NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Kemeja Basah Dinda dan Audit Malam yang Hakiki

Dinda, sang konsultan senior lulusan London yang biasanya bergerak dengan presisi algoritma, kini mulai kehilangan akal sehatnya. Dua minggu lembur yang ia rencanakan untuk menjerat Arga justru berakhir dengan ia menonton Nara memakai masker hijau lumut lewat panggilan video. Ia menyadari satu hal yaitu Arga tidak bisa didekati dengan angka, tapi mungkin bisa didekati dengan drama klasik.

Pagi itu, di kantor, Dinda melancarkan aksi nekat. Ia sengaja menumpahkan kopi panas ke kemeja Arga saat mereka sedang meninjau dokumen di ruang rapat, lalu mencoba membantu membersihkannya dengan gerakan yang sangat tidak profesional sekiranya jika Nara melihat itu akan menjadi bahan bakar api cemburunya.

"Aduh! Arga, maafkan aku! Tanganku licin sekali," seru Dinda dengan nada yang dibuat-buat panik.

Ia segera mengambil tisu dan mulai menggosok dada kemeja Arga dengan intens.

"Biar kubantu bersihkan, nanti kalau meresap ke kulit bisa iritasi..."

Arga membeku, tangannya menahan tangan Dinda dengan tegas.

"Dinda, berhenti. Saya punya kemeja cadangan di laci dan tindakanmu ini melanggar batasan spasial profesional."

Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka. Nara, yang kini sudah punya izin tetap masuk kantor karena alasan pengantaran logistik cemilan, berdiri di sana dengan mata membelalak. Di tangannya ada kantong plastik berisi gorengan bakwan yang masih berminyak.

"WADIDAW! APA-APAAN INI?!" teriak Nara, suaranya menggelegar sampai ke meja sekretaris di luar.

Dinda melepaskan tangannya, berakting tenang.

"Oh, Nara... Kebetulan sekali. Aku tidak sengaja menumpahkan kopi ke Arga. Aku hanya mencoba bertanggung jawab."

Nara melangkah maju, menaruh gorengannya di atas meja rapat yang mahal itu. Ia berkacak pinggang, menatap Dinda dari ujung rambut sampai sepatu hak tingginya.

"Mbak London, tanggung jawab itu kalau numpahin kopi ya dipel lantainya, bukan dielus-elus orangnya! Itu namanya modus operandi tingkat kelurahan!"

"Nara, tenanglah. Ini hanya kecelakaan," ujar Arga mencoba meredakan situasi.

"Nggak bisa tenang, Ga! Ini aset negara lagi mau diklaim sama pihak asing tanpa surat izin bangunan!"

Nara berpaling ke Dinda.

"Mbak, denger ya. Strategi numpahin kopi ini udah basi dari zaman telenovela Esmeralda. Kalau Mbak mau Arga basah-basahan, tunggu hujan badai sana di luar! Jangan di dalem ruangan ber-AC pakai tisu murahan!"

Dinda mendengus.

"Kamu terlalu berlebihan, Nara. Aku dan Arga punya sejarah yang..."

"Sejarah Mbak itu udah masuk museum! Udah jadi fosil!" potong Nara sadis.

"Sekarang, Mas Arga... ikut aku pulang! Kita audit kemeja ini di rumah! Aku nggak mau sisa-sisa parfum Mbak nempel di serat kain suami aku!"

Dinda memerah wajahnya karena marah melihat sepasang suami istri yang beda dunia itu keluar dari ruangan.

Sesampainya di apartemen, Arga hanya bisa pasrah saat Nara menyuruhnya melepas kemeja itu di ruang tengah untuk segera direndam. Nara masih ngomel-ngomel sambil mengucek baju di wastafel dapur dengan tenaga yang sanggup merobek kain sutra.

"Pokoknya aku nggak suka! Mbak-mbak itu beneran nggak tahu diri ya, Ga! Mentang-mentang pinter audit, dia pikir hati kamu itu laporan keuangan yang bisa dia rekayasa?!"

Arga bersandar di pintu dapur, bertelanjang dada, memperlihatkan otot tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik kemeja kaku. Ia menatap Nara yang sedang berperang dengan deterjen.

"Nara," panggil Arga pelan.

"Secara statistik, tingkat kecemburuanmu hari ini sudah melewati ambang batas normal. Kamu hampir merobek kemeja favorit saya."

Nara menoleh, baru sadar suaminya sedang dalam kondisi setengah polos. Ia menelan ludah, amarahnya mendadak menguap digantikan oleh rasa gerah yang tidak wajar.

"Ya... ya abisnya... dia... uhm... kamu kenapa nggak pakai baju?!"

"Kamu yang menyuruh saya melepasnya untuk disterilisasi, ingat?" Arga berjalan mendekat.

Langkahnya tenang, namun auranya sangat mendominasi.

Nara mundur sampai punggungnya membentur wastafel.

"I-iya, tapi kan bisa pakai kaos dalam dulu! Ini... ini nggak sopan buat mata aku yang suci!"

Arga mengurung Nara dengan kedua tangannya di sisi wastafel.

"Suci? Bukankah kamu yang semalam bilang ingin melakukan 'audit pelukan' selama dua jam? Kenapa sekarang kamu terlihat seperti ubur-ubur yang sedang tersesat di daratan?"

Nara merasa jantungnya melakukan breakdance. Wajah Arga hanya berjarak beberapa senti. Bau parfum kayu manis Arga yang bercampur sedikit aroma kopi tadi justru terasa sangat maskulin sekarang.

"Ga... kamu... kamu jangan deket-deket... nanti aku nggak bisa mikir logis," bisik Nara.

"Bagus," sahut Arga, suaranya rendah dan serak.

"Karena malam ini, saya ingin kita berhenti menggunakan logika. Saya lelah menjadi robot, Nara. Dan kamu adalah satu-satunya variabel yang berhasil merusak seluruh sistem pertahanan saya."

Arga mengecup kening Nara, lalu turun ke hidungnya, dan berakhir di bibir Nara. Kali ini bukan ciuman singkat atau ciuman denda. Ini adalah ciuman yang sangat dalam, penuh kerinduan, dan penyerahan diri sepenuhnya.

Nara yang awalnya kaku, perlahan mulai membalas. Tangannya yang masih basah sisa sabun cuci tak peduli lagi, ia melingkarkannya di leher Arga, menarik pria itu semakin dekat.

"Arga..." gumam Nara di sela ciuman mereka.

"Ini... ini bukan karena denda kan?"

Arga mengangkat Nara ke atas meja bar dapur, menatapnya dengan mata yang penuh kasih sayang yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Ini adalah pengakuan aset paling jujur dalam hidup saya, Nara, saya mencintaimu. Bukan karena perjanjian orang tua, bukan karena paksaan, tapi karena saya memang tidak bisa berfungsi tanpamu."

Nara berkaca-kaca.

"Aku juga, Ga. Walaupun kamu kaku kayak papan penggilasan, tapi aku cinta banget sama kamu."

Arga menggendong Nara menuju kamar utama. Tidak ada guling pembatas malam ini. Tidak ada alarm yang disetel untuk lari pagi. Yang ada hanyalah dua orang yang akhirnya mengakui bahwa nikah paksa mereka telah bermutasi menjadi cinta yang hakiki.

Di bawah selimut yang hangat, Nara masih sempat-sempatnya berkomentar konyol untuk menutupi kegugupannya.

"Ga, bentar... bentar!" potong Nara sambil menahan dada Arga saat pria itu baru saja merebahkan tubuh di sampingnya.

Arga menaikkan sebelah alisnya, napasnya sedikit memburu.

"Apa lagi, Nara? Ada kesalahan administratif dalam prosedur malam ini?"

"Bukan!"

Nara menatap Arga dengan mata bulatnya yang panik.

"Ini... aku baru inget. Tadi pas di dapur aku habis megang sabun cuci piring rasa jeruk nipis. Kalau nanti kulit kamu iritasi terus berubah jadi kuning kayak bebek gimana? Kan nggak lucu kalau besok di kantor kamu dijuluki CEO of Bebek Goreng."

Arga menghela napas panjang, mencoba menahan tawa sekaligus kegemasan. Ia menarik tangan Nara, mencium telapak tangannya yang harum jeruk nipis itu dengan lembut.

"Kulit saya memiliki daya tahan yang cukup kuat terhadap ekstrak jeruk nipis, Nara. Dan saya lebih memilih jadi bebek kuning daripada kehilangan momen ini karena kekhawatiranmu yang tidak relevan."

Nara meringis, tapi masih belum menyerah untuk mengulur waktu demi menenangkan jantungnya yang sedang disko.

"Terus... terus satu lagi! Kamu udah yakin kan mau ngelakuin konsolidasi hati sama aku? Aku ini orangnya kalau tidur suka muter-muter kayak baling-baling bambu lho. Nanti kalau besok pagi kamu nemu aku udah di kaki kasur terus kamu di kolong kasur, jangan ajukan gugat cerai ya?"

Arga terkekeh rendah, suara baritonnya terasa sangat seksi di telinga Nara. Ia menarik selimut hingga menutupi bahu mereka berdua.

"Nara, saya sudah melakukan audit risiko terhadap seluruh gaya tidurmu sejak semalam kita berbagi kasur tanpa guling. Hasilnya? Saya siap menjadi kolong kasurmu asalkan kamu tetap menjadi baling-balingnya. Sekarang, bisa kita berhenti membahas logistik dan mulai fokus pada subjek utamanya?"

Nara tersipu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arga.

"Iya deh, Pak Bos. Tapi janji ya, besok pagi jangan kasih aku denda kalau rambut aku kayak singa kena angin topan!"

"Dendanya cuma satu," bisik Arga tepat di telinga Nara.

"Kamu tidak boleh bangun duluan sebelum saya memberikan laporan cinta pagi hari."

1
Stroberi 🍓
Ampun dah, mulut nyeblak nara 😂
Stroberi 🍓
Wkwk lucukk 🤣
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!