NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Kesempatan Baru

Kertas surat itu terasa seperti batu bara di tangan Nara. Dia meremasnya dengan kuat hingga ujung-ujungnya mulai sobek. Foto kecil yang menempel di dalamnya tetap memandangnya – dia dan Pak Bambang, bosnya yang sudah meninggal, sedang berbincang di ruang kerja pada malam proyek terakhir mereka di Jakarta.

Itu hanya momen kerja biasa. Tapi jika dilihat oleh orang lain tanpa konteks, bisa jadi mereka akan menyalahartikan hubungan mereka.

“Kamu baik-baik saja, Kak Nara?” tanya Maya dari belakang pintu yang sedikit terbuka. “Ada seorang pria bernama Dito Pratama datang mencari kamu. Dia bilang sudah kamu janjikan untuk bertemu.”

Nara segera menyembunyikan surat dan foto ke dalam tasnya. “Sebut saja dia masuk, Maya. Terima kasih.”

Dito masuk dengan membawa tas ransel yang penuh buku dan beberapa berkas kertas. Dia melihat wajah Nara yang tampak pucat dan langsung merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Kamu tidak baik-baik saja kan?” tanya dia dengan suara lembut, menempatkan tasnya di sudut ruangan. “Kamu bisa cerita kalau ada masalah. Janji kan kamu akan bilang kalau butuh bantuan?”

Nara ingin berkata ya, ingin membuka hati dan menceritakan semua yang terjadi. Tapi dia ingat ancaman Lina – jika dia memberitahu siapapun, maka semua rahasia akan terbongkar dan merusak semua yang dia bangun.

“Aku baik saja,” jawabnya dengan suara yang sedikit lemah. “Cuma capek saja karena baru saja menyusun rencana proyek.”

Dito mengangguk tapi ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak percaya. “Baiklah. Kalau kamu tidak mau cerita sekarang, tidak apa-apa. Kita bisa bicara tentang hal lain dulu ya?”

Dia membuka salah satu berkas dan menunjuk ke dalamnya. “Saya sudah melihat konsep proyek kamu untuk pendidikan kreatif. Ide kamu untuk membuat kelas belajar yang tidak terlalu formal dan menggunakan bahan lokal sangat bagus. Tapi saya punya beberapa ide tambahan yang mungkin bisa membuat program ini lebih efektif.”

Nara merasa sedikit lega saat pembicaraan beralih ke proyek. Dia mulai melupakan rasa cemasnya sejenak dan fokus pada apa yang dia kuasai – merencanakan program yang bisa membantu anak-anak.

“Kamu tahu kan, di desa-desa sekitar kota ini banyak anak-anak yang bahkan belum pernah melihat alat lukis yang benar-benar baik,” ucap Dito sambil menunjukkan peta yang sudah dia tandai. “Kita bisa membuat program keliling yang mengunjungi desa-desa terpencil. Bawa materi belajar sambil mengajari mereka cara membuat perlengkapan kreatif dari bahan yang ada di sekitar mereka.”

Ide itu membuat mata Nara bersinar. Itu kan memang impiannya dari awal – membantu anak-anak yang paling tidak beruntung dan tidak punya akses ke pendidikan yang baik.

“Itu ide yang luar biasa!” ucapnya dengan semangat yang mulai kembali. “Kita bisa mengajak mereka membuat karya seni dari tanah liat, daun, kulit kayu – semuanya bisa jadi bahan yang indah jika kita tahu cara mengolahnya.”

Mereka mulai mendiskusikan detail program dengan penuh semangat – mulai dari lokasi yang akan dikunjungi, materi yang akan diberikan, hingga cara mengumpulkan dana untuk mendukung kegiatan tersebut. Saat mereka sedang asik berbicara, pintu ruangan terbuka dengan tiba-tiba.

“Maaf mengganggu,” suara Lina terdengar dingin dari pintu. “Tapi saya perlu berbicara dengan Nara tentang hal penting terkait proyek ini.”

Dito melihat ke arah Lina dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu. Dia merasakan aura yang tidak menyenangkan dari wanita itu.

“Kita sedang dalam pembicaraan penting,” ucap Nara dengan suara yang tegas. “Bisa nanti saja?”

“Sayang, ini tidak bisa menunggu.” Lina masuk ke dalam ruangan dan menatap Dito dengan tatapan yang sedikit sinis. “Siapa kamu sih? Apakah kamu punya kaitan dengan perusahaan ini?”

“Saya adalah konsultan yang bekerja sama dengan Nara untuk proyek ini,” jawab Dito dengan tenang tapi tegas. “Kamu siapa?”

“Saya Lina Wijaya – manajer operasional cabang ini. Dan saya harus bilang bahwa saya tidak menyetujui kerja sama dengan orang luar tanpa izin resmi dari perusahaan.”

“Kita sudah mendapatkan izin dari kantor pusat,” ucap Nara dengan suara yang semakin keras. “Jadi tidak ada masalahnya.”

Lina memberikan senyum yang tidak ramah. “Baiklah. Tapi ingat ya Nara – semua keputusan akhir ada di tangan saya. Jangan lakukan sesuatu yang bisa merusak nama baik perusahaan.”

Setelah Lina pergi, suasana kembali menjadi kaku. Nara merasa semua semangat yang baru saja muncul lenyap begitu saja.

“Siapa dia sebenarnya?” tanya Dito dengan rasa penasaran yang besar. “Kamu tampak tidak nyaman saat dia ada di sini.”

Nara menghela napas dalam-dalam. “Dia adalah mantan sahabat saya. Tapi sekarang dia bekerja di perusahaan ini dan sepertinya ingin membuat hidup saya sulit.”

“Kalau dia membuatmu tidak nyaman atau melakukan sesuatu yang salah, kamu harus melaporkannya ya,” ucap Dito dengan serius. “Tidak ada yang berhak membuatmu merasa tidak aman di tempat kerja.”

Sebelum Nara bisa menjawab, teleponnya berdering. Ada pesan dari Reza:

“Hai Nara. Aku mendengar kamu sedang merencanakan program pendidikan kreatif. Ada beberapa anak di sekolahku yang sangat berbakat tapi tidak punya kesempatan untuk belajar lebih jauh. Bolehkah kita bertemu dan membicarakannya?”

Nara merasa hati nya berdebar kencang. Dia belum siap untuk bertemu dengan Reza sendirian, tapi dia juga tidak bisa menolak kesempatan untuk membantu anak-anak yang berbakat.

“Aku harus pergi sekarang,” ucapnya kepada Dito dengan suara pelan. “Ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Di sekolah dasar dekat pasar baru, Reza sedang menunggu di halaman belakang yang sudah diubah menjadi ruang belajar kreatif sederhana. Beberapa anak sedang duduk berkelompok, masing-masing sedang membuat kerajinan tangan dari anyaman bambu.

“Sampai sudah,” ucap Reza dengan senyum lembut saat melihat Nara datang. “Lihat saja mereka – mereka punya bakat yang luar biasa tapi hanya membutuhkan sedikit bimbingan saja.”

Nara melihat anak-anak dengan hati yang penuh rasa kagum. Salah satu anak laki-laki kecil bernama Dani sedang membuat patung kecil dari tanah liat dengan tangan yang lincah. Wajahnya sangat fokus hingga tidak menyadari bahwa ada orang baru datang.

“Dia punya autisme,” ucap Reza dengan suara lembut saat melihat arah pandangan Nara. “Dia sulit berkomunikasi dengan kata-kata, tapi dia bisa mengekspresikan dirinya dengan sangat baik melalui seni.”

Nara merasa dada nya terasa hangat. Dia ingat betapa mereka dulu sering membicarakan tentang bagaimana membantu anak-anak seperti Dani – anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus tapi punya bakat luar biasa.

“Kamu sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa,” ucapnya kepada Reza dengan suara yang penuh rasa hormat. “Aku tahu ini adalah impian kita berdua dulu.”

Reza mengangguk perlahan. “Ya. Aku mencoba menjalankannya sendirian. Tapi aku tahu kalau kamu ada di sini, kita bisa melakukan hal yang jauh lebih besar.”

Mereka mulai berbicara tentang program yang akan dibuat – bagaimana mereka bisa membantu anak-anak di sekolah tersebut dan mengajak mereka untuk bergabung dengan program keliling yang akan Nara dan Dito jalankan. Saat mereka sedang asik berdiskusi, Nara melihat seorang anak perempuan kecil dengan rambut ikal sedang melihatnya dengan mata penuh rasa ingin tahu.

Itu adalah Rara – anak yang dulu pernah bertanya tentang dirinya di taman kota.

“Kakak mau mengajari aku menggambar kan?” tanya Rara dengan suara ceria, mendekati mereka dengan hati-hati. “Pak Reza bilang kakak bisa menggambar dengan sangat bagus.”

Nara tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja sayang. Nanti kakak akan mengajari kamu banyak teknik menggambar ya.”

Rara tersenyum lebar dan berlari kembali ke teman-temannya untuk memberitakan kabar baik itu. Nara melihatnya dengan hati yang penuh kebahagiaan, merasa seperti menemukan kembali tujuan yang dulu pernah dia miliki.

Namun saat dia berbalik, dia melihat Lina berdiri di dekat gerbang sekolah dengan wajah yang penuh kemarahan. Tangannya menggenggam sebuah amplop putih yang tampaknya berisi sesuatu yang penting.

Dia sudah melihatku bersama Reza. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?

Malam itu, setelah pulang dari sekolah, Nara menemukan sebuah amplop di depan pintu rumahnya. Di dalamnya ada surat baru dari Lina beserta beberapa foto – foto dia bersama Reza di sekolah, foto dia bersama Dito di kantor, dan foto lama yang sudah dia dapatkan sebelumnya.

Di bawahnya tertulis:

“Saya sudah memberi kamu kesempatan. Tapi sepertinya kamu tidak mau mendengarkan. Besok pagi, semua foto ini akan saya kirim ke kantor pusat dan media sosial lokal jika kamu tidak menyerahkan kendali proyek ini kepada saya. Pilihlah dengan bijak – karirmu atau proyek yang kamu sayangi.”

Nara menjatuhkan amplop dari tangannya. Dia merasa seperti berada di antara batu dan tempat yang keras – jika dia menyerahkan proyek, maka semua impiannya akan hancur. Tapi jika dia tidak menyerah, maka reputasinya akan rusak dan dia mungkin akan kehilangan pekerjaan serta semua yang sudah dia bangun.

Dan yang paling mengerikan adalah – dia tidak tahu siapa yang bisa dia percayai untuk membantunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!