Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Ruangan Bawah Tanah
Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyakitkan mata. Aku tidak tidur semalaman. Hanya menatap langit-langit dengan pikiran yang kacau. Terus berputar. Berputar. Sampai kepalaku terasa mau pecah.
Aku harus keluar dari sini. Entah bagaimana. Entah kapan. Tapi aku harus keluar.
Pintu terbuka. Pelayan yang sama masuk dengan nampan sarapan. Wajahnya datar seperti biasa. Dia menaruh nampan di meja, lalu berbalik hendak keluar.
"Tunggu," panggilku. Suaraku serak karena seharian tidak bicara dengan siapa pun.
Dia berhenti, lalu menoleh.
"A-apa, ada cara untuk bisa keluar dari sini?" tanyaku. Bodoh. Itu pertanyaan bodoh. Tapi aku sudah putus asa.
Pelayan itu menatapku dengan tatapan yang begitu kasihan? Atau cuma perasaanku saja?
"Tidak ada, Nyonya," jawabnya pelan. "Mansion ini dijaga dengan sangat ketat. Setiap sudut ada kamera, setiap pintu ada pengawalnya, bahkan kalau Nyonya berhasil keluar dari kamar ini, Nyonya tidak akan sampai ke gerbang utama."
Lalu dia keluar. Menutup pintu. Kunci berputar lagi. Aku menatap sarapan di meja. Roti panggang, telur, jus jeruk, semuanya tersaji begitu rapi.
Tapi aku tidak lapar. Aku berjalan ke jendela. Menatap keluar. Taman yang luas. Pagar tinggi. Pengawal di mana-mana.
Seperti yang dia bilang. Tidak ada jalan keluar. Kecuali...
Mataku tertuju pada satu titik. Sudut pagar yang dekat dengan pepohonan lebat. Di sana tidak ada pengawal. Atau setidaknya, aku tidak melihat ada.
Tapi bagaimana aku bisa sampai ke sana?
Aku menatap pintu kamar. Terkunci dari luar. Tapi pelayan tadi membukanya dengan kunci. Berarti ada kunci. Dan kalau ada kunci, pasti ada cara.
Aku mencari di seluruh kamar. Membuka laci. Memeriksa lemari. Di bawah tempat tidur. Di balik cermin. Sampai aku menemukan sesuatu di laci meja rias. Jepit rambut. Jepit rambut besi panjang.
Aku pernah lihat di film. Orang bisa membuka kunci pakai jepit rambut. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi aku harus mencoba.
***
Butuh waktu sejam. Tanganku gemetaran. Keringat membasahi dahiku. Tapi akhirnya aku mendengar bunyi klik kecil.
Kunci terbuka.
Jantungku hampir meledak. Aku berhasil. Benar-benar berhasil. Aku membuka pintu perlahan. Sangat perlahan, dan mulai mengintip keluar.
Koridor kosong.
Tidak ada pengawal. Mungkin karena masih pagi. Mungkin mereka pikir aku tidak mungkin keluar.
Aku melangkah keluar. Kaki telanjang tidak bersuara di lantai marmer dingin. Aku berjalan pelan. Sangat pelan. Jantung berdetak kencang sampai aku bisa mendengarnya di telinga.
Tangga. Aku harus turun tangga.
Aku berjalan menyusuri koridor. Melewati lukisan-lukisan besar. Vas bunga. Pintu-pintu kamar lain yang tertutup rapat. Sampai aku tiba di ujung koridor. Di depanku adalah tangga melingkar yang turun ke lantai bawah.
Aku mulai menuruni setiap anak tangga, dan pada saat aku hampir sampai. Sebuah suara terdengar dari arah belakangku.
"Nyonya, anda mau pergi kemana?"
Aku membeku, suara pria yang terdengar dalam dan seperti sedang mengancam.
Aku berbalik perlahan, seorang pria tinggi besar berdiri di ujung tangga atas. Dia mengenakan jas hitam. Rambut dipotong pendek rapi. Wajahnya keras dengan bekas luka di pipi kanan. Matanya tajam. Seperti elang yang mengawasi mangsa.
"Saya, Marco," gumamnya sambil melangkah turun. "Tangan kanan Tuan Damian, dan sepertinya Nyonya sedang mencoba untuk kabur."
Aku mundur selangkah, kakiku terasa gemetar.
"A-aku, aku hanya..."
"Hanya apa?" potongnya. Suaranya begitu dingin. "Hanya ingin jalan-jalan pagi? Di mansion yang setiap sudutnya selalu dijaga? Tanpa pemberitahuan?"
Dia semakin mendekat, dan aku semakin mundur.
"Tuan Damian tidak akan senang dengan ini," lanjutnya. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu seperti kepuasan? Seperti dia senang menemukanku mencoba untuk kabur.
"Kumohon," bisikku. "Kumohon jangan bilang dia. Aku akan kembali lagi ke kamar. Aku berjanji tidak akan mencoba untuk kabur lagi."
Marco berhenti tepat di depanku. Menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuatku merasa telanjang.
"Terlambat, Nyonya," katanya. Lalu dia meraih lenganku dengan cengkeraman yang menyakitkan. "Tuan Damian sudah tahu."
Tidak.
Tidak.
Tidak.
"Bagaimana mungkin dia bisa tahu?" tanyaku dengan sedikit rasa takut.
Marco menunjuk ke atas, dan aku mengikuti arah tangannya. Dan terlihatlah sebuah kamera kecil, yang tersembunyi di sudut langit-langit.
Marco menyeretku turun dari tangga. Aku mencoba melepaskan diri tapi cengkeramannya terlalu kuat.
"Lepaskan aku!" teriakku. "Kumohon! Lepaskan!"
Tapi dia tidak peduli. Dia terus menyeretku melewati ruang tamu besar. Melewati ruang makan di mana aku muntah semalam. Melewati koridor panjang yang aku tidak pernah lihat sebelumnya.
Sampai kami tiba di sebuah pintu berat. Pintu besi dengan kunci digital. Marco mengetik kode. Pintu terbuka dengan bunyi denging elektronik.
Di baliknya adalah tangga lagi. Tapi tangga ini berbeda. Tangga batu yang mengarah ke bawah. Ke bawah tanah. Gelap. Lembap. Berbau anyir.
"Tidak," bisikku. "Kumohon, jangan bawa aku kesana."
Tapi Marco tidak mendengar. Atau pura-pura tidak mendengar. Dia menyeretku turun tangga batu itu. Setiap langkah membuat jantungku semakin berdebar kencang. Cahaya semakin redup. Udara semakin dingin. Bau anyir semakin kuat.
Bau darah.
Kami sampai di dasar tangga. Di depan kami adalah koridor panjang dengan lampu-lampu redup yang berkelip. Dinding beton basah. Lantai beton kotor dengan noda-noda gelap yang aku tidak mau tahu apa itu.
Dan suara rintihan, suara jeritan yang diredam, bahkan suara manusia yang tengah kesakitan.
"TIDAK!" aku berteriak. Meronta sekuat tenaga. "AKU TIDAK MAU! KUMOHON!"
Tapi Marco terlalu kuat. Dia terus menyeretku menyusuri koridor itu. Melewati pintu-pintu besi dengan jendela kecil berbatang besi. Dan di balik jendela-jendela itu, aku melihat...
Oh, Tuhan.
Oh Tuhan, tidak.
Orang-orang terikat di sebuah kursi. Atau tergantung di rantai. Tubuh yang penuh darah, wajah bengkak, dan jari-jari yang tidak lengkap. Sama seperti foto yang Damian tunjukkan kemarin.
Tapi ini nyata. Ini benar-benar NYATA. Aku merasa lututku lemas. Kalau bukan karena Marco yang menyeretku, mungkin aku sudah jatuh. Kami berhenti di depan pintu paling besar di ujung koridor, Marco mengetuk tiga kali.
"Masuk," suara Damian terdengar dari dalam.
Marco membuka pintu, lalu mendorongku masuk. Ruangan ini, aku tidak bisa mendeskripsikannya. Ruangan ini cukup besar, lebih seperti gudang. Tapi dindingnya penuh dengan alat-alat, yang aku sendiri tidak tahu namanya, tapi aku bisa menebak fungsinya.
Untuk menyiksa.
Di tengah ruangan ada beberapa kursi besi. Dan di kursi-kursi itu, ada dua belas orang terikat. Mereka semua dalam kondisi mengerikan, berdarah, terluka, bahkan ada beberapa orang yang tidak sadarkan diri.
Dan Damian berdiri di tengah-tengah mereka. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Tangannya berdarah, wajahnya terlihat begitu sangat tenang. Seperti sedang melukis sesuatu, bukan menyiksa manusia.
"Alexa," panggilnya tanpa menoleh. "Kamu datang tepat waktu."
Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara. Hanya bisa berdiri di sana dengan tubuh gemetar hebat.
Damian akhirnya berbalik, lalu ia menatapku. Matanya gelap, tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu seperti sebuah kekecewaan?
"Kau mencoba untuk kabur," katanya. Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Aku diam. Bibir bergetar tapi tidak ada suara yang keluar. Damian melangkah mendekat. Langkahnya pelan tapi terasa seperti dentuman. Setiap langkah membuat jantungku hampir berhenti.
Dia berhenti tepat di depanku, tangan berdarahnya terangkat lalu menyentuh pipiku. Sehingga meninggalkan jejak darah di sana.
"Aku kecewa padamu," bisiknya. "Sangat kecewa."
Air mata mulai mengalir di pipiku. Bercampur dengan darah di wajahku.
"Ma-maafkan aku," suaraku keluar gemetar. "Maafkan aku. Aku tidak akan..."
"Ssstt..." dia meletakkan jari berdarahnya di bibirku. Membuat aku diam. "Terlambat untuk meminta maaf, Alexa. Kau sudah melanggar peraturan. Dan di duniaku, siapa pun yang melanggarnya, harus mendapatkan hukuman."
Dia menarik tanganku, menyeretku lebih dalam ke ruangan itu. Ia menyeretku ke tengah, tepat pada orang-orang yang sedang disiksa.
Dan aku melihat mereka lebih jelas sekarang. Salah satunya aku mengenali dia. Itu supir yang sering mengantarkan ayah. Yang lain, petugas keamanan di kantor ayah, bahkan ada juga asisten pribadi ayah.
"Mereka orang-orang yang bekerja dengan ayah," bisikku. Suaraku hampir tidak terdengar.
"Ya," jawab Damian. "Mereka bekerja untuk ayahmu. Mereka tahu tentang masa lalunya. Tentang uang yang dicuri, tentang pembunuhan dua puluh tahun yang lalu. Dan mereka hanya diam, mereka membantunya untuk menyembunyikan semua itu."
Dia berjalan mengelilingi mereka, seperti inspektur yang sedang memeriksa karya seni.
"Jadi aku tangkap saja mereka," lanjutnya. "Satu persatu, dan aku bertanya pada mereka, di mana ayahmu menyembunyikan uang yang dicuri? Di mana dia menyembunyikan bukti-bukti? Dan siapa lagi yang tahu?"
Dia berhenti di depan supir itu, orang tua yang berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya penuh darah, mata kanannya bengkak sampai tidak bisa terbuka.
"Pak Hendra ini sangat keras kepala," kata Damian sambil menepuk bahu supir itu. Supir itu merintih kesakitan. "Butuh tiga hari sampai dia akhirnya bicara. Tiga hari dengan sembilan jari yang dipotong."
Aku menatap tangan supir itu. Hanya tersisa satu jari di tangan kanannya. Jempol. Dan sisanya, hanya potongan yang kini sudah berdarah.
Aku merasakan mual melanda lagi, tapi kali ini aku tidak muntah. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi di perutku.
"Tapi yang ini," Damian berpindah ke asisten ayah. Wanita muda berusia sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya dipotong pendek tidak rata. Ada luka bakar di lengannya. "Bu Sinta sangat kooperatif. Dia langsung bicara di hari pertama. Sayangnya..."
Dia tersenyum, senyum yang membuat darahku membeku.
"Sayangnya aku tidak percaya begitu saja. Jadi aku tetap harus memastikan dia tidak berbohong. Dengan cara yang meyakinkan."
Aku tidak tahan lagi. Aku berbalik, mencoba lari ke pintu. Tapi Marco sudah berdiri di sana. Menghalangi jalan.
Damian menarikku dari belakang, lalu memelukku dengan erat. Pelukannya hangat tapi mencekik. Seperti ular yang melilitku perlahan.
"Jangan lari, Sayang," bisiknya di telingaku. Napasnya hangat. Bau darah tercium kuat. "Kau harus melihat ini. Kau harus tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang mengkhianati keluarga Vincenzo."
Dia membalikkan tubuhku, memaksaku menatap ke tengah ruangan lagi.
"Tapi yang paling menarik," lanjutnya sambil tangannya melingkar di pinggangku, menahanku supaya tidak lari, "Adalah yang itu."
Dia menunjuk ke sudut ruangan yang lebih gelap. Aku memicingkan mata, mencoba melihatnya. Dan saat aku melihatnya.
Seseorang terikat di kursi. Tubuhnya terkulai, kepala tertunduk. Tapi dari postur tubuhnya, dari pakaiannya yang robek, aku mengenalinya.
Paman Rico, yang tak lain adik dari ayahku. Paman yang selalu membawakan kue setiap kali datang ke rumah. Yang selalu bercanda dengan aku. Yang selalu bilang aku seperti putrinya sendiri.
"PAMAN!" aku berteriak. Meronta di pelukan Damian. "PAMAN RICO!"
Paman Rico mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya hancur. Bengkak di mana-mana. Mata kirinya tertutup darah kering. Bibirnya pecah.
Tapi dia masih hidup.
"A-alexa?" suaranya serak. Hampir tidak terdengar. "A-alexa..."
"PAMAN!" aku menangis histeris. "LEPASKAN DIA! KUMOHON! DIA TIDAK SALAH APA-APA! LEPASKAN DIA!"
Tapi Damian hanya mengencangkan pelukannya.
"Dia salah," bisik Damian. "Dia saudara ayahmu. Dia pasti tahu, dan dia hanya diam saja."
"TIDAK! PAMAN TIDAK TAHU APA-APA! KUMOHON!" aku terus meronta. Menangis. Berteriak.
Damian membiarkanku meronta sampai tenagaku habis. Sampai aku hanya bisa menangis lemah di pelukannya.
"Sudah selesai?" tanyanya dengan nada dingin.
Aku tidak menjawab. Hanya menangis.
"Bagus," katanya. Lalu dia melepaskanku. Berjalan ke tengah ruangan. Mengambil sesuatu dari meja. Sebuah alat. Aku tidak tahu apa itu tapi terlihat menakutkan.
"Sekarang," katanya sambil berbalik menatapku. "Kau akan menonton. Menonton apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba mengkhianatiku. Atau dalam kasusmu yang mencoba meninggalkanku."
"Tidak," bisikku. "Kumohon! Jangan!"
Tapi Damian tidak peduli. Dia berjalan ke salah satu korban. Petugas keamanan yang sudah tidak sadarkan diri. Dan dia memulainya, aku menutup mata. Tapi Damian berteriak.
"BUKA MATAMU!"
Suaranya menggelegar di ruangan itu. Membuat semua orang tersentak. Termasuk aku.
"Buka matamu, Alexa," ulangnya. Kali ini lebih pelan tapi lebih menakutkan. "Atau aku akan melakukan ini pada pamanmu."
Aku membuka mata. Air mata mengalir deras. Tapi aku membukanya. Dan aku melihat.
Aku melihat Damian melakukan hal-hal yang tidak akan pernah bisa kulupakan seumur hidupku. Hal-hal yang akan membuatku bermimpi buruk setiap malam. Hal-hal yang akan mengubahku selamanya.
Jeritan, darah, daging, tulang. Semuanya bercampur menjadi satu, ini sebuah mimpi buruk yang begitu nyata. Dan aku tidak bisa lari. Tidak bisa menutup mata. Hanya bisa berdiri di sana, menonton, sambil jiwaku perlahan hancur berkeping-keping.
***
Aku tidak tahu berapa lama aku di sana. Rasanya seperti selamanya. Tapi mungkin hanya satu jam. Atau dua jam.
Ketika Damian akhirnya selesai, semua orang di ruangan itu sudah tidak sadarkan diri. Atau mati. Aku tidak tahu. Aku tidak mau tahu.
Damian berjalan ke arahku. Tangannya penuh darah sampai siku. Wajahnya terciprat merah. Tapi ekspresinya begitu tenang. Sangat tenang. Seperti baru selesai bekerja biasa.
Dia berhenti di depanku. Mengangkat tangannya yang berdarah. Menyentuh wajahku lagi.
"Ini yang terjadi pada siapa pun yang mencoba meninggalkanku," bisiknya. Suaranya lembut. Terlalu lembut untuk suasana seperti ini. "Ingat itu baik-baik, Alexa."
Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak merasakan sentuhan tangannya lagi. Aku sudah mati rasa. Sepenuhnya.
"Marco," panggil Damian tanpa melepas tatapannya dariku. "Bawa Nyonya kembali ke kamarnya. Pastikan dia makan. Pastikan dia istirahat. Besok dia harus siap untuk acara makan malam dengan klien penting."
"Baik, Tuan," jawab Marco dari belakangku.
Damian menciumku, bibir dinginnya menyentuh dahiku. Meninggalkan jejak darah di sana.
"Istirahatlah," bisiknya. "Kau akan membutuhkan tenaga untuk hari-hari berikutnya."
Lalu dia melepaskanku.
Marco menyeretku keluar dari ruangan itu. Menaiki tangga batu. Melewati koridor. Kembali ke kamarku. Dia mendorongku masuk. Menutup pintu. Kunci berputar.
Aku berdiri di tengah kamar. Diam. Tidak bergerak. Lalu lututku lemas.
Aku jatuh ke lantai. Dan aku menangis. Menangis seperti tidak pernah menangis sebelumnya. Menangis sampai suaraku hilang. Sampai tidak ada air mata lagi. Sampai tubuhku hanya bisa bergetar tanpa suara.
Paman Rico. Paman Rico disiksa di sana. Karena aku, karena aku mencoba untuk kabur.
Ini salahku, semua ini salahku. Aku menatap tanganku. Tangan yang gemetar hebat. Tangan yang tidak bisa menyelamatkan siapa pun.
Aku tidak berguna.
Aku lemah.
Aku tidak tahu lagi siapa aku.
Cahaya bulan masuk melalui jendela. Menerangi kamar yang gelap. Tapi tidak menerangi hatiku yang sudah lebih gelap dari malam tergelap.
Aku kehilangan harapan. benar-benar kehilangan harapan. Tidak ada jalan keluar dari neraka ini, dan mungkin tidak akan pernah.
Tapi di balik semua kengerian ini, satu pertanyaan terus menghantui pikiranku yang sudah hampir gila: apakah paman Rico benar-benar tahu tentang masa lalu ayah?
Atau dia hanya korban lain, dari kebencian Damian yang sudah melampaui batas kemanusiaan?
Dan yang lebih menakutkan lagi, berapa banyak orang yang akan mati, atas dosa yang bahkan tidak mereka lakukan?