NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB ENAM BELAS: DINDING MAHONI

Seraphina terdiam membeku di kursinya, air mata hangat perlahan membasahi pipinya yang pucat, menciptakan jejak transparan yang kontras dengan rona merah akibat tamparan emosional yang baru saja ia terima. Kata-kata Orion bukan sekadar ancaman; itu adalah vonis mati bagi kebebasannya. Bisikan pria itu yang dingin, yang merayap di balik telinganya seperti ular yang mendesis, menghancurkan setiap kepingan harapan yang baru saja ia susun bersama Giselle. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan: kemewahan ini hanyalah dekorasi panggung, dan Giselle, dengan segala kehangatan palsunya, hanyalah sangkar emas yang dirancang dengan sangat indah untuk menjebaknya.

"Kau mengerti, Seraphina?" Orion berbisik kembali, suaranya kini terdengar lebih rendah, lebih parau, dan penuh dengan aura dominasi yang menyesakkan. Ibu jarinya yang kasar masih bergerak perlahan, mengelus bekas kemerahan di leher Seraphina dengan gerakan yang hampir menyerupai kasih sayang, namun Seraphina tahu itu adalah tanda kepemilikan. Sentuhan itu memberikan sensasi aneh—perpaduan antara rasa takut yang melumpuhkan dan getaran saraf yang membuat bulu kuduknya merinding hebat. "Kau milikku. Seutuhnya. Tidak ada bagian dari dirimu yang tidak berada di bawah kendaliku."

Seraphina menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan, hampir tidak terlihat. Air matanya menetes jatuh ke punggung tangannya yang terkepal erat di atas pangkuan, namun ia tidak sanggup mengeluarkan suara. Tenggorokannya terasa seperti disumbat oleh batu besar, membuatnya sesak napas. Ia ingin berteriak, ingin memaki, atau setidaknya memohon belas kasihan, namun di depan pria ini, ia merasa suaranya telah dicuri.

Orion menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat maskulin namun mematikan. Matanya yang gelap tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun; sebaliknya, ada kilatan liar yang menari-nari di sana, sebuah kepuasan predator yang melihat mangsanya sudah tidak berdaya. "Bagus. Aku suka gadis yang tahu posisinya. Aku suka yang penurut," ia menjeda kalimatnya, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Tapi di sisi lain, aku jauh lebih menyukai saat kau menunjukkan perlawanan kecil yang sia-sia, saat kau merintih di bawah kendaliku, dan saat suaramu hanya memanggil namaku di tengah keputusasaanmu."

Tanpa peringatan yang jelas, Orion mencondongkan tubuhnya lebih jauh ke depan. Tangan kirinya bergerak cepat, mencengkeram rahang Seraphina dengan kuat namun presisi. Ia memaksa kepala gadis itu mendongak, memaksa mata Seraphina yang berair untuk mengunci tatapan dengan matanya yang dingin. Seraphina merasa seolah dunianya menyempit hanya pada wajah pria ini. Oksigen di sekitarnya seolah menipis, membuatnya terengah-engah dalam kepanikan yang sunyi. Ia terperangkap dalam gravitasi gelap Orion Valentinus.

"Hasratku bukanlah sesuatu yang bisa kau tunda dengan air mata," Orion mendesis tepat di depan bibir Seraphina. Nafasnya yang beraroma tobacco dan expensive liquor memenuhi indra penciuman Seraphina, memberikan peringatan bahwa predator ini sedang lapar. Tangan kanannya mulai bergerak, meluncur turun dari leher, melewati bahu Seraphina yang gemetar, dan terus turun mengikuti lekuk tubuhnya dengan cara yang sangat intimidatif.

Seraphina tersentak, seluruh ototnya menegang seketika. "Ja-jangan... kumohon, Tuan..." Rintihan itu lolos begitu saja dari bibirnya yang bergetar, sebuah permohonan terakhir yang ia tahu tidak akan pernah didengarkan.

"Shh. Jangan membuang energimu untuk memohon hal yang mustahil," Orion membantah dengan suara yang tenang namun dingin. Ia menekan bibirnya ke arah Seraphina, bukan untuk mencium dengan lembut, melainkan untuk memberikan tekanan yang membuat Seraphina merasakan panas tubuhnya dan ancaman yang nyata dalam setiap milimeter jarak di antara mereka.

Tangan Orion kini berada di paha Seraphina, mencengkeram kain rok mahalnya dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya kusut. Ia memberikan tekanan di sana, sebuah klaim fisik yang membuat Seraphina merasa sangat hina namun tidak berdaya. Setiap sentuhan pria itu seolah-olah sedang menanamkan tanda permanen di kulitnya, sebuah pengingat bahwa ia bukan lagi pemilik atas tubuhnya sendiri.

"Lihatlah dirimu, begitu rapuh namun begitu indah dalam ketakutanmu," Orion berbisik di sela-sela napasnya yang mulai berat. Ia bisa merasakan denyut nadi Seraphina yang berpacu kencang di bawah kulit lehernya yang tipis. Baginya, ketakutan Seraphina adalah afrodisiak terbaik yang pernah ia temukan. "Kau harus mulai membiasakan diri, Seraphina. Karena setiap malam, di ruangan ini, kau akan belajar bagaimana caranya melayaniku hingga kau lupa cara bernapas."

Seraphina terkesiap, tubuhnya melengkung sedikit ke belakang saat ia merasakan tekanan tangan Orion yang semakin kuat. Sensasi itu begitu asing dan menakutkan, mengirimkan gelombang trauma yang kembali menghantam kesadarannya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih besar daripada tekanan fisik yang ia terima; ia merasa martabatnya sedang diinjak-injak di bawah meja jati yang mewah ini.

"Malam ini, kau akan menjadi saksi betapa besarnya kekuasaanku atasmu," Orion berkata, suaranya kini terdengar seperti perintah mutlak yang menggema di dalam ruangan yang kedap suara itu. Ia menarik Seraphina agar berdiri dari kursi, gerakannya begitu kuat hingga Seraphina hampir terjatuh jika tidak segera ditopang oleh tangan Orion. Dengan gerakan cepat yang penuh dominasi, ia mendorong Seraphina hingga punggung gadis itu menabrak permukaan meja kerja mahoni yang sangat besar.

Seraphina memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan permukaan kayu yang dingin dan keras bersentuhan dengan punggungnya. Ia merasa seperti kurban yang diletakkan di atas altar untuk disembelih. Orion segera mengungkungnya, tubuhnya yang tegap dan berotot menindih Seraphina, memberikan beban yang membuat Seraphina merasa tercekik.

Narasi internal Orion membara dalam kegelapan pikirannya sendiri. "Gadis ini... dia adalah mahakarya dari segala rasa sakit yang bisa aku ciptakan. Aku akan menghancurkan setiap benteng pertahanannya sampai dia benar-benar menjadi milikku lahir dan batin. Aku akan membuat seluruh dunianya hanya berputar di sekitarku, sampai dia tidak tahu lagi di mana batas antara benci dan butuh. Dia akan merindukan kehadiranku bahkan saat aku sedang menyakitinya."

Orion menatap wajah Seraphina yang hancur dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mengangkat pergelangan tangan Seraphina, menyatukannya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan besarnya, memakukannya ke permukaan meja. Seraphina tidak lagi mencoba melawan secara fisik; ia tahu itu hanya akan memperparah keadaan. Ia hanya bisa terisak, membiarkan air matanya membasahi permukaan meja kerja yang mengkilap itu.

"Kau siap untuk babak barumu, Seraphina?" Orion mendesis, suaranya bagaikan godaan dari kegelapan yang paling dalam. Ia membiarkan keheningan ruangan itu mencekam mereka selama beberapa saat, membiarkan Seraphina tenggelam dalam antisipasi yang mengerikan akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu meja redup ini, Seraphina menyadari satu hal pahit: tidak ada pahlawan yang akan datang menyelamatkannya. Di sini, di jantung kekuatan keluarga Valentinus, Orion adalah satu-satunya hukum yang berlaku. Dan ia hanyalah sebuah paragraf pendek dalam buku sejarah pria itu yang siap dihapus kapan saja.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!