NovelToon NovelToon
Cinta Pandangan Pertama

Cinta Pandangan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lanaiq

Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.

Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Capek

Sebulan.

Tiga puluh hari yang berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari.

Jadwal Alvaro sekarang semakin sibuk. Awalnya hanya beberapa sesi foto tambahan, lalu ada rekomendasi dari klien lama, dan proyek kecil yang tiba-tiba berkembang. Ia jarang menolak pekerjaan. Apalagi saat ini, ia merasa ada dorongan lebih untuk bekerja lebih keras.

Untuk masa depan.

Untuk sesuatu yang ingin ia persiapkan, meskipun belum diungkapkan.

Di siang hari, ia sibuk dengan kamera, klien, revisi, dan editing yang sering berlanjut hingga larut malam. Di sore hari hingga malam, ia meluangkan waktu untuk menjemput Aurellia. Kadang-kadang, jika ada waktu di pagi hari, ia bahkan mengantar kekasihnya ke kafe sebelum menuju lokasi pemotretan.

Awalnya semuanya tampak baik-baik saja.

Alvaro sebenarnya sudah terbiasa dengan tempo kerja yang cepat. Ia jarang mengeluh. Jarang terlihat lelah.

Namun tubuh memiliki batasan tersendiri.

Perubahan kecil itu pertama kali disadari oleh Aurellia.

Suatu malam saat mereka hampir tiba di depan rumahnya, ia merasakan pelukan Alvaro di pinggangnya terasa lebih berat dari biasanya. Sepeda motor berhenti lebih lama sebelum ia mematikan mesin.

“Kamu baik-baik aja? ” tanya Aurellia dengan lembut.

Alvaro memberikan senyuman cepat. “Sedikit capek. ”

Jawaban yang selalu diucapkannya.

Sedikit capek.

Esok harinya, ia masih menjemput.

Lusa, masih sama.

Tetapi wajahnya mulai tampak pucat. Kantung matanya menjadi semakin jelas. Suaranya tidak sekuat biasanya.

“Kamu tidur jam berapa semalam? ” tanya Aurellia suatu sore ketika Alvaro mampir sebelum sesi foto berikutnya.

“Jam dua,” jawabnya dengan santai.

“Jam dua? ” alis Aurellia terangkat.

“Editing numpuk. ”

Nada suaranya terasa ringan, tetapi tangannya sedikit bergetar saat mengambil cangkir kopi.

Aurellia mulai memperhatikannya dengan lebih cermat. Ada yang tidak beres. Bukan hanya kelelahan biasa.

Dan ternyata benar.

Malam itu, saat mengantarnya pulang, Alvaro beberapa kali tampak menutup matanya lebih lama saat berhenti di lampu merah.

“Var,” panggil Aurellia pelan dari belakang.

“Hm? ”

“Kalo kamu capek, jangan dipaksain. ”

“Aku nggak maksain diri. ”

Namun suaranya tidak lagi terdengar meyakinkan.

Puncaknya terjadi seminggu kemudian.

Hari itu, jadwal Alvaro padat sejak pagi. Sesi foto prewedding di luar kota, kembali sore hari, lalu langsung menjemput Aurellia.

Ia tetap datang.

Masih berdiri di depan kafe.

Namun ketika Aurellia menghampirinya, ia langsung sadar.

Wajah Alvaro terlihat pucat.

Bibirnya kering.

“Kamu sakit,” ucapnya tegas.

Alvaro menggeleng pelan. “Cuma pusing. ”

Setelah dua langkah menuju motor, tubuhnya mulai goyah.

Aurellia secara naluriah menahan lengannya.

“Var! ”

Ia tidak pingsan, tetapi jelas kehilangan keseimbangan. Napasnya lebih berat dari biasanya.

“Cukup,” suara Aurellia berubah tegas. “Kita ke kos kamu. ”

Alvaro ingin membantah, tetapi bahkan untuk berkata, rasanya berat.

Kos Alvaro cukup jauh.

Sekitar dua puluh menit dari kafe jika jalannya lancar. Biasanya jarak itu terasa biasa. Namun malam itu, setiap menit terasa lama.

Aurellia meminta Nara untuk datang membantu. Untungnya Nara langsung setuju tanpa banyak bertanya.

Setibanya di kos, Alvaro langsung duduk di tepi ranjang kecilnya. Kamar itu sederhana. Hanya ada satu tempat tidur, meja kerja dengan laptop dan kamera, lemari kecil, dan rak penuh lensanya.

Biasanya, kamar itu rapi.

Namun malam itu terlihat berantakan. Ini menjadi bukti betapa sibuknya ia akhir-akhir ini.

Nara datang tak lama setelah itu, membawa kantong plastik berisi obat-obatan dan vitamin.

“Kak Alvaro keliatan kayak zombie,” ucapnya, walaupun suaranya dipenuhi kecemasan.

Alvaro memberikan senyuman yang lemah. “Kamu lebay. ”

Aurellia meraba dahi Alvaro.

Hangat.

“Kamu demam,” ucapnya dengan lembut.

“Dikit aja. ”

“Dikit menurut kamu itu beda,” sahut Aurellia, sekarang sudah sangat tegas.

Untuk pertama kalinya, Alvaro tidak membantah.

Ia terlalu letih.

Malam itu, suasana di kamar kos kecil itu berubah.

Nara membantu menyiapkan air hangat. Aurellia mempersiapkan obat. Jaket Alvaro digantung dengan rapi. Laptopnya ditutup. Lampu dimatikan agar lebih redup.

“Minum ini dulu,” kata Aurellia lembut, memberikan segelas air padanya.

Alvaro menerimanya.

Ia jarang sekali berada dalam posisi seperti ini, dirawat.

Biasanya, ia adalah orang yang menjaga kesehatan.

Sekarang, peran itu berbalik.

Dan entah mengapa, itu memberinya rasa hangat di dada meskipun tubuhnya terasa berat.

“Kamu nggak perlu pulang larut malam,” bisiknya pelan.

“Aku nggak kemana-mana,” jawab Aurellia.

“Kafe? ”

“Besok aku izin. ”

Alvaro segera membuka matanya. “Jangan. ”

“Var,” suara Aurellia lembut namun tegas. “Sekarang giliran aku yang jagain kamu. ”

Pernyataan itu membuatnya terdiam.

Nara yang duduk di kursi kecil di sudut tak jauh dari sana tersenyum tipis melihat gelagat mereka.

“Biasanya kak Alvaro yang jadi pahlawan. Sekarang istirahatlah dulu,” godanya lembut.

Alvaro tertawa pelan.

Akhirnya, tubuhnya menyerah pada rasa lelah yang ada.

Ia tertidur lebih cepat dari biasanya.

Malam semakin sepi.

Aurellia duduk di sisi ranjang, memperhatikan wajah Alvaro yang sedang tertidur. Nafasnya kini lebih tenang.

Tanpa sadar, tangannya menggenggam jari-jarinya.

Dalam sebulan terakhir, ia memang merasakan adanya perubahan. Namun, ia tidak mengira dampaknya akan sedalam ini.

Untuk apa semua ini?

Agar bisa menjemputnya.

Agar memastikan ia tidak kembali sendiri.

Agar bisa tetap bersamanya.

Perasaan bersalah perlahan muncul.

“Aku egois ya,” bisiknya nyaris tidak terdengar.

Nara yang mendengarnya segera menggeleng.

“Bukan egois,” katanya pelan. “Kalian cuma sama-sama keras kepala. ”

Aurellia tersenyum kecil.

Ia memandang kamar itu. Kamera, lensa, tumpukan hard disk, catatan jadwal di dinding. Semua itu adalah tanda dari kerja keras Alvaro.

Dan ia tahu, pria itu tidak akan berhenti jika tidak dipaksa.

“Besok kamu nggak boleh jemput dulu,” ujarnya pelan, meski ia sadar yang ia ajak bicara sedang tidur.

Cahaya pagi merayap masuk melalui jendela.

Alvaro terbangun perlahan.

Sebuah hal yang aneh, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa sendirian di kamar.

Aurellia tertidur di kursi samping ranjang, kepalanya bersandar pada lengan yang terlipat.

Nara menggulung diri di atas karpet dengan selimut tipis.

Alvaro mengamati pemandangan itu cukup lama.

Dada yang semalam terasa berat kini dipenuhi oleh sesuatu yang berbeda.

Hangat.

Ia berusaha bangkit perlahan.

Aurellia langsung terbangun.

“Kamu mau kemana? ” tanyanya dengan nada panik.

“Kamar mandi. ”

“Kamu masih pusing? ”

“Agak mendingan. ”

Aurellia langsung berdiri untuk membantunya, meskipun Alvaro berusaha menolak.

“Aku masih bisa berjalan sendiri. ”

“Okee. Tapi aku tetep di sini. ”

Nada suaranya lembut, tetapi tidak memberi ruang untuk penolakan.

Alvaro mengulas senyuman tipis.

Ia akhirnya menyadari satu hal.

Menjadi kuat tidak selalu berarti harus berdiri sendiri.

Terkadang, membiarkan diri dirawat juga merupakan bagian dari kekuatan.

Hari itu, Alvaro benar-benar beristirahat.

Tidak ada klien.

Tidak ada pekerjaan editing.

Tidak ada penjemputan malam.

Ia sedikit mengeluh, tetapi dua perempuan keras kepala di dalam kamarnya jelas lebih susah untuk ditentang.

Nara pulang siang setelah memastikan kakaknya bisa mengatasi situasi.

Kini tinggal mereka berdua.

Kamar kecil itu terasa lebih tenang.

“Maaf,” ucap Alvaro tiba-tiba.

Aurellia yang sedang merapikan meja berbalik. “Ada apa? ”

“Bikin kamu cemas. ”

Aurellia memberikan senyuman lembut.

“Kamu tau nggam,” ucapnya dengan hati-hati, “gimana rasanya ngeliat kamu hampir jatuh semalam? ”

Alvaro terdiam sejenak.

“Kecapean kamu bukan cuma punya kamu,” lanjutnya. “Aku juga bisa ngerasain. ”

Keduanya terdiam sesaat.

“Aku nggak mau kamu sakit cuma karena pengen jagain aku. ”

Pernyataan itu diucapkan perlahan, namun penuh arti.

Alvaro menatapnya lama.

“Aku nggak pernah anggap itu sebagai beban,” katanya secara tulus.

“Aku ngerti,” jawab Aurellia. “Tapi kamu juga manusia yang bisa capek. ”

Ia mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.

“Sekarang kita bakal menjaga satu sama lain. Nggak hanya kamu seorang diri. ”

Pernyataan itu terasa seperti sebuah komitmen.

Dan untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, Alvaro membiarkan dirinya benar-benar beristirahat.

Tidak hanya fisiknya.

Tapi juga pikirannya.

Karena sekarang ia paham, ia tidak sendirian.

Mereka bersatu.

Dan kali ini, bersatu berarti saling mendukung—bukan saling mengorbankan.

1
deepey
semangat kk, saling support ya ka. 💪😄
deepey
bukan tampak lagi tp beneran bahagia 😍
Lanaiq: baper yaa kak 🤭
total 1 replies
deepey
good Nara, jelasin ke kk kamunya lg di fase penyangkalan
deepey
semangat kk, salam kenal..
Lanaiq: makasi kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!