi yang gagal mati di menara sinyal, Li Wei. Di mata mereka, kau adalah 'aset kedaluwarsa' yang merusak laporan keberhasilan," Chen Xi bangkit berdiri, menahan bahunya yang mati rasa. "Pilih sekarang. Mati sebagai martir yang patuh pada sistem yang mengkhianatimu, atau hidup sebagai hantu yang membalas dendam?"

Li Wei menatap Han yang mulai kejang kecil akibat sinkronisasi paksa chip-nya, lalu menatap zirah putihnya sendiri yang kini penuh noda darah dan jelaga. "Berapa banyak waktu yang kita punya?"

"Tiga menit sebelum mereka menembus lapisan terakhir beton," Chen Xi menunjuk ke arah pipa pembuangan di sudut ruangan yang tertutup jeruji besi berkarat. "Saluran itu menuju ke gorong-gorong limbah kimia. Baunya akan membuatmu berharap kau mati tertimbun beton, tapi itu satu-satunya jalur yang tidak terpantau radar orbital karena interferensi amonia."

Li Wei berdiri dengan susah payah, tulang kakinya yang retak memprotes dengan rasa sakit yang membakar seperti dialiri listrik statis. Ia memapah Han, menyampirkan lengan besar sahabatnya itu ke bahunya. "Kenapa kau membantuku, Chen Xi? Di luar sana, kau akan menembak kepalaku jika punya kesempatan."

"Karena musuh dari musuhku adalah alat yang berguna untuk saat ini," jawab Chen Xi pragmatis sambil mulai meretas panel pintu ventilasi dengan sisa tenaga sarafnya. "Dan karena aku ingin melihat wajah Zhao Kun saat dia menyadari bahwa 'pedang kesayangannya' telah patah dan berbalik arah menghujam jantungnya sendiri."

Suara bor di luar berhenti mendadak, digantikan oleh ledakan kecil yang meruntuhkan sisa-sisa pintu. Cahaya lampu sorot dari luar mulai menerobos masuk melalui celah-celah kecil, menyapu debu yang beterbangan seperti kilatan pedang eksekusi.

"Mereka masuk!" seru Li Wei.

"Lewat sini! Cepat!" Chen Xi berhasil membuka jeruji besi saluran limbah dengan tendangan keras yang menyakitkan bahunya.

Li Wei mendorong Han masuk lebih dulu ke dalam lubang gelap itu, lalu ia berbalik sejenak. Di kejauhan lorong bunker, ia melihat lima bayangan dengan zirah hitam legam dan helm tanpa visor—Unit Pembersih Elit Kekaisaran. Mereka tidak membawa tandu atau alat medis, melainkan senapan pulsa dengan peredam panas yang diarahkan tepat ke arah mereka.

"Perwira Li Wei, serahkan subjek Han dan letakkan senjata Anda segera," suara dingin dari pengeras suara helm salah satu prajurit bergema, tanpa emosi, tanpa rasa hormat. "Ini adalah perintah pembersihan dari Komando Pusat."

Li Wei menatap mereka, lalu menatap Bailong-Jian di tangannya yang bergetar. Resonansi pedang itu seolah menangisi pengkhianatan ini. "Komando Pusat sudah mati bagiku sejak mereka membiarkan Sektor 7 terbakar demi sebuah rahasia."

Li Wei tidak menyerang prajurit itu. Ia menggunakan strategi 'Third Option'. Ia menghantamkan pedangnya ke pipa uap tekanan tinggi di samping pintu. Semburan uap panas yang mengandung gas pendingin meledak, menciptakan tabir putih yang mengacaukan sensor termal pada helm Unit Pembersih. Di tengah kekacauan penglihatan itu, Li Wei melompat masuk ke dalam saluran limbah, mengikuti Chen Xi menuju kegelapan yang lebih dalam.

Li Wei merasakan sensasi jatuh yang pendek sebelum punggungnya menghantam dinding pipa logam yang licin. Bau amonia yang busuk segera menyerang indra penciumannya, menggantikan aroma debu semen yang kering. Di sampingnya, Han mengerang pelan, tubuhnya merosot ke dalam pelukan Li Wei dalam genangan air hitam. Cahaya lampu sorot dari Unit Pembersih di atas sana kini hanya tampak sebagai garis-garis putih tipis yang menembus jeruji besi, menciptakan pola geometris yang menyeramkan di atas air limbah yang berbusa.

"Tahan napasmu, Li Wei," bisik Chen Xi. Ia berada beberapa meter di depan, jemarinya meraba dinding pipa mencari panel kontrol manual yang sudah berkarat. "Sensor di zirahnya akan melacak sisa radiasi panas NS kita jika kita tetap diam di sini."

"Han tidak bisa menahan napasnya lebih lama lagi, Chen Xi! Parunya dipenuhi debu dan sarafnya sedang terbakar," balas Li Wei dengan nada rendah yang mendesak, merasakan detak jantung Han yang mulai melemah di bawah telapak tangannya.

Tepat saat itu, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu bunker. Unit Pembersih tidak lagi menggunakan cara halus; mereka meledakkan seluruh area bunker untuk memastikan tidak ada saksi yang tersisa.

"Mereka tidak akan berhenti sampai menemukan chip itu," Chen Xi akhirnya menemukan sebuah tuas berkarat dan menariknya sekuat tenaga. Suara derit logam yang memekakkan telinga bergema di dalam pipa, diikuti oleh semburan uap dingin yang menutupi jejak panas mereka secara total. "Bergerak! Sekarang, atau kita akan mati tenggelam dalam limbah ini!"

Li Wei menyeret Han melewati uap tersebut. Setiap langkah terasa seperti pisau yang mengiris tulang kakinya yang retak, namun ia menolak untuk jatuh. Di tengah kegelapan yang nyaris total, ia hanya bisa mengandalkan pendar biru redup dari pedangnya yang kini ia gunakan sebagai tongkat penyangga—sebuah martabat yang kini berubah fungsi menjadi alat penyambung nyawa.

Mereka sampai di sebuah persimpangan pipa yang lebih luas, tempat di mana aliran limbah bertemu dalam pusaran yang berisik. Di sana, sebuah terminal darurat tua dari era pra-perang masih berkedip dengan cahaya amber yang sekarat. Chen Xi segera menghampirinya, jemarinya bergerak cepat melampaui rasa sakit yang berdenyut di bahunya.

"Apa yang kau lakukan? Mereka hanya beberapa menit di belakang kita!" seru Li Wei.

"Aku sedang menghapus log digital kita dari sistem bunker. Jika aku tidak melakukannya, mereka akan tahu koordinat tepat kita melalui GPS zirahmu dalam hitungan detik," Chen Xi berhenti sejenak, matanya melebar menatap layar terminal yang menampilkan barisan kode hijau. "Tunggu... ini tidak mungkin."

"Apa yang kau lihat?"

"Li Wei, lihat pola ini," Chen Xi menunjuk sebuah pola gelombang statis yang muncul di sudut layar. Sebuah simbol mekanik kecil—kepala harimau dengan gaya visual kasar—berkedip-kedip di antara barisan kode enkripsi tingkat tinggi Kekaisaran. "Ini sinyal SOS terenkripsi. Protokolnya milik Naga Laut, tapi dikirimkan melalui jalur frekuensi darurat rahasia Kekaisaran. Ini sebuah anomali."

Li Wei mendekat, napasnya memburu, uap dingin keluar dari mulutnya. "Xiao Hu?"

"Siapa Xiao Hu? Alat atau manusia?" tanya Chen Xi tanpa berpaling dari layar.

"Dia mekanik muda di unitku... seorang anak yang selalu bercanda tentang cara memperbaiki mesin dengan tendangan. Dia selalu bilang kakaknya adalah seorang sersan hebat," Li Wei menatap Han yang kini mulai tenang meski napasnya masih dangkal. "Han selalu mengirimkan gajinya ke sebuah bengkel di pinggiran Megacity. Tempat yang seharusnya aman dari perang."

"Sinyal ini berasal dari zona industri sektor B. Itu wilayah abu-abu yang sangat jauh dari sini," Chen Xi mematikan terminal dengan satu pukulan keras hingga layarnya pecah. "Jika mekanikmu itu benar-benar mengirimkan ini lewat frekuensi militer, artinya dia tahu sesuatu yang sangat berbahaya tentang apa yang sedang terjadi pada Han. Sesuatu yang membuat Naga Laut dan Kekaisaran rela bekerja sama di balik layar hanya untuk melenyapkan kalian."

Li Wei terdiam, menatap tangannya yang kotor oleh jelaga, darah, dan air limbah. Martabat yang selama ini ia puja sebagai perwira klan Li terasa seperti beban kosong yang sia-sia. Di hadapannya kini bukan lagi sekadar pelarian militer, melainkan sebuah konspirasi yang mengaburkan batas antara kawan dan lawan.

"Bantu aku mengangkat Han," ucap Li Wei, suaranya kini terdengar berbeda—lebih tajam, lebih dingin, tanpa keraguan yang tadi sempat menghinggapinya. "Kita ikuti jalur limbah ini sampai ke sektor B. Jika kebenaran ada di sana, aku akan menjemputnya."

"Kau sadar apa artinya ini, Li Wei? Jika kau melangkah keluar dari sistem ini sekarang, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi 'Pedang Kekaisaran'. Kau akan menjadi pengkhianat di mata dunia," Chen Xi menatapnya dengan pandangan menguji, mencari sisa-sisa keraguan di mata pria itu.

Li Wei mengambil lambang unit Sektor 7 yang menggantung di bahu zirahnya yang retak, menatapnya untuk terakhir kali, lalu merobeknya hingga jatuh ke dalam aliran limbah hitam yang berbau amonia. "Perwira Li Wei sudah mati di bunker itu, Chen Xi. Yang tersisa sekarang hanyalah hantu yang ingin tahu kenapa dunianya dihancurkan oleh orang-orang yang ia lindungi."

Chen Xi tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang hampir terlihat seperti rasa hormat di tengah kegelapan pipa. "Bagus. Selamat datang di dunia para hantu, Li Wei. Di sini, tidak ada aturan, hanya ada kebenaran yang pahit."

Mereka berdua memapah Han, melangkah perlahan menjauh dari cahaya bunker menuju labirin pipa yang akan membawa mereka ke jantung kegelapan industri. Di belakang mereka, suara langkah sepatu bot berat Unit Pembersih mulai terdengar menuruni lorong pipa, namun Li Wei tidak lagi menoleh. Sumpahnya di bunker telah selesai; bukan lagi sumpah untuk negara yang mengkhianatinya, melainkan sumpah untuk bertahan hidup dan menuntut balas atas setiap tetes darah yang tumpah di Sektor 7.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!