"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24
"Oh, jadi benar! Jadi rupanya begini kelakuan seorang CEO yang di—"
"Papa, dengerin dulu!"
"Diam, Keyla!" bentak Baskoro. Ia beralih pada Arlan. "Saya pikir Anda adalah pria yang matang, Arlan. Tapi apa ini? Anda menyerang seorang mahasiswa di depan umum? Anda tau berapa banyak mata yang melihat? Nama baik keluargaku taruhannya!"
Dengan wajah tenang, Arlan selangkah maju mendekat ke hadapan Baskoro. "Sayatidak menyerangnya tanpa alasan, Pak Baskoro. Pria itu sudah melampaui batas kesabaran saya terhadap Keyla."
"Batas apa? Dia teman kuliahnya! Dia membantu Keyla!" seru Baskoro, suaranya naik satu oktav. "Siska mengirimkan video ini dan bilang bahwa Anda adalah pria temperamental yang tidak stabil untuk menjaga Keyla!"
Keyla mendengus kasar. "Tante Siska lagi? Papa beneran mau jadi boneka dia selamanya?"
"Keyla, jaga bicaramu!"
"Nggak, Pa! Kali ini Papa yang harus jaga pendengaran Papa dari racun Tante Siska!" Keyla merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk hitam. "Papa mau bukti? Ini buktinya. Ini alasan kenapa Om Arlan harus bertindak tegas di hotel tadi."
Baskoro menatap benda kecil itu dengan kening berkerut. "Apa ini?"
"Rekaman CCTV. Rekaman yang membuktikan bahwa Tante Siska sengaja menyewa orang untuk mengambil foto aku dan Om Arlan dari sudut yang menjijikkan," jawab Keyla. "Dan Papa tau siapa yang kasih flashdisk ini ke aku? Vino. Pria yang Papa bela tadi."
Arlan melirik Keyla, ia sedikit terkejut melihat keberanian gadis itu. Ia tau Keyla cerdik, tapi ia tidak menyangka Keyla akan seberani ini mengonfrontasi ayahnya sendiri di puncak kemarahan.
"Vino memberikan ini?" tanya Baskoro, suaranya sedikit melunak di tengah keraguannya yang mulai muncul.
"Iya, tapi dengan syarat," Keyla melangkah mendekat ke arah ayahnya. "Dia minta aku nemenin dia ke pesta itu sebagai imbalan. Dia manfaatin situasi saat aku lagi panik karena Papa marah. Om Arlan tau itu, makanya dia cemburu dan marah. Tapi dia nggak mukul Vino, Pa. Dia cuma melindungi aku dari pria yang mau ambil kesempatan di tengah masalah kita!"
"Pak Baskoro, saya minta maaf atas keributan yang terjadi. Saya akui saya terpancing emosi. Tapi sebagai pria, saya tidak bisa membiarkan siapa pun menjadikan Keyla sebagai bahan negosiasi atau mainan. Jika itu membuat saya terlihat seperti preman di mata Anda, saya terima. Tapi saya tidak akan mengubah tindakan saya jika hal itu terulang lagi." ucap Arlan mengambil alih pembicaraan.
"Siska... Dia benar-benar merencanakan ini semua." gumam Baskoro.
"Bukan cuma Tante Siska, Pa. Vino juga," tambah Keyla. "Dia sengaja mancing keributan supaya ada orang yang bisa rekam dan kirim ke Papa. Mereka kerja sama buat misahin aku sama Om Arlan."
Baskoro terdiam sejenak, menatap Arlan dengan tatapan yang jauh lebih tenang, namun tetap berwibawa. "Jadi, Anda melakukan itu untuk melindungi Keyla dari pelecehan emosional?"
"Saya melakukannya karena saya mencintai putri Anda, Pak Baskoro," jawab Arlan tegas. Kalimat itu membuat Keyla menahan napas. "Dan cinta terkadang membuat pria yang paling rasional sekalipun menjadi impulsif."
Baskoro menghela napas panjang, lalu duduk di sofa tunggalnya. "Saya merasa seperti orang bodoh. Terombang-ambing oleh omongan mantan istri orang lain."
"Papa nggak bodoh, Papa cuma terlalu sayang sama aku," Keyla berlutut di samping ayahnya, menggenggam tangannya. "Makanya, tolong... jangan larang Om Arlan lagi. Dia satu-satunya orang yang jujur sama aku."
Baskoro menatap Keyla, lalu beralih pada Arlan. "Arlan, saya minta maaf atas tuduhan saya. Tapi saya tetap tidak suka dengan keributan. Nama baik tetaplah nama baik."
"Saya akan mengurusnya, Pak," sahut Arlan. "Besok, tim hukum saya akan memproses pencemaran nama baik ini. Vino dan Siska tidak akan punya kesempatan untuk menyebarkan video itu lebih luas. Saya pastikan itu."
"Baiklah," Baskoro mengangguk. "Tapi untuk Keyla, Papa tetap kasih hukuman. Kamu dilarang keluar malam selama dua minggu, kecuali untuk urusan kuliah. Dan untuk Anda, Arlan... tolong kendalikan emosi Anda di depan publik. Saya tidak mau melihat video Anda berkelahi lagi."
"Saya mengerti, Pak," ucap Arlan patuh.
"Dua minggu dikurung nggak apa-apa, asalkan Om Arlan tetep boleh mampir!"
"Mampir boleh, tapi tidak lebih dari jam sembilan malam," potong Baskoro dengan tatapan tajam.
Setelah suasana mereda, Arlan berpamitan, dan Keyla mengantarnya sampai ke teras rumah.
"Om..." panggil Keyla saat Arlan sudah di depan pintu mobilnya.
Arlan berbalik. "Ya?"
"Makasih ya. Makasih udah belain aku, dan makasih udah bilang... kalau Om cinta sama aku di depan Papa," pipi Keyla merona merah, teringat pengakuan Arlan di dalam tadi.
"Aku hanya mengatakan kebenaran. Dan mengenai hukumanmu... dua minggu tanpa keluar malam artinya dua minggu aku harus lebih sering makan malam di sini bersama Papamu. Kamu siap melihatku diinterogasi tiap malam?" tanya Arlan.
"Siap banget! Nanti aku masakin ketoprak spesial buat Om." jawab Keyla penuh semangat.
Arlan tersenyum, "Tidurlah. Ini malam yang panjang. Jangan lewatkan kelas pagimu besok."
"Siap, Om Sayang! Hati-hati di jalan ya!"
Arlan masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan perlahan meninggalkan halaman rumah Keyla. Saat ia menyetir menjauhi gerbang, senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi serius. Ia merogoh ponselnya dan menekan nomor asisten pribadinya.
"Maman? Besok pagi jam delapan, siapkan pengacara terbaik perusahaan. Kita akan memberikan pelajaran pada Vino dan Siska yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup. Dan pastikan beasiswa pria bernama Vino itu ditinjau ulang. Aku ingin dia tau bahwa bermain dengan milik Arlan Dirgantara ada harganya."