Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyebalkan
Hari itu sebenarnya dimulai secara biasa. Alvaro bangun sedikit terlambat karena semalam ia baru selesai mengedit foto hingga lewat tengah malam. Kepalanya masih terasa berat, matanya masih perih, tetapi notifikasi di ponselnya sudah menyadarkannya: hari ini bukan hari yang santai.
Ada satu klien. Pemotretan produk. Brief-nya panjang, revisi belum dimulai tapi suasananya sudah terasa rumit.
Alvaro memandangi layar ponselnya lebih lama dari biasanya.
Tarik napas lebih dulu, katanya pada dirinya sendiri. Saatnya bekerja.
Ia mandi cepat, mengenakan kaos hitam kesukaannya, jeans yang sedikit pudar, dan secara otomatis memasukkan kamera ke dalam tas. Semua terasa otomatis. Bahkan saat berangkat, pikirannya dipenuhi dengan imajinasi tentang hal-hal terburuk.
Lokasi pemotretan berada di studio sewaan di Jakarta Barat. Begitu tiba, Alvaro langsung disambut suara gaduh. Bukan musik. Bukan tawa. Melainkan suara orang bertengkar mengenai hal-hal sepele.
“Mas, backdrop-nya kok kurang cerah ya? ”
“Mas, bisakah produknya terlihat lebih mahal? ”
“Mas, sepertinya sudut ini kurang tepat, tapi saya tidak tahu apa yang diinginkan. ”
Alvaro menurunkan tas kameranya secara perlahan. Senyum profesional muncul di wajahnya, meskipun hatinya mulai terasa panas.
“Okeee, kita coba satu per satu, ya,” ujarnya setenang mungkin.
Sementara dalam pikirannya, kalimat lain sudah siap keluar.
Kalo nggak tau apa yang pengen, jangan salahin sudutnya, dong.
Ia mulai menyiapkan kamera, mengecek pencahayaan, dan mengatur posisi produk. Baru lima menit, satu anggota tim klien sudah berdiri di belakangnya.
“Mas, kok keliatan biasa aja ya? ”
“Biasa aja maksudnya? ” tanya Alvaro, dengan sabar.
“Ya… kurang mengesankan. ”
Kurang mengesankan.
Istilah yang paling ia benci setelah “dibagusin dikit. ”
Alvaro mengangguk. “Baik, kita coba konsep yang lain. ”
Padahal konsep yang mereka gunakan itu adalah hasil diskusi selama dua minggu, bolak-balik chatting, mengirim referensi, dan disetujui oleh semua pihak.
Setengah jam berlalu. Kemudian satu jam. Revisi kecil menjadi besar. Revisi besar terjebak di tempat.
“Mas, bisa nggak ini diulang? ”
“Mas, kayaknya yang tadi lebih baik. ”
“Mas, tapi yang tadi kurang cahaya. ”
Alvaro menarik napas perlahan, berkali-kali. Tangan masih cekatan, tetapi rahangnya mulai mengencang.
Kalo bukan karena butuh uang, gumamnya dalam hati, gue udah cabut aja.
Ia menoleh ke jam dinding. Sudah melewati jadwal. Namun klien masih belum puas.
“Mas Alvaro,” salah satu dari mereka memanggil dengan nada yang terdengar sok akrab, “kita kan bayar mahal, ya. Jadi kita pengen hasil yang maksimal. ”
Pernyataan itu terasa menyakitkan. Bukan karena isinya, tetapi karena cara penyampaiannya. Seolah-olah Alvaro tidak serius. Seolah-olah ia tidak berusaha semaksimal mungkin.
Alvaro mengangguk lagi. “Iya, saya ngerti. ”
Padahal di dalam dirinya, ada suara lain yang hampir berteriak.
Justru karena dibayar, gue nahan diri buat nggak marah.
Menjelang sore, suasana semakin tidak nyaman. Studio mulai terasa panas, lampu membuat silau, dan kepala Alvaro mulai berdenyut. Ia sempat menyelip sebentar, berpura-pura mengecek baterai kamera, hanya untuk menenangkan diri.
Tangannya sedikit bergetar.
Di tengah itu, pikirannya melayang kepada hal yang sama seperti beberapa waktu terakhir—Aurellia.
Cara Aurellia mendengarkan ceritanya. Cara Aurellia selalu berkata, “Capek itu gapapa, tapi jangan sendirian. ” Cara Aurellia tertawa kecil saat Alvaro menceritakan tentang klien yang menyebalkan di kafe beberapa hari lalu.
Kalau dia berada di sini sekarang, pikir Alvaro, pasti dia akan menawarkan air minum sambil berkata, ‘Istirahat sejenak, Var. ’
Pikiran itu membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Sesi pemotretan berlanjut. Ini adalah sesi terakhir. Masih banyak komentar dari klien, namun Alvaro sudah mencapai titik—bukan marah, tetapi merasa hampa.
Ia terus bekerja. Klik. Mengubah sudut pandang. Klik. Menata ulang. Klik.
Semua dilakukan tanpa banyak bicara.
Akhirnya, setelah beberapa jam entah berapa lama, klien mengangguk. “Oke, ini cukup bagus. ”
Cukup bagus.
Alvaro tersenyum tipis. “Baik, saya akan kirim hasil seleksi awalnya nanti. ”
Setelah semua selesai dan orang-orang mulai membereskan barang-barang, Alvaro duduk sejenak di kursi lipat. Dia merasakan bahunya yang berat. Napasnya terasa membebani.
Sungguh menyebalkan, gerutunya dalam hati tanpa filter. Kenapa ada orang yang hobinya membuat pekerjaan orang lain lebih sulit.
Ia dengan cepat merapikan peralatannya. Tidak mau berlama-lama. Studio itu terasa menekan.
Di luar, suasana sudah mulai gelap. Alvaro berdiri di trotoar sejenak sebelum menghidupkan motornya. Ponselnya bergetar.
Ada satu pesan masuk.
Aurellia:
“Kerjaannya udah kelar? ”
Alvaro menatap layar selama beberapa detik. Lalu ia mengetik.
Alvaro:
“Udah. Capek. Klien rese banget tadi. ”
Balasan datang dengan cepat.
Aurellia:
“Yah :(
Sabar ya. Kamu hebat bisa lewatin itu. ”
Alvaro menghembuskan napas, kali ini lebih lega. Senyum kecil terbentuk tanpa ia sadari.
Ia membalas,
“Pengen ngopi. ”
Tidak sampai satu menit, balasannya muncul.
Aurellia:
“Americano? ”
Alvaro tertawa pelan.
“Kayaknya aku butuh dua. ”
Alvaro akhirnya memilih untuk singgah di kafe itu meskipun dia merasa sangat lelah. Bukan hanya karena kopi di sana—meski americano yang mereka sajikan selalu terasa pahit, tetapi ada sesuatu yang membuatnya merasa lebih tenang setiap kali ia membuka pintu kaca tersebut. Bel kecil berbunyi, aroma kopi segera menyerbu inderanya, dan tanpa sadar dia mencari sosok yang dikenal.
Aurellia.
Dia tampak berdiri di belakang bar, rambutnya diikat dengan gaya santai, dan mengenakan apron cokelat yang sedikit ternoda oleh kopi. Tangannya bergerak lincah saat menyiapkan pesanan, sesekali dia mengangguk pada pelanggan dengan senyum tipis. Itu bukan senyum palsu—melainkan senyum yang sama seperti ketika dia mendengarkan cerita lucu Alvaro, senyum yang selalu membuat Alvaro lupa bahwa dia baru saja berurusan dengan klien yang paling menyebalkan.
Alvaro memilih duduk di meja kesukaannya, dekat jendela. Meja yang sama sejak pertama kali mereka bertemu. Dia meletakkan tas kameranya di kursi sebelah dan bersandar. Dari sudut pandang tersebut, dia bisa memandang Aurellia dengan jelas tanpa mengganggunya. Ada rasa puas yang aneh di dadanya—menyaksikan orang yang dicintainya menjalani hari, sibuk, lelah, tapi tetap memberi kehangatan.
Lucu ya, pikirnya dalam hati. Cuma ngeliat dia kerja rasanya kayak minum obat buat usir kecapean.
Aurellia akhirnya menoleh, mata mereka saling bertemu. Alvaro mengangkat tangannya sedikit, senyum kecil muncul di wajahnya. Aurellia membalas dengan senyum yang lebih lebar, senyum yang membuat sudut mata Alvaro terasa hangat. Dia memperhatikan Aurellia mengambil cangkir, menulis sesuatu di sisinya, lalu melanjutkan meracik pesanan.
Tak lama kemudian, Aurellia datang mendekat. “Americano. Dua shot,” ujarnya pelan, menempatkan cangkir di depan Alvaro.
“Pas,” jawab Alvaro, menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
Aurellia mendengus kecil. “Jangan liatin aku kayak gitu, aku lagi kerja. ”
“Justru karena kamu lagi kerja,” Alvaro tersenyum dengan tulus.
Aurellia menggelengkan kepala, tetapi pipinya tampak sedikit merah sebelum dia kembali ke balik bar. Alvaro mengangkat cangkirnya, menyeruput kopi dengan pelan. Pahitnya terasa pas, hangatnya mengalir perlahan. Dari meja itu, dengan kopi di tangannya dan Aurellia di hadapannya, Alvaro merasakan untuk pertama kalinya hari itu—semuanya berjalan dengan baik.
Dalam perjalanan pulang, angin malam menyapu wajahnya. Rasa jengkel masih ada, tetapi tidak lagi menguasai. Ada rasa hangat yang perlahan-lahan mengisi hati.
Ia menyadari, kehidupannya saat ini tidak hanya berfokus pada pekerjaan dan klien. Ada seseorang yang menantikan ceritanya, bukan hanya hasil kerjanya. Seseorang yang peduli bukan karena portofolio, tetapi karena dirinya yang sebenarnya.
Hari ini memang bikin capek, pikir Alvaro sambil menyalakan lampu sein. Namun setidaknya, ada alasan untuk pulang dengan hati yang tidak sepenuhnya kosong.