Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja yang Mengambil Ibu
Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, warna yang biasanya aku sukai karena menandakan sebentar lagi Ayah dan Ibu akan bersantai di teras. Di dekat tempat penampungan air, aku sedang asyik dengan duniaku sendiri. Pipit, boneka kain berwarna merah yang bulunya sudah mulai menipis karena terlalu sering dipeluk, sedang menjalani "hari mencucinya". Aku mengucek potongan kain kecil yang ku anggap sebagai popoknya di dalam ember plastik, sesekali tertawa melihat busa sabun yang beterbangan ditiup angin.
Suasana tenang itu pecah saat langkah kaki Ibu mendekat. Namun, ada yang berbeda. Suara langkahnya tidak seringan biasanya.
Aku menoleh dan mendapati Ibu sudah berdiri di dekat pintu keluar. Beliau mengenakan baju batik terbaiknya yang jarang sekali dikeluarkan dari lemari, dan di tangannya, tersampir sebuah tas kain tua yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut. Tas itu tampak berat, seolah dipaksa menampung seluruh beban hidup kami yang kian menghimpit. Sebuah keputusan besar sudah Ibu ambil dengan persetujuan dari Ayah.
"Ibu mau ke mana?" tanyaku sambil tetap memegang popok Pipit yang basah.
Ibu berlutut di depanku, menyamakan tingginya dengan tubuh kecilku. Aku bisa melihat matanya yang biasanya jernih kini memerah padam, ada genangan air yang siap tumpah di sudut matanya. Namun, dengan gerakan cepat, ia mengusap matanya dengan ujung jari, berusaha menyembunyikan kerapuhan itu dariku.
"Nak... Ibu berangkat kerja dulu, ya," ucapnya dengan suara yang bergetar, namun dipaksakan untuk tetap tegar. "Sebentar saja, nanti Ibu pulang. Kamu baik-baik di rumah, jangan nakal, ya?"
Ibu mengulurkan tangannya, mengusap tengkukku dengan sentuhan yang sangat lama, seolah ia sedang menyalurkan seluruh sisa kasih sayangnya melalui telapak tangan itu. Rasanya hangat, namun ada getaran dingin yang tak ku pahami saat itu.
Di ujung jalan setapak, seorang pria dengan sepeda motor sudah menunggu. Itu adalah orang yang akan mengantarkan Ibu menuju tempat yang jauh, tempat yang katanya bisa memberikan kami makan lebih layak dan televisi seperti di rumah Nenek.
"Ibu berangkat sekarang ya, Nak," bisiknya lagi.
Aku yang masih terlalu polos, yang hanya tahu bahwa 'kerja' berarti pergi sebentar lalu pulang membawa oleh-oleh, tersenyum lebar. Aku melambaikan tanganku yang masih basah karena air sabun.
"Iya, Ibu hati-hati ya! Nanti malam jangan pulang telat, ya, Bu? Kita harus ke rumah Nenek lagi buat nonton TV!" seruku dengan nada riang, membayangkan kelanjutan kartun yang kemarin malam terputus karena aku tertidur.
Ibu tidak menjawab. Beliau hanya mengangguk cepat, lalu berbalik dan berjalan menuju motor itu. Aku melihat punggungnya yang menjauh, tas usang itu bergoyang di sisinya. Saat motor itu mulai menderu dan membawa Ibu hilang di balik tikungan jalan desa, aku kembali berjongkok di depan emberku.
"Pipit, nanti kalau Ibu pulang, kita minta dibelikan permen yang banyak, ya," bisikku pada boneka merah itu.
Aku terus mencuci, terus bermain, tanpa menyadari bahwa malam itu tidak akan ada lagi perjalanan ke rumah Nenek. Tidak ada lagi tangan yang mencari kutu di rambutku hingga aku terlelap. Malam itu, untuk pertama kalinya, jalan setapak menuju rumah Nenek akan terasa sangat sunyi, karena cahaya yang biasanya menuntun langkahku telah pergi merantau jauh demi menyambung napas keluarga kami.
Aku tidak tahu bahwa "sebentar" bagi Ibu adalah waktu yang sangat lama bagi seorang anak yang menanti di depan pintu setiap sore.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰