Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Di tiang Penyangga
Kehidupan di rumah baru kami berjalan dengan ritme yang sangat teratur, hampir seperti mesin yang diminyaki dengan baik. Aku dan Bayu adalah dua roda gigi utama yang memastikan mesin itu terus berputar. Setiap awal bulan, ritual kami selalu sama: duduk di meja makan, membuka slip gaji, dan menghitung porsi untuk cicilan bank, biaya pengobatan rutin Ayah, serta uang belanja Ibu. Kami adalah tim yang solid. Tanpa Bayu, aku tidak yakin sanggup memikul beban utang bank ini sendirian.
Namun, sebuah percakapan di suatu malam Minggu mengubah segalanya. Malam itu, udara terasa dingin setelah hujan deras. Ayah dan Ibu sudah masuk ke kamar. Aku sedang di dapur menyeduh teh ketika Bayu menghampiriku. Wajahnya tampak ragu, sebuah ekspresi yang jarang kulihat dari kakakku yang biasanya tenang dan keras kepala itu.
"May, ada yang mau Abang bicarakan," bukanya perlahan.
Aku menarik kursi, jantungku tiba-tiba berdegup tidak keruan. Ada nada yang berbeda dari suaranya. "Tentang apa, Bang? Ada masalah di tempat kerja?"
Bayu menggeleng. Dia menatap cangkir tehnya lama, sebelum akhirnya menatap mataku. "Abang berencana untuk serius dengan seseorang. Kami sudah bicara soal... pernikahan tahun depan."
Seketika, ruangan itu terasa sangat sunyi. Kalimat Bayu seperti sebuah ledakan yang teredam. Sebagai seorang adik, seharusnya aku bahagia. Bayu sudah banyak berkorban untuk keluarga ini. Sejak lulus sekolah, dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Dia banting tulang bersamaku, mengupas bawang, membantu Ayah, dan sekarang membayar cicilan rumah. Dia berhak untuk bahagia. Dia berhak memiliki dunianya sendiri.
Tapi, sisi diriku yang rapuh dan penuh trauma berteriak ketakutan. Jika Bayu menikah, artinya dia akan punya tanggung jawab baru. Dia mungkin akan pindah. Lalu, bagaimana dengan cicilan rumah ini? Bagaimana dengan Ayah yang sekarang sangat bergantung pada kami? Dan yang paling menakutkan: bagaimana denganku?
"Oh... selamat ya, Bang. Siapa perempuannya?" tanyaku, mencoba menjaga suaraku agar tetap stabil meskipun tanganku sedikit gemetar.
Bayu menceritakan sosok wanita itu dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tapi di kepalaku, aku justru sedang menghitung angka-angka. Jika kontribusi gaji Bayu berkurang atau hilang, aku harus mengambil lembur lebih banyak lagi. Aku harus semakin "pelit" pada diriku sendiri. Aku merasa tiang penyangga rumah ini mulai retak.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku berbaring menatap langit-langit kamar. Aku merasa egois karena merasa sedih atas kebahagiaan kakakku sendiri. Namun, ketakutanku sangat nyata. Selama ini, Bayu adalah tamengku. Dia adalah orang yang tahu persis betapa hancurnya aku saat diusir paman. Dia adalah saksi hidup dari perihnya getah bawang di mata kami.
Jika Bayu pergi, aku akan menjadi satu-satunya orang dewasa yang memegang kendali di rumah ini. Aku akan sendirian menghadapi Ayah yang semakin hari semakin manja secara emosional. Aku akan sendirian memastikan piring-piring di dapur tetap terisi.
Pikiran itu membawaku kembali ke masa kecil. Rasa tidak aman yang dulu kurasakan di rumah Nenek kembali muncul. Aku merasa seperti gadis kecil yang ditinggalkan di tengah pasar yang ramai. Aku takut jika orang-orang di sekitarku mulai memiliki kehidupan mereka sendiri, aku akan terlupakan. Aku akan tetap menjadi "Maya yang bekerja", sementara orang lain bergerak menuju kebahagiaan mereka.
Keesokan harinya di kantor, aku bekerja dengan kegilaan yang lebih dari biasanya. Aku mengambil proyek tambahan. Aku menawarkan diri untuk mengisi posisi yang membutuhkan kerja ekstra. Bosku senang, dia melihatku sebagai karyawan yang sangat ambisius. Dia tidak tahu bahwa aku sedang melarikan diri dari rasa cemas yang mencekik.
"May, kamu nggak capek? Pulanglah, ini sudah jam tujuh malam," tegur salah satu rekan kerjaku.
Aku hanya tersenyum kaku. "Sedikit lagi selesai. Aku lebih suka di sini."
Di kantor, aku punya kendali. Di kantor, angka-angka itu pasti. Satu tambah satu adalah dua. Tapi di rumah, perasaan tidak pernah sesederhana itu. Aku mulai merasa iri pada Bayu. Kenapa dia bisa begitu mudah memutuskan untuk mencintai seseorang? Kenapa dia tidak merasa terbebani oleh bayang-bayang masa lalu seperti aku?
Aku teringat pertanyaanku yang selalu sama: *Apakah aku masih suci?* Mungkin karena Bayu laki-laki, dia tidak perlu memikirkan hal itu. Dia tidak perlu takut pasangannya akan menolaknya karena kejadian di masa kecil. Sedangkan aku? Setiap kali aku memikirkan hubungan asmara, aku merasa seperti melihat tembok besar yang tidak bisa kulewati.
Beberapa hari kemudian, aku melihat Bayu sedang mencuci motornya di depan rumah sambil bersiul. Dia tampak sangat ringan. Aku menghampirinya, membawa segelas air dingin.
"Bang, soal yang kemarin... jangan khawatirkan cicilan rumah. Maya akan cari jalan. Abang fokus saja buat tabungan nikah Abang," kataku, mencoba menjadi "Maya yang pengertian" sekali lagi.
Bayu berhenti menyiram motornya. Dia menatapku dengan tatapan bersalah. "Maaf ya, May. Abang nggak bermaksud ninggalin kamu sendirian. Abang tetap akan bantu, tapi mungkin nggak sebesar dulu."
Aku mengangguk, mencoba tersenyum seikhlas mungkin. "Maya tahu. Abang berhak bahagia."
Saat aku berbalik masuk ke dalam rumah, aku merasakan beban di pundakku bertambah beberapa ton. Aku melihat Ayah yang sedang duduk di teras, dan aku menyadari bahwa babak baru kehidupanku akan jauh lebih sulit. Aku harus menjadi lebih kuat, lebih keras, dan lebih mandiri.
Aku masuk ke kamarku, menutup pintu, dan terisak tanpa suara. Aku menangis bukan karena membenci Bayu, tapi karena aku menyadari bahwa di dunia ini, pada akhirnya, satu-satunya orang yang akan selalu ada untuk menjagaku adalah diriku sendiri. Dan bagi seorang wanita dengan trauma masa lalu sepertiku, kesadaran itu adalah kemerdekaan sekaligus kesepian yang paling dalam.
Cicilan rumah masih menyisakan bertahun-tahun lagi. Dan perjalanan hatiku? Sepertinya perjalanannya masih jauh lebih panjang dari itu.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..