NovelToon NovelToon
THE BROTHER'S SECRET DESIRE

THE BROTHER'S SECRET DESIRE

Status: tamat
Genre:Pembantu / Cinta Terlarang / Action / Tamat
Popularitas:9.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Area khusus Dewasa

Di mansion kediaman keluarga Corris terdapat peraturan yang melarang para pelayan bertatapan mata dengan anak majikan, tiga kakak beradik berwajah tampan.

Ansel adalah anak sulung yang mengelola perusahaan fashion terbesar di Paris, terkenal paling menakutkan di antara kedua saudaranya. Basten, putra kedua yang merupakan jaksa terkenal. Memiliki sifat pendiam dan susah di tebak. Dan Pierre, putra bungsu yang sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir. Sifatnya sombong dan suka main perempuan.

Edelleanor yang tahun ini akan memasuki usia dua puluh tahun memasuki mansion itu sebagai pelayan. Sebenarnya Edel adalah seorang gadis keturunan Indonesia yang diculik dan di jual menjadi wanita penghibur.

Beruntung Edel berhasil kabur namun ia malah kecelakaan dan hilang ingatan, lalu berakhir sebagai pembantu di rumah keluarga Corris.

Saat Edell bertatapan dengan ketiga kakak beradik tersebut, permainan terlarang pun di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa namamu?

Ansel tersenyum tipis melihat ekspresi Edel yang panik dan salah tingkah. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ada pelayan yang membuat hatinya merasa geli, bahkan ingin tertawa. Biasanya ia malah merasa terganggu jika ada pelayan mendekatinya lebih dari lima detik. Tapi gadis ini... seperti pengecualian.

"Diam di sini," ulangnya dengan suara pelan namun tegas. Setelah memastikan Edel masuk sempurna ke dalam lemari, Ansel menutup pintu perlahan dan melangkah ke arah pintu kamar.

Saat ia membukanya, sosok perempuan cantik berambut pirang keriting menyapanya dengan senyum manis.

"Kau membuatku menunggu, Ansel. Aku pikir kita akan pergi makan siang bersama? Kau sudah janji pada paman dan bibimu akan menemaniku selama aku di sini."

Ansel mengangkat alis dengan datar.

"Aku lupa, Colette."

"Lupa?" Suara perempuan bernama Colette itu terdengar agak tidak senang. Colette adalah sepupu Corrin bersaudara. Gadis tomboy dan dan suka mengatur.

"Aku sudah menunggumu di bawah. Kau tahu betapa aku benci menunggu. Kau itu sepupu paling menyebalkan di antara yang lain!"

Ansel terkekeh.

"Kalau aku menyebalkan, cari yang lain saja. Kebetulan aku berjanji pada orangtuamu karena terpaksa." balas Ansel santai lalu masuk ke dalam kamar.

Colette makin kesal, gadis itu

melangkah masuk ke dalam kamar Ansel dengan anggun, aroma parfumnya langsung memenuhi ruangan.

"Aku tidak menyuruhmu masuk Colette." Colette mencibir, tidak peduli dengan perkataan Ansel. Laki-laki itu memang tidak suka orang lain masuk ke dalam kamarnya, bahkan saudaranya sekalipun. Pembantu bisa masuk karena mereka harus membersihkan kamarnya. Namun tidak bisa masuk saat ada dia.

"Kau benar-benar tidak asyik. Kau yakin tidak ingin menemaniku keluar? Aku ingin bertemu dengan teman perempuanku. Dia adalah primadona di kampusku, siapa tahu saja kau tertarik padanya. Dia juga bilang dia sangat mengagumimu."

Ansel hanya menatapnya sebentar sebelum berbalik mengambil buku lain dari rak, seolah tidak terpengaruh oleh perkataan perempuan itu. Tidak tertarik sama sekali. Kalau bicara soal wanita, ada seseorang yang lebih menarik perhatiannya sekarang.

Di dalam lemari, Edel menahan napas. Ia bisa mendengar dengan jelas suara wanita dari luar. Setiap langkah kaki, setiap nada bicara, semuanya membuat jantungnya berdetak makin cepat. Ia takut kalau sampai tertangkap. Bagaimana kalau lemari ini terbuka? Bagaimana kalau dia bersin atau salah gerak? Atau yang lebih buruk, bagaimana kalau wanita itu tiba-tiba ingin mengecek penampilannya di depan cermin lemari?

Astaga, jangan sekarang, batinnya.

Tapi bukannya tenang, Edel justru makin panik saat mendengar suara tumit sepatu mendekat ke arah lemari. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Langkah Colette terdengar makin mendekat. Tumit sepatunya menjejak lantai kayu dengan ritme yang menggema di telinga Edel seperti genderang kematian. Jantungnya berdetak cepat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dan seluruh tubuhnya terasa kaku.

"Kau masih menyimpan parfum paman di sini?" tanya Colette sembari membuka salah satu laci kecil di dekat lemari.

Edel menggigit bibir. Ia menahan napas begitu erat hingga dadanya nyaris meledak. Kalau Colette membuka lemari, tamatlah riwayatnya.

"Jangan sentuh apapun," suara Ansel terdengar sedikit lebih keras, membuat Colette terhenti.

"Aku hanya melihat-lihat. Lagipula, ini kamar sepupuku, bukan kamar rahasia kerajaan," Colette mendongkol. Ia membalikkan badan, tangannya terulur ke gagang lemari, tepat di tempat Edel bersembunyi.

Ansel bergerak cepat. Dalam dua langkah panjang, ia sudah berdiri di depan lemari, menepis tangan Colette dengan halus namun tegas.

"Jangan macam-macam Colette," katanya pelan, tapi sorot matanya tajam.

"Kau tidak diundang untuk mengobrak-abrik barang-barangku."

Colette mendengus, menatap Ansel dengan mata sempit.

"Kau ini ... makin lama makin aneh, Ansel. Mengesalkan sekali.

"Apa karena aku tidak menyambutmu seperti pangeran dalam dongeng?" sindir Ansel,  menyilangkan tangan di dada dengan senyum sinis. Collette tidak manja, tapi menyebalkan saja menurutnya.

Colette melemparkan rambut pirangnya ke belakang dengan angkuh.

"Kalau kau berpikir aku datang untuk perhatianmu, kau terlalu percaya diri."

"Bagus kalau begitu. Sekarang kau bisa keluar dari kamarku," balas Ansel datar.

Untuk sesaat, Colette hanya memandangi sepupunya itu. Tapi pada akhirnya, ia mendesah keras dan berbalik.

"Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti paman marah karena kau mengabaikanku."

Ansel tidak menjawab. Tidak peduli juga. Ia hanya membuka pintu kamar dan menunggu sampai Colette benar-benar keluar. Saat suara langkah tumit itu menjauh dan akhirnya menghilang di ujung lorong, Ansel menutup pintu perlahan dan menguncinya.

Hening. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Ansel berbalik dan berjalan kembali ke lemari. Dengan satu gerakan lembut, ia membuka pintu dan mendapati Edel masih dalam posisi membungkuk, wajah pucat dan mata membelalak.

"Keluarlah," katanya pelan.

Edel butuh beberapa detik sebelum berani bergerak. Ia keluar dari lemari dengan tubuh gemetar, berdiri dengan kaku sambil merapikan rok dan apron-nya.

"T-t-terima kasih, tuan muda... maaf... Aku nggak ada ma-maksud ..."

"Maksud apa?" Ansel maju lebih dekat. Tatapannya tajam dan intens. Saat melihat wajah polos gadis itu, entah kenapa Ansel seakan tertarik untuk semakin menggodanya.

"Ma-maksud ..." Edel memutar otaknya. Kenapa laki-laki ini membuat bulu kuduknya berdiri ya? Apa jangan-jangan larangan yang mengatakan tidak boleh menatap mata majikan karena ini. Karena setiap orang yang menatap para anak majikan itu akan gugup seperti yang dia rasakan sekarang.

Ketika gadis itu mengangkat wajahnya lagi, laki-laki tinggi besar itu masih menatapnya intens. Edell terpaku sesaat melihat mata yang begitu indah. Orang bule memang indah-indah sekali mata mereka.

Ansel memperhatikan ekspresi Edel yang terlihat bimbang antara ingin lari atau tetap berdiri di tempat. Pipinya memerah, tangannya menggenggam apron erat-erat, dan bola matanya bergerak gugup. Sangat berbeda dari wanita-wanita yang biasa Ansel temui, yang penuh percaya diri, pandai bicara, dan sering kali terlalu berusaha memikatnya.

Tangan Ansel terangkat menyentuh dagu gadis yang berhasil memikatnya hari ini.

"Siapa namamu?" tanyanya. Nada bicaranya pelan, suaranya laki sekali.

"E-Edell." jawab Edell. Ia berusaha tidak menatap pria itu tapi Ansel tidak memberinya kesempatan untuk menghadap ke arah lain.

Hening beberapa detik, lalu Edell kaget saat tubuhnya di dorong hingga ia terbaring di sofa besar dalam kamar tersebut. Tak hanya itu saja, tuan muda pertamanya

ikut menunduk, menatapnya dari atas dengan posisi satu tangan bertumpu di sandaran sofa. Wajah mereka hanya terpisah beberapa inci, dan napas Ansel terasa hangat menyentuh pipi Edell

Edell gemetar, wajahnya makin memerah. Ia ingin bangkit, tapi tubuh Ansel menghalangi. Tidak menyentuhnya, namun cukup dekat untuk membuat jantungnya tak karuan.

Tak lama kemudian Edell melihat pria itu tersenyum miring dan bangkit sehabis mengungkungnya. Pria itu duduk di ujung sofa.

"Pergilah." katanya datar tanpa menatap Edell.

Edell langsung bangkit detik itu juga dan keluar secepat kilat dari kamar tersebut.

1
Eti Alifa
sebetulnya yg liat pertama kali Edel kan Ansen ya...
Eti Alifa
Denis dpt informasi dr mana ya....bisa seakurat itu.🤭
Eti Alifa
aduh angel...angel....angel...😁
Eti Alifa
aduhh gmn nihh klo kamar bersebelahan🤭
Eti Alifa
wahh basten keren juga.
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget thor cinta segitiga, atau segiempat apa nalah segilima.
Eti Alifa
klo q kok mending pilih tuan muda pertama ya....
Eti Alifa
wahh angel iki, pilih sopo ngkone🤭
Siti Samaniah
malu malu tp mauuuuuu😃😃😃
Eti Alifa
wadauuu ketiga putra Corris semuanya tertarik sama Edel.
Yulvita Darnel
tangannya jangan sampai nyasar Harvest 🤣🤣🤣🤣
Dian Yuli
cerita ini durasinya sangat pnajang, tp ga bosenin dibaca, ga ada halaman yg di skip,menyenangkan ceritanya thor
Anonim
Berarti para putri raja dan suami mereka sudah pada tahu kalau Azura seorang putri licik.

Mereka pada merayakan kemenangan secara sederhana. Tanpa kehadiran Xavier.

Suasana hangat penuh kebahagiaan memenuhi halaman kediaman Pierre dan Mirabel.

Sabella menyayangkan Xavier tidak ada diantara mereka. Bahkan semua merasa ikut prihatin dengan nasib Xavier.
Anonim
Luis sudah dihukum penggal di depan semua rakyat kerajaan barat.

Kalimat selanjutnya typo kali.

Kejahatan Luis sudah terlalu fatal, nemang pantas di hukum mati agar semua rakyat LELAH ???? Kok lelah.
Anonim
Azura telah menipu semua orang dengan pura-pura diracuni orang. Tujuannya untuk mendapat kepercayaan dari Xavier.

Azura sadar kalau Xavier sangat pintar, dan mungkin sudah curiga.

Azura mengemban tugas dari ayahnya. Perjodohan politik yang ditawarkan ayahnya disambut baik oleh raja barat, ayahnya Xavier.

Semua pembicaraan Azura dengan Rael ternyata didengar oleh Xavier yang berada di sekitar situ.

Xavier sangat kecewa dan rasa marah meledak di dadanya.

Bagi Xavier kini Emely yang ia kenal sudah mati. Yang tersisa hanyalah putri Azura wanita licik yang rela menyakiti diri sendiri demi ambisi.

Xavier tetap menjalani pernikahan demi kerajaan, tapi hatinya sudah tertutup rapat.
Anonim
Azura keluar menuju kediaman tamu yang sudah di siapkan khusus untuk sang putri. Xavier tanpa pamit ikut keluar.

Raja mengucapkan selamat atas pernikahan Denis dan Akari. Luis yang telah menyerang kediaman Denis dengan diam-diam, akhirnya pangeran jahat itu tertangkap. Raja memberi hukuman pada Luis - kepalanya di penggal di depan semua rakyat kerajaan.

Azura berjalan dengan kepala utusan Kerajaan barat, tidak menyadari kalau sedang diikuti Xavier. Amarah dan rasa penasaran Xavier bercampur aduk di dadanya, mendesak untuk tahu kebenarannya di balik segala kepura-puraan yang selama ini dia lihat.
Ko
Hahahaha... Aku tau perempuan ini seorg penipu yg pandai berpura pura😏😏
Ko
Sepertinya ketakutan emely ini dibuat buat...🤔Okay aku mau baca bab seterusnya....
Ko
Aku takut nnt terjadi spt ibunya sang ratu yd sdh diceraikan itu. Pura2 mencintai xavier tp ada agenda disebaliknya. Setakat ini masih belum percaya sama emely.. OK next chapter.. 🤭
Ko
Aku cuma ragu kalo emely itu org suruhan Luis.. Bisa jadi emely cuman pura2 saja. Ttg diracun itu mmg bener & mungkin saja disengajakan krn mrk tau Denis pasti boleh merawat & kenal jenis racun yg ada dlm tubuh emely. Sgt2 diragui niat emely ini sebenarnya 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!