Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.
Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 ANAK DARI MASA DEPAN
Taehyung sedang tertawa.
Bukan dengan Jungkook.
Dengan senior jurusan sebelah yang terlalu ramah, terlalu dekat, dan—yang paling menyebalkan—terlalu sering menyentuh bahu Taehyung saat bicara.
Dari kejauhan, Jungkook berhenti berjalan.
Dadanya terasa aneh.
Seperti ditekan sesuatu yang tidak kelihatan.
“Sejak kapan dia ketawa sebebas itu,” gumam Jungkook.
Mingyu yang berdiri di sampingnya melirik.
“Sejak lo ngeliatin dia kayak mau nyeruduk orang.”
“Gue biasa aja.”
“Bohong,” Mingyu datar.
Senior itu mencondongkan tubuh. Terlalu dekat. Dan Jungkook—tanpa sadar—sudah melangkah.
“Hei.”
Taehyung menoleh.
“Oh. Lo.”
Nada suaranya netral. Tapi matanya berbinar sebentar.
Senior itu tersenyum sopan.
“Temennya?”
Jungkook menjawab lebih cepat dari Taehyung.
“Partner.”
Taehyung menoleh tajam.
“Hah?”
Jungkook baru sadar apa yang dia ucapkan.
“…Kelompok.”
Senior itu tertawa kecil lalu pamit.
Begitu mereka tinggal berdua—
“Kenapa lo tiba-tiba nyela?” Taehyung bertanya.
“Dia ganggu.”
“Dia cuma ngobrol.”
“Cara ngobrolnya nyebelin.”
Taehyung menyilangkan tangan.
“Lo cemburu?”
Jungkook langsung membalas, terlalu cepat.
“ENGGAK.”
Taehyung tertawa kecil, tapi matanya tidak sepenuhnya senang.
“Tenang aja. Kita kan gak ada apa-apa.”
Kalimat itu—
nusuk.
“Iya,” Jungkook menjawab dingin.
“Gak ada apa-apa.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah—
Jungkook pergi lebih dulu.
Taehyung tidak menyusul.
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena dadanya ikut sakit.
“Mungkin dia bener,” gumam Taehyung.
“Kita gak punya hubungan apa-apa.”
Namun malam itu—
Taehyung terbangun.
Bukan karena mimpi.
Tapi karena suara.
“Mommy…” Pelan.
Terburu-buru.
Taehyung duduk, jantungnya berdegup cepat.
“Keonho?”
Di sisi lain kota—
Jungkook juga terbangun di waktu yang sama.
“Daddy…”
Suara itu lebih dekat dari sebelumnya. Lebih lemah.
Jungkook mencengkeram seprai.
“Ada apa?”
“Waktuku sedikit,” bisik Keonho.
Potongan cahaya kecil muncul di udara kamar mereka masing-masing.
Tidak penuh.
Tidak stabil.
“Kalian jangan berantem,” suara Keonho bergetar.
“Aku… mulai susah balik.”
Taehyung menelan ludah.
“Kita gak berantem.”
“Bohong,” Keonho menjawab pelan.
“Daddy pergi. Mommy diem.”
Jungkook memejamkan mata.
“…Maaf.”
“Kalau kalian menjauh,” lanjut Keonho,
“aku makin jauh.”
Cahaya itu berkedip.
“Waktu kalian gak banyak.”
Taehyung berdiri.
“Kita harus gimana?”
Keonho tersenyum tipis—hampir pudar.
“Jujur.”
Cahaya menghilang.
Dan malam itu—
Taehyung dan Jungkook, di dua tempat berbeda, mengambil ponsel mereka di saat yang sama.
Mengetik nama yang sama.
Berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Karena mereka akhirnya sadar satu hal:
Cemburu itu nyata.
Takut kehilangan itu lebih nyata.
Dan waktu… tidak menunggu siapa pun.
____
Taehyung menemukan Jungkook di lapangan basket kampus.
Sendirian.
Lampu sudah setengah mati.
Bola basket tergeletak, tak disentuh.
“Lo kenapa kabur kemarin?” Taehyung membuka tanpa basa-basi.
Jungkook tidak menoleh.
“Gue gak kabur.”
“Lo pergi.”
Hening.
Lalu Jungkook tertawa pendek.
“Karena gue gak punya hak buat cemburu.
Kalimat itu membuat Taehyung terdiam.
“Gue kesel,” lanjut Jungkook.
“Karena gue peduli. Tapi gak bisa bilang itu apa.”
Taehyung mendekat.
“Terus sekarang?”
Jungkook akhirnya menatapnya.
Matanya jujur—dan takut.
“Gue suka sama lo,” katanya pelan.
“Tapi gue belum siap bilang kita apa.”
Taehyung mengangguk pelan.
“Gue juga.”
Ada lega.
Ada senyum kecil.
Tapi juga ada jarak.
“Berarti kita masih musuh?” Taehyung mencoba bercanda.
Jungkook menghela napas.
“Musuh yang salah jatuh cinta.”
__
Keesokan harinya—
Jungkook melihat Taehyung lagi.
Dengan orang yang sama.
Senior itu.
Terlalu dekat.
Terlalu nyaman.
Dan kali ini—
Jungkook tidak menyingkir.
Dia berdiri.
Menunggu.
Menunggu Taehyung memilih.
Taehyung menoleh.
Melihat Jungkook.
Ragu.
Dan Jungkook—salah paham.
“Oh,” Jungkook tertawa pahit.
“Gue ngerti.”
Taehyung menyusul.
“Bukan gitu—”
“Tapi lo tetep di sana,” Jungkook memotong.
“Karena lo juga gak mau kehilangan opsi.”
Taehyung tersinggung.
“Lo juga sama! Lo gak pernah ngasih gue kejelasan”
“Karena gue takut!”
Suara Jungkook naik.
Orang-orang mulai melirik.
“Takut kehilangan lo,Taehyung” lanjut Jungkook.
“Dan ternyata gue tetep kehilangan.”
Taehyung terdiam lama.
Lalu berkata pelan tapi tajam
“Kalau gitu, mungkin emang lebih baik kita berhenti.”
Kata berhenti itu—
menghantam.
Jungkook mundur selangkah.
“Iya,” katanya.
“Mungkin.”
Dan kali ini—
mereka benar-benar berjalan ke arah berlawanan.
Malam itu—
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Hanya dingin.
Taehyung duduk di kamar, dada sesak.
Jungkook berbaring menatap langit-langit, kosong.
Lalu—
suara itu datang lagi.
Lebih lemah.
Lebih terputus.
“Daddy… Mommy…”
Cahaya kecil muncul—retak.
Keonho berdiri di antara mereka.
Bukan utuh.
“Kenapa kalian pisah?” suaranya bergetar.
Taehyung mendekat.
“Kami….”
Jungkook mengepalkan tangan.
“Maaf.”
Keonho tersenyum kecil—terlalu kecil.
“Aku hampir gak bisa datang lagi.”
Cahaya di tubuhnya berkedip cepat.
“Kalau kalian berhenti… aku juga berhenti.”
Taehyung menangis tanpa suara.
“Jangan.”
“Aku butuh kalian bareng,” Keonho berbisik.
“Bukan sempurna. Cuma… bareng.”
Cahaya mulai menghilang.
“Waktuku hampir habis.”
Dan sebelum lenyap sepenuhnya—
Keonho menatap mereka berdua.
“Pilih aku.”
Gelap.
Sunyi.
Hanya napas mereka yang tersisa.
Dan satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari lagi:
Apakah mereka berani memilih satu sama lain—sebelum semuanya benar-benar hilang?