NovelToon NovelToon
Hello Tenggara

Hello Tenggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

KEHADIRAN ORANG TUA TENGGARA YANG DINANTI

Hari Minggu pagi, suasana di rumah Tenggara sangat meriah. Nenek Fatimah dan Kakek Sulaiman sudah bangun sejak subuh, sibuk mempersiapkan berbagai hidangan khas Sulawesi Selatan. Tenggara sendiri sedang membersihkan halaman rumah dan menata dekorasi dengan hati-hati, sambil sesekali melihat ke arah jalan dengan ekspresi penuh harapan.

"Kamu sudah melihat jam berapa kali ya, Nak?" tanya Nenek Fatimah dengan senyum ramah sambil mengaduk gulai ikan cakalang yang sudah mengeluarkan aroma menggugah selera. "Bapak dan ibumu pasti akan datang tepat waktu saja."

Tenggara tersenyum malu sambil melihat jam tangan. "Maafkan aku Nenek, aku hanya sangat merindukan mereka. Sudah hampir tiga tahun tidak bertemu langsung."

Setelah kematian adiknya beberapa tahun yang lalu, orang tua Tenggara – Bapak Daeng Raja dan Ibu Yuliana Daeng Mappanyukki – harus bekerja jauh di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membuka cabang usaha perikanan mereka di Malaysia. Meskipun mereka selalu berkomunikasi melalui panggilan video setiap minggu, rasa rindu tetap terasa mendalam di hati Tenggara.

Sekitar pukul sepuluh pagi, suara mobil yang dikenal Tenggara terdengar dari kejauhan. Dia langsung berlari ke gerbang rumah dengan hati yang berdebar kencang. Sebuah mobil putih melewati gerbang dan berhenti di halaman rumah. Pintu mobil terbuka dan seorang pria dengan tubuh tegap namun wajah yang lebih tua muncul pertama kali, diikuti oleh seorang wanita cantik dengan senyum hangat yang sudah sangat akrab di hati Tenggara.

"Bapak! Ibu!" teriak Tenggara dengan suara penuh emosi. Dia langsung berlari dan memeluk kedua orang tuanya dengan erat, tidak bisa menahan air mata bahagia yang mengalir di pipinya.

"Bapak dan ibu juga sangat merindukanmu, anakku," ucap Bapak Daeng Raja dengan suara yang sedikit bergetar. "Kamu sudah tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan tangguh ya."

Ibu Yuliana menyentuh wajah Tenggara dengan lembut, menyeka air matanya. "Kamu kurus sedikit ya, nak. Sudah makan dengan teratur tidak?"

Setelah pelukan panjang yang penuh cinta, mereka masuk ke dalam rumah dan disambut dengan hangat oleh Nenek Fatimah dan Kakek Sulaiman. "Selamat datang kembali di rumah, anakku," ucap Kakek Sulaiman dengan suara penuh kebahagiaan sambil memberikan jempol untuk disambut oleh Bapak Daeng Raja.

"Saya sudah sangat merindukan rumah dan masakan ibunda," ucap Bapak Daeng Raja dengan rasa hormat. "Semoga ibunda dan ayah sehat selalu."

Saat mereka sedang berbincang di ruang tamu, pintu gerbang rumah terbuka dan Khatulistiwa masuk dengan membawa keranjang penuh dengan kukis buatan tangan ibundanya. Dia langsung terkejut melihat orang tua Tenggara yang sedang duduk di ruang tamu.

"Maafkan aku, saya tidak tahu kalau ada tamu penting," ucapnya dengan sedikit terkejut dan malu.

Namun Ibu Yuliana langsung berdiri dan mendekat dengan senyum ramah. "Kamu pasti Khatulistiwa ya? Tenggara sudah sering bercerita tentangmu di panggilan video kita. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu secara langsung."

Khatulistiwa merasa wajahnya memerah namun segera menyambut dengan sopan. "Salam hormat Bapak dan Ibu. Saya membawa sedikit oleh-oleh dari ibunda saya."

"Bangga sekali melihatmu, anak cantik," ucap Bapak Daeng Raja dengan senyum hangat. "Tenggara telah memberitahu kami tentang semua hal yang kamu lakukan – bagaimana kamu membantu dia melalui masa-masa sulit dan bagaimana kamu sama-sama mencintai budaya daerah kita."

Mereka semua kemudian berkumpul di meja makan yang sudah dihiasi dengan berbagai hidangan lezat. Selama makan siang, orang tua Tenggara menceritakan tentang pengalaman mereka di luar negeri – bagaimana usaha mereka berkembang dengan baik, bagaimana mereka selalu merindukan rumah dan makanan khas daerah, serta bagaimana mereka selalu membanggakan pencapaian Tenggara yang mereka dengar melalui panggilan video setiap minggu.

"Kita telah memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan tidak akan pergi lagi," ucap Ibu Yuliana dengan suara penuh kebahagiaan. "Usaha kita di Malaysia sudah stabil dan bisa dikelola oleh manajer yang kita percayai. Kita ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan membantu mengembangkan usaha di sini juga."

Tenggara merasa sangat senang mendengarnya. "Benarkah? Itu adalah kabar terbaik yang pernah aku dengar sepanjang hidupku."

Bapak Daeng Raja kemudian melihat ke arah Khatulistiwa dengan ekspresi yang penuh rasa hormat. "Kami telah mendengar tentang rencana kalian berdua, dan kami sangat mendukungnya. Tenggara telah menemukan orang yang tepat untuk hidup bersama, dan kami sangat senang bisa melihat bagaimana kamu mencintainya dengan tulus."

"Kita ingin mengadakan acara resmi untuk memperkenalkanmu kepada keluarga besar kita dan menyepakati rencana pernikahan kalian berdua," tambah Ibu Yuliana dengan senyum hangat. "Kita ingin memastikan bahwa kalian berdua mendapatkan awal yang baik dalam hidup bersama."

Khatulistiwa merasa hatiinya penuh dengan rasa syukur. "Terima kasih banyak atas dukungan dan penerimaan Bapak dan Ibu. Saya sangat menghargainya."

Setelah makan siang, Bapak Daeng Raja mengajak Tenggara dan Khatulistiwa berjalan-jalan ke belakang rumah, di mana terdapat lahan kosong yang cukup luas. "Kita punya rencana untuk membangun rumah baru di sini," ucapnya dengan penuh semangat. "Rumah yang bisa menampung keluarga besar kita dan juga bisa difungsikan sebagai tempat untuk mengembangkan usaha kerajinan dan makanan tradisional yang kalian rencanakan."

"Kita bisa membuat ruang kerja untuk tenun songket, dapur untuk membuat makanan tradisional, dan juga ruang tamu yang luas untuk menerima tamu dan teman-teman," tambah Ibu Yuliana yang juga ikut menyusul mereka. "Kita ingin rumah ini menjadi pusat pelestarian budaya Sulawesi Selatan yang bisa bermanfaat bagi banyak orang."

 

Malam itu, keluarga mereka berkumpul bersama-sama di ruang tamu, menghabiskan waktu dengan berbagi cerita dan menyanyi lagu-lagu daerah bersama. Khatulistiwa merasa seperti telah menjadi bagian dari keluarga besar ini – sebuah keluarga yang penuh dengan cinta, rasa hormat, dan semangat untuk melestarikan budaya daerah mereka.

"Saat kalian bekerja di luar negeri, aku sering merasa sendiri dan kehilangan arah," ucap Tenggara kepada orang tuanya dengan suara lembut. "Tetapi dengan adanya Khatulistiwa dan dukungan dari nenek serta kakek, aku bisa menemukan kembali tujuan hidupku dan belajar untuk menjadi lebih kuat."

"Bapak dan ibu sangat bangga padamu, anakku," ucap Bapak Daeng Raja dengan penuh cinta. "Kita akan selalu ada untukmu dari sekarang ini. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi sebagai keluarga."

Khatulistiwa melihat ke arah Tenggara dan tersenyum penuh cinta. Dia merasa sangat bersyukur telah menemukan keluarga kedua yang begitu hangat dan menerima dirinya dengan sepenuh hati. Kembalinya orang tua Tenggara bukan hanya membawa kebahagiaan bagi keluarga mereka, namun juga membuka peluang baru untuk mewujudkan impian mereka bersama – membangun masa depan yang penuh dengan cinta, kerja sama, dan komitmen untuk melestarikan budaya yang mereka cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!