Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Amukan Sang Singa Rodriguez
Jika kedatangan Jordan Abraham di kampus sudah dianggap sebagai badai, maka kedatangan Tuan Rodriguez adalah kiamat bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangannya. Pagi itu, belum sempat debu dari keributan kemarin mereda, sebuah helikopter pribadi berwarna hitam legam mendarat di lapangan utama universitas, membuat suara bising yang memekakkan telinga dan menerbangkan dedaunan di sekitar kampus.
Tuan Rodriguez turun dengan gagahnya. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas hitam pekat dengan jubah panjang tersampir di bahunya. Di belakangnya, selusin pengawal berseragam lengkap mengikuti dengan langkah serempak. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras, memancarkan aura haus darah yang membuat para mahasiswa yang berpapasan dengannya langsung menepi dan menunduk ketakutan.
Jordan Abraham sudah menunggu di lobi utama. Ia berdiri tegak, namun ada rasa hormat yang terpancar dari sikapnya saat menyambut calon ayah mertuanya itu.
"Di mana bedebah yang memimpin universitas ini?" suara Tuan Rodriguez menggelegar di lobi, membuat resepsionis gemetar hingga menjatuhkan gagang teleponnya.
"Rektor sudah menunggu di ruangannya, Tuan. Saya akan mengantar Anda," jawab Jordan tenang, meski ia tahu suasana akan menjadi sangat panas.
Di ruang rektorat, sang Rektor sudah berkeringat dingin. Begitu Tuan Rodriguez masuk, ia tidak duduk di kursi tamu, melainkan langsung menggebrak meja jati sang Rektor hingga retak.
"Jadi ini caramu menjaga keamanan di institusi ini?" bentak Tuan Rodriguez. "Putriku, satu-satunya pewaris keluarga Rodriguez, pulang dengan wajah lebam dan bibir pecah karena kelalaianmu membiarkan bibit-bibit sampah tumbuh di kampus ini!"
"T-tuan Rodriguez, mohon maaf... kami sudah melakukan tindakan..." gagap sang Rektor.
"Tindakan?" Tuan Rodriguez tertawa sinis, suaranya terdengar mengerikan. "Jordan sudah menceritakan semuanya. Tindakan mengeluarkan mereka secara tidak hormat itu terlalu manis. Aku ingin lebih!"
Tuan Rodriguez berbalik ke arah asisten pribadinya. "Pastikan semua mahasiswa yang terlibat dalam penyerangan fisik putriku diseret ke jalur hukum. Aku tidak mau tahu, gunakan semua pengacara terbaik kita. Aku ingin mereka mendekam di balik jeruji besi atas penganiayaan berat. Dan untuk orang tua mereka... hancurkan bisnis mereka hingga tak bersisa. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang bisa makan enak di negeri ini mulai besok!"
Sang Rektor hanya bisa terdiam lemas. Ia pun tak luput dari sasaran. "Dan kau," Tuan Rodriguez menunjuk wajah Rektor dengan jarinya yang kokoh, "Jika dalam satu minggu tidak ada perbaikan sistem keamanan yang menjamin keselamatan Airin, aku akan menarik seluruh investasiku dan membeli tanah universitas ini hanya untuk kujadikan tempat parkir koleksi mobilku. Mengerti?!"
"M-mengerti, Tuan..."
Sementara itu, di penthouse Jordan, suasana jauh lebih tenang. Airin sedang beristirahat di atas tempat tidur besar yang sangat empuk. Ia mengenakan piyama lembut, dan luka-lukanya sudah dibersihkan. Meskipun ia tidak masuk kampus, ia bisa merasakan ketegangan yang terjadi di sana melalui berita-berita yang mulai bermunculan.
Jordan kembali ke apartemen lebih awal setelah menemani Tuan Rodriguez. Begitu masuk ke kamar, ia melihat Airin yang sedang termenung menatap jendela. Jordan mendekat, duduk di tepi tempat tidur, dan langsung menarik pinggang Airin agar bersandar di dadanya.
"Ayahmu benar-benar mengamuk di kampus tadi, sayang," bisik Jordan sambil mengusap rambut Airin yang harum.
Airin mengerucutkan bibirnya, ada rasa sedih sekaligus haru. "Ayah memang seperti itu jika menyangkut aku. Tapi aku merasa kasihan pada teman-temanku yang lain, mereka pasti ketakutan."
"Mereka harus takut, Airin. Agar mereka tahu bahwa menyentuhmu adalah kesalahan terbesar dalam hidup mereka," Jordan merunduk, mengecup pipi Airin yang masih memar dengan sangat hati-hati dan lembut. "Kamu sudah merasa lebih baik?"
Airin mengangguk pelan, ia memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jordan. "Terima kasih sudah menjagaku, Jordan. Meskipun kalian berdua sangat menakutkan jika sedang marah."
Jordan terkekeh rendah, ia mengeratkan pelukannya, sesekali memberikan usapan lembut di punggung Airin untuk menenangkannya. "Aku hanya menakutkan bagi orang lain. Bagimu, aku hanyalah pria yang tidak bisa hidup tanpa aroma stoberimu ini."
Jordan kembali menciumi jari-jemari Airin bergantian, memberikan kenyamanan yang membuat Airin perlahan-lahan mulai melupakan trauma kejadian kemarin. Di bawah perlindungan dua pria paling berkuasa itu, Airin tahu bahwa mulai sekarang, tak akan ada lagi yang berani menatapnya dengan sebelah mata.