Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proses Perceraian
Tiga bulan sudah berlalu sejak Nayara pergi dari rumah Gilang. Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun.
Nayara sekarang tinggal di rumah orang tuanya di Depok. Rumah sederhana dengan dua kamar tidur, ruang tamu kecil, dapur sempit. Jauh berbeda dari rumah mewah Gilang yang luas dan dingin itu.
Tapi Nayara merasa lebih hidup di sini. Lebih hangat. Walau sederhana, rumah ini penuh cinta.
Ibu Nayara, Bu Siti, wanita paruh baya dengan rambut mulai memutih, selalu bantu jaga Aldi. Gantian sama Nayara kalau Nayara lagi capek atau lagi ngurus surat-surat perceraian.
Bapak Nayara, Pak Hasan, pria pendiam dengan jenggot tipis, jarang bicara tapi selalu ada. Selalu dukung keputusan Nayara walau awalnya dia sempet marah kenapa Nayara mau cerai.
"Cerai itu aib, Nayara. Kamu yakin?" Pak Hasan pernah bertanya waktu Nayara baru pulang.
"Bapak lebih milih anaknya hidup dalam penderitaan atau hidup tenang walau bercerai?" Nayara balik nanya.
Pak Hasan terdiam. Terus peluk Nayara erat. "Bapak cuma tidak mau kamu menderita lagi, Nak."
"Makanya aku harus cerai, Pak. Kalau tetap bertahan, aku yang mati pelan-pelan."
Sejak itu Pak Hasan tidak protes lagi. Malah aktif bantuin Nayara cari pengacara yang bagus dan murah.
Hari ini, tanggal 15 Maret, adalah hari sidang perceraian terakhir. Nayara sudah ajukan gugatan cerai sejak sebulan lalu. Sidang pertama dan kedua sudah dilewati. Hari ini adalah sidang putusan.
Nayara bangun pagi-pagi. Mandi, pakai baju rapi. Gamis hitam panjang. Hijab putih. Tidak ada makeup. Wajah polos pucat.
Bu Siti bantuin siapkan Aldi. Mandiin, pakaikan baju yang lucu, kasih susu.
"Kamu yakin mau bawa Aldi ke pengadilan, Nak?" Bu Siti bertanya sambil gendong Aldi yang udah gede sekarang. Udah empat bulan. Udah bisa tengkurap sendiri. Udah mulai bisa ketawa kalau diajak main.
"Iya, Bu. Aku mau Aldi lihat langsung ibunya berjuang. Walau dia belum ngerti, tapi nanti kalau dia gede, aku akan ceritain." Nayara ambil Aldi dari ibunya. Cium pipi chubby anaknya berkali-kali.
Jam sembilan pagi, Nayara berangkat ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Naik angkot sama bus. Gendong Aldi pake gendongan. Bawa tas kecil berisi surat-surat penting.
Sampai di pengadilan, Nayara langsung ke ruang tunggu. Duduk di kursi plastik yang keras. Aldi mulai rewel. Mungkin kepanasan. Ruang tunggu pengadilan tidak ada AC-nya. Cuma kipas angin yang muter pelan.
"Sabar ya, Nak. Bentar lagi selesai." Nayara kibas-kibaskan Aldi pakai map kertas.
Sepuluh menit kemudian, pengacara Nayara datang. Pak Budi, pengacara muda yang baik hati, mau bantuin kasus Nayara dengan biaya murah karena kasian.
"Bu Nayara, sudah siap?" Pak Budi bertanya sambil duduk di samping Nayara.
"Siap, Pak. Saya sudah tidak sabar ingin ini selesai." Nayara jawab dengan tegas walau tangannya gemetar.
"Pihak tergugat akan hadir hari ini dengan pengacaranya. Dan kemungkinan keluarga tergugat juga akan hadir. Ibu siap ya kalau nanti ada yang menyudutkan Ibu." Pak Budi ngingetin.
Nayara mengangguk. Udah siap mental. Udah tau keluarga Gilang pasti menyalahkan dia.
Jam sepuluh, sidang dimulai. Nayara masuk ke ruang sidang dengan gendong Aldi. Pak Budi jalan di sampingnya.
Di dalam ruang sidang, Gilang sudah duduk di kursi tergugat. Sebelah kanannya ada pengacara mahal dengan jas rapi. Sebelah kirinya ada ibu Gilang, Nyonya Ratna, wanita kaya raya dengan tas bermerek dan perhiasan berlian di mana-mana.
Gilang melirik Nayara sekilas. Wajahnya datar. Tidak ada ekspresi apa-apa. Seperti menatap orang asing.
Nayara duduk di kursi penggugat. Menatap lurus ke depan. Tidak mau natap Gilang.
Hakim masuk. Sidang dimulai.
"Baik, kita lanjutkan sidang perceraian antara Penggugat Nayara Salsabila dengan Tergugat Gilang Mahesa." Hakim, seorang bapak-bapak berkacamata tebal, membuka berkas.
"Penggugat sudah menyampaikan gugatan perceraian dengan alasan perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga. Tergugat, apakah Anda mengakui tuduhan ini?" Hakim bertanya pada Gilang.
Pengacara Gilang berdiri. "Yang Mulia, klien saya tidak mengakui tuduhan perselingkuhan. Hubungan klien saya dengan Sdri. Sandra Amelia adalah hubungan profesional sebagai atasan dan bawahan."
Nayara mengepalkan tangan. Masih membela diri. Masih bohong sampai sekarang.
"Tapi Penggugat punya bukti foto dan kesaksian bahwa Tergugat dan Sdri. Sandra tertangkap basah di hotel bersama." Pak Budi membela Nayara.
"Itu bisa dijelaskan. Mereka memang sedang dinas kerja." Pengacara Gilang tetap membantah.
Hakim menghela napas. "Baik. Kita tidak akan memperpanjang perdebatan ini. Apakah Tergugat bersedia bercerai dengan Penggugat?"
Hening sebentar.
Gilang menatap Nayara. Nayara balik menatap Gilang.
"Iya. Saya bersedia." Gilang akhirnya menjawab dengan suara datar.
Deg.
Dadanya Nayara seperti ditikam. Walau udah diduga Gilang akan bilang begitu, tetap aja sakit dengernya langsung.
Gilang bersedia bercerai. Berarti memang dia tidak pernah cinta sama Nayara. Tidak ada usaha buat pertahankan pernikahan.
"Baik. Tentang hak asuh anak, Tergugat mengajukan apa?" Hakim bertanya lagi.
"Klien saya menyerahkan hak asuh penuh kepada Penggugat. Tapi klien saya akan memberikan nafkah anak setiap bulan sebesar lima juta rupiah." Pengacara Gilang menjawab.
Lima juta. Cuma lima juta buat anaknya. Gilang yang gajinya puluhan juta sebulan cuma mau kasih lima juta buat Aldi.
Pelit. Egois.
"Penggugat, apakah Anda setuju dengan nominal tersebut?" Hakim bertanya pada Nayara.
Nayara ingin teriak tidak setuju. Ingin minta lebih banyak. Tapi dia lelah. Lelah berurusan sama Gilang.
"Setuju, Yang Mulia. Yang penting anak saya dapat hak-nya." Nayara menjawab dengan suara pelan.
Hakim mengangguk. "Baik. Sebelum putusan dibacakan, ada yang ingin disampaikan?"
Tiba-tiba Nyonya Ratna, ibu Gilang, berdiri. Wajahnya merah. Mata melotot ke arah Nayara.
"Saya mau bicara! Saya mau bicara sama perempuan tidak tau diri ini!" Nyonya Ratna nunjuk Nayara dengan jari gemetar karena marah.
"Ibu, ini ruang sidang. Mohon jaga kesopanan." Hakim ngingetin.
Tapi Nyonya Ratna tidak peduli. Dia jalan mendekati Nayara. Berdiri tepat di depan kursi Nayara.
"KAMU! KAMU PEREMPUAN TIDAK BERGUNA! TIDAK BISA JAGA SUAMI! GILANG SELINGKUH KARENA KAMU JELEK! KAMU TIDAK MENARIK! KAMU TIDAK BISA APA-APA!" Nyonya Ratna berteriak tepat di muka Nayara.
Aldi kaget. Langsung nangis kenceng.
Nayara peluk Aldi erat. Mencoba menenangkan anaknya sambil nahan air mata.
"KAMU ITU MEMALUKAN! CERAIKAN SUAMIKU GARA-GARA TIDAK BISA JADI ISTRI YANG BAIK! KAMU PIKIR KAMU SEMPURNA? KAMU PIKIR KAMU BISA HIDUP SENDIRIAN BAWA ANAK?" Nyonya Ratna masih berteriak.
Pak Budi berdiri. "Nyonya, mohon kembali ke tempat duduk. Ini melanggar tata tertib sidang."
Tapi Nyonya Ratna malah tambah emosi. "DIAM KAMU! INI URUSAN KELUARGA KAMI! PEREMPUAN INI YANG SALAH! DIA YANG RUSAK RUMAH TANGGA ANAKKU!"
Nayara menatap Nyonya Ratna dengan mata berkaca-kaca. Pengen banget jawab. Pengen teriak balik. Tapi dia diam. Karena dia tau kalau dia jawab, cuma akan bikin keadaan lebih buruk.
Hakim mengetuk palu. "Nyonya Ratna, silakan kembali ke tempat duduk atau Anda akan saya keluarkan dari ruang sidang!"
Gilang akhirnya berdiri. Pegang lengan ibunya. "Ibu, sudah. Duduk."
Nyonya Ratna menatap Nayara terakhir kali dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu akan menyesal, Nayara. Kamu akan menyesal sudah ninggalin anakku."
Terus dia balik ke kursi, duduk sambil masih bergumam marah.
Hakim menghela napas panjang. "Baik. Saya akan bacakan putusan. Berdasarkan bukti dan kesaksian yang ada, Majelis Hakim memutuskan untuk mengabulkan gugatan perceraian Penggugat. Pernikahan antara Nayara Salsabila dan Gilang Mahesa resmi putus terhitung sejak hari ini."
Palu diketuk.
TOK TOK TOK.
Suara palu itu seperti suara lonceng kebebasan.
Nayara menutup mata. Tarik napas dalam.
Selesai.
Pernikahannya dengan Gilang resmi berakhir.
"Penggugat dan Tergugat silakan tanda tangan surat putusan perceraian." Hakim menyodorkan kertas.
Nayara berdiri dengan kaki gemetar. Jalan ke meja hakim. Gilang juga jalan dari arah sebelah.
Mereka berdiri berdampingan untuk terakhir kalinya.
Nayara ambil pena dengan tangan gemetar hebat. Tanda tangan di kolom Penggugat. Tulisannya berantakan karena tangannya gemetaran parah.
Gilang ambil pena. Tanda tangan di kolom Tergugat. Tulisannya rapi seperti biasa.
Selesai.
Resmi bercerai.
Nayara menatap surat itu. Surat yang mengakhiri pernikahannya. Pernikahan yang penuh luka dan air mata.
"Terima kasih, Yang Mulia." Nayara membungkuk pada hakim.
Nayara berbalik. Jalan keluar dari ruang sidang dengan gendong Aldi yang udah berhenti nangis.
Tidak noleh ke Gilang.
Tidak noleh ke Nyonya Ratna.
Tidak noleh ke siapapun.
Jalan terus sampai keluar dari gedung pengadilan.
Begitu keluar, hujan turun.
Hujan deras tiba-tiba. Langit mendung gelap. Petir menyambar di kejauhan.
Nayara berdiri di bawah atap pintu masuk pengadilan. Menatap hujan yang turun lebat.
Aldi di gendongannya menatap hujan dengan mata bulat. Tangannya nyoba raih tetesan air hujan yang menyiprat.
Nayara peluk Aldi erat. Air matanya jatuh bercampur sama tetesan hujan yang kena wajahnya.
"Selesai, Nak. Kita sudah bebas." Nayara bisik pelan.
Tapi kenapa dadanya masih sesak? Kenapa air matanya tidak berhenti mengalir?
Ini seharusnya momen bahagia. Momen kebebasan.
Tapi kenapa rasanya seperti kehilangan?
Kehilangan sesuatu yang memang tidak pernah benar-benar ada.
Kehilangan harapan akan keluarga yang utuh untuk Aldi.
Kehilangan mimpi akan pernikahan bahagia yang dulu Nayara impikan.
Semua hilang.
Terbawa hujan yang turun deras ini.
Nayara berjalan keluar. Hujan membasahi tubuhnya. Membasahi Aldi yang langsung nangis karena kaget kena air dingin.
Tapi Nayara terus jalan.
Jalan di bawah hujan dengan air mata yang bercampur air hujan.
Jalan menuju kehidupan baru yang tidak dia tau akan seperti apa.
Tapi satu yang pasti.
Dia sudah bebas dari Gilang.
Bebas untuk sembuh.
Bebas untuk bahagia lagi suatu hari nanti.
Walau hari ini, dia masih menangis.
Masih sakit.
Masih hancur.
Tapi dia akan bangkit.
Pasti.
Untuk Aldi.
Dan untuk dirinya sendiri.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭