NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Sumber Kebahagiaan Harian

Di tempat tinggal sederhananya, Addam tampak terus menatap bingkai foto yang selama ini selalu menemaninya. Potret David dan Astrid yang tengah tersenyum itu adalah salah satu alasannya untuk terus selalu mengumpulkan karma baik sekaligus sumber kebahagian hariannya.

“Yah...” Addam memusatkan pandangannya pada potret David, “Addam janji bakal temuin Astrid gimana pun caranya.”

Pada momen itu, tiba-tiba saja sebuah ide gila muncul dalam kepala Addam. Pria itu beringsut dari tempatnya dan menghambur ke arah luar, menuju kediaman Naya.

Tok! Tok!

“Nay...!” panggil Addam.

Tak lama kemudian, Naya muncul dari balik pintu. Gadis itu bahkan terlihat belum mengganti pakaiannya. “Kak Addam? Ada apa, Kak?”

“Nay. Sorry kalau mendadak. Aku ada rencana buat selidikin kabar si Irvan-Irvan itu...”

Kedua alis Naya tertaut. “Maksud Kak Addam?”

“Iya, Nay. Aku punya rencana buat dateng langsung ke kampung halaman dia. Mumpung besok kantor libur juga. Kamu bisa ikut?” Addam menatap kedua netra coklat Naya.

“Mmm... Rencananya kapan, Kak?”

“Kalau gak ada kendala, besok atau lusa, Nay.”

“Oh. Oke Kak. Boleh, aku ikut,” jawab Naya tanpa ragu.

“Oke Nay. Sorry mendadak ya Nay...” Addam menggaruk ujung alisnya.

“It’s okay, Kak. Malah rencananya bagus banget.” Naya tersenyum hingga muncul kerut di ujung kedua matanya.

“Eh. Aku pamit ya, Nay. Ngasih tahu itu aja, sih. Bye-bye, Nay!”

“Hm, iya Kak Addam. Bye.”

Addam lalu berbalik dan segera memasuki tempat tinggalnya kembali. Begitu juga dengan Naya. Gadis itu kembali memasuki ruangan tempat tinggalnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya; berkutat dengan laptop dan sejumlah banyak naskah yang menunggu ditinjau.

#

Di ruangan yang sering ditinggalkan ‘penghuninya’ itu, tampak Wulan dan Gilang tengah duduk terdiam menatap satu set dokumen di atas meja.

Malam itu, mereka mendapat perintah untuk kembali ke ruang kerja mereka di kantor.

Cukup lama setelahnya, Bagus datang ke ruangan itu dengan tergesa disusul Mahesa yang mengekor di belakangnya.

“Gimana, laporannya?”

Wulan dan Gilang terlihat saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan Bagus.

“Mobil itu pernah dilaporkan hilang oleh pemiliknya sekitar hampir empat bulan lalu. Artinya, mobil yang kita temukan adalah mobil curian, Pak,” kata Gilang sambil menyerahkan dokumen itu pada Bagus.

“Hmm… Terus yang punya mobil sudah dikasih tahu?” tanya Bagus sambil menerima dokumen yang Gilang berikan.

“Pemiliknya dikabarkan meninggal dunia, Pak,” jawab Gilang.

“Meninggal?” sambar Mahesa dengan tatapan penuh arti.

Melihat Mahesa yang tampak sangat terkejut, seketika itu dalam benak Bagus muncul banyak sekali pertanyaan. Tapi sebelum Bagus mengutarakan isi kepalanya, Panji keburu datang memasuki ruangan itu.

“Semuanya. Perhatikan!” katanya tegas.

Arya dan Revi juga terlihat memasuki ruangan itu tak lama setelah Panji mengatakan hal itu.

“Baiklah. Yang mau saya katakan; penyelidikan yang sudah kita lakukan sampai sekarang sebaiknya kita simpan kerahasiaannya dengan baik. Usahakan tidak boleh sampai ada pihak lain yang mengetahui hasil usaha kita, paham?” Panji mengedarkan pandangannya pada semua orang yang berada di ruangan itu.

“Pak, maaf,” Revi mengangkat tangannya, “kemarin sore Pak Ketua sempat tanya ke saya soal progress penyelidikan…”

“Terus, kamu jawab apa?” Panji menyilangkan tangan di dada.

“Saya jawab; penyelidikan kita masih pada proses pengumpulan informasi dari saksi-“

“Kamu gak bilang kita buka dua kasus sebelumnya, kan?” Panji memotong ucapan Revi.

“Tidak, Pak. Karena waktu itu Pak Ketua memang hanya menanyakan progress kasus terbaru…”

Panji tampak menghela nafas lega. “Syukurlah,” katanya pelan. “Oh iya, sekarang ada temuan apa lagi?”

“Sekarang Gilang sama Wulan lagi cek data transaksi kartu tol elektronik yang ditemukan di TKP, Pak,” kali ini Bagus yang membuka suara.

“Hmm… Ya sudah. Sekarang kalian proses secepat yang kalian bisa. Ingat, Pak Ketua ngasih tenggat waktu ke kita hanya satu minggu. Kalau kamu mau susurin rute penggunaan kartu tol, silakan, lakukan apapun yang mempercepat penyelidikan,” Panji berbalik lalu melangkah keluar ruangan.

“Siap, Pak,” kata Bagus dan timnya kompak.

Dengan maksud ingin menuntaskan rasa penasarannya, Bagus berjalan mendekat ke arah Mahesa. “Sa. Tadi saya perhatiin, kamu kaget banget denger pemilik mobilnya udah meninggal. Kenapa?”

Mahesa mendelik. “Ya saya kaget, Pak. Pemilik mobilnya meninggal tanpa tahu mobilnya dipakai untuk aksi kejahatan…”

Bagus mengangguk pelan. “Kirain kenapa…”

Mahesa hanya terlihat tersenyum dengan canggung.

#

Malam itu, Mahesa kembali menuju apartemennya dengan kepala yang terasa berat dan sangat penuh.

Beberapa waktu lalu ketika Mahesa masih di kantornya, ia berinisiatif mencari tahu siapa gerangan pemilik mobil yang melaporkan kehilangan kendaraannya itu.

Entah kenapa, firasatnya seperti memaksanya untuk melakukan hal itu.

Lalu tanpa diduga, pemilik mobil yang melaporkan kehilangan kendaraannya itu bernama Irvan Davidson. Ya. Dia adalah Irvan yang sama dengan Irvan yang Mahesa, Addam dan Naya curigai.

Dari sana, Mahesa seperti terus larut dalam isi kepalanya sendiri selama perjalanan pulang.

Saking sibuknya Mahesa bekerja dengan timnya, ia baru bisa memainkan ponselnya setelah tiba di apartemen. Lalu ketika pria itu melihat pesan masuk, terlihat jelas bahwa saat itu Mahesa merasa sangat terkejut.

Addam || Sa, gue sama Naya mau ke kampung Irvan temennya Astrid. Kita pengen selidiki langsung ke sana.

“Nah! Gitu...!” serunya sesaat setelah membaca pesan yang diterimanya dari Addam.

“Oke, Dam. Hati-hati. Pokoknya lu kabarin gue terus. Tadinya gue pengen ikut lo, Dam, tapi kerjaan gue lagi ribet-ribetnya...” kata Mahesa sambil mengetik pesan balasan untuk Addam.

Baru saja Mahesa akan meletakkan kembali ponselnya, benda pipih itu keburu berbunyi karena sebuah panggilan yang masuk.

“Ya. Hallo, Bro? Ada apa?” Mahesa menjawab panggilan itu tanpa banyak basa-basi.

Hardi: “Bang. Gue udah nemu koordinat akun itu, tapi kayaknya ada yang aneh. Lokasi terakhir sinyal akun itu ada di …”

Mendengar jawaban Hardi, seketika kedua mata Mahesa membulat. Ia jelas merasa sangat terkejut.

Mahesa: “Beneran, Bro? Gak salah?”

‘Itu kan sekitar tempat tinggalnya Addam’, lanjut Mahesa dalam hatinya.

Hardi: “Iya, Bang. Tapi sorry gue gak bisa ngotak-ngatik akunnya, Bang. Cuma bisa ngelacak lokasinya aja...”

Mahesa: “Hmm… Ya udah, Bro. Gak apa-apa. Oh iya, gue bisa minta tolong lagi gak, Bro?”

Hardi: “Minta tolong apa tuh?”

Mahesa: “Gue pengen minta tolong lo cariin orang. Namanya Martin. Datanya nanti gue kirim di chat…”

Hardi: “Ooh. Sip, Bang!”

Mahesa: “Makasih banyak ye, Bro. Gue jadi repotin, nih.”

Hardi: “Eh, santai Bang… Itung-itung ngasah skill gue lagi aja ini.”

Sambungan panggilan telpon itu lalu berakhir.

Informasi yang Hardi katakan semakin membuat Mahesa yakin bahwa orang yang Addam dan Naya cari sebenarnya begitu dekat dengan mereka. Selain itu, kecurigaannya dengan temuan kalung yang identik dari setiap lokasi-lah yang menuntunnya untuk menelusuri kembali kisah lama dibalik petunjuk itu.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!