Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Ingatan Lain
Kabut hitam menekan dari segala arah seperti dinding yang bernapas. Bau tanah lembab dan logam tua memenuhi udara, sementara gema benturan dari sisi lain kabut masih terasa di sekelilingnya. Tubuh Sky baru saja menghantam dinding goa dan rasa nyeri yang aneh. Nyeri yang seharusnya tidak terlalu nyata bagi arwah sepertinya, menyebar dari bahu sampai ke tulang punggungnya.
Ia mengerang pelan, mencoba berdiri, ketika beberapa sosok berjubah gelap muncul dari kabut, melayang rendah dengan gerakan kaku namun mematikan.
Sosok-sosok itu tidak memiliki wajah. Hanya rongga kosong yang menganga, memancarkan hawa dingin menusuk tulang.
Mereka menyerang tanpa suara, hanya gerakan cepat seperti bayangan yang tiba-tiba memiliki niat membunuh. Sky mengangkat tangan, menangkis satu serangan, tapi tubuhnya tetap terpental beberapa langkah ke belakang.
“Aku nggak punya waktu buat main-main,” gumamnya sambil menyeka sudut bibir yang terasa perih, lalu matanya menoleh cepat ke arah kabut yang memisahkannya dari Kiara. Ia bisa merasakan aura gadis itu di seberang sana. Gelisah, terluka, tapi masih berdiri. Dada Sky mengencang. “Kiara… Bertahan ya… Aku datang.”
Salah satu penjaga ghaib melesat cepat ke arahnya, menghantam dadanya dengan pukulan berat yang membuat tubuhnya kembali terhempas ke tanah. Kali ini, saat benturan terjadi, sesuatu di dalam dirinya retak… Bukan tulang… Melainkan dinding ingatan yang selama ini tertutup rapat.
Dunia di sekelilingnya berubah.
Kabut menghilang. Suara gema goa digantikan oleh sorak sorai manusia. Lampu terang menyilaukan mata. Aroma keringat dan lantai kayu memenuhi hidungnya.
Ia melihat dirinya berdiri di atas matras…Mengenakan seragam bela diri… Tangan terbalut perban… Napasnya berat namun stabil.
Di depannya, seorang lawan berpostur besar melangkah maju. Wasit memberi aba-aba. Sorakan penonton menggelegar. Tubuhnya bergerak secara otomatis namun terlatih, langkahnya ringan, posisi kaki stabil, tangan terangkat dengan teknik yang sempurna. Lawannya menyerang lebih dulu, tapi ia memutar tubuh, menghindar dengan cepat, lalu membalas dengan pukulan terukur yang menghantam tepat di sisi rusuk lawan.
Gerakan itu terasa alami. Akrab. Seperti... Sesuatu yang tertanam dalam otot dan tulangnya.
Suara peluit terdengar. Tangannya diangkat tinggi. Dan ia menang.
Bayangan lalu itu pecah seperti kepingan kaca rapuh.
Sky tersentak kembali ke dunia ghaib. Napasnya terasa lebih dalam… Dan lebih kuat. Ia menatap tangannya sendiri, membuka dan mengepalkannya perlahan. “Bela diri? Aku… Pernah ikut lomba?” gumamnya, setengah tidak percaya.
Salah satu penjaga ghaib kembali menyerang, tapi kali ini Sky bergerak berbeda. Ia memutar tubuhnya dengan lincah, menangkis dengan siku, lalu menendang tepat di bagian dada sosok itu. Penjaga itu terpental jauh, tubuhnya berubah menjadi serpihan asap hitam.
“Serius… Ini terasa terlalu mudah,” katanya sambil menghindari dua serangan sekaligus. “Oh… Jadi selama ini aku cuma lupa kalau aku keren.”
Satu penjaga mencoba menyerang dari belakang. Sky merunduk cepat, menarik lengan sosok itu, lalu memutarnya hingga terhempas ke tanah. Gerakannya bersih… Efisien… Penuh insting bertarung yang jelas bukan kebetulan.
Ia tersenyum miring. “Terima kasih, ingatan tubuh… Aku utang banyak sama kamu.”
Tiga penjaga tersisa bergerak bersamaan. Sky melompat, berputar di udara, menghantam satu-persatu dengan tendangan memutar, lalu mendarat dengan lutut menekan tubuh penjaga lain sebelum akhirnya menghantamkan pukulan terakhir yang membuat kabut gelap di sekitarnya bergetar keras.
Hening sesaat memenuhi ruang itu.
Sky menoleh ke arah dinding kabut yang memisahkannya dari Kiara. Ia bisa merasakan energi panas Bara di sisi lain… Dan aura Kiara yang semakin melemah meski tetap berjuang. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka… Tapi karena kekhawatiran yang terlalu nyata.
“Kamu pasti lagi sok kuat sendirian ya…” gumamnya pelan. “Dasar keras kepala.”
Ia melangkah mendekati dinding kabut. Tangannya menyentuh permukaannya yang dingin dan berdenyut. “Kiara… Dengar aku nggak?” suaranya pelan tapi tegas. “Aku di sini… Kamu nggak sendirian.”
Dari sisi lain, samar-samar ia merasakan getaran… Seolah Kiara masih bergerak, masih bertarung. Itu cukup membuatnya tersenyum kecil. “Bagus… Tetap bertahan… Aku bakal nyusul.”
Sky mundur beberapa langkah. Ia mengatur napasnya, merasakan energi baru yang berputar di tubuhnya, campuran kemarahan, kekhawatiran, dan tekad yang semakin kuat. Ia menatap sisa kabut yang mulai berputar liar di sekelilingnya, seolah mencoba menghalangi jalannya.
“Denger ya… Aku bukan arwah kecil yang bisa kalian lempar seenaknya,” katanya sambil menggeretakkan lehernya pelan. “Aku mungkin lupa masa laluku… Tapi satu hal yang aku ingat jelas… Jangan pernah nyakitin orang yang aku lindungi.”
Kabut bergetar… Seolah merespon kata-katanya.
Ia mundur cukup jauh, lalu berlari cepat menghantam dinding kabut dengan seluruh kekuatannya. Permukaannya retak. Retakan kecil menyebar seperti kaca yang mulai pecah. Sky mengerang kesakitan, tapi tak menyerah, ia kembali mundur dan menambah tenaga. Otaknya mencoba memusatkan ingatan baru itu. Suara sorakan, gerakan kaki, pukulan presisi ke dalam setiap dorongan.
Retakan itu semakin besar.
Di balik sana… Aura Kiara terasa semakin dekat… Semakin jelas… Seperti cahaya yang memanggilnya pulang.
Sky tersenyum tipis meski napasnya berat. “Tunggu aku… Kali ini aku yang bakal jaga kamu.”
Kabut mengaum… Dinding hitam bergetar keras… Dan retakan itu mulai memancarkan cahaya dari sisi lain. Pertanda bahwa batas yang memisahkan mereka tidak akan bertahan lama lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan ingatannya… Sky tidak hanya merasa seperti arwah yang tersesat…
Tapi seperti seseorang yang punya tujuan… Punya alasan untuk bertarung…
Dan punya seseorang yang ingin ia lindungi…
Meski mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.