Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di kereta
"Jangan bergerak, atau kalian semua mati!"
Seorang wanita tiba-tiba di tarik dan di sandera oleh laki-laki bertopeng saat ia hendak pergi ke toilet. Ia berada dalam kereta Bandung-Jakarta.
Dira. Nama wanita itu.
Dira kaget sekali. Ia ketakutan di todong pistol. Lelaki bertopeng itu sangat kasar. Semua orang di dalam kereta kaget, ketakutan seperti Dira. Entah laki-laki itu ingin merampok, atau sedang di kejar polisi makanya nekat menyandera orang tidak bersalah.
Lalu tiba-tiba seorang laki-laki lain dari kursi penumpang berdiri. Begitu ia berbalik dan tatapannya bertemu dengan Dira, keduanya sama-sama kaget. Terutama Dira.
Ethan ... Itu Ethan...
Gumam Dira dalam hati menyebut nama lelaki itu. Ethan masih terlihat sama dari terakhir kali ia melihat pria itu. Sebelum perpisahan yang menyakitkan itu terjadi.
Tatapan Ethan seketika berubah dingin, sangat dingin. Seakan Dira adalah musuh yang ingin ia musnahkan.
"Sialan! Duduk brengsek! Aku tidak menyuruhmu berdiri! Kau ingin aku membunuh wanita itu di depan matamu bangsat?!"
"Bunuh saja, aku tidak peduli dengan nyawa orang asing."
Orang asing.
Kata-kata itu di ucapkan dengan nada yang santai. Sangat santai, seolah sengaja melukai hati Dira.
Orang asing? Huh! Dira tertawa dalam hati. Ternyata seasing itu ia di mata Ethan sekarang. Yah, lagipula sudah enam tahun mereka tidak pernah bertemu lagi. Walau di masa lalu mereka pernah berpacaran, tapi perpisahan mereka pun bukan perpisahan baik-baik. Mereka memang orang asing sekarang. Apalagi Ethan sangat membencinya karena kejadian di masa lalu.
"Kau pikir aku tidak berani membunuhnya?"
Laki-laki di belakang Dira sudah bersiap menarik pelatuk. Dira menelan ludah, jelas ketakutan sekali. Meski dia berusaha terlihat tidak ketakutan agar tidak memalukan di depan laki-laki yang pernah ia cintai itu, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan betapa dia takut sekali sekarang ini.
Dira menutup matanya kuat-kuat. Kalau memang dia akan segera mati, dia berharap semua orang yang dia tinggalkan hidup bahagia. Suasana dalam kereta tersebut sudah tegang sekali. Dira tidak membuka matanya. Lalu...
Dor! Dor!
Bunyi tembakan di sertai teriakan orang-orang dalam kereta membuat Dira membeku. Apa dirinya yang tertembak? Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Kemudian ia merasakan laki-laki yang menyandera nya jatuh tergeletak di lantai, mati.
Lututnya bergetar. Ia menghadap depan dan melihat Ethan sedang memegang pistol yang masih mengarah padanya. Semua orang di dalam kereta ketakutan. Laki-laki yang menyandera Dira tadi terkapar tak bernyawa. Sementara pelaku yang menembaknya berdiri dengan tenang di depan sana, sorot matanya dingin sekali seperti orang tak berhati.
Mereka masih saling menatap lama, sebelum akhirnya Ethan duduk kembali dan seseorang datang berbisik di telinganya.
"Dek, ayo duduk." kata seorang wanita paruh baya menarik tangan Dira kembali duduk. Orang-orang di dalam kereta sudah kembali tenang namun tetap ketakutan. Ada yang sampai syok.
Dira duduk, wajahnya masih syok, matanya tak beralih sedikitpun pada Ethan. Laki-laki itu duduk membelakanginya. Sesaat kemudian, ada beberapa orang laki-laki berbadan besar yang datang mengambil mayat pria yang sudah mati tertembak itu.
"Adek, nggak apa-apa? Ini minum dulu." tanya ibu-ibu yang tadi. Ia menyodorkan sebotol air ke Dira karena melihat wajah Dira yang masih syok.
"Makasih bu,"
Ibu-ibu itu tersenyum.
"Mereka itu mafia kelas satu. Nggak ada yang bisa ngusik mereka, semua orang takut. Bahkan kepala negara kita tunduk sama kelompok itu. Terutama laki-laki itu, ada dua temannya juga. Ibu asalnya dari Jakarta, anak ibu kebetulan salah satu pelayan di rumah laki-laki itu. Jadi ibu cukup tahu tentang mereka. Tapi adek tenang saja, mereka gak bunuh orang yang gak bersalah kok. Mereka jahat, tapi gak ngerugiin negara. Oh ya, adek asli dari Bandung? Mau cari kerja di Jakarta?"
Dira tersenyum, mengangguk.
"Iya bu." hanya itu. Dia tidak ingin terlalu mengekspos kehidupan pribadinya dengan orang asing. Beberapa tahun ini dia telah berubah jadi sosok wanita yang lebih tertutup, dan jauh lebih pendiam.
Masa lalunya yang menyedihkan dengan laki-laki yang pernah dia cintai, membuat dirinya menjadi lebih tertutup seperti sekarang ini.
Pandangan Dira kembali ke sosok Ethan yang masih duduk di depan sana, entah berapa baris kursi penumpang dari dirinya berada.
Laki-laki itu masih sama. Masih tampan, belum terlihat menua. Yang berbeda adalah, cara dia menatap Dira, seperti Dira adalah sosok wanita yang paling tidak ingin dia lihat lagi di dunia ini.
Dira menghadap ke langit-langit, berusaha menahan air matanya yang hendak keluar. Sekitar tiga puluh menit kemudian, kereta berhenti di stasiun Jakarta. Dira turun begitu melihat Ethan sudah turun.
Namun begitu dia menginjakkan kakinya di luar, langkahnya terhenti. Ethan berdiri di depan sana. Menghadap ke arahnya. Tajam, dingin, dan ... Jijik? Pria itu terus menatapnya sampai seseorang datang.
Seorang wanita cantik. Lebih tua darinya. Mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih muda dari Ethan.
"Ethan sayang! Astaga, kamu lama banget sih!"
Wajah Ethan yang dingin tadi berubah dalam sesaat. Ia mengusap kepala wanita itu dan tersenyum lembut. Wanita itu juga memeluk lengannya tanpa ragu. Sesekali menatap Dira. Tapi tatapannya berubah dengan cepat saat menatap Dira.
Dira menahan nafas. Hatinya sakit. Sakit melihat Ethan begitu akrab dengan wanita lain, mungkin pacar, atau istrinya. Ya, mereka sudah lama berpisah. Ethan pasti sudah menemukan penggantinya sekarang.
Ia tidak ingin berlama-lama lagi, melihat mantan kekasihnya bersama kekasihnya atau istrinya tampak akrab di depan sana. Dira menarik koper kecilnya dan berjalan melewati mereka.
Kepalanya tertunduk saat melewati tubuh tinggi Ethan. Ia tidak lihat dirinya sedang ditatap lama oleh pria itu. Dira hanya ingin pergi secepatnya sekarang dan berharap mereka tidak pernah bertemu lagi. Kisahnya dan Ethan sudah lama berakhir, di antara mereka sudah tidak mungkin, meski dirinya sudah melahirkan anak pria itu tanpa sepengetahuannya.
Ethan tidak akan pernah tahu. Untuk apa juga laki-laki itu tahu? Karena sudah putus, dan Dira merasa bersalah seumur hidup pada Ethan dan Kara, dia tidak akan pernah lagi mengganggu hidup mereka. Biarlah putra mereka menjadi hadiah terakhir untuknya dari Ethan. Dia akan membesarkan anak mereka dengan baik.
Seorang anak laki-laki yang imut. Hanya Raka yang tahu siapa ayah kandung anak itu. Selain itu, tidak ada seorang pun yang tahu. Selama pindah di Jakarta, Dira juga menyembunyikan tentang anak itu. Bukan karena tidak mau orang tahu, pekerjaannya di kantor yang sekarang menuntut dia tidak boleh punya anak. Jadi orang kantor tidak boleh ada yang tahu.
Dira tersenyum pahit.
Aku berharap kau bahagia.
Gumamnya dalam hati.
terimakasih thor udah up