NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16: Pesan singkat dan pengakuan

Pagi itu, Ella duduk di bangkunya, menatap ke arah jendela yang menampilkan langit biru yang bersih. Namun, pikirannya tidak sebersih langit itu. Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas mejanya bergetar singkat. Sebuah notifikasi pesan singkat (SMS) muncul. Ella tertegun saat melihat nama pengirimnya. Itu adalah nomor yang selama ini hanya ia simpan di daftar kontak tanpa pernah ia beri nama khusus, nomor yang dulu melambangkan sosok pangeran sekolah yang tak tersentuh oleh gadis sepertinya.

Rizki:

La, bisa ke belakang sekolah sore ini jam 4?

Di bawah pohon mahoni tempat kamu biasa menenangkan diri.

Tolong, jangan kasih tahu siapa-siapa. Termasuk Wawan.

Ella menatap layar ponselnya cukup lama, jemarinya terasa dingin. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, menciptakan irama yang tidak beraturan di balik dadanya. Ia sebenarnya sudah menduga hari ini akan datang. Sejak pengumuman nilai di mana Rizki dan Wawan secara ajaib berhasil menembus peringkat sepuluh besar, atmosfer di antara mereka bertiga terasa seperti bom waktu yang detaknya semakin keras dan nyata. Rizki dan Wawan telah membuktikan keseriusan mereka melalui perubahan drastis dalam prestasi akademik, dan sekarang, salah satu dari mereka datang untuk menagih jawaban yang selama ini Ella simpan rapat-rapat.

Pukul empat sore, suasana sekolah sudah mulai sepi dari keriuhan siswa kelas X dan XI yang pulang lebih awal. Semilir angin membawa guguran daun mahoni yang kering, menciptakan bunyi gemerisik yang lembut saat menyentuh aspal jalan setapak. Ella berdiri di sana, di tempat yang selama ini menjadi suaka pribadinya, tempat yang menjadi saksi bisu keberanian Wawan saat pertama kali melindunginya dari ejekan dunia luar.

Tak lama kemudian, sebuah bayangan muncul dari balik gedung olahraga. Rizki berjalan mendekat. Sore itu, ia tidak lagi memakai seragam sekolahnya yang rapi. Ia hanya mengenakan kaos hitam polos yang pas di tubuh atletisnya, memberikan kesan yang jauh lebih dewasa, bersih, dan jujur. Tanpa seragam, Rizki tampak melepaskan segala atribut kesombongan yang dulu pernah ia banggakan.

Rizki berhenti beberapa langkah tepat di depan Ella. Ia sempat terdiam selama beberapa detik, matanya menatap intens ke arah wajah Ella. Ada kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan saat melihat wajah Ella yang kini tampak begitu tenang, bersih, dan cantik alami tanpa lagi bersembunyi di balik beban kacamatanya yang dulu selalu ia kenakan.

"Aku sempat mikir kamu nggak akan datang," ujar Rizki membuka percakapan. Suaranya sedikit serak, diiringi senyum tipis yang sedikit canggung—sebuah ekspresi yang sangat manusiawi dari seorang pria yang biasanya selalu memiliki segalanya di bawah kendali.

"Aku bukan pengecut, Ki," jawab Ella dengan suara lembut namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. "Lagipula, aku tahu kamu nggak akan pernah berhenti atau membiarkanku tenang sebelum kita benar-benar bicara secara jujur dari hati ke hati."

Rizki menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara sore yang mulai mendingin. Ia menatap langit senja sejenak, seolah mencari kekuatan dari warna jingga yang memudar, sebelum kembali mengunci tatapannya pada mata Ella. Kali ini, tidak ada kilatan angkuh atau keinginan untuk mendominasi. Yang ada hanyalah kejujuran yang telanjang.

"La, aku tahu aku punya banyak salah. Aku punya daftar panjang kegagalan sebagai manusia di matamu," Rizki memulai, suaranya terdengar berat oleh penyesalan. "Aku adalah pengecut yang dulu bersembunyi di balik popularitas semu Lia karena takut status sosialku jatuh. Aku sombong karena jabatan ketua kelas, dan aku hampir saja melakukan kesalahan fatal yang mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan karena rasa cemburuku yang egois di gudang itu."

Rizki melangkah mendekat, satu langkah kecil yang terasa seperti lompatan besar melewati jurang pemisah di antara mereka.

"Tapi aku juga laki-laki yang berjuang mati-matian mengejar nilai, mengorbankan waktu tidurku hanya supaya nilaiku cukup untuk masuk ke kampus yang sama denganmu. Aku mau memperbaiki semuanya dari nol, La. Aku mau mulai dari awal, tanpa gengsi, tanpa status pangeran sekolah, dan tanpa sandiwara. Aku sayang sama kamu. Sangat sayang. Dan kali ini, aku nggak minta kamu jadi 'milikku' secara paksa, tapi aku minta izin untuk bisa berjalan di sampingmu secara terang-terangan di kampus nanti. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang paling berhak menjagamu."

Ella terdiam. Setiap kata yang keluar dari mulut Rizki terasa seperti pukulan lembut yang mengenai hatinya. Ia bisa merasakan ketulusan yang luar biasa dalam setiap getaran suara pria itu. Rizki yang berdiri di depannya sekarang adalah Rizki yang telah menanggalkan seluruh topeng popularitasnya demi menjadi laki-laki yang hanya ingin diterima oleh seorang gadis kutu buku.

Namun, di dalam benak Ella, bayangan sosok lain ikut berputar layaknya kaset lama. Bayangan Wawan. Wawan yang memeluknya dengan hangat saat ia menangis sesenggukan karena hinaan Lia. Wawan yang dengan berani memakan butiran nasi di bibirnya untuk melindunginya dari rasa malu. Dan Wawan yang selalu ada, tanpa syarat, tanpa harus diminta, dan tanpa perlu Ella mengubah dirinya menjadi apa pun.

"Ki..." suara Ella akhirnya keluar, meski sedikit bergetar. Ia menatap Rizki dengan tatapan yang sarat akan rasa hormat. "Aku sangat menghargai perjuangan kamu. Melihat kamu bisa masuk sepuluh besar sekolah itu bikin aku merasa bangga dan... terharu. Aku tahu betapa beratnya kamu mengubah kebiasaanmu demi mengejar ketertinggalan."

"Tapi?" Rizki memotong cepat, seolah ia sudah bisa menebak bahwa ada kata "tapi" yang selalu mengikuti setiap pujian Ella. Matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam, takut akan penolakan yang mungkin akan ia terima.

"Tapi aku butuh waktu," lanjut Ella, suaranya mengalun tenang di tengah semilir angin. "Jawaban ini nggak cuma soal aku suka siapa secara instan, tapi soal siapa yang hatiku butuhkan untuk masa depan yang akan kita jalani nanti. Aku sudah menebak hari ini akan datang, entah kamu atau Wawan yang akan menagih ini, tapi tolong... beri aku sedikit waktu lagi. Beri aku waktu sampai hari pendaftaran ulang di kampus nanti, saat kita benar-benar sudah tahu hasil pengumuman universitas."

Rizki menatap mata Ella cukup lama, mencoba mencari celah harapan di balik ketenangan gadis itu. Ada rasa pahit yang tersisa, namun akhirnya ia mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi memaksakan kehendak jika ingin mendapatkan hati Ella yang sesungguhnya.

"Oke. Aku akan tunggu. Setidaknya sekarang kamu tahu kalau aku nggak lagi sembunyi di balik siapa pun untuk menyatakan perasaanku," ujar Rizki dengan nada yang jauh lebih rendah.

Rizki kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan area belakang sekolah. Langkah kakinya terdengar tegas di atas aspal, meninggalkan Ella yang masih berdiri terpaku di bawah naungan pohon mahoni. Ella memejamkan mata, merasakan denyut jantungnya yang belum juga melambat.

Namun, saat Ella hendak melangkah untuk pulang, langkahnya terhenti secara tiba-tiba di ujung jalan setapak menuju parkiran motor. Di sana, di bawah remang cahaya sore, ia melihat sebuah motor yang sangat ia kenal terparkir dengan posisi yang seolah-olah sudah menunggu sejak lama.

Wawan.

Pria itu duduk santai di atas motornya, namun punggungnya tampak tegang. Helmnya ia letakkan di atas tangki motor, dan matanya menatap lurus ke arah pohon mahoni dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kecemburuan yang tertahan, rasa sakit, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Wawan tidak mendekat untuk menginterupsi, ia tidak datang untuk menguping. Ia hanya ada di sana, menjadi saksi bisu bahwa saingannya baru saja menyatakan perang terakhir secara resmi.

Wawan menatap Ella dari kejauhan. Tidak ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya, namun sorot matanya seolah bicara lebih banyak dari ribuan kalimat. Ia hanya diam, memberikan ruang bagi Ella untuk bernapas, seolah tahu bahwa beban di pundak gadis itu kini semakin berat karena harus memilih di antara dua pria yang telah menyerahkan segalanya demi dirinya. Sore itu, sekolah yang mulai sepi menjadi saksi awal dari sebuah ketegangan baru yang akan mencapai puncaknya

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!