NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:184.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang gagal

Suasana di ruang tamu lantai satu semakin memanas. Hana menatap Cakra dengan tatapan yang menghujam, sementara Tama berdiri sebagai pelindung yang siap menerjang kapan saja.

"Kau pikir aku adalah barang yang bisa kau tawar menawar, Cakra?" suara Hana bergetar karena emosi. "Enam tahun aku menderita karena kebodohanmu yang lebih percaya pada fitnah ibumu daripada istrimu sendiri! Dan sekarang, kau ingin aku kembali ke neraka ini?"

Cakra terdiam, ada kilat keraguan di matanya saat Hana menyebut tentang masa lalu, namun egonya menutup rapat celah penyesalan itu.

Di lantai dua, El terbangun dengan sentakan hebat. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat.

"Bunda...!" teriaknya histeris. Mimpi buruk itu terasa begitu nyata, ia melihat Bundanya menangis di tengah badai, memanggil namanya hingga suaranya serak.

El segera melompat dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Ia menarik handel pintu dengan kuat, namun pintu itu tak bergeming. "Tolong! Kakek! Ayah! Buka pintunya!" El mulai menggedor-gedor pintu kayu itu dengan tangan kecilnya.

Nyonya Inggit yang kebetulan melintas di koridor hanya berdiri mematung di depan pintu kamar tersebut. Ia mendengar teriakan ketakutan cucunya, namun hatinya sedingin es. Ia sengaja membiarkan El terkurung agar rencana Cakra berjalan mulus. Baginya, El hanyalah alat untuk membawa kembali kendali keluarga Ardiwinata.

Tak lama, Tuan Ardi keluar dari kamar utama karena mendengar keributan. Langkah kakinya terhenti saat melihat istrinya hanya berdiri diam di depan pintu kamar yang digedor-gedor dari dalam.

"Kenapa tidak kau buka pintunya?!" bentak Tuan Ardi, suaranya menggelegar di koridor lantai dua. "Kau ini Nenek macam apa, hah? Melihat cucunya ketakutan di dalam, kau malah berdiam diri seperti itu!"

Tuan Ardi segera merogoh kunci cadangan yang selalu ia bawa dan memutar lubang kunci itu. Begitu pintu terbuka, El langsung menghambur keluar dan memeluk kaki kakeknya dengan erat.

"Kakek, aku takut! Aku ingin pulang.... aku ingin bertemu Bunda Hana!" isak El, air matanya membasahi celana Tuan Ardi.

Tuan Ardi berlutut, mengusap punggung cucunya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan Kakek baru bisa menolong mu, Nak. Iya, Sayang, Kakek akan antar El pulang. Ayahmu memang terlalu gegabah mengurung mu di sini."

Inggit mencoba menghalang langkah Tuan Ardi saat pria tua itu menggendong El. "Apa yang mau kau lakukan, Mas? Biarkan saja anak ini tinggal di sini! Jangan gagalkan rencana putra kita. Kau tahu sendiri El adalah pewaris sah keluarga Ardiwinata!"

Tuan Ardi menatap istrinya dengan sorot mata penuh kejijikan. "Pewaris tidak akan tumbuh dengan baik di tangan wanita yang tidak memiliki hati nurani sepertimu, Inggit.

Tanpa memedulikan teriakan Inggit, Tuan Ardi melangkah mantap menuruni anak tangga menuju lantai dasar.

Di bawah sana, Hana sedang meluapkan semua kepahitan nya yang selama ini terpendam.

"Kau tidak pernah tahu kan, Cakra? Saat kau sibuk di kantor, ibumu dan Jesica menyiksaku secara mental setiap hari di rumah ini! Kau terlalu buta karena terlalu memuja kata-kata ibumu!"

Cakra terpaku, kata-kata Hana mulai meruntuhkan pertahanannya. Namun, perdebatan itu terhenti seketika saat terdengar suara langkah kaki di tangga.

"Bunda...!"

Hana menoleh dan matanya membelalak.

"El!"

Tuan Ardi menurunkan El dari gendongannya. Bocah itu langsung berlari secepat kilat dan menghambur ke pelukan Hana. Hana jatuh berlutut, mendekap putranya seolah tak ingin melepaskannya lagi. Isak tangis haru memenuhi ruangan itu.

Tuan Ardi menatap Cakra dengan wajah kecewa. "Cakra, hentikan kegilaanmu. Kau sudah cukup menyakiti wanita ini enam tahun lalu. Jangan kau tambah lagi dengan menyakiti darah dagingmu sendiri."

Hana mendongak, menatap Tuan Ardi dengan penuh rasa hormat. Ia teringat, di rumah yang ia anggap neraka ini, hanya ayah mertuanya lah yang dulu memberinya perlindungan diam-diam dan membantunya pindah ke apartemen saat perceraian itu terjadi.

"Terima kasih, Ayah," bisik Hana lirih di antara tangisnya.

Cakra berdiri mematung, melihat pemandangan di depannya. Mantan Istrinya, anaknya, dan ayahnya.... semuanya seolah berdiri di satu sisi, meninggalkannya sendirian dalam keegoisannya.

Tama tidak membuang waktu lagi. Dengan sigap, ia menggendong El yang masih terisak ke pundaknya dan menggandeng tangan Hana dengan erat, menuntun mereka keluar dari rumah terkutuk itu.

Cakra yang melihat pemandangan itu merasa dunianya runtuh. Ego dan rasa miliknya memberontak. Ia melangkah maju hendak mengejar, namun langkahnya terhenti saat Pak Ardi berdiri kokoh menghalanginya di depan pintu.

"Minggir, Pah! El anakku! Hana milikku!" teriak Cakra frustrasi.

"Pah, kenapa Papah malah membela mereka? Kenapa bukannya membelaku? Aku adalah putramu!" lanjut Cakra dengan suara parau, menuntut keberpihakan dari ayahnya sendiri.

Pak Ardi menatap Cakra dengan tatapan yang sangat dingin dan kecewa. "Papah tidak akan pernah membela siapa pun yang salah, Cakra! Tindakanmu ini justru membuat Hana semakin membencimu. Kau menghancurkan segalanya!"

Cakra terdiam, namun napasnya masih memburu. Pak Ardi kemudian mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan.

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan setelah Hana memutuskan kontrak kerja sama dengan Ardiwinata Group? Apakah kau bisa membuat perusahaan kita kembali berjaya di ambang kehancuran, hah? Papah sudah membangunnya dengan susah payah, dan kau mempertaruhkan nya hanya untuk obsesi gila mu!"

Pak Ardi menunjuk ke arah gerbang tempat mobil Tama mulai menjauh.

"Sekarang kau kesampingkan masalah pribadimu, Cakra. Fokuslah ke perusahaan! Jangan sampai kau kehilangan segalanya: anakmu, istrimu, dan juga warisan keluarga ini!"

Cakra terpaku. Ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, menahan rasa malu dan sesak di dadanya saat menyadari bahwa peringatan ayahnya adalah kenyataan pahit yang harus ia telan.

.

.

Di dalam mobil yang melaju menuju rumah, suasana mendadak haru. El yang duduk di pangkuan Hana terus-menerus membenamkan wajahnya di leher sang ibu.

"Bunda.... maafkan El," isak El pelan. "El berdosa karena sudah bohong. El sering bertemu Ayah diam-diam di sekolah. El pakai jam tangan itu untuk telpon Ayah.... El cuma mau Ayah dan Bunda bersama lagi. Maafkan El, Bunda."

Hana mencium puncak kepala putranya berkali-kali, air matanya menetes pelan. Ia melirik Tama yang sedang fokus menyetir, lalu kembali menatap El. Hana sadar, menyembunyikan kebenaran hanya akan membuat El terus dimanipulasi oleh Cakra.

"Sayang, dengarkan Bunda," bisik Hana lembut sambil mengusap air mata di pipi El. "Bunda tidak marah karena El sayang Ayah. Tapi ada hal yang harus El tahu, kenapa Bunda sangat takut kembali ke rumah itu."

Dengan bahasa yang sangat halus, Hana mulai membuka tabir masa lalu. Ia menceritakan betapa ia sangat mencintai Cakra dulu, namun cinta itu dibalas dengan ketidakpercayaan.

"Dulu, saat Bunda tinggal di sana, ada orang-orang yang tidak menyukai Bunda. Mereka sering berkata kasar dan menyakiti hati Bunda setiap hari. Ayah Cakra.... saat itu dia terlalu sibuk dan lebih percaya pada orang lain daripada pada Bunda sendiri," jelas Hana pelan.

El mendengarkan dengan seksama, matanya yang besar menatap Hana dengan rasa ingin tahu sekaligus sedih.

"Hanya Kakek Ardi yang baik, El. Kakek Ardi yang menyelamatkan Bunda saat Bunda menangis sendirian. Dialah yang menolong Bunda agar kita bisa tinggal di apartemen yang tenang dulu. Jadi, alasan Bunda tidak mau kembali bukan karena Bunda jahat, tapi karena Bunda tidak ingin luka lama itu berdarah lagi. Bunda ingin kita bahagia tanpa rasa takut."

El terdiam cukup lama, mencerna kenyataan bahwa ayahnya bukan hanya sosok hebat yang memberinya hadiah, tapi juga pria yang telah membiarkan bundanya menderita.

"Jadi.... Om Tama sekarang yang akan jagain Bunda, bukan Ayah Cakra?" tanya El sambil menoleh ke arah Tama.

Tama tersenyum tipis melalui spion tengah. "Om hanya ingin Bunda dan El aman dan juga bahagia, Jagoan. Itu saja."

Hana memeluk El lebih erat. Ia merasa sedikit lega setelah berbicara jujur. Kini, ia semakin mantap dengan keputusannya. Baginya, pernikahan dengan Tama bukan lagi sekadar pelarian, melainkan sebuah pernyataan perang untuk melindungi kebahagiaan kecilnya.

Bersambung...

1
NP
la kan bener
NP
jangan2 ratna yg sekandal sama cakra
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Teh Euis Tea
mudah2an persahabatan el dan ghazi sampe dewasa ya
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: mantap 👍😁
total 7 replies
Patrick Khan
mewek liat pertemanan gizi dan El😭😭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: dimaafkan akak 🤣🤭
total 3 replies
Dessy Lisberita
dari pada di bawa ke mantan lebih baik ikut papa kandung mu hana
Dessy Lisberita
hah ternyata ya Thoor 🤣ana dan tama bukan adik kaka legah semoga mereka berjodoh🤣🤣
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Dessy Lisberita
coba ga adik kakak dngan tama ya Thoor jadi ya pdkt gitu jngan balik sama mantan thoor
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 🤭
total 1 replies
Dessy Lisberita
suka yg timur Tengah ad bewoknya🤣🤣🙏
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: beda selera ya kak 😁
total 1 replies
Teh Euis Tea
cakra semoga km mencintai ratna ya, dan berubah ke yg lebih baik
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: aamiin 😊
total 1 replies
Nar Sih
semoga setelah kmu bebas dri hukuman mu bisa jdi orang yg lebih baik lgi dan hidup bahagia besama ratna juga ank kalian ya cakra
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: Aamiin 😊
total 1 replies
Patrick Khan
salut sm pertemanan gizi dan El..🤗🤗🤗
Patrick Khan: 😂😂😂😂😂😂😂
total 2 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu dan rezeki nomplok ya kak ros ,puas,,deh mkn coklat catbury dri el ganteng😂☺️
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: mantap kak 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
neny
udh lunas ya ka ros utang coklat el,,adan el pun sdh bertemu dengan ayah nya,,dan tau knp ibu nya sm ayah nya tdk hidup bersama,,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 😊
total 1 replies
Rusmini Mini
ku kira Ghazi sepantaran dgn El ternyata masih kecil... kak Ros manis... aq suka visualnya produk dlm negri /Heart//Heart/
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: ghazi seumuran kak sama El, cuma badan El bongsor kak 🤣
total 1 replies
Rusmini Mini
gantengnya El /Sneer//Sneer//Sneer/
Teh Euis Tea
dulu kan di el nyamar jd ditektif dgn bayaran coklat, nah sekarang baru bayar hutang😁
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
ria rosiana dewi tyastuti
tempat buyut di desa bangorejo👍...... jd kangen bwi 👍
salam laros mania
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: salam juga kak 😊
total 1 replies
neny
🥰😍😘🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!