Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Tiket Menuju Harapan
Udara fajar di Desa Sukamaju masih terasa menusuk tulang, namun Amara sudah sibuk di dapur kecil mereka yang berdinding bambu. Sambil menahan rasa sesak yang mulai menyerang dadanya—sensasi kencang yang kini rutin menyapanya setiap pagi—ia membungkus nasi jagung dan sambal teri ke dalam daun pisang.
"Nduk, benar kamu mau pergi sekarang?"
Amara menoleh. Ibunya, Ibu Sumiyati, berdiri di ambang pintu dapur dengan mata yang sembap. Di belakangnya, dua adik Amara, Sekar yang berusia tujuh tahun dan Bimo yang masih lima tahun, mengucek mata karena baru bangun tidur.
Amara memaksakan senyum, meski hatinya terasa seperti diremas. "Ibu, kalau Amara tidak pergi ke Jakarta, bagaimana dengan biaya sekolah Sekar dan Bimo? Utang kita pada rentenir itu juga harus segera dilunasi, Bu."
"Tapi Jakarta itu jauh, Mara. Kamu baru lulus sekolah. Ibu merasa gagal sebagai orang tua kalau harus melepasmu jadi babu di sana," isak Sumiyati sambil mengelus bahu putrinya yang nampak tegap namun sebenarnya rapuh.
"Mbak Mara mau pergi?" Bimo berlari kecil dan memeluk kaki Amara. "Mbak jangan pergi... nanti siapa yang menemani Bimo mencari belalang?"
Amara berlutut, menyetarakan tingginya dengan sang adik. Ia mengelus pipi Bimo yang bulat. "Bimo anak pintar, kan? Mbak pergi sebentar untuk cari uang supaya Bimo bisa beli tas baru dan susu yang enak. Nanti kalau Mbak pulang, Mbak bawakan mainan yang besar."
"Benar ya, Mbak?" tanya Bimo dengan mata berbinar. Amara mengangguk mantap, meski tenggorokannya terasa tersumbat.
Sekar, yang lebih dewasa dari usianya, hanya diam mematung. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu. "Mbak... bajunya basah lagi?"
Amara tersentak. Ia segera menarik kain selendang untuk menutupi bagian dadanya. Rembesan itu muncul lagi. "Ssttt... tidak apa-apa, Sekar. Mbak hanya... sedikit berkeringat."
"Bukan keringat, Mbak. Baunya manis," bisik Sekar polos.
Amara segera memeluk kedua adiknya erat-erat, menyembunyikan wajahnya agar mereka tidak melihat air matanya jatuh. Hanya ia yang tahu rahasia medis aneh yang ia alami. Ia sempat membaca di buku kesehatan perpustakaan sekolah—sesuatu tentang kelebihan hormon—namun ia terlalu takut untuk bercerita pada ibunya yang sudah banyak beban.
"Amara janji, Bu," ujar Amara sambil berdiri dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Setiap bulan Amara akan kirim uang. Jaga kesehatan Ibu, jaga Sekar dan Bimo. Amara akan baik-baik saja di rumah Tuan Aditama itu. Katanya mereka orang baik."
Sumiyati menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi bekal. "Ini untuk di jalan. Hati-hati, Nduk. Jaga kehormatanmu. Di kota besar, banyak serigala berbulu domba."
Amara mengangguk, namun dalam hatinya ia membatin, 'Biarlah serigala itu datang, asal keluargaku bisa makan.'
Dengan tas ransel usang dan hati yang berdegup kencang, Amara melangkah keluar dari rumah mungilnya. Ia tidak menoleh lagi saat bus ekonomi antar-provinsi itu mulai menjauh, karena ia tahu, jika ia menoleh, ia tidak akan pernah sanggup untuk pergi.
Ia tidak tahu, bahwa di Jakarta nanti, ia bukan sekadar pengasuh bayi, melainkan oase bagi seorang pria yang hatinya telah lama gersang.
***
Amara menarik napas panjang saat pintu bus ekonomi itu terbuka di Terminal Kalideres. Aroma polusi, asap knalpot, dan hiruk-pikuk manusia menyambutnya dengan kasar. Namun, semua kelelahan itu seolah menguap saat ia menatap cakrawala.
Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, menembus awan tipis Jakarta. Bagi Amara, bangunan itu tampak seperti raksasa kaca yang memantulkan cahaya matahari sore.
"Luar biasa... tinggi sekali," gumam Amara pelan sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Matanya tak berkedip menatap kemegahan yang tak pernah ia temui di balik bukit desanya.
"Jangan melamun, nanti dicopet," sebuah suara perempuan yang renyah mengejutkannya.
Amara menoleh dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 40 tahun dengan pakaian rapi namun sederhana. Dialah Mbak Lasmi, kerabat jauh yang menjanjikan pekerjaan untuknya.
"Mbak Lasmi!" Amara tersenyum lega, merasa punya pelindung di hutan beton ini.
"Ayo, Mara. Kita naik taksi saja. Tuan Arlan sudah menunggu. Bayinya rewel terus dari tadi pagi," ajak Mbak Lasmi sambil menarik tangan Amara menuju deretan mobil yang mengantre.
Di dalam kendaraan menuju kawasan elit Menteng, Amara tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca jendela. Ia terpukau melihat deretan mobil mewah dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Namun, suasana berubah serius saat Mbak Lasmi mulai memberikan instruksi dengan nada rendah dan tegas.
"Dengar baik-baik, Mara. Bekerja di kediaman Aditama itu tidak sama dengan di desa. Gajimu besar, sangat cukup untuk biaya sekolah Sekar dan Bimo tiap bulan, tapi tanggung jawabmu juga berat."
Amara mengangguk cepat, wajahnya menunjukkan keseriusan. "Apa saja yang harus Amara lakukan, Mbak? Amara akan belajar cepat."
"Tugas utamamu hanya satu: menjaga Baby Kenzo. Dia baru tiga bulan, malang sekali nasibnya ditinggal ibunya begitu saja. Tapi ingat satu hal," Mbak Lasmi menatap mata Amara dengan tajam, "Jangan pernah bertanya soal istrinya Tuan Arlan. Di rumah itu, nama wanita itu dilarang untuk diucapkan. Jangan memancing kemarahan Tuan."
"Baik, Mbak. Amara janji tidak akan lancang."
"Lalu tentang Tuan Arlan..." Mbak Lasmi menghela napas panjang. "Dia orang yang sangat dingin. Sangat kaku. Kalau dia lewat, cukup menunduk dan jangan berani menatap matanya terlalu lama kecuali dia yang bicara duluan. Dia tidak suka kebisingan, tidak suka kecerobohan, dan yang paling penting... jangan sekali-kali menyentuh barang-barang di ruang kerjanya."
Amara menelan ludah, rasa gugup mulai menjalar hingga ke ujung jemarinya. "Tuan Arlan... apa dia orang yang temperamental, Mbak?"
"Dia hanya pria yang sedang terluka, Mara. Hatinya membatu sejak dikhianati istrinya. Oh ya, satu lagi," Mbak Lasmi memperhatikan Amara dari atas ke bawah. "Tuan Arlan sangat gila kebersihan. Kamu harus selalu rapi dan wangi. Dan... apakah kamu sudah siap? Kamu harus siap siaga 24 jam karena Baby Kenzo menolak semua jenis susu formula. Dia sangat sulit ditenangkan."
Amara meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri. Rembesan hangat itu muncul lagi, membasahi kain pakaian dalamnya hingga terasa lembap. "Amara akan berusaha sekuat tenaga, Mbak. Amara benar-benar butuh pekerjaan ini demi Ibu di desa."
Taksi kemudian berhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang otomatis itu bergeser pelan, sebuah mansion megah bergaya Eropa modern berdiri dengan angkuh di balik taman yang tertata rapi.
"Ingat pesan Mbak tadi, Mara," bisik Mbak Lasmi saat mereka turun dari mobil. "Jangan bicara kalau tidak perlu, dan anggap Baby Kenzo seperti duniamu sendiri. Mengerti?"
"Mengerti, Mbak," jawab Amara pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.
Saat mereka melangkah masuk ke teras luas yang terbuat dari marmer mengkilap, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi yang menyayat hati dari lantai atas, diiringi suara bentakan rendah seorang pria yang terdengar sangat frustrasi.
"Kenapa dia tidak mau diam?! Apa tidak ada satu pun dari kalian yang becus mengurus bayi?!"
Amara gemetar. Suara itu begitu berat dan penuh otoritas. Langkah kakinya terasa berat, namun ia tahu, di balik pintu besar itu, nasib keluarganya ditentukan.