Damian, lelaki yang dikenal dengan julukan "mafia kejam" karena sikapnya bengis dan dingin serta dapat membunuh tanpa ampun.
Namun segalanya berubah ketika dia bertemu dengan Talia, seorang gadis somplak nan ceria yang mengubah dunianya.
Damian yang pernah gagal di masa lalunya perlahan-lahan membuka hati kepada Talia. Keduanya bahkan terlibat dalam permainan-permainan panas yang tak terduga. Yang membuat Damian mampu melupakan mantan istrinya sepenuhnya dan ingin memiliki Talia seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Setelah acara seremonial dan wawancara selesai, mereka bertiga pergi merayakan kemenangan Casen dengan makan siang di sebuah restoran sushi terkenal di Tokyo.
Saat memasuki restoran sushi terkenal di Tokyo itu, aroma ikan segar dan kecap asin menyambut mereka. Casen tersenyum puas, masih merasakan euforia kemenangan yang baru saja diraihnya. Di meja kayu yang hangat, mereka duduk berhadapan dengan conveyor belt berisi berbagai jenis sushi yang berputar perlahan.
"Gila, gue masih belum percaya lo bisa dapat juara dua Cas," ujar Talia menepuk punggung Casen dengan bangga.
"Setelah semua latihan dan kerja keras, lo emang pantes." timpal Lintang.
Casen hanya tertawa kecil sambil mengambil sepotong otoro sushi dan mencelupkannya ke dalam kecap asin.
"Thanks, lo berdua selalu dukung gue."
"Udah ayo nikmatin makanannya!" seru Talia kemudian.
Obrolan mereka mengalir ringan, diselingi canda tawa dan cerita seputar kompetisi tadi.
Saat pelayan datang membawa tambahan sashimi dan teh hijau, Casen menghela napas lega.
"Hari ini benar-benar hari yang melelahkan namun sempurna," gumamnya.
"Bener. Hari ini kita kemana lagi?" seru Talia lagi.
"Gue masih ada acara club Tal. Habis ini gue harus ke sana." kata Casen.
"Gue capek, mau istirahat dulu." giliran Lintang yang angkat suara.
Talia menghela nafas panjang.
"Ya udah, hari ini gue jalan-jalan sendiri aja. Udah pernah juga." katanya. Lintang terkekeh.
"Lo yakin?"
"Yakin dong. Gue mau ke karaoke, siapa tahu ada pencari bakat yang lihat gue."
Awalnya Lintang merasa tidak tega dan ingin menikmati gadis itu jalan-jalan, akhirnya tidak jadi begitu mendengar ia menyebut tempat karaoke. Kalau Lintang ikut, yang ada dia bisa stress karena suara Talia."
"Semoga berhasil kalo gitu." Hanya itu yang keluar dari mulut Lintang.
"Harus hati-hati jalan-jalan sendiri. Apalagi ini di negeri orang. Jangan sampai hilang jalan dan ketemu orang jahat." Casen angkat suara.
"Tenang aja Cas, seorang Talia bisa jaga diri dengan baik." balas Talia dengan bangganya.
Mereka bertiga pun pisah dan berjalan ke tempat tujuan mereka masing-masing.
Talia melangkah keluar dari restoran dengan semangat tinggi. Udara Tokyo yang sejuk menerpa wajahnya, membuatnya semakin bersemangat untuk menikmati sore itu. Ia menelusuri trotoar yang ramai, menikmati lampu-lampu neon dan hiruk-pikuk kota yang seakan tak pernah tidur.
Sesuai rencana, ia menuju sebuah tempat karaoke terkenal yang sering dikunjungi turis dan penduduk lokal. Begitu masuk, ia segera memesan ruangan kecil untuk dirinya sendiri. Saat lagu pertama dimulai, Talia langsung bernyanyi dengan penuh percaya diri. Suaranya yang lantang memenuhi ruangan, meskipun banyak sekali nada yang terdengar sedikit meleset. Tapi itu tidak mengurangi semangatnya.
Beberapa orang yang melintas melewati ruangan itu pun merasa suaranya bikin sakit telinga.
Talia baru berhenti bernyanyi saat ia merasa haus. Pandangannya berpindah ke berbagai jenis minuman yang terletak di atas meja. Ia mengambil asal kemasan yang menurutnya rasanya enak.
Begitu meneguk minuman itu, Talia langsung menyadari ada sesuatu yang aneh. Rasa manis bercampur pahit menggelitik lidahnya, meninggalkan sensasi yang tidak biasa di tenggorokannya. Ia menatap kemasan botol itu lebih lama, baru menyadari tulisan dalam bahasa Jepang yang tak bisa ia baca.
"Apa ini? Kok rasanya aneh?" pikirnya. Namun, karena haus dan tak ingin membuang-buang minuman yang sudah ia buka, Talia tetap meneguknya hingga habis.
Lima menit berlalu, dan Talia mulai merasakan kepalanya sedikit pusing. Ruangan karaoke terasa berputar perlahan. Ia mengerjapkan mata, berusaha fokus, tetapi pandangannya malah semakin kabur.
"Oh, sial. Jangan bilang ini alkohol?!" Talia akhirnya sadar kalau ia mungkin saja minum sesuatu yang mengandung alkohol. Ia memang bukan peminum dan tubuhnya tidak terbiasa dengan itu. Ditambah ia meminumnya dengan cepat, efeknya langsung terasa.
Dengan sedikit limbung, ia bangkit dari sofa dan meraih tasnya. Ia harus segera keluar dari sini sebelum benar-benar kehilangan kendali. Namun, saat ia membuka pintu ruangan karaoke, seseorang menabraknya dari depan.
"Whoa, maaf!" suara laki-laki terdengar, sedikit terkejut.
Talia mendongak, matanya yang sedikit berkaca-kaca bertemu dengan sepasang mata hitam yang tajam. Seorang pria berambut hitam dengan jaket kulit berdiri di depannya, menatapnya dengan alis sedikit berkerut.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dalam bahasa Inggris yang cukup fasih.
Talia menggeleng, tetapi gerakannya terlalu cepat, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Refleks, pria itu meraih lengannya agar ia tidak terjatuh.
"Kamu kelihatan mabuk. Kamu sendirian?"
Talia menggigit bibirnya, berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Aku … aku nggak sengaja minum sesuatu. Aku harus pulang."
Pria itu diam sejenak, seolah menimbang sesuatu.
"Aku antar kau pulang kalau kamu mau."
Talia ragu. Haruskah ia percaya orang asing ini? Tapi di sisi lain, ia memang merasa tidak bisa berjalan terlalu jauh dalam kondisi begini. Ia merasa sudah mabuk berat dan makin lama kesadarannya pasti akan menghilang.
"Di mana tempat tinggalmu? Ayo ku an ..." Saat laki-laki itu hendak menarik Talia, seorang laki-laki lain langsung menarik pinggang gadis itu dan menatap tajam ke pria asing yang menawarkan diri untuk mengantarnya.
Laki-laki itu kaget, Talia juga kaget.
Siapa?
Talia mengangkat wajahnya yang sudah terlihat mabuk berat itu. Begitu melihat wajah pria yang sedang memeganginya, ia tersenyum.
"Oh, ketemu lagi!"
Tangannya terangkat memegangi wajah tampan pria itu.
Damian, siapa lagi.
"Apa ini takdir? Kok kita bisa ketemu terus? Atau jangan-jangan kamu sengaja ikutin aku? Benar? Kenapa? Mau mencuri ginjal aku? Mau jual sebuah organ tubuhku?"
Talia heboh sendiri dengan gayanya yang mabuk. Kedua tangannya turun melingkari punggung Damian. Pria itu mendengus kuat, wajahnya terlihat kesal.
"Berapa banyak kau minum?" ia tidak menyangka gadis ini akan minum-minum sampai mabuk parah begini.
Pria asing yang tadi menawarkan bantuan tampak tidak nyaman dengan kehadiran Damian. Ia mengangkat tangan sedikit, memberi tanda bahwa ia tidak ingin masalah.
"Kalau dia sudah bersama kenalannya, aku pergi dulu," katanya masih dengan bahasa Inggris, sebelum melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, Talia masih menempel di tubuh Damian, terkikik kecil tanpa sadar betapa kesalnya pria itu sekarang.
"Aku haus lagi. Beliin minum dong!" pintanya manja.
Damian menatap gadis itu dengan ekspresi datar.
"Kau mau minum lagi? Serius?"
Talia mengangguk cepat, lalu mengerucutkan bibirnya.
"Tapi jangan yang bikin pusing ya. Aku nggak suka rasa aneh yang tadi."
Damian menghela napas panjang. Dengan satu gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Talia ke dalam gendongannya. Gadis itu terkejut, tapi kemudian tertawa lagi.
"Wow, aku berasa kayak putri yang di culik pangeran tampan! Lihat, ada pangeran yang mau culik akuu!"
Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar, Damian membawa Talia keluar dari tempat karaoke itu. Langkahnya tegas, dan meskipun Talia terus berceloteh tak jelas, Damian tetap fokus.
"Kau betul-betul pembuat onar." gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
dobel up